WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
KELUARGA PSIKOPAT YANG BARU



Satu Bulan Kemudian.


Setelah kejadian mengerikan di malam itu, mama Maria melaporkan hilangnya seluruh anggota keluarganya. Dan pencarian pun di lakukan di kawasan Black Lake. Namun, hasilnya nihil. Suami dan anak-anaknya tak kunjung di temukan, begitu pula dengan menantunya yang juga ikut menghilang bersama saudara-saudaranya entah kemana.


Tak kunjung mendapatkan titik terang, mama Maria pun frustasi hingga menjadi gila. Dan kini mama Maria di rawat di Rumah Sakit Jiwa di Kota Marrisson.


****


Malam Harinya.


Cello duduk di kamarnya sambil memandangi album foto kenangannya bersama sang istri, Marsha. Setelah kasus itu di cabut, Marcello bersaudara kembali ke rumah mereka. Tak pernah terbesit di benak Cello kalau hubungannya akan berakhir seperti ini bersama istrinya. Hari-harinya terasa hampa, tak ada lagi senyum yang terukir di sudut bibirnya.


" Sudahlah kak, jangan di fikirkan lagi. Semua sudah berakhir. " Ucap Nathan menghampiri.


" Aku sangat mencintainya, Nat. " Buliran air mata berhasil jatuh di pelupuk matanya.


" Cintamu tidak salah, hanya kau mencintai orang yang salah. "


" Kenapa semua ini harus terjadi padaku, Nat? Bagaimana keadaannya sekarang, apa Dia masih hidup di luar sana? "


Cello menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menumpahkan apa yang seharusnya Ia tumpahkan sejak tadi.


" Sudahlah kak, lupakan Dia! Dia tidak pantas mendapatkan cintamu. Dia hanya anak dari pembunuh orang tua kita. "


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Mario datang menghampiri.


" Cello, kau harus lihat ini! " Ucapnya.


" Lihat apa? "


" Ikut saja dengan ku! "


Cello dan Nathan pun mengikuti kemana arah Mario pergi. Ternyata Mario membawa mereka naik ke lantai atas dan masuk ke dalam ruangan cctv.


" Lihat! Ada yang sengaja merusak semua cctv kita. " Ucap Mario sambil menunjuk ke arah layar komputer yang tampak hitam putih itu.


" Siapa yang telah berani melakukan ini? " Jawab Cello heran.


" Pasti ada seseorang di luar sana yang sengaja merusaknya. " Sahut Nathan.


" Tapi siapa yang tau letak cctv itu selain kita? "


" Apa mungkin istrimu yang melakukan ini? Karena Dia lama tinggal di sini, tentu Dia tau keberadaan cctv itu. " Ucap Mario.


" Tidak, tidak mungkin Dia. " Jawab Cello cepat.


" Apalagi dalam keadaan hamil besar, mana bisa kak Chaca melakukannya. " Ucap Nathan menimpali.


" Kalau begitu kita harus segera mencari tau! Bawa semua perlengkapan berburu kita, ayo! " Ajak Mario yang sudah tidak sabaran.


" Baiklah, ayo! " Cello mengiyakan.


Mereka bertiga pun kemudian masuk ke dalam hutan dengan cara berpencar sambil membawa perlengkapan berburunya.


Di dalam hutan, Jonathan yang sudah berpisah dari kedua saudaranya itu mencoba menyusuri tepian danau hitam. Merasa tidak menemukan apa-apa, Ia pun kembali melanjutkan penelusurannya hingga ke dalam hutan.


Di tengah Ia berjalan, tiba-tiba saja kakinya menginjak sebuah benda yang seperti jebakan untuknya. Hingga akhirnya leh**nya terjerat tali dengan kuat, yang menyebabkannya tak mampu mengeluarkan suara karena tenggorokannya tercekat.


Nathan mencoba melepas tali itu dengan tangannya, namun tetap saja tak bisa mengendorkan jeratannya. Tiba-tiba tampak seorang wanita datang menghampirinya.


" Hai adik ipar, kita bertemu lagi. " Ucap wanita itu.


Kak Chaca.


Ucap Nathan dalam hati.


" Kenapa, hmm? Kau sulit berbicara? Apa sakit? " Tanya Chaca dan hanya mendapat anggukan kepala dari Nathan.


" Owh... sungguh kasihan adik iparku ini? " Ucap Chaca sambil mengelus-ngelus kepala Nathan.


" Sini, biar aku bebaskan dari rasa sakit itu. "


Seketika itu juga Chaca langsung menghabisi Nathan tanpa ampun, hingga darah Nathan mengenai wajahnya.


" Emb... ternyata ini sangat menyenangkan! " Ucapnya sambil meninggalkan Nathan, namun sebelumnya Ia sudah menaruh secarik kertas di kerah baju Nathan.


Tidak berselang lama, Mario melewati jalan yang di lewati Nathan tadi. Hingga Ia pun terkejut dengan apa yang Ia lihat.


" Nathan!! "Teriaknya saat melihat adiknya itu sudah meregang nyawa.


" Cello! Cello! Cepat Kemarilah! " Teriaknya lagi, dan tidak lama kemudian Cello pun datang menghampirinya.


" Lihatlah! "


" Nathan! Siapa yang telah melakukan ini padanya? " Ucap Cello sedikut syok.


" Entahlah, aku sudah menemukannya dalam keadaan seperti ini! "


" Shiitt!! " Umpat Cello.


" Tunggu, apa ini! " Cello melihat secarik kertas yang berada di kerah baju Nathan lalu kemudian mengambil dan membacanya.


" Who's next? " Bunyi tulisan itu.


" Siapa yang berani melakukan ini pada kita, Cello? " Tanya Mario mulai geram.


Cello tak menjawab perkataan Mario. Ia tampak berfikir keras. Ia seperti mencurigai seseorang, tapi hati kecilnya berkata tidak mungkin.


" Mario, kita harus berpencar! Kita harus segera menemukan pembunuhnya! " Titah Cello.


" Baiklah! "


Mereka pun akhirnya berpencar. Mario mencari hingga di dekat danau. Ia terus berjalan dan berjalan namun langkahnya terhenti saat melihat sesosok wanita berambut panjang dan mengenakan pakaian putih.


Wanita itu kemudian berlari menjauhinya Mario pun mengikuti arah wanita itu berlari, hingga kakinya menginjak sebuah jebakan. Dan lagi-lagi Ia bernasib sama dengan adiknya, Nathan.


Tenggorokannya yang tercekat membuat dirinya tak mampu mengeluarkan suara sepatah katapun. Tiba-tiba sosok wanita tadi datang menghampirinya. Sosok wanita itu tidak lain adalah Chaca, istri dari saudara kembarnya.


" Mario, gimana kabarmu sayang? " Ucapnya manja sambil membelai lembut pipi Mario.


" Bukankah kau senang dengan panggilan itu? Hmm... "


" Sayang, apa kau ingin bermain dengan ku? " Chaca kembali membelai pipi Mario.


" Bukankah sudah lama sekali kita tidak bermain bersama, aku sangat merindukan mu? "


Kemudian Chaca mendekatkan bi***nya ke bi*** Mario.


" Aku suka permainanmu yang kasar! " Ucap Chaca yang seketika itu dan langsung memberi luma*** kasar di bi*** Mario hingga terluka dan berdarah.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Chaca pun tertawa puas melihat Mario yang tak mampu melawan.


" Owh... kasian...! Kenapa kau ketakutan begitu? Aku hanya menci**mu tadi. " Ucap Chaca lagi dengan manja.


Chacapun segera melancarkan aksinya dan Mario pun akhirnya berakhir dengan cara yang mengenaskan. Tidak lupa Chaca meninggalkan secarik kertas sebelum meninggalkannya.


Kini tinggallah Cello seorang. Saat Ia mendengar tawa seorang perempuan, Cello pun bergegas mencari arah suara itu. Hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan Mario yang sudah tampak mengenaskan.


" Mario!! " Teriaknya.


Menyadari saudara kembarnya itu tidak lagi bernyawa, Ia lalu mengambil secarik kertas yang terselip di leher Mario lalu membacanya.


" Who's next? "


" Sialan!! " Umpat Cello sambil menginjak-nginjak kertas itu di tanah.


" Hey!! Keluar kau!! Jangan jadi pengecut! Sekarang hanya tinggal aku sendiri! Keluarlah pengecut! " Teriak Cello berkali-kali.


Mendengar perkataan itu, Chaca pun datang menghampirinya dari arah belakang. Merasa ada yang datang, Cello lalu berbalik badan sambil menodongkan pistol ke arah Chaca, begitu pula sebaliknya.


" Chaca. " Ucapnya tak menyangka namun hanya mendapat balasan senyum dari istrinya itu.


" Apa kau yang melakukan semua ini? " Tanya Cello dengan masih menodongkan pistol ke arah Chaca, begitu pula sebaliknya dengan Chaca yang tidak mau menurunkan senjatanya itu di wajah Cello.


" Menurutmu? " Jawab Chaca.


" Kenapa kau lakukan ini pada kami?"


" Cih! Alasannya sama dengan apa yang kau lakukan terhadap ku dan keluarga ku. "


Hening di antara merekapun terjadi. Mata merekapun beradu dengan sarat makna, seakan-akan mata merekalah yang berbicara saat ini.


" Sekarang hanya tinggal kau dan aku, Marcello Harfar? " Ucap Chaca memecah kebisuan di antara mereka.


" Mari kita selesaikan ini semua! Bukankah sekarang kita impas? "


" Bukankah sekarang kita sama? Hmm... "


" Sama-sama psikopat? "


" Ayo Cello, bicaralah! jangan diam saja! Cepat selesaikan ini! "


" Dalam hitungan ketiga, kita sama-sama menarik pelatuknya, ok? "


" Satu.... dua.... ti.... "


Belum sempat hitungan ke tiga, Cello langsung menjatuhkan pistol di tangan Chaca dan melepaskan pistolnya juga hingga jatuh ke tanah.


Kemudian Cello meraih pinggang Chaca dan menci** bib** istrinya itu yang memang telah lama Ia rindukan. Ciu*** itu berlangsung cukup lama, seakan-akan keduanya memang menginginkan hal itu. Mereka seperti melepas perasaan rindu mereka masing-masing.


" Maafkan aku, maafkanlah aku! " Ucap Cello setelah melepas ciu***nya.


Chaca menatap Cello dalam dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memejamkan matanya sejenak, hingga buliran bening berhasil lolos di pelupuk matanya.


" Aku sangat mencintaimu. " Ucap Cello lagi sambil menangkup pipi Chaca dengan kedua tangannya.


" Ku mohon, maafkanlah aku! Jangan ada lagi dendam di antara kita! " Cello terus berusaha meyakinkan istrinya itu.


" Kita mulai semuanya dari awal, kau mau? " Tanya Cello penuh harap.


Hening sebentar sebelum akhirnya Chaca menjawab dengan anggukan kepala tanda mengiyakan, seketika itu langsung mendapat pelukan erat dari Cello.


Pelukan yang telah lama tidak mereka lakukan. Pelukan yang menciptakan kehangatan bagi keduanya. Setelah puas berpelukan, Chaca dan Cello meninggalkan tempat itu dan kembali ke dalam rumah mereka.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Beberapa hari kemudian, Chaca melahirkan bayi kembar perempuan. Bayi kembar perempuan yang mereka miliki itu di beri nama Marcella dan Marcellia. Kehidupan Cello dan Chaca pun kembali normal. Mereka menjalani kehidupan layaknya manusia normal lainnya dan melupakan semua yang telah terjadi di antara mereka.


Jasad Nathan dan Mario di bawa Cello ke dalam ruang bawah tanah. Kemudian, Chaca dan Cello memutuskan untuk mengawetkan kepa** Mario, Nathan, Ochi, dan pak Bahri di dalam sebuah wadah yang berisi air dan di simpan di ruang bawah tanah sebagai kenang-kenangan.


Tak ada rasa penyesalan yang terjadi di antara keduanya. Chaca dan Cello seakan sudah menjadi keluarga psikopat yang baru.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


**TAMAT**.


################################


Terima kasih kepada para Readers yang sudah setia membaca karya Author hingga episode terakhir ini.


Sampai bertemu lagi di karya Author yang lain..!!


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘😘