WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
MALAM PERTAMA



Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kedua pengantin terlihat saling memegang tangan erat. Gelora cinta diantara keduanya sungguh terasa. Sesekali keduanya saling melempar senyum.


Rombongan groomsmen juga sudah pulang kerumah mereka masing-masing. Termasuk Nathan yang memilih pulang ke asrama mahasiswa karena tak ingin mengganggu malam pertama kakaknya itu.


Mobil Cello akhirnya berhenti tepat didepan rumahnya, dimana rumah itu akan menjadi tempat tinggal mereka. Yah, dimana lagi kalau bukan di Black Lake. Rumah berdesigne klasik yang sama persis didalam mimpi Chaca akan menjadi rumah baru bagi Chaca.


Cello keluar dari mobilnya, kemudian membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan koper-koper milik Chaca yang sudah disiapkan sewaktu Cello menjemput Chaca untuk melakukan liturgi di gereja.


" Sayang, mau aku bantu? " Ucap Chaca menawarkan bantuan.


" Gak perlu, sayang...! Kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk malam yang panjang ini bersamaku. " Jawab Cello dengan mengedipkan sebelah matanya.


" Dasar! " Chaca memukul bahu Cello pelan.


Cello kemudian mengambil kunci rumah yang ada disaku celananya. Lalu Ia membuka pintu dan membawa kembali koper-koper Chaca masuk kedalam kamarnya. Chaca menutup pintu itu kembali, lalu ikut menyusul Cello masuk kedalam kamarnya.


" Eittss! Tunggu dulu! " Ucap Cello menahan Chaca dengan tangannya didepan pintu kamar.


" Ada apa? Kok aku gak boleh masuk? "


" Tunggu sebentar! "


Cello menutup pintu kamar itu, entah apa yang Ia lakukan didalam kamarnya. Chaca yang melihat Cello menutupkannya pintu kemudian memasang wajah kesalnya.


" Apa sih yang dilakukannya didalam? " Gerutu Chaca.


Prank..!! Kompyankk!! Bruukk..!!


Terdengar suara kekacauan dari dalam kamar.


" Sayang, suara apa itu? kamu gak kenapa-napa kan? "


" Gak apa2 sayang..! Tunggu sebentar yah! " Ucap Cello dari dalam kamarnya.


Chaca mencoba mendekatkan daun telinganya dipintu.


Apa yang dilakukannya didalam?


Gumamnya.


Ceklek!


Pintupun akhirnya terbuka lebar, membuat Chaca menarik kembali tubuhnya berdiri seperti semula.


" Silahkan masuk tuan putri !" Cello mempersilahkan Chaca masuk kedalam kamarnya dengan memperagakan gerakan tangan dan membungkukkan kepala seraya seorang pengawal kerajaan.


Chaca tersenyum melihat tingkah Cello yang sungguh menggelikan baginya.


" Aku udah boleh masuk? " Tanyanya lagi.


" Silahkan tuan putri! " Cello kembali membungkukkan tubuhnya lagi.


" Ha.. ha.. ha..! " Chaca tertawa kecil melihat tingkah Cello, begitu juga dengan Cello yang terlihat menahan tawanya.


Chacapun kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Ia terlihat takjub dengan pemandangan yang ada dipenglihatannya. Dari arah pintu masuk sudah berjajar lilin-lilin yang menyala dengan jarak 1,5 m untuk memberi jalan sang pengantin. Tampak pula banyak kelopak mawar merah yang bertaburan membentuk sebuah jalan mengikuti jalur lilin-lilin yang berada disebelah kiri dan kanan.


Cello juga menaruh banyak lilin diatas meja-meja yang ada didalam kamarnya. Lampu yang sengaja dimatikan membuat indah suasana sore itu. Hanya cahaya lilin-lilin yang menjadi penerangan. Chaca terlihat berhenti sebentar sebelum melanjutkan langkahnya.


" Sayang! Kamu yang siapkan ini semua? " Tanya Chaca.


" Iya, istriku! Aku ingin malam ini akan jadi malam yang spesial buat kamu! "


" Istriku? " Chaca terlihat masih canggung dengan panggilan itu.


" Kamu kan sudah jadi istriku, jadi boleh dong kalau aku panggil dengan sebutan istriku? "


" Hmm.. boleh..! " Chaca tersenyum.


Chaca kemudian melanjutkan kembali langkahnya yang diikuti Cello dari arah belakang sambil memegang gaun pengantin yang terjuntai panjang ke lantai.


Chaca berhenti tepat didepan ranjang pengantin mereka. Diatas ranjang sudah terbentang kelopak-kelopak mawar merah yang tersusun rapi membentuk lambang " Love" . Chaca kemudian memutar tubuhnya Menghadap Cello yang ada dibelakangnya.


" Rasanya aku gak tega untuk baring disitu? " Ucap Chaca sambil menunjuk kelopak-kelopak mawar yang membentuk lambang " Love " itu.


" Kalau begitu kita bisa melakukannya dengan berdiri! " Jawab Cello santai dengan menampilkan senyum nakalnya.


" Iih.. dasar! Ada aja akalnya! " Chaca memukul pelan dada Cello, lalu berbalik memebelakangi Cello lagi.


Cello tertawa kecil, lalu meraih pinggul Chaca dan membalikkan tubuh Chaca kehadapannya hingga Chaca berada tepat dipelukannya.


Deg!


Jantungnya berpacu dengan sangat cepat hingga membuatnya menggigit bibir saat melihat jarak yang sangat dekat diantara mereka.


" Cup! emmb..! " Cello memberi luma*** lembut pada bibir istrinya itu.


" Ha.. ha.. ha..! " Cello tertawa puas saat melihat istrinya itu ngos-ngosan.


" Kebiasaan deh! " Chaca memukul dada Cello pelan tapi tak membuat Cello melepas tangannya yang memegang pinggul istrinya itu.


" Udah! Lepasin dulu, aku mau mandi! " Lanjut Chaca lagi.


" Gak usah mandi! "


" Kalau gak mandi, entar aku bau keringat! "


" Aku gak perduli! "


" Emangnya kamu sepenasaran itu? Bukankah kita sudah pernah melakukannya? "


" Kali ini momentnya beda! Aku bisa lebih leluasa untuk melakukan banyak gaya yang aku mau! "


Apa! Banyak gaya? Aku bahkan tidak kepikiran untuk mempelajari semua itu.


Chaca bergumam dalam hati dengan mulut yang menganga karena syok mendengar ucapan Cello.


" Kenapa diam? Hmm...! "


" Tenang saja, aku akan mengajarimu! " Lanjut Cello lagi dengan menampilkan senyum nakalnya.


" Tapi sayang, biarkan aku mandi dulu, badanku terasa lengket! "


" Gak mau! Nanti kalau udah selesai baru kita mandi berdua! " Cello menyatukan hidungnya dengan hidung Chaca sambil menggerakkan ke kiri dan ke kanan.


" Ya udah! Terserah kau saja! " Ucap Chaca sambil memanyunkan bibirnya.


Mendengar hal itu, Cello langsung melakukan serangan tiba-tiba lagi. Ia lalu melum** bibir ranum istrinya itu dengan lebih bernaf**. Chaca terlihat sudah bisa menerima serangan tiba-tiba itu, Ia pun bisa membalas cium** itu dengan tak kalah bernaf**nya, hingga cium** itu berlangsung cukup lama.


Setelah cium** itu berakhir, Cello kemudian membalikkan tubuh Chaca, lalu Cello melepas veil yang masih terpasang dikepala istrinya itu. Kemudian, Cello melanjutkan dengan membuka retsleting gaun yang Chaca gunakan dengan perlahan, hingga memperlihatkan punggung putih milik istrinya itu.


Setelah terlepas sempurna, Cello lalu menggendong tubuh istrinya itu keatas tempat tidur. Kemudian giliran Dia yang melepas jas pernikahannya satu persatu hingga terlepas semua.


Deg!


Jantung Chaca berdegup dengan cepat saat melihat Cello yang tanpa mengenakan sehelai benangpun dan mulai mendekatinya. Entahlah, Dia hanya merasa malu padahal Ia dan Cello sudah pernah melakukan itu sebelumnya.


" Bisa kita mulai sekarang? " Tanya Cello.


" Ehmm...! " Jawab Chaca dengan anggukan kepalanya.


" Cup! Emmb...! " Cello kembali melum** bibir ranum milik istrinya itu, sembari tangannya berjalan menyentuh bagian-bagian lainnya.


Suasana sore menjelang malam itu terlihat sangat panas untuk sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta. Keinginan dan hasrat yang tinggi seakan tak menghiraukan waktu, membuat keduanya hanyut dalam gelora cinta. Tak ada yang dapat menghentikan pergulatan suami istri itu, kecuali hanya tenaga mereka yang habis barulah bisa memaksakan mereka untuk berhenti.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Terimah kasih banyak Author ucapkan kepada para Readers setia yang sudah membaca karya Author ini.


Jangan lupa tinggalkan Like, vote, dan komen disetiap episodenya yah...


Kiss jauh dari Author...😘😘😘😘