
Merasa mobil Cello sudah tidak kelihatan lagi, Chaca kemudian menutup pintu rumahnya. Namun, belum sempat pintu itu tertutup sempurna, kedua matanya menangkap dua sosok perempuan yang Ia lihat waktu mencuci piring tadi malam. Dua sosok perempuan itu menatap tajam ke arahnya.
Deg!
Jantung Chaca berdegup dengan cepat. Kali ini, Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya lagi. Dua arwah yang datang tiba-tiba seakan ingin menerornya. Dengan cepat Chaca menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
" Hufft! sebenarnya, apa yang di inginkan oleh mereka? kenapa selalu menampakkan diri di depanku?" Ucapnya sambil bersandar di balik pintu.
Chaca kemudian mengintip di balik jendela untuk melihat dua sosok perempuan tadi.
" Perasaan... tadi ada disana? kemana mereka? "
Merasa masih ragu, Ia kembali memutar bola matanya mencari kedua sosok perempuan itu dari balik jendela. Ekor matanya tertuju pada depan pintu rumahnya.
Deg!
Chaca menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat dua sosok perempuan itu sudah berada di depan pintu rumahnya. Ia kemudian menutup mulut dengan tangannya supaya tidak menimbulkan suara karena kagetnya. Perlahan Chaca menutup kembali tirai jendela lalu berjalan pelan agar menjauh dari jendela.
Cello, aku takut sekali! Batinnya.
Perlahan-lahan, Chaca berjalan di setiap sudut ruangan rumahnya untuk mengunci semua jendela dan juga mengunci pintu samping dan pintu dapur.
Kemudian, Ia berlari kecil menuju kamarnya dan langsung mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sambil menutup telinganya dengan bantal. Berharap apa yang di lakukannya itu dapat mengurangi rasa takutnya. Tidak berlangsung lama, terdengar suara ketukan dari arah depan.
Tok... tok.. tok..!
Hah! Apa arwah dapat mengetuk pintu?
Tok.. tok.. tok..!
" Ada lagi. "
Tok.. tok.. tok..!
" Oh, Tuhan, tolong lindungilah aku! " Chaca semakin ketakutan.
Tok.. tok.. tok...!
" Astaga! Kenapa Dia tidak mau berhenti mengetuk pintu..! " Ucapnya yang mulai merasa frustasi.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu menghilang, suasana kembali hening. Chaca berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.Namun, Tiba-tiba dering ponsel mengejutkannya.
Drrrtt... drrrtt... drrrtt...!
" Damn..! " Chaca mengumpat kasar saat terkejut mendengar ponselnya beredering di atas meja.
Ia kemudian mengambil ponselnya diatas meja, lalu melihat foto Cello yang terpampang di layar ponselnya.
Cello..! Gumamnya.
" Ha.. halo...sayang..! "
" Hufft! Sayang, sekarang kamu dimana? "
" Di rumah!"
" Kalau di rumah, kenapa kamu tidak membukakan pintu untuk Nathan?"
" Nathan? "
" Iya, Nathan! Dia berada di luar sekarang! Berkali-kali Ia mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban! Apa kamu tertidur? "
Oh.. jadi yang mengetuk pintu dari tadi ternyata Nathan.
" Sayang? Apa kau mendengarku? "
" I.. iya.. aku denger!"
" Oh.. kalau begitu pergilah bukakan pintu untuk Nathan! "
" Baiklah, sayang! aku tutup telfonnya yah! Bye..! "
" Ok, bye..! "
Telfonpun di akhiri, Chaca merasa lega setelah tau yang mengetuk pintu adalah adik iparnya sendiri yaitu Nathan.
" Hufft! Syukurlah itu Nathan, kenapa aku jadi parno begini sih? " Ucapnya.
Chaca kemudian keluar dari kamarnya, berniat untuk membukakan pintu untuk Nathan.
Ceklek!
Mendengar suara pintu terbuka, Nathan pun menoleh.
" Akhirnya, terbuka juga! " Ucap Nathan.
" Hehe.. Nathan, maaf ya, aku lagi di kamar mandi tadi! " Chaca berkilah.
" Oh... gak apa-apa kakak ipar? "
" Ya udah, masuk gih! "
" Ok! "
Setelah, Nathan masuk ke dalam rumah, Chaca kemudian menutup pintu itu kembali. Namun, sebelumnya Ia melihat-lihat di sekitar untuk mencari dua sosok perempuan tadi. Merasa tidak menemukan apa yang Ia cari, Chaca kemudian menutup pintunya rapat.
" Aku disuruh kak Cello kesini buat jagain kakak ipar! " Ucap Nathan sambil mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tamu.
" Emangnya aku ini bayi apa, perlu di jaga segala! "
" Yah! Namanya juga cinta! Walaupun terkesan lebay, tapi memang begitulah cinta. "
" Cie... sekarang beralih profesi jadi penyair yah, kamu? "
" Hahaha...! " Nathan tertawa mendengar ucapan kakak iparnya itu.
" Ya udah, aku tinggal ke dapur dulu ya, Nat! Mau masak bentar, kamu pasti belum makan kan? "
" Eh.. gak usah repot-repot kak! Tapi, jujur kebetulan aku memang belum makan. He.. he..! "
" Tuh kan, ngaku! Udah kebaca dari wajahmu! "
" Ah.. masa'! " Nathan kemudian meraba wajahnya karena kemakan omongan Chaca.
" Ha.. ha.. ha..! " Chaca tertawa sambil berlalu dari hadapan Nathan.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Sementara itu di Resto Harfar di jalan marrison.
" Maaf pak, tidak ada yang bisa kita selamatkan! " Ucap Daris, anak buah yang menelfonnya saat sarapan tadi pagi.
" Ada berapa korban jiwa? "
" Empat orang, pak! Dua koki dan dua pramusaji. "
" Kalai begitu, bayarkan tunjangan kematian untuk mereka dan beri uang bela sungkawa kepada keluarganya! "
" Baik, pak! "
Daris berlalu dari hadapan Cello, sedangkan Cello masih berdiri mematung memandangi puing-puing sisa bangunan. Ia mengepalkan kedua tangannya, karena merasa kesal harus kehilangan Resto Harfar yang merupakan kenang-kenangan dari papanya. Terlihat beberapa petugas menghampirinya.
" Anda pemilik resto ini? "
" Iya, benar! "
" Kalau begitu, bisa ikut saya ke kantor sebentar untuk di mintai keterangan! "
" Baik, pak! "
Cello dan petugas-petugas itu kemudian meninggalkan TKP, dengan mengendarai mobil masing-masing menuju kantor polisi terdekat. Sesampainya disana, Cello di mintai keterangan semua perihal tentang resto itu serta dimintai keterangan tentang ke empat karyawannya yang menjadi korban kebakaran itu. Setelah itu, petugas kemudian menjelaskan hasil penyidikannya.
" Menurut hasil olah TKP! Ada beberapa kesimpulan yang dapat kami sampaikan! " Ucap petugas itu.
" Apa itu pak? "
" Awalnya saya mengira kebakaran ini di sebabkan oleh ledakan tabung gas, karena menurut saksi mata, mereka mendengar suara ledakan sebelum akhirnya terbakar! "
Cello menyimak dengan serius penjelasan dari petugas itu.
" Namun, terdapat kejanggalan setelah kami menemukan ini! " Lanjut petugas itu sambil menunjukkan sebuah benda, namun Cello tampak tak memahami benda itu.
Ucapan petugas itu membuat Cello naik darah bahkan sambil mengepalkan kedua tangannya karena emosi.
" Ada unsur kesengajaan dalam kasus ini! " Lanjut petugas itu lagi.
" Segera cari dan tangkap pelakunya, pak! " Cello menekan sedikit suaranya.
" Tentu saja, itu sudah jadi tugas kami! Jadi, anda jangan khawatir! Serahkan semuanya pada kami! "
" Baiklah pak! Saya percayakan semuanya kepada bapak dan seluruh petugas yang ada disini untuk mengusut tuntas kasus ini!"
" Siap, pastinya! Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih atas waktunya. Sekarang anda boleh pulang! "
" Baik, pak! Kalau begitu saya permisi! "
Petugas itu membalas dengan anggukan kepala. Cello lalu meninggalkan tempat itu, dan melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.Ia masih belum tenang setelah mendengar penjelasan dari petugas tadi.
" Damn! " Cello memukul setirnya, hingga suara clarkson mobilnya berbunyi.
" Siapa yang telah berani melakukan ini padaku? "
" Dia tidak tau siapa aku! "
" Ini tidak bisa dibiarkan! Aku akan cari tau siapa pelakunya! Akan ku habisi Dia dengan tanganku! "
" Shitt! "
Cello terus bergerutu dan mengumpat kata-kata kasar. Penampilannya saat ini terlihat sangat kacau. Dia benar-benar frustasi.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Waktu menunjukkan pukul 8 malam.
Mobil Cello terlihat sudah tiba di depan rumahnya. Setelah pulang dari kantor polisi, Ia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan singgah ke kafenya sebentar untuk menenangkan diri dengan di temani wine.
Setelah mobilnya terparkir dengan sempurna, Cello lalu masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak perlu menggedor pintu, karena sudah membawa kunci cadangan di sakunya.
Di ruang keluarga, Cello melihat Nathan sedang menonton tv sambil berselonjor.
" Nat! Dimana kakak iparmu? " Tanya Cello mengagetkannya.
" Hey! Kau sudah pulang, tapi tidak mengetuk pintu terlebih dahulu! "
" Aku membawa kunci cadangan, jadi tidak perlu mengetok pintu lagi! Dimana kakak iparmu? "
" Owwhh... Dia di kamar, dari tadi Dia terlihat murung karena menunggumu terlalu lama! "
" Hah! Benarkah? Baru sehari di tinggal, Dia sudah sangat merindukanku! Apa kau sungguh tidak sesabar itu sayang?? " Senyum di bibir Cello seketika itu mengembang.
" Cih! Dasar bucin! "
" Apa katamu? "
" Sudah, Pergi sana temui istrimu, lalu salurkan hasratmu itu sampai puas! Sepertinya kau sudah candu berat pada istrimu itu. "
" huh! Bilang saja, kau iri! Wek..! " Ejek Cello lalu berlari menuju kamarnya sebelum Nathan melemparnya dengan bantal sofa.
******
Ceklek!
Pintu kamarpun terbuka dan memperlihatkan sosok istrinya yang sedang tertidur pulas. Melihat istrinya tidur, Cello kemudian langsung menghampirinya.
" Cup! " Satu kecupan hangat mendarat di kening Chaca.
" Kenapa kau sangat cantik walaupun disaat tidur? " Ucap Cello sambil menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu.
" Kau memang pengobat rasa lelahku! Penyembuh lukaku dan memberi ketenangan di jiwaku yang kacau ini! " Netra birunya masih menatap penuh cinta pada Chaca.
" Kau terlalu sempurna untuk pria seperti diriku! Aku bukan pria baik! Aku takut suatu saat nanti kau akan meninggalkan aku! " Ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
" Aku hanya ingin kau tau, bahwa aku sangat mencintaimu dengan segala kekurangan yang ada di diriku ini! "
Tanpa sengaja, Cello menitikkan air mata dan jatuh tepat di pipi putih istrinya itu. Merasa ada sesuatu menyentuh pipinya, Chaca pun akhirnya terbangun dari tidurnya dan terkesiap saat melihat Cello sudah berada didepannya sambil mengusap air matanya yang jatuh.
" Sayang...! Kamu udah pulang? " Ucap Chaca bersemangat.
" Kenapa kamu menangis? " Lanjutnya lagi.
" ini.. mata aku kelilipan! " Jawab Cello berbohong.
" Kau tak pandai berbohong sayang! " Ucap Chaca dan langsung memberikan pelukan hangat untuk suaminya itu.
" Menangislah di pelukanku! Jangan malu, menangis saja jika kau mau! " Lanjut Chaca lagi.
" Aku sangat mencintaimu...!" Ucap Cello lirih.
" Aku juga, sayang...! " Balas Chaca.
Cello pun akhirnya menumpahkan semua perasaannya di pelukan Chaca. Dia belum pernah merasakan kasih sayang yang diberikan seseorang kepadanya, termasuk kedua orang tunya sendiri. Baru kali ini Ia menangis karena bahagia merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari wanita yang amat Ia cintai.
Disisi lain, walaupun Chaca tidak mengerti apa yang membuat suaminya itu menangis, tapi baginya Ia hanya ingin memberikan ketenangan dan rasa nyaman untuk suami yang dicintainya itu.
" Apa kau sudah makan, sayang? " Tanya Chaca saat melepas pelukannya.
" Sudah, tadi di kafe! Kamu sendiri? "
" Aku juga sudah, tadi dipaksa Nathan untuk makan! "
" Hmm.. baguslah kalau istriku ini sudah makan! Kalau begitu aku bisa memelukmu lagi, kan? " Ucap Cello dengan merentangkan tangannya.
" hmm.. tentu bisa sayang...! " Chaca kemudian membalas pelukan Cello.
Mereka berduapun akhirnya berpelukan kembali. Bahkan malam itu bukan hanya berakhir di dalam pelukan saja. Mereka kemudian melanjutkannya dengan pergulatan suami istri yang untuk kesekian kalinya mereka lakukan diatas tempat tidur hingga suara cinta mereka terdengar sampai di telinga Nathan.
Nathan yang mendengar suara suami istri yang sedang dimabuk cinta itu, hanya dapat menutup telinganya dengan earphone sambil memutar musik dengan keras.
" Dasar bucin yang sama-sama gila! Gak gitu juga kali !" Umpat Nathan.
" Begini amat yah, nasib jomblo, aku kan jadi pengen, marimar!! " Lanjutnya lagi dan langsung meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Ada yang mau jadi pacarnya Nathan? Kasian Dia kesepian..? 😂😂😂
Jangan lupa Like, vote, dan komen disetiap episodenya yah teman-teman..
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘😘