WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
BELUM 100% MERESTUI



Keesokan paginya.


Chaca mengerjapkan mata ketika terkena pantulan sinar matahari dibalik tirai. Kepalanya masih bersandar didada bidang Cello, sehingga Ia dapat melihat dengan jelas wajah tampan kekasihnya itu ketika tidur.


" Dia tampan sekali. " Chaca berkata sambil jari-jemarinya bermain-main diwajah Cello.


Chaca membelai bulu-bulu halus yang tumbuh didagu kekasihnya itu. Merasa ada yang merayap-rayap diwajahnya, Cello pun akhirnya terbangun. Dipandangnya Chaca yang tersenyum lebar disampingnya.


" Hmm... bidadari ku ternyata sudah bangun. " Cello berkata sembari memberi pelukan hangat pada Chaca.


" Makasih ya, sayang ! Cup! " Lanjutnya lagi sambil mencium kening Chaca.


Chaca hanya menganggukkan kepala lalu mempererat pelukan Cello.


" Rasanya, aku s'lalu ingin seperti ini. " Ucap Chaca dengan tangannya membelai lembut dada bidang milik kekasihnya itu.


" Setiap kali membuka mata, ada kamu disampingku, Cello! " Lanjut Chaca lagi.


" Kalau begitu kita percepat saja pernikahannya! " Jawab Cello.


" Tapi, persiapan kita belum 100%, sayang?"


" Kenapa lama sekali sih, aku sudah tidak sabar ingin memelukmu seperti ini disetiap pagi. " Ucap Cello dengan tangannya membelai lembut pipi putih milik kekasihnya itu.


" Eemmuuaacchh! " Lanjut Cello sambil memberikan ciuman yang lama dipipi Chaca.


" Cup! " Chacapun membalas ciuman Cello, tapi bukan dipipi melainkan dibibirnya dan dibalas juga oleh Cello.


Kemudian mereka saling melepas cium** panas itu dan saling melempar senyum.


" Apa ini yang dinamakan morning kiss? " Tanya Cello.


Chaca tersipu malu dan memperlihatkan wajahnya yang bersemu merah.


" Ha.. ha.. ha.. ha.. " Merekapun terus tertawa bersama sembari mengeratkan pelukan masing-masing.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Dikediaman pak Bahri.


" Bagaimana, apa sudah dapat kabar dimana anak saya? " Tanya pak Bahri pada ketiga anak buahnya yang terlihat sedang menundukkan kepala.


" Maaf pak. " Jawab salah satu anak buahnya.


" Kamu? " Tanya pak Bahri lagi pada salah satunya.


" Maafkan kami pak, kami tidak bisa mendapatkan info apa-apa. "


" Kalian semuanya tidak berguna! " Terlihat pak Bahri tersulut emosi sampai memukul meja dengan keras.


Sedangkan mama Maria hanya menangis mendengar penjelasan anak buah suaminya itu. Tiba-tiba Ochi dengan setengah berlari menuruni anak tangga dan langsung menghampiri papa dan mamanya.


" Papa, mama! " Teriak Ochi.


" Kakak mengirim pesan tadi malam,tapi pesannya baru terkirim pagi ini! " Lanjut Ochi lagi.


" Apa! Serius kamu? " Tanya pak Bahri.


" Iya pa, bener! ini coba papa lihat! " Ochi menyerahkan Hpnya pada pak Bahri.


" Mana... mana? mama juga mau lihat! " Kata mama Maria sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghapus air matanya.


" Ochi, malam ini kakak gak bisa pulang karena cuaca disini hujan. Bilang sama papa dan mama untuk jangan mencemaskan kakak, karena kakak sedang berada dirumahnya kak Cello sekarang bersama kak Cello juga disini. "


Terlihat pak Bahri mengepalkan tangannya dengan rahang yang mulai mengeras. Jelas sekali raut wajah penuh amarah tampak dikulit keriputnya. Pak Bahri merasa kesal dengan kelakuan Chaca, anak yang Ia bangga-banggakan selama ini.


Anak itu sudah berani sekarang! Gumam pak Bahri dalam hati.


" Kalian silahkan pergi dari sini! " Bentaknya pada ketiga anak buahnya.


" Papa tenang dulu, jangan pakai emosi pah! Seharusnya kita bersyukur anak kita baik-baik saja." Mama Maria mencoba menenangkan pak Bahri.


" Iya pah! Apalagi kak Chaca sekarang bersama kak Cello, jadi kita jangan khawatir. " Ochi menimpali.


" Justru karena pria itu yang bikin papa kesal! pria itu membawa pengaruh buruk buat Chaca, buktinya Chaca sudah berani pergi tanpa izin begini! "


" Pah, Chaca sudah dewasa, lagi pula sebentar lagi mereka akan menikah! " Jawab mama Maria.


Jawaban mama Maria semakin membuat pak Bahri kesal.


" Papa sebenarnya tidak terlalu menyukai pria itu, entahlah! Papa hanya merasa pria itu tidak begitu baik untuk Chaca. "


" Itu sebabnya, papa sengaja menghambat persiapan pernikahan mereka sambil papa mencari tau keburukan lelaki itu! " Lanjut pak Bahri lagi.


" Astaga papa! Kalau Chaca sampai tau, Dia pasti akan marah dan kecewa sama papa? "


Ucap mama Maria.


" Iya pa! menurut Ochi kak Cello itu laki-laki yang baik kok! Dia sangat mencintai kakak. " Ochi menimpali.


" Ahh.. sudahlah! Kalian terlalu membela pria itu tanpa kalian cari tau asal-usul pria itu. " Jawab pak Bahri dengan kesal sambil berlalu dari hadapan mereka.


Mama Maria merebahkan dirinya kembali diatas sofa. Ada rasa senang karena tau Chaca baik-baik saja, tapi ada rasa sedih karena pak Bahri belum 100% merestui hubungan Chaca dan Cello. Sedangkan Ochi masih terbang dengan fikirannya sendiri.


Bagaimana ini? kakak harus berjuang keras untuk mendapatkan restu dari papa.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Dikediaman Cello.


Chaca sudah terlihat bersiap-siap untuk pulang. Chaca mengmaskan tas miliknya dikamar Cello.


" Sayank... apa gak sebaiknya aku yang antar? " Tanya Cello.


" Gak perlu sayank... aku gak mau merepotkan kamu, lagian kamu kan mau kerja? "


" Hari ini gak ada kegiatan apa-apa diresto, aku rasanya ingin seharian penuh bersamamu. " Ucap Cello dengan tangannya meraih pinggul Chaca dan memeluknya dari belakang.


" iiihh...kamu! Apa gak cukup aku satu malam bersamamu disini? " Jawab Chaca dengan memasang wajah yang menggemaskan.


" Emmbb... " Cello mencium bahu Chaca dengan gemas.


" Gak cukup! Maunya lebih... lebih... dan lebih lagi! " Lanjut Cello yang sekarang beralih mencium leher Chaca, lalu menyanggahkan dagunya dibahu Chaca, sehingga tak ada jarak dari wajah mereka.


Lalu Cello melanjutkan kata-katanya lagi.


" Sayank... rindu itu berat! Rasanya aku tak ingin melepasmu pergi, dua bulan terasa sangat lama bagiku. "


" Aku juga tak ingin jauh darimu, sayank...? tapi aku harus pulang. Bersabarlah... tinggal dua bulan lagi aku akan selalu disini menemanimu... "


" Kalau begitu biar aku yang antar kamu pulang! " Cello melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Chaca, hingga kini membuat mereka saling pandang.


" Terus mobil aku gimana? " Tanya Chaca.


" Kita pakai mobilmu, nanti aku minta dijemput Nathan. "


" Hmm... ok! baiklah kalau begitu! " Seperti kebiasaannya, Chaca mencubit pipi Cello seperti mencubit gemas pipi anak kecil.


" Kamu? "


" Ha... ha.. ha..! " Chaca tertawa dan berencana lari dari hadapan Cello, tapi Dia kalah cepat. Cello lebih dulu menangkap tangannya hingga tubuh Chaca ditarik ke dalam pelukan Cello.


" Mau lari kemana, hah? "


" Cup! " Cello melum** bibir Chaca secara lembut, dan dibalas pula oleh Chaca seakan ciuman menjadi candu untuk mereka berdua.


Setelah ciuman panas itu selesai dilakukan, Cello merenggangkan pelukannya lalu saling tersenyum bahagia.


" Ya udah, ayo kita berangkat! " Kata Chaca.


" Kamu tunggu dimobil, nanti aku menyusul. " Jawab Cello sambil berlalu dari hadapannya.


Chacapun keluar dari rumah itu dan segera menuju arah mobilnya berada. Ketika Dia berada tidak jauh dari mobilnya, Chaca melihat sesosok wanita yang berlumuran darah sedang berdiri dibawah sebuah pohon.


Wanita itu mirip sekali dengan Maya?


Gumam Chaca dalam hati.


Sosok wanita itu kemudian berjalan menuju belakang rumah. Merasa penasaran, Chaca mencoba mengikutinya, hingga wanita itu berhenti tepat didepan gudang.


" Kenapa Dia berhenti didepan gudang itu? "


Sosok wanita itu kemudian terlihat masuk kedalam gudang tersebut tanpa membuka knop pintu. Chaca yang melihat itu kemudian setengah berlari menuju gudang tersebut. Ketika Ia mencoba membuka knop pintu gudang itu, Ia dikejutkan oleh suara Cello yang memanggilnya.


" Sayank...! " Suara Cello terdengar samar-samar.


" Sayank... kamu dimana? " Terdengar suara Cello memanggil lagi.


Mendengar teriakan Cello, Chaca pun urung membuka knop pintu gudang itu. Ia pun akhirnya berlari menuju arah suara Cello.


" Sayank...! " Teriak Cello lagi.


" Huuff...! Iya sayank....? " Jawab Chaca yang sudah berada dibelakang Cello dengan nafas yang tersengal.


Cello pun menoleh.


" Sayang, kamu dari mana aja? "


" A... aku... dari belakang mencari senterku yang hilang, ternyata ada didalam tasku.. he.. he..! " Jawab Chaca berkilah.


Senter? kebohongan apa lagi ini?


Gumam Cello dalam hati.


" Oh... ya udah kalau gitu, kita berangkat sekarang! " Jawab Cello sengaja tak ingin memperpanjang pertanyaannya.


" Ok bos! " Chaca nyengir kuda sambil memberi hormat dengan tangannya.


" Dasar kamu! " Cello mengacak- ngacak rambut Chaca, lalu merangkulnya masuk ke dalam mobil.


" Tuh kan, rambutku jadi berantakan lagi kan? " Rungut Chaca sambil memanyunkan bibirnya.


" Ha.. ha..! Nanti tinggal kamu sisir lagi aja didalam mobil !" Jawab Cello smbil menahan tawanya.


Cello kemudian melajukan mobil dan bersiap untuk menuju rumah Chaca. Disepanjang perjalanan mereka banyak bernyanyi dan tertawa bahagia. Mereka terlihat sangat menikmati benih-benih cinta yang tumbuh subur dihati mereka berdua.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Author cuma mau ngucapin banyak-banyak terima kasuh buat para Readers yang bersedia baca karya Author yang receh ini.


Jangan lupa like, vote, dan komen, disetiap episodenya yah....


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘