WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
BERMIMPI BURUK LAGI



Sesampainya dirumah, Chaca langsung turun dari mobil sembari dipapah Ochi. Cello dan Nathan juga turun dari mobil, tapi mereka tidak masuk ke dalam rumah karena ingin memberi Chaca waktu untuk istirahat.


" Kalau begitu, Om, tante, Chaca, dan Ochi, kami permisi pulang dulu. " Ucap Cello berpamitan.


" Loh, kok buru-buru banget? kalian gak masuk kedalam dulu? " Tanya mama Maria.


" Lain kali aja Tan, saya gak mau mengganggu Chaca, sebaiknya Chaca beristirahat aja dulu. "


" Ya sudah, kalau begitu hati-hati dijalan. " pak Bahri menimpali.


" Iya Om, kalau begitu kami permisi. " Cello berucap sopan.


" Sayank... kamu bnyak-banyak istirahat yah! aku pulang dulu. " Lanjut Cello berpamitan pada kekasihnya, Chaca.


Chaca hanya menjawab dengan anggukan kepala. Chaca terlihat tidak begitu bersemangat, Dia masih tenggelam dalam fikirannya.


Chaca lalu masuk kekamarnya ditemani Ochi. Ochi berencana tidur dikamar kakaknya, karena masih merasa khawatir dengan keadaan kakaknya yang masih terlihat lemah dan lebih banyak diam ketika pulang dari rumah sakit.


*


*


*


*


*


*


*


################################


Malam harinya.


Suasana malam ini terlihat mendung, tak tampak satupun bintang dilangit memberi pertanda akan turunnya hujan. Suasana sejuk terasa menusuk hingga ke tulang. Chaca dan Ochi terlihat nyaman dibalik selimut yang tebal.


Jam menunjukkan pukul 01.00 malam, Chaca terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Ochi masih terlelap sambil memeluk guling disampingnya. Chacapun turun dari tempat tidurnya hendak membuka pintu kamar.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, Chaca merasa ada yang berbeda, ada yang berubah dari tempat tinggalnya.


Chacapun turun kelantai bawah. Dipandanginya sekeliling ruangan itu, tampak dekorasi-dekorasi bangunan bergaya klasik yang sangat kental.


Matanya menyusuri dinding ruangan, dan melihat sebuah foto dengan ukuran besar. Difoto itu terdapat sepasang orang tua dan ketiga anak laki-lakinya. Dimana dua dari tiga anak itu adalah saudara kembar.


Selain foto yang paling besar, terdapat pula foto-foto yang dipajang disebuah meja panjang. Diambilnya salah satu foto itu dan mulai memperhatikannya dengan seksama.


" Anak ini terlihat tidak asing dimataku? "


" Kornea mata ini? " Sambil meraba salah satu anak yang ada difoto itu.


" Mengingatkanku pada seseorang ?"


Cello, tiba-tiba aku merindukannya setelah melihat foto ini !


Chaca bergumam dalam hati sambil diletakkannya foto itu kembali.


Merasa tidak puas, Chaca mencoba berjalan keluar dari rumah itu. Lagi-lagi Dia merasa tempat itu tidak asing baginya.


" Tempat ini? kenapa tempat ini tidak begitu asing bagiku? " Chaca berkata pelan.


Chaca mencoba melihat-lihat sekeliling rumah itu. Ketika Dia menuju kebelakang rumah, Ia melihat sebuah gudang.


Gudang itu?


Pandangannya kemudian teralihkan pada seorang pria bertubuh tinggi tegap dan memakai topeng. Ditangan kirinya memegang sebuah kampak yang nerlumuran darah.


" Pria bertopeng itu? " Chaca mencoba mngingat-ngingat.


" Pria yang sama dengan yang pernah aku lihat waktu berada di Black Lake, bukan? "


" Pria itu juga yang ada dimipiku pada waktu dirumah sakit. "


" Siapa sebenarnya pria itu? "


Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari mulut Chaca, seakan bertanya pada diri sendiri. Masih menatap pria itu, namun pria itu masih terlihat tidak bergeming.


Saat Chaca masih fokus dengan apa yang dilihatnya, pria itu kemudian berjalan mendekati dirinya. Merasa pria itu semakin dekat, Chacapun mulai merasa takut. Diapun segera berlari kembali menuju rumah klasik itu.


Pria itu tampak masih mengejarnya, didobraknya pintu hingga terbuka. Chaca yang melihat itupun semakin takut. Chaca lalu kemudian naik ke lantai atas berniat kembali ke kamarnya. Dia bersembunyi diatas tempat tidurnya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Tap... tap... tap...!


Terdengar langkah kaki pria itu menaiki tangga. Lalu kemudian mendobrak pintu kamar itu.


Braak!!


Pintu terbuka dengan sempurna, pria itu kemudian menarik selimut itu dan memperlihatkan Chaca yang sedang ketakutan dan berderai air mata, berharap mendapat belas kasihan.


Namun, pria itu tak tersentuh sama sekali, pria itu malah mengayunkan kampaknya, dan.......................................


" Aaarrrggghhh! " Teriakan Chaca membangunkan seisi rumah termasuk Ochi yang langsung terjatuh dari tempat tidur saking terkejutnya.


" Kakak, kenapa teriak? " Tanya Ochi dengan mata terbuka sempurna.


" Haah... Huf... " Chaca menarik nafas dalam sambil bersidekap dada.


Tok... tok... tok...!


Ceklek!


Ochi membuka pintu kamar.


" Entahlah ma, ditanya malah diam saja. "


Pak Bahri dan mama Maria menghampiri anak sulungnya yang masih terlihat syok. Keringat dingin terlihat bercucuran didahi anaknya itu.


" Nak, apa kamu bermimpi buruk lagi? " Tanya pak Bahri.


Chaca hanya menjawab dengan anggukan kepala.


" Ya Tuhan, badanmu panas sekali, kita bawa ke rumah sakit sekarang, pah! " Mama Maria terlihat panik saat meraba kening anaknya.


" Gak perlu ma, Chaca mau disini aja. " jawab Chaca.


" Apa perlu papa panggilkan dokter? "


" Gak pa, besok aja. Chaca ingin istirahat, boleh tinggalkan Chaca sendiri? " Pinta Chaca.


Pak Bahri dan mama Maria saling melempar pandangan. Pak Bahri memberi kode pada mama Maria dengan anggukan kepala.


" Ya sudah, kalau gitu mama sama papa tinggal ke kamar ya? kamu istirahat yah!"


Mama Maria menjawab.


" Ochi, kamu temani kakakmu ya, jika terjadi apa-apa bilang papa!" Pak Bahri menimpali.


" Siap pah! " Jawab Ochi.


" Tidak perlu pah, Ochi maaf, kakak benar-benar ingin sendiri saat ini! " Pinta Chaca.


Pak Bahri, mama Maria, dan Ochi saling melempar pandangan. Mereka merasa bingung dengan sikap Chaca.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Chaca?


Pertanyaan itu terngiang-ngiang difikiran mereka bertiga.


Ketika merasa semua telah keluar dari kamarnya, Chacapun kemudian turun dari tempat tidurnya hendak menuju kamar mandi yang ada didalam kamarnya tersebut untuk sekedar membasuh muka.


Setelah membasuh mukanya, Chaca mendongak menatap cermin. Dia menatap wajahnya didepan cermin. Chaca melihat ada sedikit goresan kecil seperti sayatan pisau diantara pelipis dan telinganya. Dia mencoba memegang luka itu, ternyata luka itu lumayan dalam.


Chaca mencoba mengingat-ngingat apa penyebab luka itu, namun nihil, Dia malah mengingat mimpi buruknya sewaktu dirumah sakit saat seorang pria bertopeng mencoba melukai wajahnya.


" Aaarrrggghhh!! " Chaca memegang kepalanya merasa frustasi dengan kejadian demi kejadian yang menimpanya hari ini.


Semua berawal ketika aku bertemu dengan arwah wanita itu.


Gumamnya.


" Apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu? "


" Kenapa Dia menerorku seperti ini? "


" Apa semua ini ada hubungannya dengan pria bertopeng itu? "


" Tapi siapa Dia? "


Chaca terus berbicara pada dirinya sendiri didepan cermin.


" Petunjuk apa yang ingin kau berikan padaku, Maya? " Suara Chaca mulai meninggi.


" Aaarrrggghhh!! " Pekiknya sambil meremas-remas rambut dan membuang semua benda yang terletak didepan matanya.


Chaca kemudian keluar dari kamar mandi itu, dan kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Aku harus mencari tau tentang semua ini!


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Terima kasih banyak Author ucapkan pada para Readers yang setia membaca karya Author ini.


Jangan lupa like, vote, dan komen yah...


kiss jauh.... 😘😘😘😘