
Beberapa hari setelah pesta barbeque.
Terdengar bunyi dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Suasana makan malam dirumah keluarga Handoko kala itu terlihat ramai. Cello dan Nathan diundang untuk makan malam bersama dikeluarga itu.
Pak Bahri mengundang Cello bukan tanpa alasan. Dia ingin menanyakan keseriusan Cello langsung, setelah mendapat penjelasan dari Chaca beberapa waktu lalu.
Setelah makan malam selesai, mereka semua duduk diruang keluarga. Suasana terlihat sangat tegang.
" Diminum kopinya! " Ibu Maria memecah suasana tegang yang terjadi.
" Iya Tante. "
Cello dan Nathan pun mengambil gelas kopi milik mereka dan menyeruputnya hingga tersisa setengah gelas.
" Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua? " Tanya pak Bahri pada Cello dan juga Chaca.
" Hubungan saya dan Chaca memang belum begitu lama Om, tapi kami sangat dekat dan sudah saling mengenal satu sama lain. " Jawab Cello sedikit gugup.
" Apa kamu serius dengan anak saya? "
" Saya serius Om, saya sangat mencintai Chaca. "
" Cinta saja tidak cukup. " Kata-kata pak Bahri menusuk ego Cello.
" Saya berjanji akan menjaga dan membahagiakan Chaca, Om. "
" Hanya itu? apa pekerjaanmu? "
" Saya mengelola bisnis resto dan kafe milik keluarga, kedua orang tua saya sudah meninggal, dan sekarang saya yang meneruskan usaha mereka. "
" Hmm... Asal kamu tau, saya membesarkan Chaca dengan penuh kasih sayang, tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun, semua keinginannya selalu saya penuhi. "
" Dan satu lagi, tidak saya biarkan sedikitpun ada yang melukai anak saya. "
Seperti kebanyakan orang tua, Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Itu sebabnya sikap pak Bahri sangat tegas, karena Ia tak ingin anaknya menderita ketika berumah tangga kelak.
" Papa..? " Chaca mencoba mencairkan suasana.
" huf.. " pak Bahri menarik nafas panjang.
" Baiklah, saya merestui hubungan kamu dengan anak saya. Tapi ingat, jangan pernah sekali-kali kamu menyakiti anak saya. " Lanjutnya.
" Terima kasih Om, saya bersumpah akan menjaga dan membahagiakan Chaca segenap jiwa raga saya! " Jawab Cello dengan mantap.
" Kalau begitu, kita segera tentukan tanggal pernikahan kalian. Undang anggota keluargamu, setidaknya kamu masih punya keluarga walaupun orang tuamu sudah tiada. "
" Baiklah Om..! " Jawab Cello lagi.
Terlihat rona bahagia diwajah Chaca dan juga Cello. Pernikahan impian yang diimpikan Chaca akan segera terwujud. Chaca sudah membayangkan bagaimana kelak menjadi seorang istri dan juga seorang ibu yang melahirkan banyak anak dikeluarga kecil mereka.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
###############################
Sementara itu, ditempat yang berbeda.
Disepanjang jalan yang diberi nama " Black Street " yang sepi. Nampak sebuah mobil berwarna putih sedang berada dipinggir jalan. Mobil itu terlihat seperti sedang mengalami kendala.
Didalam mobil itu, ada seorang wanita muda yang sedang cemas dan bingung sambil memegang Handphonenya. Maya Jackson, nama itu tertulis dikartu identitas yang tergantung dilehernya. Wanita itu terlihat berprofesi sebagai seorang reporter.
Tut.. tut.. tut..!
Terdengar suara sambungan telepon.
" Sial...! kenapa gak diangkat sih! " Umpat Maya.
Gerimis mulai turun, rintik-rintik gerimis jatuh dikaca depan mobil miliknya.
Tut... tut...! Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan.
" Damn..!!" Maya melempar handphonenya kesembarang arah dan mulai merasa frustasi.
Tidak lama kemudian, terlihat sebuah mobil pick up berwarna hitam melintasi jalan itu, lalu kemudian mobil pick up itu berhenti tidak jauh dari depan mobil Maya.
Kenapa mobil itu berhenti? apakah orang itu berniat menolongku?
Gumam Maya.
Sepuluh menit kemudian, tidak ada tanda-tanda seseorang keluar dari mobil pick up tersebut.
Kenapa aneh sekali ? jika orang itu berniat menolongku, tentu sudah keluar dari tadi.
Gumamnya lagi.
Hujanpun menjadi sedikit lebat. Maya kemudian mencari-cari handphone yang Ia lempar tadi. Kemudian Ia mencoba menghubungi seseorang lagi.
Tut... tut...!! Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan.
Karena rasa takutnya semakin menjadi-jadi, Maya mencoba menghidupkan lampu depan mobil miliknya untuk sekedar melihat mobil pick up didepannya yang sedari tadi masih terparkir tidak jauh dari tempat Dia berada. Maya memfokuskan pandangannya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Pyaaaaarrrrrrr!!!!
Suara kaca mobil pecah.
" Aaarrrggghhh! "
Maya berteriak ketika seorang pria bertopeng kepala hewan memecahkan kaca mobil dan menikam tubuhnya berkali-kali dengan pisau belati hingga pingsan.
Pria itu kemudian menyeret tubuh Maya ke atas mobil pick up nya, lalu segera mengemudikan mobil pick up nya itu menuju ke tempat persembunyiannya.
Seperti biasa, pria itu menjatuhkan tubuh korbannya diatas meja pemotongan daging, lalu melepas pakaian yang masih melekat ditubuh korbannya itu, lalu kemudian memotretnya.
Kali ini, Dia tidak langsung menguliti korbannya. Pria itu terlebih dahulu menyetub*** korbannya yang sudah bersimpah darah. Setelah selesai, Dia langsung melanjutkan kegiatan seperti biasa, menguliti dan memotong-motong korbannya.
" Tolong... lepaskan aku! " Rintihan Maya masih terdengar walaupun dengan suara yang pelan.
Pria itu seakan tuli dan tidak mau mendengar permohonan korbannya. Dia terus melakukan tugasnya hingga korbannya tewas.
Setelah selesai bermain-main dengan potongan-potongan tubuh korbannya. Pria itu kembali lagi ke jalan " Black street " untuk menderek mobil korbannya.
Mobil itu kemudian dibawa ke dalam hutan, dimana mobil-mobil korban sebelumnya juga disembunyikan disana.
Pria itu melakukan semua itu untuk menutupi jejaknya. Kali ini tidak semulus perkiraannya. Ketika Dia memopong tubuh Maya, kartu identitas yang bergantung dileher Maya terjatuh tidak jauh dari mobil Maya berada.
Merasa semua pekerjaannya sudah beres, pria itupun masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Seperti biasa, Dia meraih Handphonenya.
"**Misi selesai "
" Itu akan jadi korban terakhirmu, mulai sekarang berhentilah membunuh orang. Aku tak membutuhkanmu lagi**! "
Bunyi balasan pesan yang diterimanya sedikit membuat Ia kesal.
" Ha.. ha.. ha...! " Pria itu mengirim pesan tawa.
" **Ini tidak lucu, dengarkan aku! mulai sekarang berhentilah melakukan itu lagi, jadilah layaknya manusia normal. "
" Who's next? apa pacarmu**? "
Pria itu mencoba memancing amarah seseorang yang menerima pesan darinya.
" **Jangan sekali-kali kau berani menyentuh pacarku, tergores sedikit saja, kau akan mati! "
" Ha... ha... ha**... "
Pria itu hanya membalas pesan tawa.
" BERHENTILAH! "
Pria itu tidak lagi membalas pesan orang tersebut.
" Cih... hanya karena seorang wanita, kau menjadi bodoh..!! " Umpatnya sambil membuang handphonenya disembarang arah.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
#############################
Author cuma mau ngucapin buanyak-buanyak terima kasih buat para readers yang setia membaca karya Author yang receh ini.
Sekedar mengingatkan jangan lupa tinggalkan like, vote, komen, dan jangan lupa pula kasih bintangnya yah...
😘😘😘😘