WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
CELLO YANG ASLI



Tepat pukul 11 malam.


Rintik-rintik gerimis hujan turun membasahi pohon-pohon besar yang ada di kawasan black lake. Setelah kejadian di kamar tadi, tidak lantas membuat Chaca tertidur. Ia kemudian membersihkan dirinya di bawah shower.


Cukup lama Ia meratapi diri di depan cermin. Pikirannya masih di penuhi dengan tanda tanya tentang perubahan sikap suaminya itu, serta fisik suaminya yang cukup membuat Ia syok.


Bukk!


Terdengar suara hantaman benda keras yang terdengar dari arah pintu belakang rumahnya.


" Suara apa itu? " Ucap Chaca terkejut.


Chaca kemudian bergegas menuju ke arah suara yang Ia dengar tadi. Jantungnya berdegup dengan cepat saat Ia mulai memegang handle pintu dan berniat untuk membukanya.


Ceklek!


Pintupun terbuka secara perlahan.


" Aarrgghh! " Chaca berteriak karena syok saat melihat ada darah segar yang menempel di pintu.


Darah itu membentuk bulat sebesar kelapa, bahkan masih terlihat mengalir hingga titisannya jatuh ke lantai. Selain itu, darah itu masih terlihat jelas dari arah pintu belakang rumahnya hingga ke jalan tanah yang membekas dan berhenti tepat di depan pintu gudang.


" Darah apa ini? "


Chaca masih termangu dengan apa yang Ia lihat. Ekor matanya menangkap cahaya penerangan yang terdapat di dalam gudang.


" Kenapa lampu gudang itu menyala? "


" Apakah Cello berada disana? "


Hujan kini turun cukup deras, merasa penasaran, Chaca kemudian mengambil mantel. Ia juga membawa senter lalu berjalan mengikuti darah yang sudah mulai hilang karena terhapus hujan.


Ketika sampai di depan pintu gudang, Chaca mengatur nafasnya terlebih dahulu, baru kemudian Ia membuka handle pintu gudang itu.


Krieekk!


Desiran darahnya mengalir sangat deras sesaat pintu gudang itu telah terbuka.


Deg!


Jantungnya pun kembali beradu dengan cepat saat Ia melihat arah darah itu berhenti di sebuah lantai di dalam gudang yang sudah terbuka lebar.


Chaca menelan salivanya saat terus melangkahkan kakinya mengikuti arah darah itu. Ia menghidupkan senternya saat sampai di muka lantai yang terbuka dan terlihat gelap itu. Sorot cahaya senter memperlihatkan darah yang masih meninggalkan bekas di sebuah tangga yang Ia sendiri tidak tau ke arah mana tangga itu sebenarnya.


Deg!


Kali ini detakan jantung Chaca berdetak tak karuan saat Chaca hendak melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga itu. Belum sempat kakinya menyentuh tangga, terdengar suara yang memanggilnya dari arah depan rumahnya.


" Sayang... aku pulang..! "


" Sayang... kamu dimana? Apa kamu sudah tidur? "


" Sayang.. ?"


Terdengar teriakan Cello yang memanggilnya hingga berkali-kali. Chaca bergegas meninggalkan gudang itu dan kembali ke rumahnya lewat pintu belakang. Ia kemudian melepas mantelnya, namun lupa menyimpan senternya. Hingga benda itu masih ikut di bawanya.


Ceklek!


Pintupun terbuka dengan sempurna hingga memperlihatkan dengan jelas wajah Cello tersenyum sumringah kepadanya. Tampak pula sebuah koper yang berada di sampingnya.


" Surprisee!! " Ucap Cello sambil menunjukkan sebuah bucket bunga dari tangannya.


Chaca hanya termangu melihat suaminya itu tanpa bereaksi apa-apa. Cello mengernyit heran melihat ekspresi datar istrinya itu.


" Kenapa bengong, sayang? "


" Apa kamu tidak merindukan ku, seperti aku merindukan mu? " Lanjutnya lagi.


" Rindu? " Tanya Chaca heran.


" Iya rindu, hampir satu minggu kita tidak bertemu, apa kamu tidak merindukan aku? "


" Satu minggu? " Ucap Chaca yang masih memasang wajah bingungnya, hingga membuat Cello menyentuh bahu istrinya itu.


" Jangan sentuh aku! " Chaca menolak untuk di sentuh hingga membuat Cello tersentak.


" Sayang..., kamu kenapa ? Apa kamu baik-baik saja? " Cello menatap lekat netra coklat milik istrinya itu.


Merasa tidak ada respon, Cello yang masih berada di muka pintu itu merasa sudah tidak sabar ingin melepas rindu pada istrinya itu. Ia pun langsung memeluk erat tubuh Chaca walaupun mendapatkan tatapan dingin dari istrinya.


" Sayang, maafkan aku! Aku tau kamu marah karena aku beberapa hari ini tidak menghubungimu! " Cello mengeratkan pelukannya.


" Ponsel ku hilang, aku sangat mencemaskan mu saat Nathan bilang kalau dia akan ada tugas kuliah di luar kota sesaat sebelum ponsel ku hilang. Itu sebabnya aku memutuskan untuk untuk mempercepat pekerjaan ku di sana. Dengan begitu, aku bisa pulang malam ini juga. Yah, walaupun sudah selarut ini, tapi setidaknya aku bersyukur bisa memeluk mu lagi, sayang...!" Cello menjelaskan panjang lebar pada Chaca karena Ia fikir Chaca sedang marah kepadanya terkait Ia yang tak bisa menghubungi istrinya itu beberapa hari yang lalu.


Deg!


Mendengar penjelasan panjang lebar dari Cello, seketika itu juga Chaca terlihat syok. Aliran darahnya berdesir dengan sangat cepat. Tanpa sadar Ia menjatuhkan senter yang ada di tangannya, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


" Kamu membawa senter? Emangnya habis dari mana? " Tanya Cello yang merasa heran.


Chaca tidak bisa menjawab,Ia hanya menampilkan sorot mata yang kosong. Mulutnya membeku dan lidahnya kelu. Hanya hatinya saja yang mampu berbicara.


Jika yang berada di hadapan ku saat ini adalah Cello, lalu siapa yang telah bersamaku semalam dan tadi?


Cello mengernyitkan keningnya. Ia merasa ada yang tidak beres dari istrinya itu. Cello lalu melepas bunga yang ada di tangannya dan langsung menggendong istrinya itu ke kamar. Setelah itu Ia kembali lagi ke depan untuk mengambil koper dan mengunci pintu rumahnya rapat dan menemui istrinya kembali sambil membawakan segelas air putih.


" Minumlah dulu! " Titah Cello pada Chaca sambil menyerahkan segelas air pada Chaca dan langsung meminumnya.


" Sayang, kamu kenapa terlihat seperti orang bingung saat melihat kedatangan ku? " Lanjut Cello lagi sambil memberikan belaian hangat.


" A.. a.. aku.. gak kenapa-napa kok! " Jawabnya terbata sambil meneguk kembali air putih pemberian Cello.


" Tapi sayang, kamu terlihat tidak baik-baik saja! "


" Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja, mungkin aku hanya lelah! " Ucap Chaca sedikit kasar.


Cello seketika terdiam mendengar istrinya itu berucap dengan nada yang cukup tinggi. Chaca yang menyadari ucapannya sedikit kasar, lalu berusaha untuk bersikap seperti biasa pada Cello.


" Maaf sayang, aku hanya sangat lelah belakangan ini! " Ucapnya dengan senyum yang di paksakan.


" Ya udah, kalau gitu kamu beristirahatlah!" Cello memberikan kecupan hangat di puncak kepala Chaca.


Dalam dekapan yang cukup lama, Chaca mencoba meraba-raba tubuh Cello. Ia seperti mencari sesuatu. Cello yang merasakan keanehan pada istrinya itu kemudian bertanya.


" Kamu kenapa belai-belai aku, pengen yah? " Ucap Cello dengan senyum nakalnya.


" Emm..gak! Aku cuma kangen liat roti sobek milikmu. " Chaca memaksakan senyumnya kembali.


" Ya udah, ini roti sobek yang kamu rindukan! " Cello lalu membuka pakaiannya hingga memperlihatkan dengan jelas tubuh sixpacknya itu.


Chaca meraba setiap jengkal tubuh Cello, Ia mencari-cari sesuatu yang janggal dari tubuh suaminya itu, namun tidak menemukan apa-apa.


Tidak ada luka atau pun bekas penyakit kulit, tubuhnya terlihat mulus. Berarti ini benar Cello, lalu siapa pria yang sangat mirip dengan suami ku ini? Kenapa Dia mendatangiku?


" Sudah? " Cello menyadarkan Chaca dari lamunannya.


" Eh.. iya, sudah sayang. "


" Kalau gitu, ayo! "


" Ayo apa? "


" Ayolah... apa kau tidak merindukan belaianku? hmm.. " Ucap Cello berbisik di telinga Chaca sambil memainkan lidahnya.


" Cello hentikan, geli tau! "


" Kalau gitu, ayo kita selesaikan, kau sudah menggoda ku lebih dulu! " Masih memainkan lidahnya di leher jenjang istrinya itu.


" Baiklah..baiklah... hentikan dulu..! Tapi ada syaratnya? "


" Hmm.. apa syaratnya? "


" Jangan kasar! "


" Hah! Emangnya sejak kapan aku pernah bersikap kasar padamu, sayang...? "


Deg!


Iya yah, Cello yang asli tidak pernah bersikap kasar kepada ku!


" Sayang....? " Lanjut Cello lagi, kali ini memberi sedikit gigitan-gigitan kecil.


" Ok.. ok.. baiklah! " Chaca hanya bisa pasrah.


Cello sejenak menghentikan aktifitasnya saat melihat dengan jelas leher jenjang istrinya itu.


" Ini kenapa merah-merah sayang? "


" Siapa yang sudah memberikan tanda ini kepadamu? "


Belum sempat Chaca menjawab, Cello lalu memberikan pertanyaan lagi.


Deg!


Aku harus jawab apa?


Mata Chaca mulai berkaca-kaca.


" I.. ini.. emb.. itu.. a.. aku.. di gigit nyamuk, saat membersihkan halaman belakang rumah! "


Cello mengerutkan keningnya, Ia berusaha mempercayai perkataan istrinya itu.


" Percayalah Cello! " Chaca memelas.


" Hmm.. baiklah, aku percaya! Tapi jika ini bukan gigitan nyamuk, aku pastikan pria itu tidak akan selamat, karena telah berani menyentuh istriku! " Ucap Cello berusaha percaya, walaupun di hatinya masih sulit untuk menerima penjelasan dari Chaca.


" Kalau gitu, ayo kita lanjutkan lagi! " Chaca berusaha mengalihkan pikiran Cello.


" Baiklah! "


Mereka pun kemudian larut dalam cinta mereka di malam itu. Chaca pun hanya bisa menahan rasa lelahnya karena harus melayani dua pria berbeda dalam satu malam di malam itu. Namun, beda dengan yang Ia rasakan saat ini, Chaca merasa sangat nyaman berada di dalam dekapan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu hingga pagi menjelang.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Hai Readers!!


Maaf yah, Author lama update di karenakan sesuatu dan lain hal.


Jangan lupa untuk terus dukung novel ini dengan memberikan like, vote, dan komen nya yah...


kiss jauh dari Author..


😘😘😘😘