WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
BERMIMPI BURUK



Chacapun tersontak kaget bukan main. Tubuhnya seketika kaku, kakinya tidak dapat digerakkan, mulutnya pun seolah-olah bungkam tanpa suara. Hanya hatinya yang masih mampu berbicara.


Maya Jackson.


Bruuk!


Tubuh Chaca terjatuh dilantai, seketika itu juga Dia tidak sadarkan diri.


Chaca mengenali wajah itu, wajah itu terpampang dilayar tv saat pemberitaan tentang menghilangnya seorang reporter yang bernama Maya Jackson. Bedanya, Maya yang dilihatnya sekarang berlumuran darah disekujur tubuhnya.


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Chaca terbangun didalam sebuah mobil berwarna putih yang terparkir dipinggir jalanan yang sepi. Dia berusaha mengembalikan kesadarannya dan mencoba mengenali tempat itu.


Aku dimana? Sepertinya aku mengenali jalan ini? Aku seperti pernah melewatinya? Tapi ini dimana?


Chaca memukul-mukul kepalanya pelan berharap dapat mengingat sesuatu. Tidak lama kemudian, sebuah mobil pick up berwarna hitam terlihat berhenti tidak jauh dari mobil yang ditumpangi Chaca.


Kenapa mobil itu berhenti?


Gumam Chaca dalam hati.


Chaca mencoba menghidupkan mesin mobil, berkali-kali Ia mencoba, namun usaha yang kesekian kalinya mobil itupun hidup, dan.....


Pyaaarrrr!!


Kaca mobil bagian depan dipecahkan oleh seseorang yang memakai topeng kepala hewan.


" Aaarrrggghhh!! " Chaca berteriak ketika hujaman belati berkali-kali menghantam tubuhnya.


Seketika itu juga, Chacapun tidak sadarkan diri.


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Sayup-sayup secara perlahan Chaca membuka mata. Dia mencoba menyesuaikan sinar cahaya yang memantul tepat dikornea matanya. Chaca merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.


Ketika Dia mengangkat sedikit kepalanya bermaksud melihat apa yang ada dibawah tubuhnya. Jelas saja, seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan memakai topeng sedang menggau**nya. Chaca mencoba berontak, namun sia-sia. Tubuhnya sudah tidak mampu melawan karena nyeri luar biasa disekujur tubuhnya akibat hujaman belati yang Ia terima. Diapun akhirnya pasrah.


Ketika pria itu selesai bergelut dengan naf**nya, pria itupun pergi untuk mengambil sesuatu. Chaca yang sudah kaku, mencoba melihat-lihat ruangan tempat Ia berada saat ini. Ia melihat banyak sekali alat-alat penyiksaan, serta pisau-pisau dan benda-benda mengerikan lainnya.


Seketika itu Dia sadar, bahwa Dia berada dirumah jagal. Tidak lama pria itu kembali dengan membawa sebuah pisau yang sudah tajam.


" He.. he.. he..! " Pria itu terkekeh.


" Aku mohon, kasihanilah aku? Tolong lepaskan aku? " Pinta Chaca memelas.


Pria itu tidak menghiraukan Chaca sama sekali, Dia tetap melanjutkan pekerjaannya dengan menggores wajah Chaca secara perlahan.


" Aaarrrggghhh!! " Teriak Chaca dan langsung sadar dari pingsannya.


" Kakak! " Panggil Ochi kaget.


" Sayank! " Cello pun tak kalah kagetnya.


Chaca mencoba membaguskan perasaan dan pandangannya. Dia melihat sekeliling ruangan yang lebih terlihat seperti rumah sakit. Tangannyapun terpasang selang infus. Chaca kemudian memperhatikan sekeliling wajah yang ada disitu, dilihatnya Ochi, Cello, dan Nathan yang juga berada diruangan itu.


Itu artinya aku cuma bermimpi! Tapi kenapa mimpi itu seakan nyata?


Gumamnya dalam hati.


" Sayank... kamu tidak apa-apa? " Cello mencoba mendekati Chaca sambil merangkulnya.


" Aku takut sekali, sayank! " Chaca memeluk Cello.


" Jangan takut, aku disini, kamu pasti habis bermimpi buruk? "


Chaca menjawab dengan anggukan kepala.


" Itu cuma bunga tidur! " Lanjut Cello.


Mereka kemudian saling melepas pelukan ketika papa dan mamanya masuk ke ruangan itu.


" Aku baik-baik saja, Mah! "


" Kalau kamu lelah, sebaiknya kamu jangan terima tawaran papa kemarin? " pak Bahri menghampiri dan mengelus pundak Chaca.


" Tidak apa-apa Pah, aku udah baikan sekarang kok! "


" Papa cuma tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu. " Lanjut pak Bahri.


Tidak lama kemudian, pak Bahri dan mama Mariapun keluar sebentar untuk mengurus administrasi karena Chaca sudah dibolehkan pulang oleh dokter dihari itu juga, karena tidak ada masalah serius.


Cello dan Nathan pun keluar untuk sekedar mencari udara segar karena sudah berjam-jam didalam ruangan yang berbau obat tersebut. Tinggallah Ochi yang menemani kakak kesayangannya itu. Chacapun berniat memulai pembicaraan.


" Ochi, coba ceritakan bagaimana bisa kakak sampai dirumah sakit ini? "


" Tadi itu, kakak dibawa oleh supir dan sekretaris kakak kemari, kemudian mereka menghubungi Papa dan mengatakan kakak pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit ini. "


" Papa kemudian menghubungi Mama untuk segera menemui kakak disini. Kebetulan saat itu Ochi lagi dirumah, jadi Ochi ikut Mama deh kesini. " Lanjut Ochi.


" Terus, Cello dan Nathan? "


" Mereka taunya dari Ochi. Hehe..! " Ochi memasang senyum lebarnya.


" Oh... begitu! " Chaca manggut-manggut tanda mengerti.


" Ngomong-ngomong, kakak pingsannya berapa lama? " Tanya Chaca lagi.


" Emb... cukup lama kak, sekitar tiga jam. " Ochi menunjukkan tiga jarinya.


Tiga jam? jadi selama itu aku bermimpi buruk? Gumam Chaca lagi.


" Oh iya, emangnya kakak pingsan karena apa sih? " Tanya Ochi penasaran.


" Soalnya, kata sekretaris kakak, kakak itu sempet bertingkah aneh saat meeting tadi? " Lanjut Ochi.


" Emangnya Nancy berkata seperti itu didepan Mama juga? " Chaca balik nanya.


Jangan sampai Nancy memberitahukan semuanya.


" Gak! Cuma sama Ochi doank, karena Ochi memberikan pertanyaan yang sedikit memancingnya untuk jujur. "


" Terus Dia bilang apa lagi? "


" Gak bilang apa-apa lagi, cuma gitu doank! "


" Oh... "


Syukurlah..! Chaca melanjutkan kata-katanya dalam hati.


" Emangnya apa yang membuat kakak sampai pingsan tadi dikantor? "


" E... itu.. gak... gak ada apa-apa kok, mungkin kakak kecapean, makanya sampai pingsan. " Chaca menjawab dengan gelagapan.


Chaca sengaja berbohong, hingga Dia bisa memastikan apa yang terjadi pada dirinya tadi.


" Oh... " Ochi manggut-manggut.


Tidak lama kemudian, Cello dan Nathan pun datang besertaan dengan Pak Bahri dan Mama Maria juga masuk ke ruangan Chaca.


Terlihat perawat melepas selang infus dengan sangat hati-hati. Setelah semuanya selesai, Chacapun keluar dari ruangan itu dengan di papah papa dan mamanya.


Ketika berada ditempat parkir, Chaca masuk dalam mobil dimana Dia satu mobil dengan papa, mama, dan juga adiknya. Sedangkan Cello satu mobil dengan Nathan, mengikuti mobil mereka dari belakang.


Sepanjang perjalanan, Chaca hanya diam membisu sambil ekor matanya menatap keluar dari kaca mobil. Dia masih tenggelam bersama fikirannya.


Maya, apa yang sebenarnya terjadi padamu?


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Terima kasih Author berikan sebanyak-banyaknya untuk para Readers yang sudah bersedia mampir di Karya Author yang receh ini.


Jangan lupa, Author selalu ingatkan untuk like, vote, dan komen disetiap episodenya..


kiss dari jauh... 😘😘😘