
Ke esokan paginya.
Chaca terlihat sedang bergerilya di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan adik iparnya. Kali ini Chaca membuat menu nasi goreng salmon.
Chaca menyiapkan semua bahan yang di perlukan, seperti nasi, ikan salmon, dan bumbu-bumbu penyedapnya. Daging ikan salmon kemudian di potong-potong dadu, setelah itu Dia menghaluskan semua bumbu. Baru kemudian Ia menyiapkan wajan di atas kompor lalu menggunakan mentega sebagai pengganti minyak sayur. Setelah itu Chaca lalu memasukkan satu-persatu bahan tersebut dan menggorengnya hingga merata.
Di tengah aktivitas menggorengnya, Chaca di kejutkan dengan kehadiran Cello yang langsung memeluknya dari belakang dengan tiba-tiba. Cello kemudian menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu, hingga Chaca merasa geli.
" Sayang... hentikan! Geli tau..! " Ucap Chaca yang merasa meriang.
" Emmb... emmb...! " Cello tak menghiraukan ucapan istrinya itu dan terus saja mencium aroma tubuh istrinya yang seperti candu baginya.
" Malah makin menggila..! kapan selesainya ini masakan? " Gerutu Chaca.
" Biarin aja, justru kamu lebih enak dari makanan itu! "
" Hah! Dasar..! "
Akhirnya Chaca pasrah dengan kelakuan nakal suaminya itu.
Nathan baru saja bangun dari tidurnya dan hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Begitu sampai di dapur, Ia di kejutkan dengan apa yang Ia lihat.
" Astaga! Aku lupa kalau di rumah ini sekarang sudah di huni oleh dua manusia bucin! " Ucapnya ketika melihat Cello dan Chaca yang sedang bercum** mesra di dapur dan tidak menyadari kehadiran Nathan disana.
Ketika Nathan memilih untuk tidak menghiraukan mereka dan berlalu mengambil air minum yang tak jauh dari dua manusia bucin itu, Chaca refleks mendorong tubuh Cello hingga Cello tersentak.
" Sayang... lepas! Itu ada Nathan! " Ucap Chaca pelan, namun masih bisa di dengar oleh Nathan.
Cello pun menoleh dan melihat Nathan yang dengan santainya meneguk air minum.
" Sudah, gak apa-apa! Lanjutkan saja, anggap aja aku tidak ada disini. " Ucap Nathan santai sambil meletakkan gelas yang sudah terlihat kosong itu.
" Sejak kapan kamu disitu? " Tanya Cello.
" Sejak tadi! "
Astaga! berarti Dia liat dong kenakalan kakaknya tadi.
Gumam Chaca dalam hati.
" Kau sengaja ya, mau ngintip kami? " Ucap Cello lagi.
" Enak aja! Emangnya aku kurang kerjaan apa harus ngintip kalian segala! Lagi pula kalau mau bercin** tu di kamar, bukan di dapur! " Jawab Nathan sambil berlalu dari hadapan mereka berdua dan meninggalkan dua manusia bucin yang termangu melihat Nathan meninggalkan mereka.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Setelah drama panjang di dapur, mereka bertiga terlihat menyantap sarapan nasi goreng salmon buatan Chaca di meja makan. Di sela-sela sarapan, Nathan memuji masakan kakak iparnya itu.
" Kakak ipar! Nasi goreng salmon buatanmu sungguh enak! Aku sampai lupa kapan terakhir kalinya aku makan nasi goreng seenak ini? " Ucap Nathan dengan mulut yang masih penuh.
" Jelas donk! Istri siapa dulu? " Ucap Cello dengan bangga.
" Iya tau, istri kak Cello! " Jawab Nathan dengan malas.
Chaca hanya tersenyum melihat tingkah dua kakak beradik itu.
****
" Oh iya sayang, gimana kabar resto kamu, apa sudah tau penyebabnya? " Ucap Chaca mengalihkan pembicaraan.
Cello lalu menghentikan makannya sebentar, lalu mengambil segelas air minum disampingnya dan meneguknya.
" Huuff! Ada yang sengaja memasang bom disana! "
" Uhuk.. uhuk.. uhuk...! " Nathan terbatuk-batuk mendengar ucapan kakaknya.
" Bom? " Jawab Nathan dan Chaca serempak.
" Iya, ada yang sengaja ingin menghancurkan resto kita! Bahkan empat orang karyawan ku tewas terbakar!"
" Ya Tuhan! Siapa yang tega melakukan ini padamu, sayang...?" Ucap Chaca.
" Entahlah sayang..! Aku merasa tidak memiliki musuh sama sekali! "
" Gak ada yang tau kak! Terkadang teman pun bisa jadi lawan! " Natha menimpali.
Mendengar kata-kata Nathan, Cello tampak berfikir sejenak.
" Kalau begitu, setelah makan, kau harus temani aku sebentar untuk mencari bukti agar bisa mengungkap kasus ini dengan cepat! "
" Ide bagus kak! Aku siap! "
Cello menoleh pada Chaca yang terlihat diam saja.
" Sayang... maaf yah, kamu harus aku tinggal lagi. Kamu gak apa-apakan aku tinggal sendiri lagi? "
" Emm... gak.. gak apa-apa kok!" Ucap Chaca sedikit berat karena Dia masih takut akan kejadian semalam.
" Aku sebentar saja! Secepatnya aku akan kembali! "
" Iya... aku gak apa-apa kok sayang! Cepatlah kembali! "
" Itu pasti! "
" Ya udah, di habiskan dulu sarapannya, entar keburu dingin lagi! "
" Ok! "
Merasa mobil mereka sudah jauh, Chaca lalu mengunci pintu rumahnya. Bahkan semua jendela juga Ia kunci rapat. Kemudian Ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur sambil menonton drakor kesayangannya.
Tanpa terasa, suasana terasa semakin panas tanda waktu menunjukkan siang hari. Cello dan Nathan belum juga kembali. Chaca lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan tv yang masih menyala, hingga akhirnya Ia terlelap dalam tidurnya.
****
Bruukk!
Chaca terbangun ketika mendengar suara hantaman benda keras dari arah pintu belakang.
" Suara apa itu? Liat gak ya? " Chaca terlihat ragu.
Chaca melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 14.30 siang.
" Ah! Sebaiknya aku tidur lagi! "
Ketika kepalanya belum menyentuh bantal dengan sempurna, tiba-tiba terdengar suara hantaman benda lagi dari arah pintu belakang.
Bruukk!
Chaca langsung duduk dengan memasang wajah takutnya.
" Apa itu ya? "
Chaca kemudian memgambil sebuah tongkat bassball dan membawanya keluar dari kamar dan menuju pintu belakang rumahnya. Dengan tangan gemetar, Chaca mencoba membuka pintu itu secara perlahan
Ceklek!
" Tidak ada apa-apa? Ucap Chaca ketika pintu itu sudah terbuka.
" Tapi, tunggu dulu, kenapa ada dua ekor bangkai burung disini? " Chaca melihat dua ekor burung gagak yang sudah mati berada tepat di depannya.
" Apa burung ini mati karena menabrak pintu? " Pikirnya, namun dengan cepat Ia tepis.
" Ah.. gak mungkin! Burung ini terlihat sudah lama mati! Lalu, siapa yang melemparnya kesini? "
Chaca mulai merasa takut dan Ia segera ingin menutup pintu itu. Namun, tangannya berhenti tatkala melihat seekor kelinci putih yang sedang makan tidak jauh dari situ.
" Lucunya kelinci itu! "Ucapnya.
Seakan lupa dengan rasa takutnya, Chaca kemudian mengendap-ngendap mendekati kelinci itu. Ketika sudah dekat dengan kelinci itu dan ingin menangkapnya, kelinci itu kemudian loncat-loncat menjauhinya.
" Shitt! " Umpatnya.
Chaca tidak menyerah begitu saja, Ia tetap mengejar kelinci itu hingga tanpa terasa Ia sudah berada jauh dari rumahnya. Merasa kehilangan jejak, Chaca memutuskan untuk kembali kerumahnya.
Ketika Chaca hendak berbalik arah, ekor matanya menangkap sebuah lubang kecil berbentuk persegi panjang. Tampak seperti sebuah ventilasi bawah tanah. Merasa penasaran, Chaca mencoba mendekati ventilasi itu. Dia berfikir kelinci itu bersembunyi disana.
" Bunny! Dimana kau bersembunyi? " Ucapnya.
Ketika Chaca mengintip-ngintip ventilasi itu dengan membungkukkan tubuhnya. Tiba-tiba saja sebuah lengan kekar memegang tengkuk lehernya. Chaca terkejut bukan main, Ia berusaha berontak untuk melepas pegangan lengan kekar itu, namun tenaganya kalah kuat.
" Arrgghh! Le.. lepaskan aku! " Chaca meronta-ronta.
Tiba-tiba pemilik lengan kekar itu memperlihatkan dirinya dengan menggunakan topeng srigala di wajahnya. Chaca terkesiap saat melihat itu.
Deg!
Jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
Bukankah Dia pria bertopeng yang pernah ada didalam mimpiku? Batinnya.
" Le..lepaskan aku! " Ucap Chaca lagi ketika kepalanya sudah masuk ke dalam ventilasi kecil itu.
" hahaha... pantas saja Dia tergila-gila! Ternyata kau sangat cantik! " Ucap pria itu.
" Si.. siapa yang kau maksud? "
" hahaha... Nanti pun kau bakalan tau! "
" Ku mohon.. lepaskan aku! " Pinta Chaca lagi.
" Ha.. ha.. ha...! Sebentar! Aku ingin menyentuh sedikit bibir sexy mu itu? "
" Tidak..! Jangan..! Ku mohon lepaskan aku! " Pinta Chaca memelas.
Pria itu kemudian membuka sedikit topengnya hingga memperlihatkan bibirnya saja. Pria itu lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Chaca dan langsung melum**nya dengan kasar, hingga Chaca kesulitan bernafas. Chaca berusaha mendorong tubuh pria itu, namun tetap saja Ia tidak lebih kuat.
Merasa sudah puas, pria itu kemudian melepaskan tangannya di tengkuk leher Chaca dan membiarkan Chaca pergi dari hadapannya.
" haaahh.. huuff.. haaah..! " Nafas Chaca masih memburu dan belum stabil.
" Lain kali kita lakukan lagi, lebih dari ini! he.. he.. he..! " Ucap pria itu terkekeh dan membuat Chaca merasa ngeri mendengarnya.
Chaca yang masih terlihat syok, berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal. Ia kemudian mencoba berdiri dan mencari arah jalan menuju rumahnya. Merasa tidak dapat mengingat arah jalan rumahnya, tiba-tiba kepala Chaca terasa berat dan pandangannya pun berkunang-kunang. Chacapun akhirnya jatuh pingsan ditempat itu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Mohon dukungan para Readers untuk slalu meninggalkan Like, vote, dan komen, disetiap episodenya yah...
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘