
Semenjak pertemuannya dengan Cello, dan drama perkenalan yang terjadi diantara keduanya. Chaca dan juga Cello kini rajin bertukar pesan, karena mereka sempat bertukar nomor handphone pada pertemuan mereka dikafe dekat kampus adiknya pada waktu itu.
Hubungan Chaca dan Cello kian hari semakin dekat, yang biasanya hanya sekedar chattingan, sekarang lebih sering melakukan panggilan video call. Hingga suatu ketika Cello mengajak Chaca untuk mengadakan pesta barbeque disebuah danau, salah satu tempat wisata milik keluarganya.
Danau itu bernama danau hitam atau biasa disebut " Black Lake ". Danau itu merupakan salah satu tempat destinasi wisata yang tidak begitu menarik, lebih kepada menyeramkan. Disepanjang perjalanan masuk menuju danau itu, ditumbuhi pohon-pohon yang lebat, lebih terlihat seperti hutan. Warna air di danau itupun berwarna hitam.
Danau itu biasanya dibuka untuk umum disaat-saat tertentu saja. Terkadang juga biasanya dipakai untuk kegiatan berkemah ataupun kadang ada yang menyewanya secara privat, hanya untuk sekedar mencari suasana yang tenang.
Di danau itu pula, terdapat tiga buah villa dan satu buah rumah yang lumayan besar. Disitu pula Cello dan saudara-saudaranya tinggal. Namun, karena jaraknya yang jauh, Cello lebih sering menghabiskan malamnya diapartmen, sedangkan Nathan lebih sering tinggal di asrama mahasiswa.
Dengan perasaan senang, Chaca menerima ajakan Cello. Chacapun memikirkan cara untuk meminta izin pada orang tuanya. Dia berjalan pelan menuju kamar adiknya.
Tok.. tok.. tok !
" Ochi..! bukain pintunya donk! " teriak Chaca.
Krieettt..!!
Tidak lama pintupun terbuka dan memperlihatkan Ochi yang sedang menguap karena ngantuk.
"Ada apa kak? malam-malam begini gedor pintu kamar Ochi? huaaa...! " Menguap lagi.
" Kakak boleh masuk gak? kita bicara didalam. " Jawab Chaca.
" Huaaa...! masuklah kak! " Titahnya sembari menguap lagi.
Didalam kamar, Chaca dan Ochi duduk dipinggiran tempat tidurnya Ochi. Chacapun memulai pembicaraan.
" Ochi, akhir pekan ini kamu ada waktu gak? " Tanyanya pelan.
Ochi terlihat berfikir.
" Hmm.. kayaknya gak ada kak, emangnya ada apa? " Tanya Ochi dengan mata yang msih terlihat sayup-sayup.
" Jadi gini, Cello kakaknya Nathan mengajak kakak pesta barbeque akhir pekan nanti, dan kakak bermaksud mengajak kamu untuk menemani kakak disana! " Chaca menjelaskan.
" Pesta barbeque itu biasanyakan malam kak, lalu kita nginap dimana? " Tanya Ochi lagi.
" Kita nginap di villanya Cello. " Jawab Chaca singkat.
" Apa! Villa? kakak yakin kita bakal nginap disana? emangnya papa sama mama ngizinin? " Ochi mulai panik karena ajakan kakaknya lebih ekstrim dibanding ajakannya dulu.
" Nah, itu dia masalahnya, kakak bingung gimana caranya ngomong sama papa dan mama? " Chaca mulai cemberut.
" Emb... emangnya kita pesta barbequenya dimana? kok ada villanya? " Tanya Ochi lagi yang masih lemot efek ngantuk.
"Di Black Lake, kawasan wisata yang tidak jauh dari kafe tempat partynya Jonathan waktu itu " Jawab Chaca dengan memasang wajah cemasnya.
" Apa! itu jauh banget kak, dan danau itu terkenal menyeramkan. " Jawab Ochi bergidik ngeri.
" Kamu itu ya, mau kagak bantuin kakak? dulu aja kakak sering banget nemenin kamu bersenang-senang dengan teman-temanmu walaupun kakak gak begitu senang. " Jawab Chaca mulai kesal dengan adiknya.
" He.. he.. he..! iya deh iya.. aku bantuin ngomong sama papa dan mama. Tapi, ada syaratnya? " Ochi menjawab sambil terkekeh.
" Dasar pamrih! emang apa syaratnya, cepat katakan! " Chaca semakin kesal.
" Bilang sama kak Cello untuk mengajak Nathan juga! he.. he.. " Ochi menjawab sambil senyum-senyum.
" Dasar ganjen! iya.. iya.. entar kakak bilangin. " Chaca mengalah.
" Yeay!! kakakku memang the best! " Seperti biasa, Ochi langsung menghambur memeluk Chaca.
Akhir pekanpun tiba.
Setelah selesai dengan berbagai drama dalam meminta izin pada orang tuanya. Akhirnya Chaca dan Ochipun bisa menikmati pesta barbequenya diakhir pekan ini.
merekapun tiba di Black Lake pada sore harinya. Berbekal alamat yang diberikan, Chacapun memarkirkan mobilnya tepat didepan villa, dimana Cello, Nathan, Rama dan juga kekasihnya sudah berada didalam.
Villa itu cukup besar dan memiliki beberapa kamar. Chaca dan Ochi menempati kamar yang sama. Sembari menunggu jam barbeque, merekapun beristirahat untuk sekedar melepas lelah.
##############################
Malampun tiba, enam orang insan manusia itu sudah terlihat dihalaman villa. Mereka membagi tugas masing-masing. Terlihat Chaca datang menghampiri Cello yang sedang memanggang potongan-potongan daging.
" Ada yang bisa aku bantu? " Suara Chaca mengejutkan Cello.
" Eh.. Chaca, gak perlu repot-repot, biar aku saja, kamu cukup duduk manis disana, karena hari ini kamu itu Ratuku." Jawab Cello yang dianggap sedikit berlebihan bagi Chaca.
" Emb...gak mau! aku bosen jika harus menonton saja! " Jawab Chaca.
" Nanti tangan mulus kamu itu gosong terkena panas bara." Jawaban Cello membuat Chaca geli mendengarnya.
" Gak apa-apa kok! kamu pikir aku gak bisa apa ngerjain beginian, sini biar aku..! " Chaca mengambil alih pekerjaan Cello.
Cello hanya diam memperhatikan Chaca yang sangat cekatan dalam memanggang daging.
" Nih, kayaknya udah mateng, kamu cobain yah? " Chaca memberikan sepotong daging diatas piring lalu menyuapkannya pada Cello.
Cellopun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Chaca.
Drama suap-suapan pun terjadi diantara Cello dan Chaca. Ochi yang melihat semua kejadian itupun langsung berinisiatif mendekati Nathan.
" Nat? "
" iya..." jawab Nathan.
" Kamu gak ada niat nyuapin aku? " Tanyanya tanpa malu.
" Hmm... ternyata si adik juga gak mau kalah rupanya. Ha.. ha.. ha..! " Jawab Nathan sambil tertawa.
" Kamu iiihhh....!! Ochi memukul-mukul bahu Nathan pelan sambil memasang wajah cemberutnya.
" Aw... sakit tau..! " Nathan berpura-pura.
" Hah! maaf-maaf..! " Ochi mengelus-ngelus bahu Nathan yang dipukulinya tadi.
" Udah gak sakit lagi kok! Sini, aku suapin juga, entar kalau gak disuapin bibirnya makin tambah monyong kayak bebek. Ha.. ha.. ha..! " Nathan mengatakan itu sambil tertawa.
Ochipun semakin memanyunkan bibirnya, namun Ia tak kuasa menolak ketika Nathan mendekatkan sepotong daging kemulutnya. Ochipun membuka mulutnya dan memakannya dengan lahap.
Drama suap-suapan part dua pun terjadi. Tanpa disadari dari arah kejauhan, terlihat seorang pria bertubuh tinggi tegap sedang memperhatikan mereka semua. Pria itu menatap tajam kearah mereka semua.
#############################
Terima kasih yang sangat buaaanyaakk dari Author untuk para readers yang bersedia mampir dikarya Author yang receh ini..
Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya...
😘😘😘😘