WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
SESUATU YANG SANGAT BERHARGA



Ke esokan harinya.


Cello tampak bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan semua pakaiannya untuk di bawa selama berada di luar kota. Chaca tampak baru terbangun dari tidurnya karena lelah semalaman setelah memberikan pelayanan terbaik di atas ranjang untuk suaminya itu, sebagai bonus karena selama seminggu di luar kota Cello akan berpuasa akibat tidak bisa bertemu dengan istri tercintanya itu.


" Sayang... kamu udah bangun? " Ucap Cello sambil mengemaskan pakaiannya.


" Hoam... kamu udah mau berangkat sepagi ini? " Chaca mengusap-usap matanya.


" Iya sayang, supaya bisa lebih cepat aku selesaikan urusanku di sana dengan begitu aku bisa lebih cepat pula pulang! "


" Tapi... aku belum menyiapkan sarapan untukmu! " Chaca langsung turun dari tempat tidur dengan berbalut selimut menuju kamar mandi.


" Gak apa-apa sayang, aku udah menyiapkan roti bakar di meja makan, jadi setelah kamu mandi kita langsung sarapan yah! "


" Owh... kamu kok sweet banget sih? "


" Iya donk, Marcello gitu loh..! "


" Ya udah, aku mandi dulu yah! "


" Ok! Aku tunggu di meja makan yah sayang...?"


" Siap! " Chaca menyahut dari dalam kamar mandi.


****


Selesai mandi, Chaca langsung menemui Cello di meja makan, dimana disana sudah ada Nathan juga yang menunggu. Mereka bertiga kemudian sarapan roti bakar yang sudah di siapkan oleh Cello di pagi hari itu.


" Nat, selama kak Cello pergi, tolong jaga kakak ipar mu yah! "


" Siap kak! "


Mereka kemudian melanjutkan sarapan mereka kembali hingga selesai. Setelah itu, Cello kemudian bersiap-siap untuk berangkat, begitu pula dengan Nathan yang juga bersiap-siap untuk pergi kuliah.


Cello memasukkan kopernya di bagasi mobil. Sebelum dirinya benar-benar pergi, sejenak Ia melepas rindu kepada istrinya tersebut.


" Sayang, jaga diri kamu dan buah hati kita selama aku pergi yah, jangan bepergian sendirian, tunggulah Nathan pulang, minta anterin sama Dia kalau kamu perlu membeli sesuatu! " Ucap Cello sambil memegang pinggang langsing istrinya itu.


" Kamu juga, selama disana jangan telat makan, jangan kurang tidur, jangan lupa untuk menghubungiku s'lalu, dan yang paling penting jangan jelalatan pada wanita di luar sana! "


" Ha.. ha.. ha..! Istriku lucu banget sih! " Cello terkekeh sambil menyentuh dagu istrinya.


" Dengerin aku gak sih? "


" Iya.. iya... aku denger kok sayang, aku janji, gak akan telat makan, gak akan kurang tidur, gak akan lupa buat hubungin kamu dan gak akan jelalatan karena wanita di luar sana tidak ada yang lebih cantik dari istriku ini." Ucap Cello yang langsung memeberikan cium** singkat di bibir Chaca.


" Ya udah, hati-hati! Aku akan sangat merindukan mu. " Ucap Chaca dengan penuh cinta.


" Aku juga sayang...! cup! " Cello kembali memberikan cium** singkat di bibir istrinya itu.


" Aku pergi dulu yah...? " Lanjut Cello lagi ketika melepas cium**nya.


" Iya...! " Jawab Chaca singkat.


" Bye sayang...! " Ucap Cello yang langsung melajukan mobilnya.


" Bye...!" Chaca membalas sambil melambaikan tangannya ke arah mobil Cello yang sudah menjauh.


Setelah Cello pergi, begitu juga dengan Nathan yang sudah berangkat kuliah lebih dulu. Chaca kemudian menutup pintu rumahnya. Ia lalu membereskan piring-piring sisa mereka sarapan pagi untuk di cuci.


Chaca meletakkan piring-piring itu di wastafel, lalu mencucinya satu-persatu. Setelah selesai, Ia melihat ke arah luar jendela dapurnya. Lagi-lagi ekor matanya menangkap sesosok pria bertopeng yang sedang berdiri menatap ke arahnya.


Deg!


Jantung Chaca berdegup kencang, Ia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu, dimana bibirnya pernah di sentuh oleh pria bertopeng itu ketika mencari seekor kelinci hingga membuat dirinya tidak sadarkan diri.


Walaupun Cello menganggap Ia hanya bermimpi buruk, tapi bagi Chaca itu bukanlah mimpi.


" Pria bertopeng itu lagi! " Ucapnya sambil mengatur nafasnya.


" Apa yang Ia lakukan disana? "


" Siapa sebenarnya Dia, kenapa Dia ada di tempat ini? "


Chaca terbang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak memiliki jawaban dari mulutnya sendiri. Merasa takut, Ia langsung menutup tirai jendela dapurnya dan berlalu menuju kamarnya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa Ia lakukan saat ini.


Flashback On.


Pukul 04.00 subuh hari, Cello sudah terbangun dari tidurnya. Di pandanginya lekat wajah istrinya yang saat ini berada di atas dada bidangnya. Cello lalu mengecup puncak kepala istrinya itu dan memindahkannya dengan perlahan.


Setelah sampai di gudang, Ia lalu mengambil kunci yang Ia bawa tadi, kemudian membuka gembok lantai yang ada di sisinya saat itu.


Kreekk!


Bunyi lantai itu terbuka. Cello lalu turun ke ruang bawah tanah dan langsung menuju kamar saudara kembarnya.


Tok.. tok.. tok..!


" Mario, buka pintunya! " Teriak Cello.


Kreekk!


Tidak lama kemudian Mario pun membuka pintu kamarnya.


" Ada apa? " Tanya Mario singkat.


" Biarkan aku masuk!" Cello mendorong tubuh saudara kembarnya itu, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di dalam kamar saudaranya itu.


" Ada apa? " Tanya Mario lagi.


" Mulai hari ini aku akan membebaskanmu! Aku tidak akan mengurungmu lagi. "


" Cih! Memangnya apa tujuanmu? " Mario berdecih.


" Kau tau orang dibalik resto kita yang terbakar bukan? "


" Ha.. ha.. ha..! Kenapa dengan mertuamu? " Ucap Mario tertawa.


" Aku akan membuat perhitungan dengannya, tapi tidak sekarang! Sekarang, aku hanya ingin kau menjaga istriku dari pria breng*** itu! "


" Jangan biarkan, pria tua itu datang dan membawa anaknya pergi dari sini selama aku berada di luar kota. " Lanjut Cello lagi.


" Ha.. ha.. ha..! Aku menyukai tugas ku kali ini! " Jawab Mario dengan tertawa bahagia.


" Ku peringatkan kau, jangan coba-coba berani menyentuh istriku walau hanya ujung rambutnya sekalipun! " Ancam Cello dengan memegang kerah baju Mario.


" Aku membebaskanmu semata-mata untuk menjaga istriku dari pria tua breng*** itu! Jangan menakutinya apalagi sampai memperlihatkan wujudmu di depannya! Cukup kau awasi dari jauh, kau mengerti! " Lanjut Cello lagi dengan tegas.


" Ha.. ha.. ha..! Ok, baiklah.. baiklah..., turunkan tanganmu itu! " Ucap Mario yang memerintahkan Cello untuk menurunkan tangan dari kerah bajunya.


" Kau tenang saja, aku akan menjaga sesuatu yang sangat berharga bagi saudara kembarku ini dengan sangat baik! " Lanjut Mario dengan senyuman liciknya.


" Terserah apa katamu! Yang penting ingat satu hal, jangan coba-coba berani menyentuh istriku, kalau kau tak ingin mati di tanganku! " Ancam Cello yang langsung berlalu dari hadapan Mario.


" Cih! Kau sungguh bodoh Cello! " Umpat Mario ketika Cello sudah hilang dari pandangannya.


Cello lalu keluar dari ruangan gelap itu, dan langsung menutup kembali akses masuk ke ruangan bawah tanah itu, namun kali ini Ia tidak menguncinya.


Cello kemudian kembali ke dalam rumahnya dan membersihkan diri untuk segera mempersiapkan segala kebutuhannya selama berada di luar kota.


Flashback Off.


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Hallo Readers, Author up 2 episode sekaligus, sebagai bonus karena Author lama up. Maaf yah, belakangan ini Author banyak urusan di dunia nyata. Oopps jadi curhat!! 😅😅


Author juga mau bilang, kalau besok-besok episodenya sudah mendekati konflik. Jadi bakalan banyak misteri yang terungkap. Jangan di lewatkan yah...!!!


Selalu Author ingatkan untuk jangan lupa tinggalkan like, vote, dan komennya yah...


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘