
Di dalam kamar, Cello masih tampak senyum-senyum sendiri dan Chaca menatap heran pada suaminya itu.
" Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? " Ucap Chaca yang seketika itu membuat Cello tergugu di depan istrinya tersebut.
" Oh.. itu.. aku... aku merasa bahagia banget mendengar kabar kehamilanmu, sayang..? " Jawab Cello, tapi bukan itu alasan sebenarnya.
" Oh.. kirain kenapa? "
" Ya udah, aku mandi dulu yah, gerah banget! Kamu gak mandi yank? " Tanya Cello pada Chaca.
" Hmm.. gak ah, dingin! Aku pakai body scrub aja, habis itu pakai body lotion, jadi tetep seger dan wangi walaupun gak mandi! " Chaca tersenyum lebar sambil memperlihatkan peralatan kecantikannya pada Cello seakan sedang melakukan promosi.
Cello mengernyit melihat tingkah istrinya yang mendadak ngiklan itu.
" Ya udah, lanjutkan perawatannya, aku mau mandi dulu! " Ucap Cello sambil berlalu dari hadapan istrinya itu.
****
Setelah mereka selesai dengan kesibukan membersihkan diri mereka masing-masing, Chaca dan Cello kemudian merebahkan tubuh mereka diatas tempat tidur. Mereka bersenda gurau, hingga suara tawa mereka terdengar hingga luar kamar dan di dengar oleh Nathan dan Ochi yang masih sibuk memakan mangga muda.
" Sayang, lusa aku akan pergi ke luar kota selama satu minggu, kamu gak apa-apa kan aku tinggal? Akan ada Nathan yang menjagamu selama aku pergi! " Cello mulai serius.
" Ke luar kota, kenapa lama banget sayang? " Ucap Chaca yang mulai cemas.
" Soalnya ada beberapa masalah yang di alami resto ku disana, bukan hanya satu, tapi dua resto ku sekaligus mengalami kemerosotan yang cukup signifikan, entah apa penyebabnya. " Raut wajah Cello tampak cemas, hingga membuat Chaca langsung memberikan pelukan menenangkan.
" Rencananya aku akan meeting bersama temen lama ku disana, kebetulan Dia juga memiliki resto, itu sebabnya aku ingin mengajaknya bekerja sama! Do'akan aku sayang...? " Lanjut Cello lagi sambil mengecup puncak kepala istrinya.
" Ya udah, kalau gitu kamu hati-hati disana yah sayang, jangan telat makan dan jangan lupa untuk menghubungiku disela-sela kesibukanmu, karna kabarmu adalah pengobat rasa rindu bagiku. " Ucap Chaca sambil mengeratkan pelukannya.
" Do'aku slalu bersamamu! " Lanjut Chaca lagi sambil memberikan cium** di pipi Cello.
" Terima kasih, sayang? "
Cello lalu memberikan kecupan berkali-kali di puncak kepala Chaca, yang kemudian di lanjutkan dengan sentuhan-sentuhan yang lain yang cukup membuat Chaca terhanyut akan belaiannya.
" Sayang, ingat kata dokter! " Ucap Chaca menghentikan aktifitas Cello sebentar.
" Iya sayang, aku akan melakukannya dengan perlahan! " Cello memberikan senyuman terlebarnya sebelum mereka melanjutkan kegiatan mereka kembali.
Malam itu pun menjadi malam yang panjang buat dua manusia yang memadu cinta mereka di atas ranjang, namun tidak bagi Nathan dan Ochi yang merasa perut mereka di aduk-aduk, hingga membuat mereka berdua tidak bisa tidur dengan nyenyak.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Ke esokan harinya.
Nathan dan Ochi terlihat lemas ketika berangkat kuliah. Bagaimana tidak, mangga muda itu telah membuat mereka kehabisan tenaga saat bolak balik toilet hanya untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap masuk kuliah, karena mereka memang sudah masuk semester akhir, jadi mereka harus segera menyelesaikan skripsi mereka.
Di lain tempat, Chaca dan Cello tampak bangun kesiangan, akibat kelelahan menghabiskan malam yang indah mereka di atas ranjang. Setelah mandi dan berpakaian, mereka keluar dari kamar mereka mencari keberadaan adik-adik mereka.
" Sayang, Nathan dan Ochi kemana? " Tanya Chaca setelah tidak mendapati kedua adiknya itu.
" Nathan mengirim pesan, katanya mereka sudah pergi pagi-pagi sekali mengantarkan Ochi untuk berganti pakaian dan langsung ke kampus. "
" Oh.. begitu! Syukurlah, ku kira mereka hilang kemana? "
" Emangnya siapa juga yang mau menculik anak sebesar mereka? "
" Eh... mana tau sayang, seperti di film-film yang kamu tonton."
Kata-kata Chaca cukup membuat telinga Cello tersentak mendengarnya.
" Jangan berfikir yang macem-macem sayang! " Ucapnya sambil mengecup puncak kepala istrinya itu.
Hening beberapa saat di antara mereka, tampak Cello hendak berjalan menujuh ke arah dapur.
" Sayang, aku boleh minta sesuatu? " Ucap Chaca seketika membuat Cello menghentikan langkahnya dan menoleh pada istrinya.
" Minta apa sayang, katakanlah! "
" Aku pengen rendang daging sapi? " Chaca tersenyum lebar sehingga memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
" Ya udah, aku carikan di rumah makan padang dan membelikannya untukmu! "
" Gak! Aku gak mau yang di rumah makan,aku maunya kamu yang masak untukku. "
" Apa! Aku mana bisa masak rendang sayang...! Aku bisanya cuma masak mie instan, setidaknya itu lebih baik dari pada salah satu artis yang viral itu! Ha.. ha.. ha..! "
" Tapi, aku maunya kamu yang masak untukku! Jadinya uwu banget kan? " Ucap Chaca manja.
" Iya deh, aku yang masak untuk istri tercinta ku ini, tapi tunjukkan tutorialnya yah!" Cello akhirnya mengalah.
" Ok, siap! "
Cello kemudian menyiapkan semua bahan yang siap untuk di masak. Dengan di bantu Chaca menyiapkan semuanya, maka dengan cepat Cello bisa menyelesaikan separuh tugasnya. Tinggal langkah terakhir, Chaca menunjukkan tutorial masak pada Cello, dengan cekatan Cello akhirnya bisa menyelesaikan rendang daging sapi buatannya.
Chaca sudah terlihat menunggu di meja makan, Ia sudah tidak sabar ingin mencicipi rendang buatan suaminya itu. Cello berjalan mendekatinya sambil membawa semangkuk rendang daging di tangannya.
" Tara.. ! Rendang daging sapi ala chef Cello sudah siap! " Ucapnya sambil meletakkan mangkuk itu diatas meja makan.
" Hmm... baunya harum banget! " Chaca terlihat antusias.
" Pelan-pelan sayang! " Ucap Cello ketika melihat Chaca tidak sabaran menyendok rendang itu ke dalam piringnya yang sudah di isi nasi.
Chaca kemudian memasukkan satu iris daging rendang ke dalam mulutnya. Sedangkan Cello beridiri mematung seperti peserta lomba memasak yang menunggu keputusan dari juri.
" Emm.. enak! " Ucap Chaca ketika seiris daging masuk ke dalam mulutnya.
" Benarkah sayang? "
" Iya! Kalau gak percaya coba aja sendiri! " Ucap Chaca dengan mulut yang masih penuh.
Cello kemudian mencoba rendang buatannya. Ketika sampai di lidahnya, Cello tercekat dengan mata yang terbelalak saat merasakan rasa masakannya itu.
Ini yang di bilangnya enak? Aku rasanya ingin mengeluarkan semua isi perutku saat merasakannya.
Bathinnya.
" Gimana, enak kan? " Tanya Chaca.
" Gak! Gak enak sama sekali sayang, jangan memakannya lagi! " Cello menarik mangkuk berisi rendang itu berniat ingin membuangnya.
" Jangan sayang, mau di kemana kan? Aku masih ingin memakannya, enak tau! " Ucap Chaca mencegah tangan Cello.
Apa lidahku sudah mati rasa? kenapa Chaca bilang itu enak?
Cello merasa bingung.
" Ah...lezatnya! Aku sudah kenyang! " Ucap Chaca setelah menghabiskan sepiring nasi dengan lauk rendang buatan Cello.
" Kalau begitu aku akan membawanya ke dapur! " Cello lalu bergerak cepat mengambil rendang itu, namun tangannya di tahan oleh Chaca.
" Eh.. mau di kemana kan, kamu kan belum makan sayang? " Ucap Chaca.
" A.. aku udah kenyang sayang! " Ucap Cello terbata.
" Kenyang dari mana, aku belum melihatmu makan dari tadi! Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus makan!"
" Duduk! Biar aku suapin! " Lanjut Chaca lagi yang seketika itu membuat Cello pasrah dengan keinginan istrinya itu.
" Tapi, sayang...? " Cello memelas.
" Gak ada tapi-tapi! Ini maunya Cello junior! " Ucap Chaca sambil menyodorkan sesendok nasi dan rendang ke mulut Cello.
" Aaaaaaa..... buka mulutnya sayang...? " Lanjut Chaca lagi.
" Nyam...! " Satu sendok berhasil mendarat di dalam mulut Cello.
" Lagi yah....! " Ucap Chaca bersemangat.
Mati aku.
Cello menangis dalam hati, Ia hanya bisa pasrah dengan perlakuan istrinya itu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
To be continued..
################################
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers!!
😘😘😘