WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
FITTING BAJU



Kesesokan harinya.


Pagi itu, matahari menampakkan sinarnya dengan begitu indah. Seolah-olah sedang menggambarkan suasana hati Chaca yang sangat bahagia.


Chaca terlihat sudah rapi dengan senyum yang melebar. Dia menuruni anak tangga satu persatu sambil bernyanyi.


Tidak biasanya kak Chaca bernyanyi ? hbis kesambet setan apa, dia?


" Kak, mau kemana pagi-pagi begini? " Tanya Ochi yang kebetulan sudah berada dimeja makan sejak tadi sambil memperhatikan kakaknya yang turun dari tangga sambil bernyanyi.


" Mau fitting baju! " Jawab Chaca singkat.


" Cie... yang mau jadi pengantin baru... "


" Kamu iri yah? "


" iiihhhh.. gak lah ya!! ngapain juga iri, justru Ochi tuh bersyukur, kakaknya Ochi yang terkenal sedingin es ini akhirnya laku juga. Ha.. ha.. ha...! "


Bug!


terdengar suara hantaman dikepala.


" Aw...!! kok kepala Ochi dipukul? "


" Habisnya kamu itu nyebelin, bukannya ngedukung malah ngejek-ngejek kakak! "


" Kakak sumpahin kamu jadi perawan tua, baru tau rasa kamu! " Lanjut Chaca.


" Yah...!! jangan donk kak!! "


" Gak! "


" Iya... iya deh maaf! lain kali Ochi gak ngejek-ngejek kakak lagi! "


" Yang bener? " Chaca tidak percaya.


" Sueerrr!! " Ochi menunjukkan dua jari tanda peace.


" Gak! kakak gak percaya sama kamu, kata-kata sumpah kakak gak bisa ditarik lagi, titik !! "


" Kakak... tarik lagi donk sumpahnya! Please!! " Kali ini Ochi memasang wajah puppy eyesnya.


" Gak m-a-u...!! "


" Sudah.. sudah...!! Ini kenapa sih anak-anak mama kok ribut pagi-pagi gini? " Ibu Maria datang membawakan jus jeruk kesukaan Ochi.


" Itu mah, kakak gak mau narik sumpahnya yang udah nyumpahin Ochi jadi perawan tua? " Ochi meminta pembelaan.


" Ha.. ha... ha...! " Tawa ibu Maria pecah.


" Kok mama malah ketawa sih? " Ochi semakin mengerucutkan bibirnya.


" Habisnya, cuma karena masalah itu saja sampai ribut! Ha.. ha.. ha.. "


" Mama?"


" Ya udah, jangan ribut lagi nanti papa kalian denger, entar kalian kena ceramah pagi-pagi. "


Seketika itu, merekapun diam ketika melihat pak Bahri duduk dimeja makan untuk sarapan pagi bersama-sama.


Ochi menatap Chaca, namun Chaca malah membalasnya dengan ejekan.


" Wek..!! " Chaca menjulurkan lidahnya pada Ochi.


Sarapan pagi akhirnya selesai dengan penuh drama kedua kakak beradik. Seperti biasa, pak Bahri berangkat ke kantor, dan Ochi ke kampus. Kali ini ada yang berbeda, Chaca izin ke kantor hari ini untuk melakukan fitting baju disebuah butik.


Sebuah mobil berwarna merah, tiba didepan rumah Chaca. Mobil itu milik Cello. Cello dan Chaca pun berangkat menggunakan mobil itu untuk pergi ke butik. Namun sebelumnya tidak lupa mereka berpamitan pada ibu Maria.


Jarak yang ditempuh menuju butik, tidaklah begitu jauh, karena masih berada dipusat kota. Setibanya disana, Cello memarkirkan mobil miliknya dan masuk ke dalam butik tersebut bersama Chaca. Terlihat karyawan serta pemilik butik tersenyum ramah ke arah mereka berdua.


" Ada yang bisa kami bantu? "


" Kami ingin melakukan fitting baju untuk pernikahan kami yang akan dilangsungkan tiga bulan lagi. " Jawab Cello.


" Oh.. kalau begitu, tuan dan nona bisa melihat-lihat pilihan motif yang tuan dan nona suka. " Sambil menyerahkan jurnal.


Tidak berapa lama kemudian, Chaca dan Cello sudah terlihat mantap dengan pilihannya.


" Mba, kami pilih motif yang ini saja. Selebihnya kami percayakan pada butik ini. " Chaca menyerahkan jurnal itu kepada pemilik butik.


" Baiklah, terima kasih! "


Pemilik butik itu terlihat sangat telaten dalam urusan ukur-mengukur. Tidak butuh waktu lama, pemilik butik itupun selsesai mengukur tubuh Chaca dan Cello.


Setelah urusan fitting baju selesai, Cello berniat membawa Chaca untuk melihat-lihat kafe dan resto miliknya. Setibanya dijalan " black street " , Cello dan Chaca melihat banyak petugas kepolisian serta anjing-anjing pelacak. Cello tetap melajukan mobilnya seakan tidak menghiraukan kejadian yang terjadi disana, sedangkan Chaca terlihat memutar kepalanya dengan masih menatap bingung ke arah petugas-petugas tersebut.


" Yank, ada apa yah? kok ramai banget petugas, bawa anjing pelacak segala? ". Tanya Chaca heran.


" Entahlah, mungkin ada kecelakaan? " Jawab Cello sekenanya.


Kecelakaan? tapi kok pakai anjing pelacak?


Chaca masih terbang dengan pikirannya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


#############################


Sesampainya dikafe, Chaca dan Cellopun turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe. Didalam kafe, Chaca disuguhkan makanan dan minuman. Disela-sela makan siangnya, Chaca melihat tayangan berita ditv yang ada dikafe tersebut.


Dalam siaran berita tersebut, diberitakan bahwa seorang reporter disebuah stasiun televisi telah menghilang secara misterius dari tadi malam. Reporter itu bernama Maya Jackson, terlihat dari kartu identitas yang ditemukan petugas dipinggir jalan beserta ceceran darah.


Dalam siaran berita itu pula, diberitakan bahwa kekasih Maya mendapat panggilan tidak terjawab sekitar pukul 22.00 malam. Ketika nomor itu dihubungi lagi, sudah dalam keadaan tidak aktif. Maya seketika dilaporkan menghilang beserta mobil miliknya.


Chaca yang sedang serius menonton siaran itu, tiba-tiba dikagetkan Cello.


" Serius amat! "


" Yank, coba lihat, itukan lokasi jalan yang kita lalui tadi ?"


" Bukan terjadi kecelakaan, yank ! Tapi seorang reporter telah menghilang misterius..? " Lanjut Chaca.


" Hmm... "


" Kamu kok jawabnya gitu? "


" Habisnya, kamu fokusnya sama berita itu, bukan sama aku? "


" Duh... manjanya? " Mentowel-towel pipi Cello.


" Bagaimana nanti kalau udah jadi suami aku? " Lanjutnya lagi.


" Labih manja lagi. " Celetuk Cello.


" Ha... ha... ha... " Merekanpun tertawa bersama.


Kemesraan merekapun berlanjut, tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang melihat mereka didalam kafe tersebut.


Sore harinya, Chaca diantar Cello pulang setelah melihat-lihat beberapa kafe dan resto milik Cello. Sedangkan Cello kali ini tidak pulang ke apartmennya, melainkan ke rumah peninggalan orang tuanya yang berada dikawasan " Black Lake ".


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


##############################


Suara pintu digedor dari arah luar. Seorang pria yang berada dalam kamar itupun sontak terkejut. Diapun berlalu membuka pintu kamarnya pelan.


Ceklek!


Seorang pria dari arah luar lalu mendorongnya masuk ke dalam hingga membentur dinding kamarnya. Tangan seseorang terlihat mencengkram erat leher pria itu hingga pria itu sulit bernafas.


" Kenapa kau bisa seceroboh itu? kenapa bisa kau meninggalkan jejak? Hah..!! "


" Apa yang kau katakan? "


" Tidak penting dengan apa yang aku katakan, yang terpenting sekarang kau tidak boleh lagi keluar dari gudang bawah tanah ini! "


" Tidak bisa begitu! "


" Apanya yang tidak bisa? aku tak ingin kau menghancurkan hidupku. "


" Cih.. " pria itu meludah.


" Apa kau lupa, kau mendapatkan kekayaan dari daging-daging itu! " Lanjutnya.


" Sekarang tidak lagi! Enyahlah dari kehidupanku! "


Orang itu lalu meninggalkan kamar itu, dan kembali naik keatas.


Ceklek!


Terdengar sebuah pintu yang lebih terlihat seperti lantai kini terkunci rapat. Diatas pintu iti diberi karpet lusuh untuk menutupi keberadaan pintu rahasia itu.


" Lihat saja, kau akan menyesal...!!!"


Umpat pria itu yang sudah terkurung diruang bawah tanah yang merupakan tempat Ia bersenang-senang dengan korbannya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Terima kasih banyak untuk para Readers yang sudah bersedia singgah di karya Author yang receh ini.


Jangan lupa beri like, vote, komen, dan favorite yah... 😘😘😘