
Jam di dinding menunjukkan pukul 18.30 malam.
Matahari tampak menyembunyikan sinarnya dengan sempurna. Terlihat Chaca dan Cello yang masih saling berpelukan satu sama lain dengan peluh yang bercucuran. Sepertinya pasangan suami istri ini sudah kehabisan tenaga untuk melanjutkan pergulatan mereka lagi.
" Sayang... sepertinya hari sudah malam? Aku pengen mandi! " Ucap Chaca yang masih berada di pelukan Cello.
" Tunggu sebentar, biar aku yang menggendongmu! "
" Apaan sih, aku bisa jalan sendiri tau! Ngapain juga pakai di gendong segala! "
" Kamu kan capek, sayang...! "
" Gak kok! Gak capek! beneran deh! Aku bisa sendiri! " Chaca menolak untuk di gendong dan langsung bergerak dari tempat tidur, tapi kemudian tangannya di tahan oleh Cello.
" Mau pergi kemana? Hah! "
" Mau mandilah, sayang...! "
" Kalau gitu, kamu tunggu di sini saja! " Cello lalu menarik Chaca untuk kembali duduk di atas tempat tidur sambil memberikannya selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu.
" Kamu mau kemana? " Tanya Chaca.
" Mau menyiapkan air untuk kita mandi! " Jawab Cello berlalu dihadapan Chaca dan langsung masuk ke dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk sepinggang.
Kita? Gumam Chaca dalam hati.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Tidak berselang lama, Cello akhirnya keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri istrinya.
" Ayo sayang! Kita mandi! "
" Hah! Udah siap airnya? "
" Ehmm..! "
Ketika Chaca ingin turun dari tempat tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut, tiba-tiba Cello langsung mengangkat tubuh Chaca masuk ke dalam gendongannya.
" Sayang...! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri! " Ucap Chaca yang meronta di gendongan Cello.
" Hmm... gak mau! " Cello tetap menggendong istrinya itu dan langsung membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Chaca yang terlihat sudah tenang di dalam gendongan, kemudian di turunkan Cello, lalu tangan Cello bergerak membuka selimut yang masih melekat di tubuh istrinya itu dan langsung menggendongnya lagi masuk ke dalam bath up.
Cello kemudian melepas handuk yang melilit pinggangnya dan ikut masuk ke dalam bath up yang sudah di penuhi busa itu.
Tidak lama kemudian, Cello menarik Tubuh Chaca hingga membelakangi dirinya karena Ia ingin menyabunkan istrinya itu. Cello kemudian menggosok punggung istrinya itu pelan hingga pindah menggosok di bagian depan. Chaca yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dan pasrah.
" Rasanya aku ingin s'lalu mandi bersamamu setiap hari seperti ini! " Ucap Cello sambil terus memberi sabun di tubuh Chaca.
" Habis itu, kita tidak sempat melakukan apapun karena harus menghabiskan waktu di dalam kamar mandi dalam keadaan seperti ini! " Balas Chaca.
" Ha.. ha.. ha...! " Cello tertawa begitu juga Chaca yang juga ikut tertawa membayangkan apa yang barusan di katakannya.
Selesai berendam, Cello dan Chaca lalu membilas diri mereka di bawah shower. Di dalam ruang segi empat yang tidak begitu besar itu, mereka kemudian melanjutkan kembali pergulatan antara suami istri yang seakan tiada lelahnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Setelah mandi yang di barengi dengan pergulatan panas di bawah shower. Chaca dan Cello kemudian memakai pakaian tidur mereka, di mana Chaca diminta Cello untuk menggunakan lingerie berwarna merah maroon, sehingga memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya.
" Sayang...! Aku gak usah pakai yang ini yah? " Pintanya memelas.
" Gak! Aku udah belikan kamu yang ini, jadi harus dipakai! "
" Tapi kan, aku mau masak untuk makan malam kita! Emangnya kamu gak lapar! Masa' aku pakai lingerie saat masak? "
" Ya udah gak usah masak! Aku pun udah kenyang! Kenyang makan kamu! "
" Huh! Dasar! " Chaca menyanggul rambutnya, kemudian berlalu dari hadapan Cello dan langsung pergi menuju dapur.
Chaca menyiapkan spagetty dan ikan salmon serta bumbu-bumbu dapur untuk penyedap rasa. Chaca kemudian memasak spagetty salmon di dalam wajan sambil pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan tangannya.
Dari jarak yang tidak jauh, Cello tersenyum-senyum memperhatikan pinggul istrinya yang bergoyang-goyang saat memasak. Saat Chaca membalikkan badan hendak mengambil piring, Ia terkejut melihat Cello yang sudah ada di meja makan sambil senyum-senyum.
" Astaga! Sejak kapan kamu ada di situ!"
" Sejak tadi! " Cello masih tersenyum.
" Terus kenapa senyum-senyum? "
" Habisnya istriku sangat menggoda sih! "
" Dasar otak mesum! "
Chaca kemudian mengambik dua piring yang ada di atas meja makan lalu memasukkan spagetty salmon buatannya ke atas piring-piring itu. Cello terlihat menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang.
" Aww..! Sayang...nanti tumpah nih! " Ucap Chaca terkejut.
" Emmb... emmb...! " Cello tak menghiraukan Chaca yang terus bergerutu, Ia malah asyik tenggelam dalam leher jenjang istrinya itu.
" Sayang...! Geli tau...! Udah donk..! " Chaca tertawa kecil merasa geli dengan sentuhan kumis tipis Cello di lehernya.
" Kita lakuin di dapur, yuk! " Ajak Cello.
" Yang bener aja kamu! Perut aku laper tau! Tenagaku udah habis! "
" Ha.. ha.. ha..! " Cello tertawa mendengar celotehan istrinya itu dengan wajah yang membuatnya gemas.
Cello kemudian melepas pelukannya, lalu memberi ruang untuk Chaca menyiapkan makan malam mereka.
" Makan dulu! " Ucap Chaca sambil meletakkan sepiring spagetty salmon di tempat Cello duduk.
" Cih! Emangnya kamu gak capek apa? "
" Kalau untuk itu aku gak ada capeknya! "
" Astaga! Dasar laki-laki! "
" He.. he.. he..! " Cello terkekeh mendengar ucapan Chaca.
Hening sejenak di antara mereka berdua, karena masih sibuk dengan makanannya masing-masing. Selesai makan, Chaca kemudian mencuci piring bekas mereka makan, sedangkan Cello ke kamarnya dan menonton film kesukaannya.
Sambil mencuci piring, pandangannya terarah pada gudang yang tak berada jauh dari tempat tinggalnya sekarang.
Kenapa gudang itu tampak mengerikan? Ah! Sebaiknya aku cepat selesaikan ini! Gumamnya dengan tangan yang masih bergelut dengan sabun.
Ketika Chaca selesai mencuci piring dan hendak menutup tirai jendela yang tepat berada di depannya itu. Chaca tersentak kaget saat melihat sosok Maya dan seorang perempuan yang keadaannya seperti hangus terbakar. Kedua sosok itu terlihat menatap tajam ke arahnya.
Maya? Tapi siapa sosok perempuan yang di sampingnya itu? Wajahnya sangat sulit di kenali. Chaca tampak terbang dengan fikirannya seakan sudah melupakan rasa takutnya.
Apa yang satunya itu Sandra adik Maya? Bukankah dia meninggal dalam keadaan terbakar di tempat ini? Chaca masih tertegun memperhatikan kedua sosok wanita itu.
" Apa yang dilakukannya di sana? " Chaca berucap pelan.
" Siapa yang kamu bicarakan? " Cello datang memukul pelan pundak Chaca, hingga membuat istrinya itu terkejut.
" Astaga! Sayang....kamu suka benget ngagetin aku! "
" Habisnya kamu lama banget sih! "
" Sabar ngapa? Aku baru aja selesai nyuci piring! "
" Udah selesaikan? kalau gitu, ayo kita ke kamar! " Cello langsung merangkul pundak istrinya.
" Ayo! " Chaca membalas rangkulan suaminya itu dan berlalu dari sana, tapi sebelumnya Ia masih sempat menoleh ke arah jendela untuk melihat dua sosok wanita tadi, namun ternyata dua sosok wanita itu sudah tidak ada.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Sesampainya di kamar, Chaca dan Cello lalu duduk berselonjor di atas tempat tidur. Cello lalu melanjutkan acara nonton filmnya. Chaca bergidik ngeri dan sesekali menutup matanya saat menonton film itu.
" Kamu kok suka nonton film genre begini, sih? " Celetuk Chaca.
" Emangnya, kenapa? Kamu gak suka? "
" Aku takut darah! Apalagi di dalam film bergenre thriller seperti ini s'lalu ada adegan mutilasi, mau muntah aku liatnya! "
" Tapi seru tau! "
" Hah, seru? Dimana letak serunya coba? Yang ada malah mengerikan! "
" Serunya itu ketika di bagian adegan mutilasinya! " Ucap Cello santai, namun cukup membuat Chaca menoleh mendengar itu.
" Ka.. kamu... psycho? " Tanya Chaca gugup, kemudian Cello terdiam dan tampak berfikir mendengar ucapan istrinya itu.
" Hah! Apaan sih kamu! Dengerin yah, gak semua orang yang suka nonton film genre thriller itu psycho! "
" Yah! Habisnya aneh aja, ada orang yang suka nonton film genre thriller begini, padahal itu sangat mengerikan! iihh...! " Ucap Chaca sambil bergidik ngeri.
" Ya udah, nih aku matikan! Tapi, sebagai gantinya berikan tubuhmu itu! "
" Untuk apa? " Chaca masih belum bisa mencerna kata-kata Cello.
" Untuk aku potong-potong! " Jawab Cello sambil mendekati istrinya itu.
" Sayang...? " Chaca merasa takut dengan ucapan Cello, bahkan hampir ingin menangis.
" Kemarilah sayang...? " Cello yang melihat Chaca ketakutan, lalu semakin mengerjainya, sehingga membuat Chaca semakin menjauhkan dirinya.
" Mau kemana? Kenapa semakin menjauh gitu? " Lanjut Cello lagi, di mana di dalam hatinya Ia ingin sekali tertawa melihat tingkah istrinya itu.
" Ha... ha... ha...! Kamu lucu banget sayang? Ekspresi takutnya dapet banget! Bolehlah kamu ikut casting untuk film horor, aku dukung! Atau gak pun, ekspresi kamu tadi juga cocok buat syuting sinetron yang ada mewek-meweknya, karena wajah kamu kalau di perhatikan gak kalah cantik dengan Marshanda, ratunya sinetron melow...! "
" Ih... dasar! " Chaca melempar bantal ke arah Cello karena merasa kesal telah di kerjai.
" Ha...ha.. ha...! " Cello menyambut bantal itu dan terus menertawakannya.
Setelah puas tertawa, Cello langsung mendekati istrinya yang terlihat manyun itu, lalu kemudian Ia melum** bibir wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
" Cup! Emmb...! "
Cium** itu berlangsung cukup lama, hingga mereka melanjutkan kembali pergulatan mereka di atas tempat tidur. Seakan tiada lelah, mereka terus mengulangnya berkali-kali di sepanjang malam pertama mereka menjadi suami istri yang sah.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Terima kasih banyak buat para Readers yang sudah membaca karya Author sejauh ini.
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan Like, vote, dan komen di setiap episode nya yah...!
Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘😘