
Malampun tiba, Cello kemudian pergi ke kamarnya untuk membangunkan istrinya yang masih terlelap tidur. Sebelumnya, Cello membereskan benda-benda yang bertebaran di lantai yang dibuang Chaca sore tadi, lalu menyusunnya kembali diatas meja rias milik istrinya itu. Setelah itu, Cello lalu menghampiri istrinya berniat untuk membangunkannya.
" Sayang...! Bangun dulu yuk, waktunya makan malam! " Ucap Cello smbil mengusap-usap pipi Chaca pelan.
Chacapun menggeliat-geliat saat mendapat sentuhan di pipinya itu, lalu kemudian membuka matanya secara perlahan.
" Sejak kapan kamu disini? " Ucapnya.
" Barusan! Aku hanya ingin mengajakmu makan malam. "
" Oh... kalau begitu aku cuci muka dulu di kamar mandi! "
" Baiklah, aku tunggu di meja makan ya, sayang? "
" Ok! " Ucap Chaca mengiyakan dan langsung turun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mencuci wajahnya, Chaca lalu menyusul Cello di meja makan, dimana disana sudah ada Nathan juga yang sudah menunggunya.
" Gimana keadaan kamu sayang, sudah agak baikan sekarang? " Tanya Cello ketika Chaca sudah duduk di kursinya.
" Lumayan! "
" Makanya ,kak Cello jangan terlalu maksa kak Chaca, kasian kan kak Chacanya jadi kecapean gitu! " Celetuk Nathan.
Chaca hanya tersenyum mendengar kata-kata Nathan.
" Tau apa kamu soal itu? Sok pintar boleh tapi sok tau jangan!! " Jawab Cello tidak terima.
" Ha..ha.. ha..! Kalian lucu yah? Udah ah, sebaiknya kita makan, perut ku udah keroncongan dari tadi! " Ucap Chaca terkekeh.
" Ayo kita makan! Aku udah masakin makanan kesukaan kamu loh....Salmon Balado, kamu kan suka banget makan ikan salmon? " Sambut Cello dengan semangat.
" Hmm... kamu paling tau deh kesukaan aku, tapi ini asli kamu yang masak? "
" Iya, sayang... aku masaknya pake cinta! "
" Idih, emang cinta bisa jadi pengganti spatula gitu? " Potong Nathan.
" Diam kamu bocah!" Ucap Cello kesal.
" Hahaha...! Sudah.. sudah, jangan ribut lagi..! " Chaca menengahi.
" Sejak kapan kamu pandai masak, sayang? " Lanjut Chaca lagi.
" Sejak hari ini! "
" Itupun dibantu sama aku, kak! " Celetuk Nathan lagi.
" Iya, gue tau! " Cello menyolot.
" Ha.. ha.. ha...! Lucu banget kalian! " Ucap Chaca tertawa.
" Ya udah, aku cobain yah? " Lanjut Chaca lagi.
Chaca lalu mengambil beberapa potong daging ikan salmon, lalu mencicipinya. Cello dan Nathan harap-harap cemas menanti jawaban Chaca akan rasa masakannya, seperti peserta kontes masak yang sedang menunggu keputusan juri.
" Emm... enak! " Ucap Chaca saat memasukkan potongan daging ikan salmon ke dalam mulutnya.
" Benarkah sayang? " Tanya Cello antusias.
" Iya, bener! Aku suka! Lain kali masakin aku lagi yah?? haha..! "
" Hmm... demi kamu apa sih yang gak, sayang?" Cello mulai menggombal.
" Cih! " Decih Nathan.
" Ha.. ha.. ha..! kakakmu ini Nat, ternyata rajanya gombal..! Ha.. ha.. ha..! " Ucap Chaca dengan mulut yang masih penuh.
Mereka terus melanjutkan guyonan mereka sambil sesekali tertawa lepas,sambil menikmati makan malam mereka bersama.
Selesai makan malam dan bercengkrama sebentar di ruang keluarga sambil menonton tv bersama Nathan. Cello dan Chaca memutuskan untuk tidur lebih awal, walaupun Chaca sudah banyak tidur tapi tak membuat dirinya itu bisa menahan rasa kantuknya.
Mereka lalu merebahkan tubuh diatas tempat tidur. Chaca terjaga di dalam pelukan Cello malam itu. Entahlah, Ia hanya merasa sangat nyaman berada dalam pelukan suaminya itu.
" Aku sangat mencintaimu, sayang? " Ucap Cello sambil mengecup puncak kepala istrinya.
" Emm.. Aku juga sayang...!" Balas Chaca sambil mengelus-elus dada bidang Cello.
" Jangan pernah pergi dari hidupku, walau apapun yang akan terjadi nanti? Janji! " Cello menunjukkan jari kelingkingnya untuk membuat janji.
" Iya, sayang! aku janji! " Chaca menyambut jari kelingking Cello.
" Makasih sayang... Cup! " Cello mengecup kembali puncak kepala Chaca sampai berkali-kali.
################################
Ke esokan harinya di perusahaan Hando Jaya milik pak Bahri.
Seorang pria terlihat tergesa-gesa memasuki ruangan pak Bahri. Orang itu tak lain adalah Daris, anak buah Cello.
" Ini untukmu! " Ucap pak Bahri pada Daris sambil menyerahkan satu koper penuh berisi uang.
Mata Daris seketika terbelalak melihat uang sebanyak itu.
" Kenapa bengong? Apa uang sebanyak ini masih kurang bagimu? "
" Ti.. tidak pak! Justru saya berterima kasih banyak pada bapak! "
Sebelum uang itu benar-benar sampai di tangan Daris, pak Bahri kembali mengingatkannya.
" Tapi ingat, tidak ada siapa pun yang boleh tau kalau aku yang memintamu untuk membakar resto Harfar! "
" Pasti pak! Rahasia kita dijamin aman! "
" Kalau sampai rahasia ini bocor, kau dan keluargamu tidak akan selamat! " Ucap pak Bahri mengancam.
" Baik pak! Saya berjanji untuk lebih berhati-hati! Tapi kalau saya boleh tau, kenapa bapak ingin membakar resto Harfar, padahal itu milik menantu bapak sendiri bukan? "
" Cih! Aku tidak pernah menganggapnya sebagai menantu dan akan ku pastikan anakku akan kembali kepada ku! "
" Tapi, apa bapak tidak kasian pada anak bapak, pasti Dia juga ikut terbebani dengan masalah ini? "
Mendengar ucapan Daris, pak Bahri lalu menggeprak mejanya.
Brakk!
" Jangan ikut camput urusanku! Kau tidak perlu tau alasan utamaku melakukan itu! Yang jelas, aku hanya ingin melindungi putriku dari pria breng*** itu! "
" Ma.. maafkan saya lancang pak! "
" Sudah, pergi dari hadapanku! "
" Baik pak! kalau begitu saya permisi! " Daris lalu meninggalkan ruangan itu sambil membawa koper yang berisi uang dengan nominal yang tidak sedikit.
Setelah Daris pergi dari hadapannya, pak Bahri lalu menghidupkan cerutunya lalu menghisapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Bastian Harfar, aku tidak sudi memiliki cucu dari darah keturunan mu! Ha.. ha.. ha..! " Ucapnya.
################################
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan Like, vote, dan komen di setiap episodenya yah Readers...
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘