
Setelah semuanya siap, Cello lalu menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumahnya. Begitu juga Nathan yang mengikuti mobil kakaknya dari arah belakang.
Ditengah perjalanan, tidak banyak obrolan yang terjadi antara Chaca dan Cello.
" Yank, kalau aku hamil, kamu mau anak laki-laki apa perempuan? " Chaca membuka percakapan.
" Hmm.. bagiku sama saja, yang penting bayi kita lahirnya sehat...!" Jawab Cello sambil mengelus puncak kepala istrinya.
" Kalau anaknya kembar bagaimana? " Ucap Chaca lagi yang kemudian membuat sedikit perubahan mimik wajah dari Cello.
Hening.
" Kok kamu diem aja ? Kamu gak suka anak kembar? " Lanjut Chaca lagi.
" Ah, gak! Bukan begitu sayang, aku cuma kasian sama kamu kalau mengandung anak kembar, pasti berat bagi kamu...? " Jawab Cello mencoba menyembunyikan mimik wajah tidak senangnya atas pertanyaan Chaca.
" Hmm.. gak kok, aku sama sekali gak keberatan, aku malah berharap kita punya anak kembar. " Chaca melebarkan senyumnya.
" Ya sudah, kita pikirkan nanti, sekarang yang terpenting, kamu harus periksa dulu, kalau sudah pasti hamil, itu artinya aku akan jadi suami yang selalu siaga buat kamu!"
" Jangan sering ninggalin aku yah, sayang..? " Pinta Chaca.
" Iya, janji! " Ucap Cello sambil mengecup puncak kepala Chaca yang sedang bersender dibahunya.
Butuh waktu 60 menit untuk sampai ke sebuah klinik yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Setelah sampai, Cello lalu memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang di ikuti Nathan dibelakanganya.
" Akhirnya sampai juga. " Ucap Cello yang turun dari mobilnya dan langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya.
" Sayang, kok aku deg-degan yah? " Chaca meraba dadanya.
" Kamu tenang aja sayang, apapun hasilnya nanti, harus kita syukuri, ok? " Cello mencoba menenangkan yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh Chaca.
" Ayo kak! " Ochi memegang tangan Chaca dan mengajaknya masuk ke dalam klinik.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam klinik, Cello mendaftarkan istrinya terlebih dahulu, sedangkan Chaca, Ochi, dan Nathan langsung duduk di ruang tunggu sambil menunggu giliran namanya di panggil.
Setelah 30 menit menunggu, akhirnya nama Chaca di panggil juga. Cello kemudian menemani Chaca masuk ke ruang dokter, sedangkan Ochi dan Nathan memilih menunggu di ruang tunggu.
" Selamat siang dokter? " Ucap Chaca menyapa seorang dokter perempuan yang sedang duduk di meja kerjanya, dimana terpampang papan nama yang bertuliskan dr. Sheila diatas meja kerja dokter itu.
" Selamat siang, silahkan duduk mom. " Jawab dr. Sheila.
" Sudah telat tiga minggu yah, mom? " Lanjut dr. Sheila lagi.
" Iya dok, saya juga baru menyadari. "
" Gak apa-apa, kalau begitu mom tes urinnya dulu yah? Suaminya ikut menemani istrinya yah di toilet sebelah sana! " Ucap dr. Sheila sambil memberikan Chaca sebuah tespect yang memiliki tingkat ke akuratan yang tinggi.
" Baik dok! " Jawab Cello lalu membawa Chaca pergi ke toilet yang berada di ruangan dokter itu, sedangkan Cello menunggunya di depan pintu.
Tidak berselang lama, Chaca keluar dari toilet sambil menampilkan senyum terlebarnya.
" Gimana sayang? " Tanya Cello tidak sabar ketika melihat istrinya itu tersenyum lebar.
" Garisnya dua. " Ucap Chaca yang langsung berlalu meninggalkan Cello di ambang pintu toilet dengan wajah bingungnya.
" Garisnya dua? Apa maksudnya? " Cello berucap pelan sambil menyusul istrinya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Chaca kemudian memberikan hasil tespecknya itu kepada dokter cantik di depannya. Sedangkan Cello masih memasang wajah bingungnya karena masih terngiang dengan kata-kata " garis dua " oleh istrinya tadi.
" Selamat yah pak, istri bapak positif hamil. " Ucap dr. Sheila kepada Cello yang masih belum terlihat fokus.
" Oh... " Jawabnya.
" Oh doank? " Chaca merasa kesal dengan jawaban Cello.
" Eh, iya, maaf saya kurang fokus, istri saya kenapa tadi dok? " Tanya Cello lagi yang sudah sadar dari lamunannya hingga membuat dokter di depannya tersenyum melihat tingkah sang calon ayah.
" Istri bapak positif hamil. "
" Hamil dok? Benarkah itu? " Jawab Cello dengan mata yang terbelalak dan mulut yang menganga, menambah kelucuan wajahnya di hadapan dokter itu.
" Iya, istri bapak positif hamil, jadi tidak lama lagi anda akan menjadi seorang ayah. " Ulang dokter cantik itu lagi.
" Terima kasih dok, terima kasih...! " Ucap Cello sambil meraih tangan dr. Sheila dengan terharu.
" Jangan berterima kasih pada saya, berterima kasihlah pada istri anda, pak? " Ucap dr. Sheila yang menyadari kalau Chaca sudah memasang wajah cemburunya.
" Eh iya..! Habisnya saya seneng banget..! " Cello terkekeh.
" Makasih banyak sayang, jangan cemberut gitu donk? Makasih, makasih, makasih banyak sayang, kamu memang istri terbaik yang aku miliki dan tidak ada yang bisa menggantikan mu dari hati ku ini, sayang ku..? " Ucap Cello yang memeluk Chaca dan seketika itu juga Chaca luluh dengan rayuan maut andalan Cello.
" Aku bahagia banget sayang! Emmuach, emmuacch, emmuuaacch...!" Lanjut Cello lagi dengan memberikan hujaman bibir di puncak kepala Chaca hingga berkali-kali, sehingga membuat dokter di depannya terkekeh melihat tingkah dua manusia di depannya.
" Semoga keluarga kalian selalu di berikan kebahagiaan, memiliki anak yang banyak, dan selalu di beri kesehatan itu yang terpenting. " Ucap dr. Sheila kepada Chaca dan Cello.
" Makasih dok, atas do'anya. " Jawab Chaca tersenyum karena sudah tidak merasa cemburu lagi.
Setelah itu, dr. Sheila kemudian menyuruh Chaca untuk melakukan USG untuk mengecek kondisi janin sekaligus mengetahui usia kandungan dari istri Marcello Harfar tersebut.
Enam minggu, itulah kata yang terlontar dari dr. Sheila saat melihat kondisi janin Chaca. Raut wajah Chaca dan Cello tak henti-hentinya menampilkan kebahagiaan yang tiada tara.
dr. Sheila juga memberikan beberapa penjelasan seputar kehamilan, dari mulai proses ngidam, sampai proses melahirkan, serta meminta Cello untuk menjadi suami yang siaga untuk istri tercintanya itu.
Setelah mendengar penjelasan yang cukup panjang dari dr. Sheila, Cello dan Chaca kemudian berpamitan pada dr.Sheila dan kemudian keluar dari ruangan dokter tersebut. Cello lalu menuju kasir untuk membayar administrasi, sedangkan Chaca langsung menghampiri kedua adiknya di ruang tunggu.
" Gimana kak? " Tanya Ochi antusias.
" Hmm.. mau tau aja apa mau tau banget? "
" Iih.. kakak, jangan bikin aku penasaran donk, kasih tau lah? " Rengek Ochi.
" Tidak lama lagi kamu akan jadi tante, dan Nathan akan jadi paman. " Ucap Chaca yang seketika itu membuat wajah Ochi dan Nathan sumringah.
" Terima kasih Tuhan, engkau telah mengabulkan do'a kami! " Ucap mereka berdua serentak dan tanpa sadar langsung berpelukan di hadapan orang banyak saking bahagianya seakan merekalah yang akan menjadi orang tua.
" Mereka kenapa berpelukan seperti teletubbies begitu, sayang? " Tanya Cello tiba-tiba yang telah selesai membayar administrasi dan melihat Ochi dan Nathan berpelukan seperti gaya berpelukannya teletubbies.
" Entahlah, kita yang akan jadi orang tua malah mereka yang asyik berpelukan begitu. "
" Hmm... sudahlah, kita tunggu mereka di mobil aja. " Ucap Cello yang langsung merangkul istrinya dan berjalan keluar dari dalam klinik meninggalkan dua manusia yang masih asyik berpelukan tanpa sadar.
Merasa semua orang memperhatikannya, Ochi dan Nathan kemudian melepas pelukan mereka dan sudah tidak mendapati Chaca dan Cello disana.
" Nat, kak Chaca dan kak Cello kemana? "
" Entahlah, mungkin mereka sudah keluar, ayo kita susul mereka! "
" Ayo! " Ucap Ochi tergugu.
Emangnya berapa lama aku dan Nathan berpelukan, sampai-sampai tidak sadar kalau kak Chaca dan kak Cello sudah pergi dari tempat ini.
Gumam Ochi dengan pipi yang sudah merona malu.
Di tempat parkir Ochi melihat Chaca yang sedang menikmati rujak di tangannya.
Main ninggalin aja, udah itu nikmatin rujak gak ngajak-ngajak lagi tu. Gumamnya dalam hati sambil menghampiri kakaknya itu.
" Habisnya kamu lagi asyik berpelukan, jadi kakak tinggalin aja, iya kan sayang? " Ucap Chaca sambil mengunyah rujak dan meminta pembelaan dari Cello.
" Iya! " Jawab Cello santai.
" Hmm.. kita cari tempat makan yuk disekitar sini, aku laper banget nih! " Nathan menimpali.
" Ide bagus, aku juga udah laper banget. " Ucap Ochi bersemangat.
" Ayo! " Sambung Cello.
" Sayang, ayo kita cari makan dulu! " Lanjut Cello lagi merangkul istrinya itu.
" Aku habisin ini dulu! " Jawab Chaca dengan mulut yang masih penuh.
" Udah, dibawa aja rujaknya! " Ucap Cello sedikit memaksa hingga membuat istrinya itu akhirnya mengalah.
Sesampainya di sebuah rumah makan yang tak jauh dari klinik, Cello, Nathan, dan Ochi kemudian memilih menu makanan mereka masing-masing, kecuali Chaca. Ia hanya memesan jus alpukat saja karena masih sibuk dengan rujak yang Ia beli cukup banyak tadi.
****
Selesai makan, mereka berempat kembali lagi ke parkiran mobil bersiap-siap untuk pulang, namun Chaca terlihat diam saja sehingga membuat Cello cemas.
" Kamu kenapa sayang, dari tadi diam saja? " Tanya Cello kepada istrinya itu.
" Aku masih kebayang buah mangga muda, yank? " Jawab Chaca dengan memasang mata puppy eyesnya.
Astaga! kirain udah lupa dengan hal itu.
Gumam Cello dalam hati.
" Hmm.. sepertinya aku tau dimana mencari buah mangga muda itu? " Ochi menimpali dan sekaligus menjadi malaikat penolong buat Cello.
" Dimana Chi? " Tanya Cello bersemangat.
" Lumayan jauh dari sini sih, dulu aku pernah nemenin temen aku cari mangga muda disana. "
" Ya udah, kalau gitu tunggu apa lagi, ayo kita kesana. Aku tak mau membuat ponakan ku menunggu terlalu lama. " Celetuk Nathan yang langsung mengajak semuanya segera pergi dari sana.
" Ayo! " Ucap Chaca seketika dan langsung masuk ke dalam mobil lebih dulu, sehingga membuat yang lainnya diam melongo.
" Ayo, kalian tunggu apa lagi? " Lanjut Chaca lagi yang mengeluarkan kepalanya dari balik jendela mobil.
" Eh, ok! Ayo semua! " Jawab Cello dan membuat semuanya bergegas masuk ke dalam mobil.
Kedua buah mobil itu kemudian melaju meninggalkan klinik dan langsung menuju lokasi yang disebut Ochi. Kali ini mobil Nathan yang berada di depan karena Ochi sebagai petunjuk jalan.
Ketika melewati gang yang tidak begitu besar dan melewati beberapa rumah warga, akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Sebuah rumah di pemukiman padat penduduk, berpagarkan bambu dengan di tumbuhi banyak tanaman di pekarangan rumahnya. Rumah itu tidak lain adalah rumah bibi dari temannya Ochi yang pernah Ia temani mencari mangga muda waktu itu.
" Kamu yakin ini rumahnya, Chi? " Tanya Nathan.
" Iya, ayo kita turun! " Ajak Ochi pada Nathan.
Ketika Ochi dan Nathan turun yang di ikuti pula oleh Chaca dan Cello, pemilik rumah itu tampak keluar dari rumahnya.
" Eh... non Ochi, kirain siapa yang dateng, apa kabar non Ochi? " Ucap bi Melly menyambut kedatangan Ochi.
" Baik bi, bi Melly sendiri apa kabar? "
" Saya baik juga non! Mereka ini siapa non? "
" Oh iya, kenalin bi, ini kak Chaca, kakak ku yang paling cantik sejagat raya, hehe..! " Ucap Ochi terkekeh yang mendapat senggolan sikut dari Chaca.
" Chaca! " Chaca memperkenalkan diri.
" Cantik banget sih, kayak artis! " Bi Melly mencubit pipi Chaca gemes, sedangkan Cello yang merasa tidak suka istrinya di pegang-pegang orang lain hanya dapat berdecih kesal.
" Panggil saja saya bi Melly." Lanjutnya lagi dan mendapat balasan senyum dari Chaca.
" Kalau ini kak Cello, suami kakak ku, dan ini adiknya, Nathan. " Lanjut Ochi lagi memperkenalkan yang lainnya.
" Ya udah, kalau gitu ayo masuk! "
" Maaf bi, kami tidak bisa lama, jadi begini, maksud kedatangan kami kemari ini ingin membeli mangga muda milik bibi, seingat Ochi, bibi punya pohon manggakan dulu? "
" Oh.. siapa yang ngidam? "
" Kakak ku! " Ucap Ochi yang membuat bi Melly menoleh pada Chaca dan tersenyum kepadanya.
" Oh.. non Chaca, ya udah ayo ikut bibi, gak usah beli atuh, bibi kasih aja !" Ucap bi Melly sambil mengajak mereka menuju ke belakang rumahnya, karena kebetulan pohon mangganya berada di belakang rumah.
Mereka berempatpun lalu mengikuti langkah kaki bi Melly menuju ke halaman belakang rumah.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
To be continued.
################################
Panjat mangganya besok yah Readers!!
Author udah kasih kalian episode yang panjang nih, hampir 2000 kata loh..
Kenyang-kenyang deh kalian bacanya.
hehehe..
Jangan lupa, Author selalu ingatkan untuk meninggalkan like, vote, dan komen disetiap episodenya yah...
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘