
Hari-hari Chaca tampak menyenangkan walaupun tanpa suaminya, karena Ia selalu di hibur Ochi dan juga Nathan yang menemaninya.
Tibalah akhirnya hari yang di nanti Ochi. Weekend yang di nanti-nantikan akhirnya terwujud. Teman-teman Ochi seperti Tina, Reza, dan Dody sudah tampak datang ke kawasan Black Lake.
Malam harinya, mereka berkumpul di tepian danau sambil bernyanyi dengan di iringi iringan musik gitar akustik yang di mainkan oleh Reza dan Dody. Chaca pun ikut duduk di antara mereka semua karena tak ingin melewatkan momen-momen kebersamaan yang sangat langka baginya.
Suasana malam itu tampak indah dengan cahaya bulan yang menemani. Chaca teringat kembali tempat di mana Cello mengajaknya untuk mengarungi hidup bersama. Cahaya bulan yang menjadi saksi saat itu. Senyum bahagia terukir di wajah Chaca saat mengingat semua itu.
*Waktu kan berlalu...
Tapi tidak cintaku...
Dia mau menunggu...
Untukmu...
Untukmu...
Dan aku milikmu malam ini...
Kan memelukmu sampai pagi...
Tapi nanti bila ku pergi...
Tunggu aku di sini*...
Lagu dari Pongky Barata di nyanyikan mereka secara serentak malam itu. Menambah indahnya suasana saat itu.
Setelah puas bernyanyi, mereka lalu melanjutkan dengan pesta barbeque di tepian danau hitam. Ada yang memanggang daging dan ada pula yang menyiapkan tenda untuk Ochi dan kawan-kawan menginap di sana.
" Kakak, ini daging panggang untuk kakak, aku yang membuatnya dengan segenap perasaan cinta. " Ucap Ochi lebay saat membawakan daging panggang yang sudah matang kepada kakaknya yang sedang duduk tidak jauh dari mereka semua.
" Makasih banyak adikku yang cantik. " Ucap Chaca memuji.
" Sejak kapan pandai memanggang daging? " Nathan memotong tiba-tiba pembicaraan kedua kakak beradik itu.
" Sejak tadi. " Jawab Ochi singkat.
" Pasti gak enak. "
" Sok tau, cobain dulu baru komen. " Cetus Ochi.
" Ya sudah, biar kakak yang cobain. " Chaca memotong perdebatan keduanya.
Chaca kemudian memasukkan irisan kecil daging panggang itu ke dalam mulutnya.
" Emm... lumayan! " Ucapnya.
" Tuh.. lumayan kata kakak, itu artinya enak! " Ochi berucap dengan penuh penekanan kepada Nathan.
" Kalau enak, kak Chaca akan bilang enak, ini kan kak Chaca bilangnya lumayan, berarti rasanya masih di bawah kategori enak. "
" Benci deh! "
Ketika Ochi hendak berlalu dari hadapan Chaca dan Nathan karena merasa kesal atas ucapan Nathan, tiba-tiba tangannya di pegang Nathan hingga membuat langkahnya terhenti.
" Jangan ngambek gitu, aku cuma bercanda! " Ucap Nathan sambil tersenyum.
" Habisnya kamu menyebalkan! " Ketus Ochi.
" Ya udah aku minta maaf, kalau suatu saat nanti kita menikah, aku akan selalu memuji semua masakanmu dengan kata "enak" walaupun rasanya hanya lumayan. "
" Maksud kamu? " Ochi langsung menepis tangan Nathan dengan kasar karena semakin kesal.
" Eitts... Iya deh iya, aku minta maaf! " Dengan cepat Nathan menangkap tangan Ochi.
" Gak tulus. "
Mendengar itu, Nathan lalu berdiri menghadap Ochi dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Ochi. Tatapan mereka pun bertemu.
" Sungguh, aku minta maaf. "
Seketika itu, Ochi pun membeku di buatnya.
" Na.. Nathan? " Ucapnya gugup.
Saat wajah Nathan semakin mendekat, Ochi mendadak membatu. Hembusan nafas Nathan seakan menyentuh pori-pori kulit Ochi, hingga membuat nafas Ochi memburu.
Ketika semakin dekat dan lebih dekat. Ochi kemudian menutup kedua matanya dan membuka sedikit bibirnya untuk memberi celah udara keluar dari dalam mulutnya.
" Ini ada saos yang menempel di bibirmu. " Ucap Nathan seketika sambil ibu jarinya mengusap bekas saos yang menempel di bibir Ochi.
Ochi pun tersadar dan langsung membuka matanya. Seketika pipinya memerah karena malu. Baru saja Dia berfikir kalau-kalau Nathan akan menci**nya, namun kenyataan tak sesuai dengan ekspektasi.
" Kamu kenapa melihatku seperti itu? " Ucap Nathan dengan wajah tanpa dosa.
" Ti.. tidak kenapa-napa. " Jawab Ochi sambil memalingkan wajahnya dari Nathan dan menatap ke arah kakaknya.
" Ha.. ha..ha.. ha.. ha..! " Tawa Chaca lepas ketika melihat tingkah bodoh adiknya itu, karena memang sejak tadi mata Chaca tak lepas memperhatikan kedua manusia di depannya.
" Nat, aku permisi ke teman-teman ku dulu ya? " Ucap Ochi yang ingin menutupi rasa malunya.
" Tapi, kamu belum memaafkan ku. "
" Aku udah maafin kamu kok! " Ucap Ochi sambil tersenyum.
" Benarkah? "
" Iya, bener! Sebaiknya kamu antar kakak masuk ke dalam rumah, kasian suasana malam tidak baik untuk ponakan kita berada di luar seperti ini. "
" Ya udah, kalau gitu aku antar kak Chaca dulu, setelah itu aku akan menyusulmu di sini! "
" Ok! "
Nathan kemudian menghampiri Chaca dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, karena memang cuaca malam tidak cukup baik untuk kesehatan ibu hamil. Chaca pun menuruti ajakan Nathan itu. Ia pun meninggalkan lokasi danau dan memilih beristirahat di dalam rumahnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Author kasih bonus up 2 episode sekaligus.
Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yah...
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘