WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
RESTO MENGALAMI KEBAKARAN



Ke esokan paginya di kediaman pak Bahri.


Ochi terlihat melamun diatas balkon rumahnya. Baru sehari di tinggal pergi sang kakak, Ochi sudah merasa kesepian. Karena biasanya kalau Ia sedang tidak bisa tidur, Ia akan pindah tidur di samping kakaknya itu. Namun, untuk kali ini dan seterusnya Dia tidak bisa lagi berbagi kasur dengan kakaknya itu.


Di meja makan, pak Bahri dan mama Maria sudah siap untuk sarapan pagi, namun tidak mendapati Ochi ada disana.


" Mah, mana Ochi? " Tanya pak Bahri.


" Bentar pah! " Mama Maria beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar anak bungsunya itu.


Tok.. tok.. tok..!


" Ochi sayang? Sarapan dulu yuk! "


Merasa tidak ada respon dari dalam, mama Maria mencoba membuka pintu kamar anaknya itu.


Ceklek!


" Tidak ada orang! Kemana anak itu? " Ucap mama Maria pelan.


Mama Maria kemudian teriak agak keras memanggil nama Ochi.


" Ochi...! "


" Ochi...! dimana kamu, sayang? "


Mendengar ada yang memanggilnya, Ochi langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati mamanya yang sudah terlihat panik.


" Mama! " Ucapnya.


" Huh,, syukurlah! Ochi, kamu dari mana saja, sayang? " Ucap mama Maria sambil menghampiri anaknya itu.


" Dari balkon! Kok muka mama panik gitu? "


" Gimana gak panik, pas di cariin anaknya gak ada! Mana mama masih trauma lagi waktu kakakmu pergi tanpa bilang-bilang! "


" Hmm... ya udah, tapi sekarang mama liat kan! Ochi gak kemana-mana, masih ad disini! " Ucap Ochi smbil memberi senyum lebarnya.


Mama Maria mencubit gemas hidung anak bungsunya itu.


" Aduh mah, sakit tau! Entar jadi pesek lagi! " Rungut Ochi.


" Anak mamakan emang udah pesek? "


" Iihh..mama! Kan wajah Ochi nurun dari mama, berarti mama pesek donk? "


" Ha.. ha.. ha..! Iya yah..! " Ucap mama Maria sambil tertawa.


" Ya udah, ayo kita ke bawah! Kasian papa kamu udah nungguin kamu dari tadi!" Lanjutnya lagi.


" Ok! Ayo, ma! "


Ibu dan anak itupun akhirnya turun ke bawah dan langsung menghampiri papanya untuk sarapan pagi. Disela-sela sarapan, Ochi membuka pembicaraan.


" Mah, pah! Kalau suatu saat nanti Ochi menikah, itu artinya Ochi juga ikut dengan suami Ochi donk? Terus papa dan mama tinggal berdua dong di rumah ini?" Ucap Ochi dengan nada bicara seakan tidak rela meninggalkan kedua orang tuanya.


Mama Maria menyentuh lembut pipi anaknya itu.


" Itu tergantung suami kamu, sayang! Tapi memang biasanya orang yang baru berumah tangga, ingin langsung mendiami rumah sendiri. "


" Oh,, begitu yah ma! "


" Iya, sayang..! "


" Tapi, kali ini papa tidak akan sembarang merestui hubungan mu seperti papa merestui hubungan kakakmu. Papa akan menelusuri latar belakang pria itu lebih jauh, baru papa ambil keputusan! Papa tidak mau kecolongan lagi! " Ucap pak Bahri menimpali.


" Dan satu lagi, kamu masih terlalu dini untuk memikirkan hal itu. Cepat selesaikan kuliahmu, kamu akan papa tempatkan di perusahaan menggantikan posisi kakakmu! "


Lanjutnya Lagi.


" Baik, pa! "


Keluarga itu kemudian melanjutkan sarapan pagi mereka dengan kekurangan satu anggota keluarganya lagi, yaitu Chaca.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Sementara itu di kediaman Cello dan Chaca.


Chaca terlihat sedang menyiapkan roti bakar untuk suaminya, Cello. Ia juga menaruh selai di roti bakar itu lalu meletakkannya diatas piring. Cello yang baru saja keluar dari kamarnya setelah mandi dan berpakaian, lalu menghampiri istrinya itu.


" Mau apa lagi, sayang...? " Ucap Chaca ketika melihat suaminya itu mulai mendekati dirinya.


" Morning kiss! " Ucap Cello meraih pinggul istrinya itu dan memperpendek jarak diantara mereka.


" Morning kiss? " Ulang Chaca.


" Ehmm...! " Cello mengangguk.


" Cup! Emmb...! " Cello langsung mengecup bibir ranum milik istrinya itu tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Setelah drama morning kiss itu berakhir, Cello pun terkekeh melihat istrinya yang masih belum terbiasa itu.


Cello kemudian langsung duduk di kursinya dan langsung menyantap roti bakar buatan istrinya itu. Begitu juga dengan Chaca.


" Lain kali rotinya gak perlu kamu kasih selai, karena rasa manis dari bibirmu cukup membuat roti ini lebih nikmat! " Celetuk Cello ditengah sarapannya.


" Gombal! " Balas Chaca dan Cello pun terkekeh mendengar jawaban istrinya itu.


Disela-sela sarapan mereka, ponsel Cello tiba-tiba berdering.


Drrrttt... drrrttt... drrrttt...!


Cello kemudian melihat nomor yang tertera di layar ponsel, lalu mengangkatnya.


" Halo? "


" Halo, pak! Ini saya Daris! Resto kita dijalan Marrison mengalami kebakaran pak! "


" Apa! Kamu yang bener saja! "


" Iya, bener pak! Sekarang sudah banyak mobil pemadam kebakaran yang datang untuk memadamkannya, pak! "


" Shitt! Apa kau tau apa penyebabnya? "


" Tidak pak, sekarang pihak kepolisian sedang mencari penyebab kebakarannya pak! "


" Kalau begitu, kamu tungu disitu! Sebentar lagi saya akan menyusul kesana! "


" Baik, pak!"


Cello lalu mematikan ponselnya dan mendudukkan dirinya kembali diatas kursi dengan memasang wajah yang tidak bisa di tebak. Chaca yang melihat suaminya seperti itu, mencoba untuk bertanya.


" Ada apa sayang? Siapa yang menelfon? "


Cello menghembuskan nafas dengan kasar, baru kemudian mulai berbicara.


" Anak buahku menelfon, katanya Resto aku yang di jalan Marrison mengalami kebakaran! "


" Ya Tuhan! Apa penyebabnya sayang? "


" Belum diketahui penyebabnya, aku akan pergi kesana sekarang! Kamu gak apa-apa kan aku tinggal? "


" Ya udah, aku gak apa-apa kok sayang! Kamu siap-siap dulu sana! "


" Baiklah, sayang! " Cello menci** kening Chaca dan berlalu dari hadapan istrinya itu.


Chaca yang masih berada di meja makan, kini sudah tak berselera untuk melanjutkan sarapannya lagi.


Ya Tuhan! Baru sehari menikah, kami sudah memdapatkan cobaan seberat ini.


Gumam Chaca dalam hati.


Tidak lama kemudian, Cello keluar dari kamar dengan setelan kemejanya. Chaca yang melihat itu, lalu menghampiri suaminya dan mengantar suaminya itu hingga ke depan.


" Maaf ya sayang? Disaat kita seharusnya menikmati momen indah menjadi suami istri, aku harus meninggalkan kamu sendirian di rumah! " Ucap Cello sambil mengecup kening istrinya.


" Gak apa-apa sayang! Urusan kamu jauh lebih penting! "


" Kunci aja pintunya, kalau kamu takut! "


" Iya, sayang...! "


" Kalau gitu, aku pergi dulu! Cup! " Cello kembali mengecup kening istrinya itu sebelum Ia benar-benar pergi.


" Ya udah, hati-hati dijalan yah, sayang...? "


" Ok!"


Cello kemudian menampilkan senyum terlebarnya, sembari masuk ke dalam mobilnya itu dan berlalu dari hadapan Chaca.


Merasa mobil Cello sudah tidak kelihatan lagi, Chaca kemudian menutup pintu rumahnya, namun, belum sempat pintu itu tertutup sempurna, kedua matanya menangkap dua sosok perempuan yang Ia lihat waktu mencuci piring tadi malam. Dua sosok perempuan itu menatap tajam ke arahnya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


To Be Continued.........


################################


Maaf yah,, Author cuma mampu ngetik segini dulu... besok akan disambung lagi episode berikutnya.


Tidak bosan-bosannya Author ngucapin terima kasih yang buaaanyaaakk buat para Readers yang sudah setia membaca karya Author ini.


Jangan lupa tinggalkan Like, vote, dan komen di setiap episodenya yah.....


Kiss jauh dari Author..... 😘😘😘