WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
PESTA BARBEQUE 2



Setelah drama suap-suapan selesai, Cello mengajak Chaca kepinggiran danau. Jarak danau dari villa tidaklah begitu jauh, bahkan penerangan lampu-lampu disepanjang jalan menuju danau terlihat sangat indah, karena Cello memang sudah mempersiapkan semua itu. Cahaya bulan juga tampak sangat terang malam itu, menambah indahnya suasana hati mereka berdua. Cello mengajak Chaca duduk disebuah kursi panjang.


" Huh...! pemandangannya sungguh indah ya Cell? Apalagi cahaya bulan memantul dengan sangat sempurna. " Chaca mengungkapkan kekagumannya pada tempat itu.


"Kamu suka? " Tanya Cello.


" Suka banget! " Menjawab dengan anggukan kepala.


" Aku memang menyukai tempat yang tenang, jauh dari kebisingan kota. " Lanjut Chaca.


" Jika kamu mau, tempat ini bisa jadi milikmu, bahkan kamu bisa tinggal disini selamanya? " Jawab Cello dengan tatapan penuh arti.


" Apa? yah gak lah Cell, mana mampu aku beli tempat seluas ini. He.. he..!" Chaca mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan Cello.


" Aku serius! Sungguh! " Cello meyakinkannya.


Hah! kenapa jadi begini sih?


Chaca mulai bingung dengan sikap Cello.


Hening beberapa saat terjadi diantara mereka berdua, sebelum Cello melanjutkan kata-katanya.


" Jadilah istriku! "


Chaca terlihat syok mendengar kata-kata Cello, bagaimana mungkin hubungan yang terjalin belum begitu lama bahkan status pacaran saja tidak ada, tiba-tiba Cello memintanya untuk menjadi istri?.


" Aku mencintaimu, aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. " Cello menatap Chaca dalam.


Hening lagi, masih belum ada tanda-tanda Chaca ingin menjawab.


" Sungguh! Cinta ini tulus. Aku tidak menyukai yang namanya pacaran, aku lebih menyukai hubungan yang serius. " Cello melanjutkan kata-katanya.


Chaca masih terlihat diam seperti patung.


" Maukah kau hidup bersamaku? berbagi kisah suka dan duka kita bersama ditempat ini? sudah lama aku mencari wanita yang bisa menyukai tempat seperti ini. " Cello mengeluarkan kotak cincin dengan satu kaki bertumpu pada tanah sambil menyodorkan cincin itu pada Chaca.


Chaca terlihat bingung, namun sebenarnya Ia juga bahagia. Jujur, Diapun memang menaruh hati pada pria dihadapannya.


Chaca memang mencari pria yang mau menjalin hubungan serius dengannya, bukan hanya sekedar bermain-main saja, itu sebabnya Dia masih sendiri hingga diusianya sekarang.


Dan kini, pria itu hadir dihadapannya. Dengan berlutut dihadapannya sembari menyodorkan cincin tanda cinta.


" Cello... " Chaca mulai berbicara


" Ehmm... " Cello berdehem..


" Berjanjilah untuk setia dan selalu menjagaku." Chaca memberi syarat.


" Aku berjanji, akan selalu setia mendampingimu hingga akhir hidupku. " Cello mengatakan itu dengan penuh percaya diri.


" Kalau begitu aku mau..! " Jawab Chaca mantap.


" Apa kau bersungguh-sungguh mengatakan itu? " Cello meminta Chaca meyakinkannya lagi.


" Sungguh! aku mau hidup bersamamu dan berbagi kisah suka duka kita ditempat ini. " Jawab Chaca dengan sangat yakin.


" Terima kasih sayang..! " Cello pun langsung memasangkan cincin itu dijari manis Chaca dan tanpa aba-aba langsung memeluk dan mencium kening Chaca.


Kemesraan merekapun berlanjut ditepian danau yang indah malam itu.


###############################


Dihalaman villa.


Nathan, Ochi, Rama dan juga kekasihnya sudah terlihat sangat mabuk. Rama dan kekasihnya yang bernama Sandra memilih izin masuk ke villa lebih dulu.


Bukannya ke villa, mereka malah menuju mobil milik Rama sendiri. Rama berniat mengambil sesuatu barang yang terlihat seperti kon*** didalam mobilnya, namun Sandra yang sedang dalam keadaan mabuk berat malah mengajaknya melakukan hubungan s*x didalam mobil.


Rama sebagai lelaki normal tentu tidak kuasa menolak ajakan kekasihnya itu. Merekapun melakukannya didalam mobil, tanpa mereka sadari sepasang mata sedang mengintai mereka.


Setelah selesai bergelut didalam mobil, Rama dan Sandra memakai pakaian mereka kembali, berniat menuju villa. Belum sempat keluar dari mobil, mobil itu kemudian meledak dan terbakar.


Mendengar suara ledakan, mendadak Cello dan Chaca pun berlari menuju arah ledakan, tak terkecuali Nathan dan Ochi. Mereka tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat.


" Apa ada orang didalam mobil itu? " Chaca bertanya, namun tidak ada satupun yang menjawab.


##############################


Didalam villa.


" Cello, aku takut sekali. " Chaca masih memeluk Cello karena syok.


" Sudah.. sudah, kamu jangan takut, kita serahkan semuanya kepada petugas. " Cello mencoba menenangkan Chaca.


" Kamu masuk ke kamar gih, istirahat! Lanjutnya lagi.


"Ochi, bawa kakakmu ke kamar! " Titah Cello pada Ochi.


Ochipun berlalu meninggalkan mereka dan membawa Chaca menuju kamar.


" Bagaimana bisa hal ini terjadi? " Tanya Cello pada Nathan.


" Kenapa kak Cello malah bertanya padaku? bukankah aku yang sepantasnya marah disini? Rama itu sahabatku!" Jawab Nathan frustasi.


Cello mengusap wajahnya dengan kasar lalu duduk bersandar disebuah sofa.


" Besok, kasus ini harus segera diselesaikan. Aku tidak mau kasus ini membawa dampak buruk bagi tempat ini juga hubunganku dengan Chaca. " Cello pun mulai merasa frustasi.


##############################


Keesokan paginya.


Chaca dan Ochi sudah terlihat rapi, mereka sudah bersiap-siap untuk pulang dan melupakan kejadian tadi malam. Terlihat pula, Cello dan Nathan yang sudah menunggu mereka dihalaman villa.


Ketika Chaca hendak keluar dari villa, Dia melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap dan memakai topeng sedang melihat ke arahnya.


Jarak Chaca dan pria itu cukup jauh, karena pria itu memperhatikan Chaca dari arah dekat sebuah gudang. Pria itu tampak membawa sebuah kampak besar ditangan kirinya.


Chaca berjalan cepat keluar dari villa dan mencoba berjalan ke arah pria itu untuk memastikan apa yang Ia lihat.


Belum jauh berjalan, suara Ochi menghentikan langkahnya.


" Kakak..!! mau kemana? "


Chacapun menoleh ke arah Ochi.


" Gak kemana-mana kok! kakak cuma mau melihat-lihat." Jawab Chaca.


Ketika Chaca menoleh kembali kearah gudang, pria itu sudah tidak terlihat.


Ah.. Mungkin cuma perasaanku saja.


Gumamnya dalam hati.


Chacapun urung melangkahkan kakinya lebih jauh dan memilih kembali ke halaman villa, dimana Ochi, Cello, dan Nathan sudah menunggunya.


" Kamu dari mana aja? " Tanya Cello pada Chaca.


" Gak dari mana-mana? cuma melihat-lihat sebentar sebelum aku meninggalkan tempat yang indah ini. " Jawab Chaca berbohong.


Chaca dan Ochipun masuk kedalam mobilnya.


" Sayang, hati-hati ya bawa mobilnya, kamu yakin gak mau aku antar? " Tanya Cello perhatian.


" Gak perlu sayang..! Aku bisa kok! " Chaca menjawab sambil mentowel pipi Cello.


" Cie.. cie..! Sejak kapan panggilannya jadi sayang-sayangan? " Goda Ochi.


" Bukan urusanmu, wek..! " Jawab Chaca pada Ochi sambil menjulurkan lidahnya.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Cello dan Nathan tertawa melihat tingkah dua orang perempuan dihadapannya yang terlihat seperti bocah.


Setelah drama dua orang bocah, mobil yang dikendarai Chaca pun melaju meninggalkan kawasan " Black Lake ". Chaca dan Ochi terlihat sama-sama bahagia, walaupun kejadian tadi malam masih menghantui mereka.


###############################


Author tidak bosan-bosannya mau ngucapin terima kasih yang buaanyak banget buat para Readers yang bersedia mampir baca karya Author yang receh ini.


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah.. 😘😘😘😘