
Aku terperangah, "Zayn ..." kataku pelan, apa yang dia katakan itu sungguhan? Zayn merangkul bahuku, dia menatapku, lalu tersenyum, aku masih bingung dan diam mematung.
"Zayn, apa yang kau lihat dari nya?" aku menatap Isabel heran, "Apa maksudmu?" tanyaku, "Kau itu wanita murahan, tidak tau diri, dan lemah!" Aku melotot, "Isabel—"
Aku mengangkat tanganku, menyuruh Zayn diam, "Isabel, kukira kamu adalah gadis yang baik, aku meminta nenek agar tidak mengusirmu karna kau adalah gadis yang baik."
"Kau benar, aku adalah gadis murahan, tidak tau diri, lemah, atau apalah itu. Tapi, jika kau ingin merebut Zayn, silahkan, karna aku tidak akan menghalangimu! Dan jika mulutmu tidak bisa dijaga, maka tidak usah berbicara sekalian. Mulutmu, harimaumu!"
"Lihat, dia tidak tau diri dan tidak tau malu Zayn!" kata Isabel, "Bukan tidak tau malu dan tidak tau diri, tapi dia dapat membela dirinya sendiri ... itu adalah sikap yang memang sudah seharusnya dimiliki oleh keluarga Dirgantara!" Nenek berada di belakang Isabel.
"Zayn, Neara, mari kita turun, Leo sudah datang!" Aku mangangguk, kami meninggalkan Isabel yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Halo, Kakak ipar! Maaf aku datang terlambat, urusan di kantorku sangat menumpuk! Oh ya, dan selamat ulang tahun!" Aku menatap Zayn, "Leo, jangan memanggilnya seperti itu, dia merasa tidak nyaman." Zayn mengerti maksudku.
"Ah, maafkan aku, Kakak ip—eh, maaf, maksudku maafkan aku, Kak!" Aku mengangguk, "Halo, namaku Leo!" Leo menyapa kak Gabie, Lea, dan kak Frida.
"Mari kita makan ..." kata nenek, aku mengangguk, Isabel menyusul ke meja makan. Mukanya kusut, sebal, marah, sejenisnya lah.
Setelah makan malam, mereka semua menyuruhku membuka hadiah. Aku membuka satu per satu, kira-kira ada 12 bungkusan hadiah disini.
"Wah ... Makasih Lea!" Aku memeluk Lea, dia memberiku sepatu kats gabungan warna kuning soft, aqua soft, sama biru langit soft.
"Sama-sama!" Aku membuka bungkusan hadiah lain, kotaknya kecil, sama seperti kotak perhiasan yang dibungkus kertas kado.
Aku membukanya, dan isinya adalah 2 pasang kalung dan gelang berwarna biru. Aku mengambilnya dari kotaknya, aku menatap semua orang, bertanya, siapa yang memberikan hadiah ini?
Nenek Zayn tersenyum, "Itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku dan Zayn. Itu adalah hadiah kecil dariku, nenek memberikan nya padamu karna nenek percaya, kamu bisa menjaganya dengan baik ...."
"Kalung dan gelang itu punya sejarah, Ra, sejarah yang takkan pernah kulupakan ... itu juga sekaligus simbol untuk menantu keluarga Dirgantara. Hanya nenek, atau pemiliknya yang berhak memilih siapa yang benar-benar dapat dipercaya untuk menjaganya," jelas Zayn.
"Ada 5 pasang kalung dan gelang yang sama. Jika ada seorang gadis yang sudah menikah dengan keluarga Dirgantara, tapi dia belum memiliki itu, maka dia tidak akan pernah diakui menjadi keluarga kami ..." Emma ikut bicara.
"5 pasang kalung dan gelang untuk menantu perempuan, dan 7 buah jam untuk menantu laki-laki!" kata Leo bersemangat, "Kau beruntung, Kak, kau bisa mendapatkannya!"
"Kau menyimpan 2 di antaranya, kau bisa memberikannya pada orang yang kau percayai, Dek ..." kata kak Keli, aku masih diam mematung, berfikir, apakah aku cocok?
"Sudahlah gadis, sini, biar aku membantumu memakainya!" Zayn mengambil kalung dari tanganku itu, dia melingkarkannya di leherku, lalu memasang kaitnya, "Kau nampak cantik, Neara!" Kak Gabie, kak Frida, Lea, dan Farel berseru.
"Mereka benar, Neara, kau nampak cantik ... aku tidak salah jika mempercayakan kalung itu padamu ..." kata nenek, beliau mangambil gelang dari tanganku, lalu mengangkat pergelangan tanganku, dan memasangkannya.
"Nenek, aku merasa tidak pantas jika mengenakan gelang dan kalung ini, atau menyimpan sepasang lagi." Aku menundukan kepala, dan hendak melepas gelang nya, tangan nenek menghentikan tanganku.
"Nak, kumohon, aku percaya padamu, tolong jaga ini dengan sangat baik ..." Nenek menatapku dengan penuh rasa keyakinan.
Aku menatap Zayn, lalu kak Gabie, Lea, dan Farel, mereka mengangguk, aku mengerti maksud mereka, tapi sungguh, aku tidak pantas.
"Nenek, Neara benar, dia tidak pantas mengenakan itu!" Tiba-tiba Isabel angkat bicara, nenek menatapnya, "Beraninya kau meragukan pilihanku! Pantas atau tidaknya, aku yang memutuskan, bukan kau!"
"Tapi, Nek, aku adalah tunangan Zayn sejak kecil. Kami sudah di takdirkan bersama, tidak ada yang dapat memisahkan kami!" Nenek menatap Isabel tajam, "Itu hanya suatu kebetulan belaka! Jangan berdebat denganku lagi!"
Isabel tersentak, "Nek, aku benar-benar merasa tidak pantas ..." Zayn merangkul bahuku, "Nak, percaya padaku, aku yakin dan percaya padamu. Baiklah, agar kau lega, aku akan menuruti pilihanmu ...."
Aku menatap Zayn, Lea, lalu Farel, mereka mengangguk, aku masih bingung harus memilih apa, aku menghembuskan nafas, lalu memejamkan mata sejenak.
"Nenek, aku akan berusaha untuk menjaganya, dan tidak akan mengecewakan kepercayaan, Nenek padaku!" Nenek tersenyum, "Itu baru gadisku ..." kata Zayn.
"Selamat datang di keluarga kami, Neara!" kata kak Keli, "Hm, terima kasih, Kak!" kami semua tertawa, "Mari kita buka hadiah selanjutnya!" kata Farel.
10 menit kemudian ....
"Aku mempunyai hadiah terakhir untukmu, tutup matamu dulu atau berbaliklah ..." Aku menuruti kata-kata Zayn, aku berbalik.
Ketika tangan Zayn menyentuh bahuku, yang artinya aku sudah bisa berbalik lagi, aku berbalik, Zayn memberikan bunga mawar merah muda yang banyak tadi.
"Favaina Neara Jaendra, aku tau, kau akan memberikan jawabanmu setelah lulus SMA, tapi kumohon terimalah ini ..." Aku menutup mulutku, takjub.
"Terima, Dek ..." kata kak Frida, kak Gabie, dan kak Keli, "Kumohon gadis, hanya kau yang bisa membuatku membeli 99 tangkai bunga mawar untuk seorang gadis."
Aku memeluk Zayn, "Zayn, aku bisa menerimanya, tapi kita masih terlalu muda untuk membicarakan semua ini."
"Turuti kata-kataku, aku akan memberikan jawabannya setelah lulus SMA, aku janji, apapun yang terjadi, kau akan tetap mendapat jawabanku!"
Zayn balas memelukku, lalu mengacak-ngacak rambutku, "Itu baru gadisku yang penurut. Aku akan menuruti kata-katamu, tapi jangan pernah membuatku kecewa!"
"Aduh ... nenek jadi kangen mendiang kakek ..." Semua menatap nenek, "Nenek, kau tidak sendiri, kami juga merindukan kakek!" kata kak Keli.
Aku teringat ucapan Hero, "Mmm ... aku permisi dulu ya, aku mau nge-chat temenku dulu." Aku naik ke atas, lalu nge-chat Hero.
Aku : Hero, disini ada banyak orang, tidak hanya kak Gabie saja, apa aku tetap harus memberitahukan masalah Lea?
Aku : Lebih-lebih lagi, disini juga ada Isabel, aku takut dia memanfaat kan situasinya untuk melakukan sesuatu yang buruk! (。ŏ_ŏ)
Hero : Aku suka dengan pemikiranmu gadis ... Kau benar, kau bisa meminta salah satu dari keluarga Zayn untuk mengusir Isabel.
Aku : Tidak bisa Hero! Itu tidak sopan, Isabel juga tamuku, dia tidak berhak diusir dari rumahku selain aku yang mengusirnya!
Hero : Lalu kau maunya bagaimana?
Aku : Aku juga tidak tau Hero, itu sangat tidak sopan!
Hero : Tapi dia telah menyakitimu.
Bersambung ....