WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
TETESAN DARAH



Cello lalu mendekap erat tubuh istrinya itu, lalu memberikan kecupan di puncak kepala Chaca. Pikirannya yang masih berkecamuk tidak lantas membuatnya harus mengabaikan istrinya itu.


Aku akan mencari tau, apa yang sudah di sembunyikan Chaca dariku.


****


Selesai sarapan pagi, Cello lalu ke kamar mandi karena memang Ia belum sempat mandi dan langsung memilih memasak di dapur. Sedangkan Chaca membersihkan piring-piring kotor mereka di tempat pencucian piring.


Selesai mencuci piring, Chaca berniat ingin menyusul suaminya yang terlihat sudah keluar dari kamar mandi yang berada di dapur dan langsung menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Namun Ia urung tatkala berada tepat di depan pintu belakang rumahnya.


Masih jelas dalam ingatan Chaca tentang kejadian mengerikan tadi malam, di mana Ia mendengar suara benturan keras dan juga darah segar yang membekas di pintu itu. Chaca kemudian mendekat dan mencoba membuka pintu belakang rumahnya tersebut.


Ceklek!


Perlahan-lahan pintu itu terbuka hingga memperlihatkan dengan jelas bahwa bekas darah segar itu sudah hilang dan bersih.


" Ini tidak mungkin, aku yakin sekali dengan apa yang aku lihat tadi malam itu nyata! " Ucapnya.


Chaca tidak menyerah begitu saja, Ia kembali menutup pintu itu dan mencari tetesan darah yang menempel di lantai saat Ia membuka pintu tersebut.


" Aku masih ingat, darahnya menetes di sekitar sini! " Ucap Chaca sambil melihat dengan seksama lantai dapurnya.


" Nah, ini Dia! " Akhirnya Chaca menemukan tetesan darah yang Ia cari.


" Berarti apa yang aku lihat itu nyata. "


" Tapi, apa hubungannya dengan gudang itu? "


" Gudang itu ternyata memiliki ruangan bawah tanah, pasti ada sesuatu di dalam sana. Aku harus segera mencari tau! "


" Apa yang ingin kau cari tau, sayang? " Cello menyahut dari belakang hingga sontak membuat Chaca memegang dadanya karena terkejut.


" Emm.. itu.. aku... aku ingin mencari tau dimana rumah tikus yang ada di dapur ini. " Jawab Chaca gelagapan.


" Tikus? " Kening Cello mengkerut saat mengucapkannya.


" I.. iya.. tikus. "


" Hmm... sejak kapan rumah ini ada tikusnya? "


" Sejak tadi! Iya.. sejak tadi. "


Oh.. Tuhan... selamatkan aku?


Chaca berdo'a dalam hati.


" Apa kau melihatnya? "


" Iya. "


" Di mana? " Cello terus menghujani Chaca pertanyaan-pertanyaan sehingga membuat Chaca semakin terpojok.


" Emm.. di situ! " Ucap Chaca sambil menunjuk di salah satu sudut kitchen set.


" Coba aku lihat, barangkali tikusnya masih ada disana. "


Ketika Cello berjalan mendekati sudut ruangan yang Chaca maksud, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap salam.


" Selamat pagi menjelang siang! " Sapa Nathan yang menyelonong masuk karena kebetulan pintu rumah tidak terkunci.


" Nathan... kau sudah kembali? " Cello urungkan niatnya untuk mencari tikus dan memilih untuk menyambut kedatangan adiknya itu.


Thanks God... Engkau penyelamat ku!


Gumam Chaca dalam hati.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Malam Harinya.


Setelah Cello merasa Chaca tertidur pulas. Ia kemudian meninggalkan kamarnya dan hendak menemui Nathan yang masih asyik menonton tv di ruang keluarga.


" Nat! " Sapa Cello sambil memukul pelan bahu Nathan.


" Aku mau tanya, apa yang sudah terjadi pada kakak ipar mu selama aku pergi? " Tanya Cello hingga cukup membuat Nathan mengernyit heran.


" Hmm... tidak terjadi apa-apa, Dia terlihat baik-baik saja selama kau pergi, emangnya ada apa? "


" Entahlah, aku hanya merasa sedikit aneh dengan sikapnya. Semenjak aku pulang tadi malam, Ia tak menyambut kedatangan ku dengan rona bahagia. Ia malah terlihat seperti orang bingung dan terkesan kaku, tidak seperti biasanya? "


" Kenapa bisa begitu ya kak? " Nathan berfikir keras.


" Bukan hanya itu, Ia bahkan meraba-raba tubuhku seperti mencari sesuatu. Padahal biasanya Dia sangat malu kalau aku suruh menyentuh tubuh ku. "


Nathan hanya terperangah mendengar perkataan Cello. Ia menyimak dengan baik setiap kata-kata yang Cello keluarkan.


" Ada lagi yang membuat qu heran, Dia melakukan itu ternyata untuk memastikan kalau aku ini benar Cello. Ia berfikir kalau-kalau ada seseorang yang akan menyamar menjadi diriku. " Lanjut Cello lagi.


" Menyamar? " Ulang Nathan.


" Iya, menyamar. "


" Tapi, tunggu dulu! " Cello seperti mengingat sesuatu.


" Mario? " Lanjut Cello lagi.


" Maksud kak Cello? "


" Hanya Mario yang memiliki kemiripan seiras dengan ku! "


" Kak Cello menuduh kak Rio? "


" Siapa lagi kalau bukan ******** itu! " Cello memukul meja yang berada di depannya dengan kasar.


" Hanya Mario yang memiliki penyakit aneh pada tubuhnya. Ini pasti ada hubungannya dengan Chaca yang meraba-raba tubuhku untuk memastikan aku tak memiliki penyakit aneh itu. " Lanjut Cello lagi.


" Tidak mungkin kak Rio senekat itu, kak? "


" Tidak ada yang tidak mungkin baginya! " Mata Cello memerah karena emosi.


" Kalau gitu, sebaiknya kak Cello melihat rekaman cctv yang sempat kak Cello nyalakan sebelum kak Cello pergi untuk lebih pasti! "


" Kau benar."


" Aku tidak akan mengampuninya, jika itu benar Dia! " Ucap Cello dengan emosi sambil berjalan ke ruang rahasia dengan pintu berwarna merah.


Sesampainya di ruang rahasia yang berada di dalam rumahnya tersebut. Cello dan Nathan lalu membuka satu persatu layar komputer yang terdiri sangat banyak, hingga memperlihatkan dengan jelas rekaman-rekaman selama beberapa hari Ia meninggalkan rumahnya.


Biasanya,Cello hanya menyalakan beberapa cctv saja, namun selama kepergiannya ke luar kota, Ia sengaja menyalakan semua cctv yang berada banyak di dalam rumah, di gudang, di ruang bawah tanah, hingga di sepanjang jalan masuk ataupun jalan menuju dana hitam ( Black Lake).


Hingga muncullah rekaman dua hari sebelum kepulangannya. Dalam rekaman video itu terlihat dengan jelas, Mario menyamar menjadi dirinya dan mengga*** istrinya itu dengan kasar. Tampak jelas raut wajah ketakutan istrinya di video tersebut.


Nathan hanya dapat menutup kedua matanya saat melihat video tersebut, tapi tidak dengan Cello. Tangannya mengepal kuat serta rahangnya mengeras dengan matanya yang memerah, seakan siap untuk meluapkan seluruh amarahnya yang ingin meledak saat itu juga.


Cello kemudian bangkit dari duduknya. Ia tampak di penuhi emosi yang membara.


" Kak Cello, tahan emosi mu! " Nathan mencoba menenangkan kakak pertamanya itu.


" Minggir kau, ini urusanku! " Ucap Cello sambil mendorong tubuh Nathan agar menjauh darinya.


Cello kemudian berjalan keluar dari ruang rahasia tersebut, sepertinya Ia berjalan menuju gudang belakang rumahnya. Nathan yang merasa cemas, mencoba mengikuti Cello dari arah belakang. Ia sangat khawatir akan terjadi pertumbahan darah di antara kedua kakaknya itu.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Maaf yah, Author lama update dan updatenya cuma segini, karena Author masih dalam keadaan berduka.. 🙏🙏🙏


Kalau ada waktu entar malam Author update lagi deh..!


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan votenya yah...


Kiss Jauh dari Author... 😘😘😘