WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
MELARIKAN DIRI



Setelah selesai bermain-main dengan korbannya, Mario kemudian meninggalkan tempat itu karena mendengar suara keributan dari ruangan tempat Ia menyandera pak Bahri dan asistennya.


Merasa Mario sudah pergi, Chaca kemudian mengelap bekas darah di wajahnya dengan menggunakan telapak tangannya. Ia kemudian bergegas keluar dari kolong meja tersebut dan segera menghampiri adiknya yang terlihat belum sadarkan diri juga.


" Ochi, sadarlah! Ku mohon sadarlah! " Ucap Chaca sambil memukul-mukul pelan pipi Ochi untuk menyadarkannya.


Tidak lama kemudian, mata Ochi pun seketika terbuka secara perlahan.


" Ka..kakak! " Ucapnya yang tampak tak bertenaga dan langsung memeluk erat kakaknya itu.


" Aku takut sekali, kak. " Lanjut Ochi lagi sambil menangis di pelukan kakaknya.


" Jangan takut, ada kakak di sini. Sekarang kita harus segera keluar dari tempat ini sebelum pria itu kembali. " Ucap Chaca sambil melepas pelukannya dan membantu adiknya untuk berdiri.


Ketika berdiri, Ochi terkejut ketika melihat keadaan teman-temannya yang sudah mengenaskan.


" Teman-temanku kak! Teman-temanku? " Ochi menangis melihat semua itu.


" Ochi, tenanglah! Mereka sudah tidak bisa di selamatkan lagi. " Chaca mencoba menenangkan adiknya itu.


" Ayo, kita harus segera pergi dari sini! " Lanjut Chaca lagi.


Chaca pun kemudian memapah tubuh Ochi karena adiknya itu masih terlihat lemas. Mereka terus berjalan keluar hingga melewati ruangan tempat papanya di sandera. Terdengar suara keributan dari arah dalam ruangan tersebut, namun keduanya tak menghiraukan dan memilih terus berjalan hingga keluar dari gudang itu.


Sesampainya di depan rumah, Chaca menyuruh Ochi untuk menunggunya di dalam garasi, karena Ia akan masuk untuk mencari kunci mobilnya di dalam kamar. Selama ini mobil Chaca tersimpan di garasi kerena jarang sekali di pakai.


Ketika telah mendapatkan kunci mobil yang Ia cari, dengan tergesa-gesa Chaca segera menyusul Ochi di dalam garasi. Ia dan adiknya itupun segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju meninggalkan rumah yang mendadak horor baginya itu.


Mendengar suara deru mesin mobil, Mario dan Nathan pun merasa heran. Mario kemudian bergegas menuju ke ruangan pemotongan daging, dan benar dugaannya, Ochi sudah tidak berada di sana lagi.


" Sial! " Umpatnya.


Sementara itu di dalam mobil, Chaca tampak sedikit lega karena telah berhasil kabur dari pria psikopat yang sangat mirip dengan suaminya itu.


" Kakak, bagaimana kalau kak Cello pulang? Kak Cello bisa jadi korban berikutnya, seperti Nathan yang tak kunjung kembali menemuiku. Aku yakin Nathan pun sudah menjadi korban psikopat itu. " Ucap Ochi yang belum mengetahui apa-apa.


" Tidak akan terjadi apa-apa pada Cello dan Nathan. "


" Maksud kakak? "


" Karena mereka keluarga psikopat. " Ucap Chaca dengan sedikit menahan sesak di dada saat mengetahui kebenaran itu.


Ochi hanya bisa diam mendengar perkataan kakaknya itu. Akalnya belum bisa mencerna dengan baik maksud dari perkataan kakaknya itu.


" Sudahlah, jangan bahas mereka! Yang terpenting sekarang kau harus segera pulang, biar Cello dan Nathan menjadi urusanku. " Ucap Chaca lagi di tengah menyetirnya.


Belum sempat keluar dari kawasan Black Lake, mobil mereka pun terbalik karena terkena ranjau yang memang sudah di pasang Mario. Hanya dengan menggunakan remot kontrol, Mario bisa memainkan ranjau itu sesuka hatinya.


Kepala Chaca terbentur stir dengan cukup keras hingga mengeluarkan darah di pelipisnya. Begitu juga Ochi yang tubuhnya keluar dari kaca depan mobil hingga kembali tidak sadarkan diri.


Dalam keadaan setengah sadar, tubuh Chaca dan juga Ochi di bawa oleh dua orang pria masuk kembali ke dalam ruang bawah tanah. Kali ini mereka tidak di ikat di ruangan pemotongan daging, tapi di bawa ke ruangan yang satunya lagi, di mana pak Bahri pun di sandera di sana.


Chaca dan Ochi kemudian di dudukkan di lantai dengan tangan yang di ikat.


" Jangan sakiti anak-anakku! " Ucap pak Bahri yang suaranya masih dapat di jangkau pendengaran Chaca sesaat sebelum dirinya benar-benar tidak sadarkan diri.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Pukul 07.00 pagi, mobil Cello tampak sudah kembali. Di halaman rumah tampak pula Nathan yang sedang menunggu kedatangannya. Cello kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri adiknya itu.


" Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Cello yang merasa heran dengan tingkah tidak biasa adiknya itu.


" Menunggumu. " Balas Nathan singkat namun cukup membuat Cello mengernyitkan keningnya.


" Ada apa denganmu, Nat?"


" Aku sudah menemukan jati diri ku yang sebenarnya, sekarang tinggal kau saja kak Cello. "


" Maksudmu? " Cello mulai merasa heran.


" Pembunuh orang tua kita, telah di temukan! Dan sekarang waktunya membalas dendam. "


" Kau jangan bercanda, Nat? "


" Apa wajahku keliatan bercanda, kakak? Kalau kau tidak percaya ikutlah denganku! "


Cello merasa tertarik dengan perkataan Nathan. Sebelum melangkahkan kakinya, Cello terlebih dahulu menoleh ke arah rumahnya.


" Istrimu juga berada disana. " Ucap Nathan seketika seolah paham apa yang sedang di pikirkan oleh Cello.


" Apa yang kau katakan? Kenapa istriku bisa berada di sana, katakan Nathan? " Cello emosi mendengar perkataan Nathan hingga menarik kerah baju adiknya itu.


" Ikut saja denganku kak, nanti kau akan tau. "


Cello kemudian melepas cengkramannya dan memilih mengikuti langkah Nathan. Ia terus berjalan dan berjalan hingga memasuki ruang bawah tanah dan langsung menuju ke ruangan yang Nathan maksud.


Di dalam ruangan itu, Cello terkejut bukan main. Emosinya memuncak saat mendapati istrinya dalam keadaan yang memprihatinkan. Cello lalu mendorong tubuh Nathan hingga membentur dinding. Saat Ia hendak melayangkan pukulan di wajah Nathan, tangannya di tahan oleh Mario.


" Tahan emosimu, Cello! " Ucapnya.


" Kau! " Cello menatap Mario dengan tatapan penuh amarah.


" Tahan emosimu. "


" Kenapa kau kembali, bukankah aku sudah membebaskanmu? "


" Aku kembali untuk membalaskan dendam orang tua kita. "


" Maksudmu? "


" Kau lihat yang di sebelah sana? " Ucap Mario sambil menunjuk ke arah pak Bahri.


" Papa? " Jawab Cello terkejut.


" Cih! Aku merasa geli mendengar kau mengucapkan kata-kata itu padanya. "


" Dia papa mertuaku, sebenci apapun Dia padaku, aku harus tetap menghormatinya! Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menyanderanya, lalu kenapa Dia ada di sini? "


" Dia di sini untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. "


" Aku tidak mengerti jalan fikiranmu. " Ucap Cello yang langsung berlalu dari hadapan Mario dan Nathan lalu menghampiri Chaca.


" Sayang, sadar sayang! Ku mohon sadarlah! " Ucap Cello sambil membelai wajah istrinya yang tampak pucat itu.


" Cello, maafkan papa! Tolong jangan libatkan Chaca dan Ochi dalam masalah ini. Mereka tidak tau apa-apa. " Sahut pak Bahri tiba-tiba saat menyadari kedatangan Cello.


Cello terlihat bingung mendengar perkataan pak Bahri. Ia tak memahami maksud dari perkataan tersebut.


" Kak Rio, apa yang di lakukan kak Cello? " Ucap Nathan yang memperhatikan gerak gerik Cello dari jauh.


" Biarkan saja dulu Dia menikmati saat-saat terakhirnya bersama sang istri. " Jawab Mario sambil tersenyum licik.


" Chaca sayang, ku mohon sadarlah! " Cello semakin memeluk erat istrinya itu.


" Kalau sampai terjadi apa-apa pada istriku, kalian akan tanggung akibatnya! " Ancam Cello pada Mario dan Nathan yang hanya mendapatkan balasan senyum licik dari Mario.


Tidak berapa lama, Chaca pun akhirnya membuka matanya perlahan.


" Cello, kau kah itu? " Ucapnya sedikit parau.


" Iya sayang, ini aku suamimu, Cello. "


" Aku mencintaimu, Cello." Ucap Chaca pelan.


" Aku juga mencintaimu, sayang. " Cello kemudian mencium kedua pipi, kening, hingga bibir istrinya itu.


" Ha..ha.. ha.. ha..! " Mario tertawa sambil bertepuk tangan melihat drama yang terjadi di depan matanya tersebut.


" Apa maumu Mario? " Cello langsung berdiri dan menghampiri Mario.


Melihat sedikit pertengkaran antara dua saudara itu, pak Bahri lalu menyuruh Chaca untuk menyadarkan Ochi.


" Chaca, cepat sadarkan adikmu dan cari cara agar kalian bisa segera pergi dari sini! " Ucapnya.


" Papa, bagaimana? "


" Jangan hiraukan papa, keselamatan kalian jauh lebih penting. "


Chaca terlihat menahan air matanya yang ingin jatuh. Ia pun terus menggoyang-goyang tubuh Ochi sampai Ochi tersadar.


" Kakak.... papa? " Ucap Ochi dengan sedikit lemas.


" Ochi, cepat bukakan ikatan tali di tangan kakak. "


Ochi pun kemudian mendekat dengan menggeser-geserkan tubuhnya sambil saling membelakangi. Belum sempat tali itu terlepas. Nathan pun menghampiri.


" Apa yang sedang kalian lakukan? Hmm... " Ucapnya.


" Nathan, kenapa kau lakukan ini pada kami? Apa salah kami, Nat? " Tanya Ochi dengan mata yang berkaca-kaca.


" Karena kalian memang pantas mendapatkannya! "


" Nat, tolong bebaskan mereka, jangan libatkan mereka dalam hal ini, ku mohon..! " Sahut pak Bahri memelas.


Belum sempat mendapatkan jawaban dari Nathan, Mario dan Cello pun menghampiri mereka.


" Bagaimana Cello? " Tanya Mario.


" Aku masih tidak percaya dengan apa yang kau katakan."


" Cih! Kau bisa bertanya padanya. "


" Apa benar ini kau? " Tanya Cello pada pak Bahri sambil menunjukkan foto pria yang di lingkari merah.


" Jawab! " Bentak Cello karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


" Cello... " Chaca menyahuti suaminya itu karena telah berani membentak papanya.


" Jawab! " Bentak Cello lagi.


" Maafkan aku. " Jawab pak Bahri sambil menunduk.


" Damnn!!! " Amarah Cello akhirnya meledak, Ia menendang benda apa saja yang ada di depannya.


" Bagaimana Cello, apa sekarang kita boleh mengeksekusinya? " Ucap Mario dengan senyum kemenangan.


" Jangan!! " Teriak Chaca dan Ochi secara bersamaan.


" Ku mohon jangan! " Ochi mulai menangis.


" Cello, ku mohon? " Kali ini giliran Chaca yang memelas pada Cello.


Amarah dan benci sudah menguasai pikiran Cello saat itu, hingga tangisan istrinya pun tak Ia hiraukan lagi.


" Laksanakanlah, Rio! " Ucap Cello sambil membuang mukanya dari Chaca.


" Jangaaannnnn!!! " Ochi teriak histeris sedangkan Chaca hanya diam karena harus menelan rasa kecewanya itu terhadap suami yang telah menanam benih di dalam rahimnya itu.


Pak Bahri pun tumbang seketika dalam keadaan bersimbah darah di hadapan kedua anaknya.


" Papaaa...!!! " Teriak Ochi dan Chaca secara bersamaan dengan disertai air mata yang membanjiri wajah mereka.


" Who's next, Cello? " Tanya Mario lagi.


Cello kemudian menoleh pada Chaca, tatapan mereka saling bertemu. Tampak jelas guratan kekecewaan dari mata Chaca saat menatap Cello. Cello tak lagi bisa berbuat apa-apa karena telah di butakan oleh emosi dan dendam. Sedangkan Chaca hanya dapat menangisi nasibnya sendiri.


" Terserah kau saja!" Ucap Cello.


" Kalau begitu, aku serahkan yang berikutnya pada Nathan. "


Kini tugas berikutnya di ambil alih oleh Nathan. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Ochi. Wajah Ochi yang terlihat basah karena air matanya itu hanya bisa diam dan tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.


" Nathan, bukankah kau sangat mencintai Ochi? " Chaca mencoba mengingatkan Nathan akan perasaannya.


" Nathan, aku sangat mengenalmu, kau anak yang baik, Nat. Bukan pembunuh seperti dirinya! " Lanjut Chaca lagi.


" Jangan dengarkan Dia, Nat! Ingat, kekasihmu itu telah menghianatimu. " Ucap Mario membangkitkan emosi Nathan.


" Aku tidak pernah menghianatimu, Nat? " Akhirnya Ochi menyahut untuk membela dirinya sendiri.


Sesaat tatapan mereka bertemu.


" Omong kosong! " Nathan langsung menghabisi Ochi saat itu juga, hingga darah Ochi mengenai Chaca yang berada tepat di samping adiknya tersebut.


" Ochiiii.....!!!!" Teriak Chaca yang seketika itu histeris dan menangis.


" Ochi...! " Teriaknya lagi.


" Kalian semua biad**!" Chaca mulai merasa frustasi.


" Who's next? Ha..ha.. ha.. ha..! " Ucap Mario tertawa.


" Sepertinya, kali ini giliranmu, Cello? " Lanjut Mario lagi.


Cello pun kemudian mendekati istrinya yang tampak kacau dan frustasi itu.


" Apa kau akan menghabisi ku juga, Cello? " Ucap Chaca dengan wajah kacaunya.


" Aku mencintaimu, kau harus tau itu. Tapi, aku juga memiliki dendam terhadap keluargamu. "


" Kalau begitu habisi aku sekarang, Cello! Habisi aku juga anakmu! "


Cello menatap mata Chaca dalam, terdapat semburat cinta yang sangat besar terpancar dari matanya. Namun, dendam membuat matanya menjadi buta.


" Apa yang kau tunggu,Cello? Ku ingatkan kau, istrimu itu pernah tidur denganku, dan Dia sangat menikmati setiap sentuhan yang aku berikan padanya! Ha.. ha.. ha.. ha..! " Mario mencoba menjadi bara api di antara mereka berdua.


" Jangan dengarkan Dia, Cello! Itu tidak benar! " Ucap Chaca pelan.


Mendengar perkataan Mario, rasa cintanya tak mampu membendung rasa amarah dan dendamnya lagi. Ia pun kemudian bersiap-siap untuk menghabisi istrinya itu. Namun, tiba-tiba saja lampu pun padam dan suasana menjadi gelap gulita.


Ketika lampunya kembali menyala, Cello sudah tidak mendapati Chaca yang berada di depannya lagi.


" Sial ! Dia melarikan diri! " Umpat Mario.


Tidak menunggu lama, Cello, Mario, dan Nathan pun terus mengejar Chaca yang sudah jauh melarikan diri masuk ke dalam hutan. Dengan langkah gontai, Chaca mencoba untuk terus berlari dan berlari. Hingga akhirnya Ia memutuskan terjun ke dalam danau yang tidak dangkal itu. Mereka bertiga pun akhirnya kehilangan jejak Chaca.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Halo, Readers!!


Semakin menegangkan bukan?


Tersisa satu episode lagi, jangan di lewatkan yah!!


Jangan lupa tinggalkan like, vote, dan komennya yah..


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘