
Flasback On
Dua hari sebelum kedatangan Cello, Nathan pergi menemui Mario yang berada di gudang bawah tanah. Nathan bermaksud meminta Mario untuk menjaga Chaca sampai Cello kembali.
" Kak Rio, besok aku akan ke luar kota karena ada tugas kuliah, aku juga sudah memberitahukan kak Cello dan Dia akan mempercepat kepulangannya. Maka dari itu, selama aku tidak ada tolong jaga kakak ipar. Pantau saja dari jauh dan jangan coba-coba mendekatinya. "
" Cuih! Apa spesialnya wanita itu, hingga kalian begitu menjaganya seperti menjaga sebuah berlian? "
" Aku tidak perduli dengan apa yang kak Rio katakan, yang jelas kak Rio harus menjaganya karena kak Cello sangat mencintainya. "
" Ha.. ha..ha.. ha..! Cinta.. cinta.. cinta...! " Ucap Mario sambil tertawa.
" Seseorang akan menjadi bodoh jika mengenal apa itu cinta, termasuk dirimu! " Mario menunjuk wajah Nathan dengan jari telunjuknya.
" Bahkan aku pun tau siapa wanita yang sudah membuat adik ku ini jatuh cinta! Ha.. ha.. ha.. ha.. " Lanjutnya lagi sambil tertawa.
" Cukup kak Rio! Persetan dengan semua kata-kata mu! Aku dan kak Cello tidak akan membiarkan mu hidup jika sampai kau berani menyentuh wanita kami! " Jawab Nathan dengan emosi.
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Cuih! " Mario meludah.
" Wanita kami? Ha.. ha.. ha..! "
" Yah benar, hanya kalian yang memiliki wanita, sedangkan aku...? " Mario menunjuk dirinya sendiri sambil menampilkan wajah yang sangat menyedihkan.
" Dari kecil aku selalu di asingkan oleh orang tua kita karena fisik ku ini, aku seakan tidak memiliki hak untuk bisa menikmati apa yang kalian bisa nikmati. Bahkan semua wanita jijik melihat tubuh ku ini. Dan sekarang kau dan juga Cello hanya bisa mengurungku disini tanpa mau membagi wanita kalian kepada ku...? Ha.. ha.. ha.. ha.. "
" Kau sudah gila, kak Rio! " Ucap Nathan.
" Ku peringatkan kau, jangan coba-coba berani menyentuh wanita kami jika kau tak ingin mati! " Ancam Nathan sebelum Ia pergi dari tempat itu.
" Bulshitt! Lihat saja aku akan bikin perhitungan pada kalian! Ha.. ha.. ha..! " Ucap Mario setelah Nathan meninggalkannya.
****
Ke esokan harinya, setelah kepergian Nathan. Mario terus saja memperhatikan Chaca dari kejauhan. Terbesit dalam fikirannya untuk memberi pelajaran pada Cello dengan cara menodai istrinya. Mario lalu menyamar menjadi Cello dengan menggunakan kemeja Cello yang pernah Cello berikan padanya agar terlihat rapi.
Mario mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di atas bibir dan dagunya. Ia juga memangkas rambutnya sendiri agar terlihat bersih dan rapi.
Setelah Ia rasa wajahnya sudah bersih, Mario lalu melaksanakan niatnya. Selama dua malam Ia menampakkan diri sebagai Cello di hadapan Chaca dan selama dua malam itu pula Chaca menderita di buatnya.
****
Kejadian Sebelum Kepulangan Cello.
Setelah puas melepaskan hasratnya kepada istri dari saudara kembarnya sendiri. Mario lalu kembali ke ruangannya di gudang bawah tanah. Namun, sebelum Ia sampai di gudang, langkah kakinya terhenti tatkala Ia melihat sebuah mobil yang berada tidak jauh dari arah danau.
Mario lalu bergegas kembali ke tempatnya untuk mengganti pakaian yang biasa Ia kenakan untuk berburu ( berburu manusia). Ia lalu memakai topeng dan membawa perlengkapan berburunya. Ekor matanya menangkap sepasang manusia yang sedang memadu kasih di dalam mobil.
Rintik-rintik gerimis menambah kenikmatan tersendiri bagi sepasang manusia yang berada di dalam mobil tersebut.
Pyarr !!
Kaca mobil itu berderai bahkan sampai mengenai tubuh tanpa busana dua manusia di dalam mobil tersebut.
Tanpa ampun, Mario lalu melesatkan alat berburunya itu kepada salah satunya, bisa di bilang salah satu pasangannya langsung tewas di tempat. Lain hal dengan wanitanya, Ia berhasil kabur tanpa sempat mengenakan pakaiannya. Mario tersenyum kecut melihat wanita itu berlari.
" He.. he...! Kau mau lari kemana? " Ucap Mario terkekeh.
Wanita itu terus berlari hingga berada tepat di depan gudang. Merasa gudang itu tidak aman baginya, Ia pun kemudian berlari menuju ke sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Cello.
" Tolong.. tolong... to...! "
Belum sempat tangannya mengetuk pintu belakang rumah Cello, Mario lebih dahulu menghabisinya. Hingga kepalanya membentur keras di pintu dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Buukk!
" Mati kau! "
Wanita itu pun tewas seketika, bahkan darah segarnya masih menempel jelas di pintu.
Mario lalu menyeret jasad wanita itu di sepanjang jalan untuk di bawa ke gudang bawah tanah. Hingga memperlihatkan dengan jelas darah segar yang berceceran di tanah.
Setelah itu, Mario lalu mengambil jasad prianya yang masih tinggal di dalam mobil dan kemudian membawa mobil itu ke tempat dimana mobil-mobil korban lainnya di sembunyikan untuk menghilangkan jejak.
Flashback Off.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Chaca mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi masuk ke cela-cela tirai jendelanya. Ia menatap bingung saat tidak mendapati Cello yang sudah tidak berada di di sampingnya lagi.
" Di mana Cello? Lagi-lagi Dia pergi begitu saja. Apa benar itu Cello, atau mungkin Dia pria kasar yang sama yang telah meniduriku? "
Chaca meremas selimutnya, masih terlihat jelas trauma mendalam dari wajahnya. Ia mencoba mengatur nafas sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Chaca mulai menangis di bawah guyuran air. Dirinya merasa sangat kotor, hingga Ia menyabun tubuhnya sampai berkali-kali. Masih jelas dalam ingatannya, saat setiap jengkal tubuhnya di sentuh oleh pria kasar yang wajahnya sangat mirip dengan suaminya itu.
" Aarrgghhh! "
" Aku kotor.. aku sudah kotor...! " Teriaknya sambil menangis, namun tak sampai di telinga Cello.
Setelah puas menuangkan semua emosinya, Chaca lalu bergegas memakai pakaiannya dan keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya.
Ekor matanya menangkap sosok suaminya itu sedang sibuk bergelut dengan perlengkapan dapur.
" Sepertinya Dia sedang memasak. " Ucap Chaca.
" Tapi, tunggu dulu, apa itu Cello? " Lanjutnya lagi dengan penuh selidik.
Chaca lalu memberanikan diri mendekat pada suaminya itu. Di peluknya Cello dari arah belakang sembari tangannya meraba-raba tubuh dari suaminya itu.
" Hmm... aku tau kamu masih kangen banget kan sama suami tertampan mu ini? " Ucap Cello setelah mendapat serangan tiba-tiba dari istrinya.
Cello lalu mematikan kompor dan berbalik badan membalas pelukan istrinya tersebut.
Chaca pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Di bukanya perlahan pakaian yang Cello kenakan hanya sebagian untuk memastikan bahwa itu benar-benar suaminya.
Syukurlah! Dia Cello yang asli.
" Kamu kenapa sayang? kamu masih rindu dengan roti sobek ini? Kamu mau lagi? Hmm...? " Goda Cello.
" Iih... apaan sih! " Chaca lalu menjauhkan tubuhnya dari Cello, namun dengan cepat Cello menahan pinggulnya.
" Lalu kenapa masih membelai perut ku pagi ini? Hmm... " Cello lalu memanyunkan bibirnya berniat ingin mencium bibir istrinya itu, namun tangan Chaca menahannya.
" Gak kenapa-napa sayang, aku cuma ingin memastikan kalau kau benar Cello! " Jawab Chaca tanpa sadar sehingga membuat Cello mengernyitkan dahinya.
" Maksud kamu? " Tanya Cello heran.
Apa yang barusan aku katakan?
" Hmm.. maksud ku, aku hanya khawatir yang berada di hadapan ku saat ini bukan suami ku, bisa saja ada yang menyamar menjadi dirinya atau pun bisa saja Ia memiliki kembaran. " Chaca menjawab dengan menampilkan senyum lebarnya.
Deg!
Cello terkejut mendengar perkataan Chaca. Jelas saja, karena dari sepulangnya tadi malam, Ia memang mencium gelagat aneh dari istrinya itu.
" Aku... "
" Ah...sudahlah... lupakan saja! Aku percaya kalau ini kau! " Ucap Chaca memotong di saat Cello baru ingin menjawabnya.
" Aku lapar, apa yang kau masak, sayang..? " Lanjut Chaca lagi.
" Hmm.. aku memasak rendang kesukaanmu, aku yakin kali ini rasanya tidak akan mengecewakan. " Ucap Cello datar karena fikirannya masih di penuhi dengan tanda tanya atas perkataan istrinya tadi.
" Kalau gitu aku ingin makan, aku sungguh tidak sabar, biar aku bantu menyiapkannya! "
" Baiklah sayang, terima kasih! "
" Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu sudah menjadi suami yang sempurna untuk ku! " Chaca mengecup pipi Cello.
Cello lalu mendekap erat tubuh istrinya itu, lalu memberikan kecupan di puncak kepala Chaca. Pikirannya yang masih berkecamuk tidak lantas membuatnya harus mengabaikan istrinya itu.
Aku akan mencari tau, apa yang sudah di sembunyikan Chaca dari ku.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa untuk meninggalkan like, vote, dan komennya yah Readers...
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘