WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
JANJI SUCI PERNIKAHAN



Satu bulan setelah pre-wedding.


Didalam sebuah kamar, terlihat ada enam orang bridemaids ( pengiring pengantin wanita) serta perias pengantin sedang memakaikan Chaca gaun pengantin yang sempat Ia pesan sekitar tiga bulan yang lalu disebuah butik. Gaun indah berwarna putih dengan motif dan designe yang modern dipadukan dengan manik-manik yang terbuat dari kristal dan berlian menambah kesan indah dan glamour bagi yang memakainya, yang pastinya bisa ditebak harganya tidaklah murah hanya untuk sebuah gaun pengantin.


" Ya Tuhan! Kamu cantik sekali! Betapa beruntungnya laki-laki yang akan menjadi suamimu hari ini! " Ucap seorang perias ketika selesai memberi polesan make up tipis diwajah cantik Chaca, karena memang Chaca tidak perlu menggunakan make up yang tebal untuk mempercantik dirinya karena pada dasarnya Dia sudah sangat cantik.


Sekarang tinggal sentuhan terakhir, para bridemaids memasangkan headpieces atau hiasan kepala berupa Bridal barrette. Setelah itu memasang wedding veil, kali ini veil yang digunakan berbentuk panjang menyapu lantai atau biasa dikenal dengan nama sweep veil. Dilanjutkan lagi dengan memasangkan sarung tangan gauntlet yang terbuat dari satin eastis. Dan terakhir, para bridemaids memberikan sebuah buket bunga ditangannya.


Sempurna sudah penampilan sang mempelai wanita. Chaca tersenyum simpul saat melihat pantulan dirinya didepan cermin.


Kita akan mengikat janji suci kita hari ini, Cello! Gumamnya dalam hati.


Ochi yang bertindak sebagai salah satu bridemaids terlihat menghampiri kakaknya yang masih berdiri didepan cermin.


" Kakak sangat cantik hari ini! Aku pasti akan sangat merindukanmu! " Ucap Ochi dengan mata yang berkaca-kaca.


" Owhh... kakak juga, sayang! kakak akan sangat merindukan kenakalan mu itu! " Chaca mencubit pelan pipi Ochi.


" Kakak! " Ochi merentangkan tangannya untuk meminta pelukan.


Chaca langsung menyambut Ochi kedalam pelukannya.


" Jaga diri kamu baik-baik ya! Jaga papa dan juga mama! " Ucap Chaca sambil menahan air matanya yang ingin keluar.


" Iya, kak! " Ochi memejamkan matanya sambil meresapi pelukan hangat kakaknya.


" Aduh... cantik!! kamu jangan bikin kakakmu mewek dong!! Entar make up nya rusak! " Ucap perias pengantin sambil merapikan kemabali gaun yang Chaca kenakan.


Ochi pun akhirnya melepas pelukan kakaknya itu dan merekapun tersenyum penuh arti melihat perias pengantin itu.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Sementara itu dirumah Cello.


Cello terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Jas dengan satu kancing dan bunga kecil yang disematkan didadanya menambah ketampanan yang Ia miliki. Ditambah dengan paduan sepatu hitam yang tak kalah klimis.


Terlihat enam orang groomsmen ( pengiring pengantin pria) sudah bersiap untuk berangkat menggunakan empat buah mobil, dimana salah satu mobil disiapkan khusus untuk Cello menjemput calon pengantinnya.


Salah satu groomsmen yang tak lain adalah Nathan terlihat menghampiri Cello sebelum masuk ke mobilnya.


" Jemputlah calon pengantinmu dan nikmatilah malam panjangmu bersamanya! ha.. ha.. ha..! " Ucap Nathan dengan pikiran mesumnya.


" Heh! Bilang saja kau iri kan ?"


" Maksudmu? "


" Maksudku, kau iri denganku karena kau tak memiliki calon pengantin untuk menghabiskan malam panjangmu! "


" Sialan kau! " Nathan memukul lengan Cello pelan.


" Ha.. ha.. ha..! " Kemudian mereka tertawa bersama sembari Nathan membukakan pintu mobil untuk kakaknya itu.


Empat buah mobil itu kemudian melaju meninggalkan rumah Cello. Hanya butuh waktu 50 menit, mobil merekapun akhirnya sampai dihalaman rumah mempelai wanita.


Cello dan keenam groomsmen bersejajar dihalaman untuk menyambut sang calon pengantin. Tidak berselang lama, sang calon pengantin keluar bersama enam orang bridemaids dan kedua orang tuanya. Semua orang menampilkan senyum bahagia, namun tidak dengan pak Bahri yang masih setia memasang wajah datarnya.


Cello kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Chaca dan membawanya masuk ke dalam mobil. Diikuti pula dengan groomsmen dan bridemaids serta kedua orang tua Chaca dengan menggunakan mobil yang lainnya. Mereka akan menuju ke sebuah gereja yang sudah dipersiapkan untuk mengikat janji suci.


Tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka masing-masing, disepanjang perjalanan hanya lontaran senyum yang saling mereka berikan.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


##############################


Kini sampailah mereka ditempat tujuan. Semuanya turun dari mobil mereka, tanpa terkecuali Chaca dan Cello. Keduanya berjalan masuk kedalam gereja dengan diiringi lantunan musik serta para bridemeids dan groomsmen yang juga ikut mengiringi mereka menuju altar pernikahan.


Didalam gereja sudah ramai tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar Handoko dan sebagian kecil keluarga jauh dari Cello. Pak Bahri dan mama Maria duduk dibarisan yang paling depan.


Sesampainya di altar pernikahan, pendeta melakukan liturgi atau tata cara kebaktian. Setelah itu dilanjutkan dengan mengikrarkan janji suci, dimana para tamu diharapkan untuk berdiri.


" Saya, Marcelo Harfar, mengambil engkau menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga saling menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang tulus. "


Kemudian dibalas oleh Chaca.


" Saya, Marsha Handoko, menerima engkau menjadi seorang suami, untuk saling memiliki dan juga saling menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang tulus kepadamu. "


Setelah selesai mengikat janji, merekapun disuruh pendeta untuk saling memasang cincin pernikahan. Setelah cincin terpasang dijari mereka masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan ciuman.


Cello membuka veil yang menutupi wajah Chaca, kemudian memberikan cium** lembut yang diiringi gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan.


Setelah semua prosesi telah selesai dilakukan, Chaca kemudian berbalik badan untuk bersiap-siap melempar buket bunga kepada para tamu undangan. Terlihat dari jauh Ochi sudah bersiap-siap untuk menangkap bunga itu.


" Satu... dua.. tiga! " Chaca menghitung sampai tiga sebelum melempar buket bunga itu yang langsung berada tepat dihadapan Ochi. Ochi yang menangkap bunga itu langsung teriak histeris.


" Papa! mama! Aku akan segera menikah! "


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Sore harinya.


Terlihat sudah banyak tamu undangan yang meninggalkan tempat itu, tanda acara sudah selesai. Cello dan Chaca kini telah sah menjadi suami istri. Orang tua Chaca terlihat menghampiri mereka berdua yang sedang berada didepan mobil bersiap-siap untuk pulang.


" Nak, mama titip Chaca yah, jaga dan cintai Dia, karena sekarang Dia tanggung jawabmu! " Ucap mama Maria pada pria yang kini sudah menjadi menantunya itu.


" Baik, ma! Cello akan menjaga dan mencintai Chaca sepenuh hati Cello."


" Jika kamu merasa tidak bahagia, kembalilah ke papa! " Ucap pak Bahri pada Chaca yang seketika itu membuat suasana menjadi panas.


" Pah! " Mama Maria menyentuh lengan pak Bahri.


" Huh! Bercanda! " Ucapnya dengan melempar senyum.


" Cello! Jangan pernah sekali-kali kamu menyakiti anak saya! " Lanjutnya lagi.


" Tentu pa! Aku tidak akan menyakitinya bahkan melukainya sedikitpun! "


" Bagus! " Pak Bahri memukul bahu Cello pelan.


" Sering-sering main kerumah yah, nak! " Ucap Mama Maria pada Chaca sambil memeluknya dan menumpahkan air matanya di bahu Chaca.


" Mama! " Chaca membalas pelukan mamanya sambil menangis.


Ochi dan Nathan terlihat terbawa suasana haru hingga membuat Ochi menangis tersedu-sedu disamping Nathan.


" Sudah, jangan menangis! Kau bisa menemui kakakmu kapanpun kau mau! " Ucap Nathan sambil mengelus bahu Ochi.


" Hiks.. hiks..! Bukan itu, mataku kelilipan terkena debu..! "


" Dasar! " Nathan menyenggol bahu Ochi pelan sambil mereka tertawa kecil.


" Kakak! Aku akan sangat merindukanmu! " Ochi yang melihat mamanya telah selesai memeluk Chaca, langsung menghambur memeluk kakaknya juga.


" Main-mainlah kesana! " Jawab Chaca yang sedang memeluk adiknya itu.


Ochi hanya menganggukkan kepalanya. Pak Bahripun terlihat menghampiri anaknya.


" Jadilah istri dan ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak! " Ucap pak Bahri sambil merentangkan tangannya.


" Papa! " Ucap Chaca langsung memeluk papanya erat.


" Papa akan sangat merindukanmu! " Pak Bahri mencium kening anaknya sambil meneteskan air mata.


" Aku juga pa! " Balas Chaca.


Suasana haru menghiasi perpisahan Chaca dan keluarganya kala itu. Chaca terlihat masih menangis saat masuk kedalam mobil Cello. Cello kemudian merangkul bahu Chaca dan memeluknya erat.


" Kita akan sering menemui mereka, jika kau mau! " Ucap Cello menenangkannya.


" Benarkah? "


" Iya, sayang! " Cello memberi kecupan dikening Chaca.


Chaca kemudian melepas pelukan Cello dan menatapnya.


" Ayo! Aku sudah tidak sabar ingin pindah ke rumah yang baru! " Ucapnya sambil menghapus air matanya yang menetes.


" Hmm.. sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin menghabiskan malam pertama bersamaku, yah? " Ucap Cello dengan senyum nakalnya.


" iihhh... kamu kali yang gak sabar? " Ucap Chaca lalu merekapun tertawa berasama.


Cello kemudian melajukan mobilnya untuk membawa pengantinnya itu kerumah mereka. Ia sudah tidak sabar ingin melewati malam pertama yang indah bersama wanita yang sangat Ia cintai yang sekarang sudah bergelar sebagai istri.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Author sedikit mempercepat alurnya, supaya Author bisa cepat membuat plot twist dari cerita ini.


Jangan lupa untuk tinggalkan Like, vote, dan komen untuk setiap episodenya yah...


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘😘