WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
FOTO PRE-WEDDING



Satu bulan kemudian.


Kemelut cinta Chaca dan Cello yang terhalang restu sang papa, tidak membuat keduanya menyerah begitu saja. Mereka tetap mempersiapkan pernikahan mereka yang akan berlangsung bulan depan. Segala persiapan sudah mencapai 80%, tersisa 20% lagi untuk membuat segalanya menjadi sempurna.


Hari ini Chaca dan Cello terlihat bersiap-siap untuk melakukan foto pre-wed. Chaca yang sedang mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan atasan terbuka serta rambutnya yang dirias sedemikian rupa, tampak menambah kecantikan yang sempurna yang telah Tuhan anugerahkan padanya.


Cello juga tidak kalah tampan dihari itu. Dengan menggunakan setelan jas berwarna serba putih dengan ditambah jam tangan bermerk yang melekat ditangannya menambah ketampanan yang Ia miliki.


" Sudah siap? "


Ucap seorang fotografer profesional yang siap akan mengambil gambar mereka berdua yang telah berdiri saling berhadapan, dengan kedua tangan Cello memegang pinggul Chaca dan kedua tangan Chaca berada didada Cello. Mereka pun memasang ekspresi saling tatap.


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


Satu persatu foto diambil dengan bantuan arahan sang fotografer untuk mengatur posisi teromantis mereka. Lokasi pengambilan foto dilakukan ditepian danau dikawasan Black Lake. Tidak butuh waktu lama, proses foto pre-wed merekapun akhirnya selesai juga.


" Huh! Ternyata hanya untuk pengambilan foto pre-wed cukup melelahkan juga, yah?" Ucap Chaca yang sedang mendudukkan dirinya dikursi yang telah disediakan.


" Kamu capek? " Tanya Cello.


" Ehmm..! " Chaca menjawab dengan berdehem dan menganggukkan kepalanya.


" Kalau kamu capek, kamu istirahat dulu didalam, nanti malam baru aku antar pulang! " Jawab Cello, karena memang pengambilan foto dilakukan pada sore hari.


" Emb.. gimana ya? " Chaca tampak berfikir.


" Boleh deh! Tapi, malamnya kamu harus antar aku pulang ya, sayang! Aku takut papa ku marah lagi seperti waktu itu. "


"Sip! " Cello menunjukkan jempolnya.


Chaca membalasnya dengan tersenyum, sebelum akhirnya Ia meninggalkan Cello didepannya untuk masuk kedalam rumah dan berganti pakaian. Tidak lama kemudian, Cello pun ikut menyusulnya untuk berganti pakaian juga.


Didalam rumah, terlihat beberapa orang yang sedang mengemaskan pakaian yang mereka pakai tadi sebelum akhirnya orang-orang tersebut beserta orang-orang yang bertugas dalam proses pengambilan foto pre-wed untuk mereka benar-benar pergi dari kawasan Black lake setelah menyelesaikan tugas tersebut.


Suasana kini menjadi lengang, semua orang sudah terlihat meninggalkan tempat itu. Kini tinggallah dua orang yang sedang dimabuk cinta bersantai diruang keluarga.


" Sayang, kamu mau makan apa? biar aku yang masak! " Ucap Cello sambil memainkan jari jemari Chaca yang indah.


" Hah! Emangnya kamu bisa masak? "


" Bisa dong! kamu jangan ngeremehin aku! Gini-gini aku jago masak loh..! "


" Ah.. masa'! Emangnya jago masak apa? "


" Masak mie instan! " Jawab Cello tersenyum.


" Ha.. ha.. ha..! cuma masak mie instan doank? Adik aku yang manjanya selangit itupun bisa kalau cuma mie instan? " Ucap Chaca tertawa.


" Hmm... mau gak nih? "


" Iya deh iya! Aku mau! Aku pengen ngerasain mie instan buatan kamu! "


" Tunggu sebentar ya! "


" Gak mau aku bantu? "


" Gak perlu, kamu cukup duduk manis saja disini! "


Cello pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan, karena memang hanya itu yang Ia bisa.


Chaca kemudian memperhatikan setiap sudut ruangan dirumah itu. Dia mengingat-ngingat kembali mimpinya beberapa waktu lalu, ketika berada disebuah rumah yang hampir sama dengan rumah yang Ia singgahi sekarang.


Didinding itu seharusnya tergantung foto keluarga yang pernah aku lihat didalam mimpi! Tapi, sekarang tidak ada apa-apa disana.


Chaca mencoba berjalan menuju dinding dimana didalam mimpinya, disudut ruangan itu terdapat meja dan banyak foto-foto tiga saudara laki-laki terpajang dimeja itu.


Seharusnya disini terdapat meja dan ada banyak foto, tapi kemana semua itu?


Chaca terus berjalan menelusuri sudut ruangan itu.


Apa sebelumnya ada orang lain pemilik rumah ini, sebelum Cello membelinya ya?


Ditengah Chaca terbang bersama fikirannya, Ia melihat sebuah pintu berwarna merah, cukup absurd dengan warna dinding rumah itu, sehingga menimbulkan rasa penasaran tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.


Chaca kemudian berjalan mendekati pintu itu. Ketika sampai didepan pintu, Ia berniat ingin membukanya, namun belum sempat terbuka, suara Cello mengagetkannya.


" Sayang...! Apa yang kamu lakukan disitu? "


Chacapun langsung berbalik arah menghadap Cello.


" Emb.. itu.. aku cuma ingin melihat-lihat ruangan yang ada dirumah ini. " Jawab Chaca mencari alasan yang tepat.


Cello terlihat mengkerutkan keningnya.


" Oke! " Jawab Chaca singkat.


Chacapun akhirnya harus menahan rasa penasarannya dan kembali duduk didekat Cello sambil menikmati mie instan yang sudah dimasak Cello.


" Gimana? Enak gak? " Tanya Cello ditengah suapannya.


" Emb... Enak! Ternyata lebih enak kamu yang masak dari pada masakan Ochi! he.. he..! " Jawab Chaca terkekeh.


" Iya donk! Cello gitu loh! "


Tidak butuh waktu lama bagi mereka menghabiskan makanan mereka. Setelah makan, Chaca sesekali melihat kearah jam dinding. Cello yang memperhatikannya pun langsung bertanya.


" Ada apa? kamu ingin pulang? "


" Iya, aku cemas nanti papa akan memarahkanmu lagi! "


" Apa kau tak ingin sedikit lebih lama lagi disini? Aku sangat merindukanmu, sayang..! " Ucap Cello dengan tangan yang sudah meraih pinggul Chaca.


" Emb... aku sangat mau sayang.. ! Tapi aku harus pulang! Tinggal satu bulan lagi, aku akan slalu disini bersamamu! "


" Entahlah! Aku rasanya sudah tidak sabar! " Cello menarik Chaca untuk lebih dekat dengannya.


Chaca menggigit bibir bawahnya, ketika wajahnya semakin dekat dengan wajah Cello. Cello yang melihat Chaca menggigit bibir, tak kuasa menahan hasratnya hingga Ia melum** bibir ranum Chaca dengan bernaf**.


" Cup! Emm....! "


" Sayang? " Chaca yang terlihat kesulitan bernafas,seketika langsung mendorong sedikit tubuh Cello hingga membuat cium** mereka berakhir.


" Sepertinya kamu belum terbiasa dengan serangan tiba-tiba dariku, sayang? " Ucap Cello sambil menyunggingkan senyum.


" Habisnya mendadak sih! "


" Mulai sekarang kamu harus terbiasa! "


Cup! emm...


Cello kembali melum** bibir ranum Chaca, kali ini Ia menurunkan sedikit tempo permainnannya agar bisa menyesuaikan ritme kekasihnya.


Cello melepas cium**nya setelah melihat Chaca yang sedikit ngos-ngosan mengikuti ritme permainannya. Tampak semburat senyum nakal terukir dari bibirnya.


" Ya udah! kamu tunggu disini! Aku siap-siap dulu, habis itu aku antar kamu pulang! " Ucap Cello sambil beranjak dari duduknya. Chaca hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Tidak berselang lama, Cello pun keluar dengan setelan kemeja yang terlihat sudah rapi. Ia pun lalu menghampiri Chaca.


" Ayo! Kita berangkat! " Ucapnya.


" Ayo! " Jawab Chaca sambil beranjak dari duduknya dan langsung meraih tangan Cello.


Mereka berduapun keluar dari rumah itu dan langsung menuju mobil yang sudah terparkir diluar rumah. Cello kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Terima kasih buat para Readers yang sudah mampir dikarya Author yang receh ini.


Jangan lupa untuk tinggalkan Like, vote, dan komen disetiap episodenya yah...


Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘😘