
Satu bulan setelah menghilangnya Maya.
Kesibukan dalam mempersiapkan acara pernikahannya, tidak membuat Chaca lelah. Dia tetap bekerja seperti biasa. Bagaimanapun juga, Ia tak ingin mengecewakan papanya, walaupun tidak lama lagi Dia akan resign dari kantor itu.
Tok... tok... tok...!
Terdengar suara pintu digedor dimana ruangan itu tempat Chaca bekerja.
" Masuk! " Titahnya.
Seorang wanita berpakaian rapi khas wanita kantoran masuk ke ruangan Chaca.
" Ada apa? "
" Bapak memanggil ibu untuk segera ke ruangan beliau. "
" Baiklah, katakan pada beliau, sebentar lagi saya akan menyusul kesana. "
" Baik bu, kalau begitu saya permisi. "
" Emm.. "
Tidak lama setelah itu, Chacapun pergi keruangan pak Bahri yang tak lain adalah papanya sendiri.
Tok... tok... tok...!
" Masuk! " Titah pak Bahri dari dalam.
Ceklek!
Pintupun terbuka dan Chaca langsung duduk disebuah kursi didepan meja papanya.
" Ada apa papa memanggil Chaca? "
" Emb... sebenarnya papa tidak ingin merepotkan kamu, tapi papa memang butuh kamu saat ini. "
"Tidak apa-apa pa, kira-kira apa yang bisa Chaca bantu pah? "
" Begini, perusahaan kita akan melakukan meeting penting besok bersama klien kita yang sangat menguntungkan untuk perusahaan kita. "
" Papa tidak bisa menghadiri meeting besok, itu sebabnya papa ingin kamu yang menggantikan papa besok, bagaimana? Apa kamu tidak keberatan? " Lanjut pak Bahri.
" Oh... tidak sama sekali pah, Chaca bersedia. "
" Tapi, meeting kita dilaksanakan dimana pah? " Lanjut Chaca.
" Digedung Evolution Corps, salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang broadchast terbesar di kota ini. "
" Oh.. baiklah pa, serahkan semuanya pada Chaca. "
" Kamu memang anak yang paling bisa papa andalkan !" Segurat senyum terlukis diwajah pak Bahri.
Chacapun keluar dari ruangan pak Bahri dan kembali keruangannya untuk mempelajari berkas-berkas yang sempat diberikan papanya tadi untuk persiapan meeting besok.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Kesesokan harinya digedung Evolutin Corps.
Chaca keluar dari mobil beserta seorang sekretaris yang berada disampingnya. Chaca memasuki gedung itu dan menaiki sebuah lift. Didalam lift itu kebetulan hanya ada mereka berdua.
" Haah...! Huuf... ! Haah...! " terdengar bunyi seseorang yang sedang menarik nafas berat.
" Nancy !" Panggil Chaca pada sekretarisnya.
" Iya bu. "
" Apa kau sedang sesak nafas? "
" Tidak bu! saya baik-baik saja. "
" Oh... "
Mungkin hanya perasaan ku saja.
Ting!
Pintu lift terbuka, Chaca dan sekretarisnya keluar dari lift tersebut, hendak menuju ke ruangan meeting.
Chaca yang seketika itu merasa ingin buang air kecil, akhirnya memutuskan untuk ke toilet yang berada dilantai itu. Sekretarisnya diminta untuk pergi duluan keruangan meeting.
Setibanya ditoilet, Chacapun membuka salah satu pintu toilet, kebetulan ditoilet itu sedang tidak orang sama sekali.
Tiba-tiba terdengar suara air keran yang terbuka. Chacapun yang kala itu sudah selesai, kemudian membuka pintu toiletnya dan melihat air keran yang masih mengalir deras di watafel. Chaca lalu mematikan keran itu dan hendak berlalu dari toilet tersebut, namun langkahnya terhenti tatkala mendengar suara aneh disalah satu pintu toilet.
" Haah...! Huuf...! Haah...! "
Bahkan suara itu terdengar berkali-kali.
Itukan suara orang sesak nafas yang ku dengar didalam lift tadi?
Chaca yang penasaran, mencoba mendekati arah suara itu. Dia membuka perlahan pintu toilet itu, namun lagi-lagi Ia tak menemukan apapun.
" Huf...! " Chaca mendekap dadanya karena gugup.
Ketika Chaca hendak menoleh kebelakang bermaksud untuk keluar dari toilet tersebut, Dia dikejutkan dengan apa yang Ia lihat.
" Aaarrrggghhh! " Pekiknya secara bersamaan.
Ternyata itu sekretarisnya, Nancy. Nancy bermaksud menyusul bosnya itu karena merasa sudah terlalu lama didalam toilet, sedangkan semua orang sudah menunggunya diruangan meeting. Belum sempat Nancy menyentuh bahu si Bos, pandangan merekapun bertemu,sehingga terjadilah drama teriakan tadi.
" Kamu! Ngagetin saya saja! "
" Maaf bu...?"
" Ya sudah, ayo kita keruangan meeting !" Ajak Chaca.
Setibanya diruangan meeting, semua mata tertuju padanya. Chacapun kemudian memperkenalkan diri tanda meeting dimulai.
" Maaf, membuat kalian menunggu cukup lama."
" Tidak apa-apa nona, silahkan dimulai meeting kita hari ini !" Jawab seorang pria muda yang terlihat seperti seorang CEO.
" Terima kasih pak Zain. " Jawab Chaca sungkan pada pria dihadapannya.
Chacapun menjelaskan proyek yang sedang dijadikan bahan meeting pada saat itu. Terlihat antusias dari para tamu meeting yang hadir diruangan tersebut.
Namun, ada satu orang yang menarik perhatian Chaca. Tampak seorang wanita duduk disudut ruangan sembari membelakanginya.
Tidak sopan sekali wanita itu? Dilihat dari pakaiannya, dia hanya karyawan biasa, tapi kenapa dia duduk menghadap tembok?
" Permisi! Kepada seseorang yang duduk dipojokan sana, apa anda mendengarku? "
Sontak, semua yang hadir diruangan itu seketika menoleh mengikuti arah pandangan Chaca. Namun, mereka tidak melihat apapun, melainkan hanya sebuah kursi yang dibiarkan kosong. Nancy yang menyadari hal itu, segera berdiri dan membisikkan sesuatu pada Chaca.
" Maaf bu, tidak ada siapa-siapa disana. " Tunjuk Nancy.
" Jangan ngaco kamu? itu buktinya masih duduk diam saja disana. " Jawab Chaca pelan.
"Bener bu, saya tidak sedang berbohong. " Nancy bergidik ngeri.
Ah...yang benar saja? justru aku sngat jelas melihatnya dan sngat nyata dimataku.
Gumam Chaca dalam hati sambil mengucek-ngucek matanya.
" Anda baik-baik saja, nona ?" Zain menyadarkan Chaca dari lamunannya.
" Tidak ada apa-apa disana. " Lanjutnya lagi.
*Apa! bagaimana semua orang disini tidak melihatnya? Jelas-jelas dia masih berada disana.
Hah! sudahlah! lebih baik aku fokus ke meeting saja, jangan sampai klien ini lepas, aku tidak mau mengecewakan papa*.
" Ok..! Baiklah pak, bu, kita lupakan hal tadi, jadi bagaimana menurut anda tentang proyek ini. "
" Sangat bagus, saya tertarik! " Jawab Zain.
"Saya akan menghubungi perusahaan anda segera! " Lanjutnya lagi.
" Terima kasih banyak atas kerja samanya pak Zain. " Chaca mengulurkan tangan tanda deal, dan disambut balik oleh Zain.
Meetingpun selesai, semua orang terlihat sudah meninggalkan ruangan. Tinggallah Chaca dan sekretarisnya yang keluar paling akhir dari ruangan itu.
Sekilas Chaca masih melihat kearah wanita yang duduk disudut ruangan itu.
Wanita itu benar-benar aneh
Ketika Chaca hendak keluar, Chaca melihat wanita itu bergerak pelan memutari kursinya. Perlahan-lahan kursinya berputar hingga menghadapkan pandangannya pada Chaca.
Chaca pun tersontak kaget bukan main, tubuhnya seketika kaku, kakinya tidak dapat digerakkan, mulutnya pun seolah-olah bungkam tanpa suara. Hanya hatinya yang masih mampu berbicara.
*Maya Jackson?
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
to be continued*.
################################
Author mw ngucapin banyak-banyak terima kasih kepada para Readers yang bersedia mampir di karya saya yang receh ini.
Jangan lupa like, vote, dan komen yah... 😘😘😘😘