WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
KEPERGIAN MARIO



Delapan bulan kemudian


Kabar tentang Mario sudah tidak terdengar lagi. Mayatnya juga tidak di temukan mengapung di danau hitam, itu artinya Dia tetap hidup dan memilih pergi jauh meninggalkan tempat itu. Cello juga tampak tidak perduli lagi akan kepergian Mario. Ia lebih di sibukkan dengan perkembangan kehamilan Chaca yang sudah memasuki angka 8 bulan.


Chaca juga sudah membuang rasa penasarannya akan ruang bawah tanah yang berada di gudang belakang rumah. Gudang itu pun kini tampak di rantai gembok, sehingga tidak ada siapapun bisa memasuki ruangan itu lagi.


Kehidupan Cello dan Chaca tampak normal dan baik-baik saja. Walaupun pak Bahri belum memperlihatkan tanda-tanda Ia 100% merestui, tapi pak Bahri tampak pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa terkait kandungan Chaca. Namun begitu, Ia masih belum menyerah.


Chaca terlihat sibuk mengemaskan pakaian-pakaian Cello di dalam koper. Rencanya, Cello akan kembali pergi ke luar kota dalam waktu yang cukup lama yaitu satu minggu. Setelah sekian lama Ia tidak pernah berani meninggalkan istrinya tersebut, akhirnya kini Ia memutuskan kembali ke luar kota demi pekerjaannya.


" Sayang, jangan lupa untuk selalu memberi kabar s'lama disana. " Ucap Chaca di tengah kesibukannya.


" Iya, sayang... " Cello mencubit pelan pipi Chaca yang sudah tampak bulat bawaan kehamilannya yang semakin besar.


" Janji? " Jari kelingking Chaca tunjukkan pada suaminya itu untuk mengikat janji.


" Janji. " Cello menyambut jari kelingking isrinya itu dengan jari kelingking miliknya.


" Aku sudah hubungi Ochi, katanya nanti Dia akan ambil cuti di perusahaan papa untuk beberapa hari, jadi Dia bisa menemanimu di sini."


" Benarkah? "


" Ehmm... "


Chaca terlihat sangat bahagia mendengar hal itu. Setelah sekian lama adiknya itu tidak pernah memiliki banyak waktu untuknya karena sibuk menyelesaikan kuliahnya di tambah lagi setelah lulus, Ochi langsung terjun ke perusahaan papanya, hingga membuat adiknya itu tidak memiliki waktu sama sekali untuk mengunjungi kakaknya. Namun sekarang, Ochi akan mengambil cuti beberapa hari hanya untuk menemaninya.


" Ok, semuanya sudah beres! " Ucap Chaca setelah selesai dengan pekerjaannya.


" Terima kasih sayang! " Satu kecupan dari Cello mendarat tepat di pipi kanan Chaca.


Setelah semua keperluan Cello siap, Chaca lalu mengantar Cello hingga di halaman rumahnya.


" Selama aku pergi, jaga diri kamu dan anak kita yah, sayang? " Ucap Cello sambil memberikan pelukan hangat dan kecupan cinta di dahi istrinya itu.


" Kamu juga hati-hati di sana, sayang...? "


" Do'akan suami mu ini. "


" Do'a ku s'lalu bersamamu. " Chaca semakin membenamkan kepalanya di dada bidang Cello.


" Kalau gitu, aku pergi dulu ya sayang? " Cello lalu menangkup pipi Chaca dengan kedua tangannya sambil memberikan ******* singkat di bibir ranum milik istrinya itu.


" Baiklah sayang, hati-hati! "


" Eemmuuaacchh! " Sebuah kecupan cukup lama mendarat di perut besar istrinya itu sebelum dirinya benar-benar pergi.


Cello kemudian masuk ke dalam mobilnya, setelah sebelumnya Ia memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil miliknya itu.


" Bye sayang... " Cello melambaikan sebelah tangannya sambil menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.


" Bye... " Balas Chaca.


Setelah Ia rasa mobil Cello telah menjauh, Chaca kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia kemudian mengunci rapat pintu rumahnya, karena Ia fikir Nathan juga membawa kunci cadangan, jadi dengan mudah Nathan bisa membuka pintu rumah itu nanti.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Sementara itu di kediaman pak Bahri.


Tampak pak Bahri, mama Maria, dan Ochi sedang duduk bersantai di ruang keluarga di rumah besar mereka


" Kamu berapa hari ambil cuti di kantor? " Tanya pak Bahri memulai pembicaraan.


" Jadi, selama empat hari itu kamu temenin kakakmu di rumahnya? " Tanya mama Maria di sela-sela pembicaraan.


" Iya mah, kasian juga kakak gak ada yang nemenin, lagi pula aku rindu berat sama kakak. "


" Hmm... rindu berat sama kakak mu apa rindu berat sama.......? "


" Oooppss! " Mama Maria menutup mulutnya dengan kedua tangannya sedangkan Ochi membulatkan matanya dengan sempurna.


" Sama siapa? " Potong pak Bahri.


****** aku!


" Sa... sama danau pah, udah lama banget aku gak piknik di tepi danau. Hehe...? " Ochi nyengir kuda.


" Oh.. begitu.. "


Mama gimana sih?


Chaca mengkode mamanya sedangkan mamanya hanya dapat mengulum senyum tanpa dosa.


" Oh iya, papa berapa hari keluar kotanya? " Tanya mama Maria.


" Hmm... kemungkinan 3 hari! "


" Berarti mama bakal sendirian donk di rumah? "


" Kalau gitu mamah ikut Ochi aja nginap di rumah kakak, pasti kakak seneng banget. " Potong Ochi bersemangat.


" Hmm... mama pengen banget sayang..., tapi kamu tau kan mama harus kemoteraphy dalam minggu ini dan di haruskan beristirahat penuh di rumah. " Ucap mama Maria sedih.


" Owh....mamaku sayang? " Ochi langsung memeluk mamanya erat.


" Ochi janji nanti akan bujuk kakak untuk nginap di sini satu malam, ok! " Lanjut Ochi lagi.


" Makasih sayang...? " Mama Maria mengecup dahi anaknya itu.


" Kakak mu pasti akan kembali ke rumah ini lagi! " Ucap pak Bahri tiba-tiba sehingga membuat Ochi dan mama Maria terkesiap mendengarnya.


" Maksud papa? " Tanya mama Maria penuh curiga.


" Maksud papa, kakak mu akan mau menginap di rumah ini kembali! " Senyum pak Bahri penuh arti.


" Itu pasti pah, aku yakin kakak pasti mau! " Jawab Ochi penuh percaya diri.


Ochi kemudian berpindah memeluk papanya, dan di sambut senyum bahagia pak Bahri, tapi tidak dengan mama Maria, Ia merasa ada yang aneh dari perkataan suaminya tersebut.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Readers...!!


Author kasih dua episode sekaligus nih...


Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah..


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘