WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
KAU BUKAN DIA



Cello menghempas kasar pintu gudang belakang rumahnya. Wajahnya tampak merah padam. Ia kemudian membuka lantai gudang yang tidak lagi terkunci itu,lalu berlari kecil menuruni anak tangga satu persatu, di ikuti pula oleh Nathan di belakangnya.


Cello tidak langsung masuk ke kamar Mario, Ia terlebih dahulu ke ruangan penyembelihan daging. Cello mengambil rantai dan sebuah par***. Melihat hal itu, Nathan tampak mulai ketakutan karena belum pernah melihat Cello semarah itu. Ia takut akan terjadi pertumpahan darah antara kedua kakaknya itu.


" Kak Cello, tenangkan dirimu! "


" Diam kau, minggir! "


Cello lalu menerobos Nathan dan langsung menuju kamar Mario. Sesampainya di depan kamar, tanpa mengetuk Cello langsung mendobrak pintu kamar itu dengan menggunakan kakinya.


Braakk!


" Mario...!!! " Teriak Cello ketika pintu itu sudah terhempas.


Seketika itu juga Mario langsung terbangun dari tidurnya. Belum sempat Mario berdiri, Cello sudah lebih dulu menjer** leh** saudara kembarnya itu dengan rantai yang Ia bawa.


" Beraninya kau menyentuh istriku! " Ucapnya.


Kedua tangan Mario memegang erat rantai yang menjer** leh**nya berharap rantai itu bisa terlepas. Mario terus meronta-ronta untuk membebaskan dirinya itu dari amarah Cello yang memuncak. Sedangkan Nathan hanya berdiam diri karena tidak tau harus berbuat apa.


" Kau masih ingat kata-kata ku bukan, jika kau berani menyentuh istriku maka akan ku pastikan kau akan mati di tanganku! " Cello semakin mengeratkan jerat**nya.


Mario tidak tinggal diam, Ia memiliki banyak akal untuk melepaskan dirinya dari jerat** Cello. Ia memiliki kemampuan mematikan diri hingga puluhan menit. Mario lalu menggunakan kemampuan itu untuk menggelabui Cello. Ia kemudian tampak terkulai tidak berdaya.


Merasa Mario sudah tak berdaya, Cello lalu melepaskan jerat**nya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Mario kemudian merebut rantai itu dan berbalik menjerat Cello.


" He.. he.. he.. he..! Kau pikir aku bodoh Cello? " Ucapnya sambil terkekeh.


" Bukankah kau yang meminta ku untuk menjaga istrimu, hmm? Itu sebabnya aku menjaganya dengan sepenuh jiwa dan ragaku, memberikan Ia kehangatan juga kenikmat** yang amat Ia rindukan dari suaminya yang berhari-hari telah meninggalkannya sendirian dalam sepi. Ha.. ha.. ha.. ha...! " Lanjut Mario lagi yang merasa puas.


" Bajin*** kau! " Ucap Cello yang terdengar samar.


" Kak Rio lepaskan kak Cello! " Nathan mencoba melerai.


" Kau diam saja adik kecil, cukup kau tonton saja adegan pertumpahan darah dua saudaramu ini yang terjadi yang di sebabkan oleh wanita. Ya, wanita memang selalu membawa petaka. Ha.. ha.. ha.. ha..! "


" Lepaskan aku!" Cello terlihat mulai lemah.


" Owh... cup.. cup.. cup..! Ternyata saudara ku ini tidak memiliki skill sama sekali, Ia hanya memiliki skill menaklukkan hati wanita. Ha..ha.. ha.. ha..! "


" Cukup kak Rio, kau bisa membunuhnya! " Teriak Nathan.


Mario kemudian melepas jerat**nya. Cello tampak terbatuk-batuk sesaat rantai itu terlepas dari leh**nya.


" Nat, ambilkan air minum untuk budak cinta yang satu ini! " Titah Mario pada Nathan.


Nathan kemudian bergerak mengambilkan segelas air putih untuk Cello dan langsung di teguk Cello sampai habis.


" Kak Cello, sudahlah! Kau bukan tandingannya. " Ucap Nathan berbisik.


Mendengar perkataan Nathan, ego Cello merasa tertusuk. Amarahnya kembali berkobar. Kali ini Ia mengambil par*** yang sempat Ia bawa tadi lalu menghuj**kannya kepada Mario.


Melihat serangan yang datang secara tiba-tiba itu, Mario mencoba untuk menghindar. Namun, par*** itu berhasil mengenai punggungnya sedikit hingga menyebabkan luka dan berdarah. Merasa tidak aman, Mario memilih berlari keluar dari kamarnya.


" Hey! Mau lari kemana kau? " Teriak Cello.


Cello mengejar Mario hingga ke luar dari gudang, begitu pula dengan Nathan. Mario berlari masuk ke dalam hutan untuk menghindar. Ia terus mencari cara agar dapat lari dari Cello.


" Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini? " Umpat Mario.


Menemukan pohon berukuran besar, Mario lalu bersembunyi di balik pohon besar itu, namun tidak berada jauh dari Cello.


" Rio...! Jangan jadi lelaki pengecut! Bukankah ini sangat menyenangkan bagimu? " Teriak Cello namun masih cukup jelas di telinga Mario.


Bukk!


Kaki Mario tersangkut di akar pohon saat Ia ingin berlari kembali, sehingga membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan membuat dirinya terjatuh.


" Sial! " Umpatnya.


Mendengar suara orang terjatuh, Cello kemudian mencari arah suara itu. Dan benar saja, Ia pun akhirnya dapat melihat Mario yang lagi susah payah berdiri untuk segera pergi dari tempat itu. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Cello lalu melemparkan par*** yang di bawanya hingga menghantam bahu Mario. Mario pun akhirnya jatuh tersungkur ke tanah dengan bersimbah darah.


Cello dan Nathan kemudian berjalan mendekati Mario. Cello lalu membalikkan tubuh Mario, hingga tampak dengan jelas wajahnya yang terkena cipratan darah sendiri.


" Apa Dia sudah mati? " Tanya Nathan.


" He.. he.. he.. he..! " Mario masih mampu terkekeh.


Melihat Mario masih bernyawa, Cello lalu menghuj**kan pukul** ke wajah Mario hingga berkali-kali.


" Terus Cello, terus! Jangan berhenti! " Mario semakin memancing emosi Cello.


Merasa belum cukup puas, Cello kemudian mengambil par*** yang masih mele*** di bahu Mario, kemudian berniat menghuj**kannya tepat di dada Mario.


" Jangan!! Jangan lakukan itu kak Cello! " Teriakan Nathan menghentikan gerakan tangan Cello.


" Ha..ha.. ha.. ha..! Hanya demi seorang wanita kau rela menghabisi saudara kandungmu sendiri." Ucap Mario lantang.


Cello kembali geram mendengar perkataan Mario. Ia kembali berniat melaksanakan rencananya.


" Cukup kak Cello, Kau bukan Dia! " Teriak Nathan kembali.


Mendengar kata " Kau bukan Dia " seketika membuat Cello menjatuhkan par***nya. Ia lalu bangkit dan menyeret tubuh Mario hingga ke pinggir danau.


" Pergi jauh dari hidupku dan jangan kembali lagi ke sini! " Ucap Cello tegas.


Dengan langkah gontai, Cello meninggalkan tempat itu dan kembali ke dalam rumahnya. Tidak ada kata terucap dari bibir Nathan saat melihat kakaknya yang nampak frustasi itu. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Cello.


Cello kemudian mengguyur tubuhnya di bawah shower. Membersihkan sisa-sisa darah Mario yang masih melekat di tubuhnya. Ia terlihat frustasi karena teringat dengan rekaman cctv juga pesan dari mendiang orang tuanya dahulu.


Apapun yang terjadi, kalian tidak boleh terpecah belah, harus saling menjaga satu sama lain.


Cello teringat pesan ibunya hingga membuat dirinya menangis meluapkan emosinya.


Hanya demi seorang wanita, kau rela menghabisi saudara kandungmu sendiri.


Kata-kata Mario pun ikut terngiang-ngiang di kepalanya.


" Aarrgghh!! "


" Itu karena kau baji****, Mario! kau baji****! " Teriak Cello dari dalam kamar mandi hingga suaranya membangunkan Chaca, namun Chaca tidak sampai mendengar kata-kata yang di ucapkan Cello.


" Cello, kenapa Dia berteriak di kamar mandi? " Ucap Chaca sambil melihat arah jarum jam.


" Ini baru jam 3 pagi, Dia sudah mandi sepagi ini? " Lanjut Chaca lagi yang masih terlihat bingung.


Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka hingga memperlihatkan dengan jelas wajah sendu Cello.


" Kau sudah bangun? " Ucap Cello kaget saat melihat istrinya sudah dalam keadaan duduk di atas tempat tidur.


" Iya, aku mendengarmu berteriak? "


Mendengar itu, Cello kemudian mendekat ke arah istrinya itu.


Apa Dia mendengar kata-kata ku?


" Kenapa matamu memerah? Apa kau habis menangis? " Tanya Chaca sambil mendekapkan kedua tangannya di pipi Cello.


Ah.. syukurlah, ternyata Dia tidak mendenganya.


" Aku tidak apa-apa sayang! Aku berteriak tadi karena melihat tikus di kamar mandi."


" Benarkah yang kau katakan itu? "


" Ehmm...! " Cello mengangguk.


" Apa kau takut dengan tikus, sayang? " Chaca menahan tawanya sedangkan kening Cello mengkerut mendengar hal itu.


" Ti.. tidak, siapa juga yang takut dengan tikus? "


" Itu buktinya tadi kamu berteriak? "


" Ah... sudahlah lupakan! Sebaiknya kita tidur lagi! "


" Kau yakin akan tidur dalam keadaan seperti ini? " Chaca memperhatikan tubuh Cello yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang saja.


" Hmm.. apa salahnya? Kamu kan suka luat roti sobek ku ini. " Cello menarik tangan Chaca dan meletakkannya di perut.


" Iihh.. sayang, apaan sih! " Chaca merasa malu.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Cello tertawa melihat tingkah lucu istrinya itu.


Cello kemudian mengajak istrinya itu tidur kembali, begitu pula dengan dirinya yang memang belum sempat tidur sama sekali. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang Ia lakukan itu sudah benar dan berusaha melupakan apa yang sudah terjadi.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Hallo Readers, ceritanya semakin mendekati ending yah.. Jangan lewatkan, akan banyak plot-plot twist yang akan Author hadirkan nanti.


Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah...


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘