WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
MEMPROVOKASI



Di dalam foto itu terdapat seorang pria yang di beri lingkar merah. Chaca pun memperhatikan wajah pria itu lekat, dan Ia pun mengenalinya.


" Papa. " Ucapnya.


Chaca sangat mengenali wajah papanya yang tampak masih muda itu karena memang Ia sering melihat album foto papanya di waktu muda.


" Kenapa ada foto papa di sini? Kenapa di beri lingkar merah? Dan apa hubungannya dengan keluarga Harfar? "


Merasa ada yang tidak beres, Chaca kemudian membongkar lemari yang ada di ruangan itu. Hingga akhirnya Dia menemukan berkas-berkas atau file-file tentang rumah yang Ia tempati beserta orang-orang yang pernah mendiami rumah itu begitu pun dengan kasus yang menimpa mereka.


****


Flashback On.


31 tahun sebelumnya.


Black Lake merupakan tempat wisata yang sangat terkenal pada masa itu. Pak George selaku pemilik tempat wisata itu, memiliki seorang istri yang bernama Selena. Mereka juga di karuniai 3 orang anak perempuan yang di beri nama Anastasya, Alina dan juga Celine.


Anastasya merupakan anak pertama dari pasangan George dan Selena. Diam-diam, Ana sapaan akrab Anastasya menjalin hubungan dengan Bastian Harfar yang merupakan supir pribadi pak George.


Tidak lama kemudian, hubungan diam-diam itu di ketahui oleh pak George. Pak George langsung memecat Bastian dan mengusirnya dari tempat itu. Ia langsung berniat segera menjodohkan Anastasya dengan anak sahabatnya yang bernama Bahri Handoko.


Bahri memang sudah menaruh hati pada Ana sejak di bangku sekolah. Namun, Ana tak menaruh hati sama sekali padanya. Ia malah mencintai pria miskin yang menjadi supir pribadi papanya, Bastian Harfar.


Pada suatu hari, Bastian menghabisi kedua saudara Ana yang bernama Alina dan Celine. Kedua saudara itu di tenggelamkan di danau, hingga orang-orang mengira mereka tewas tenggelam saat bermain kano.


Setelah kejadian itu, Selena istri pak George sangat syok dan depresi berat. Hingga akhirnya Ia pun di temukan tewas gantung diri di dalam kamarnya.


Semenjak kejadian itu, tempat wisata itupun di tutup. Pak George pun mulai sakit-sakitan. Merasa usianya sudah tidak lama lagi, pak George meminta Bahri untuk segera menikahi anaknya, Anastasya.


Belum sempat pernikahan itu berlangsung, pak George pun tewas di racun oleh anak kandungnya sendiri. Namun, sebelum itu pak George di minta untuk menandatangani surat warisan tempat itu atas nama Bastian Harfar.


Ternyata, diam-diam Anastasya masih menjalin hubungan dengan Bastian hingga tega menghabisi ayahnya hanya demi sebuah kata, yaitu " Cinta ".


Tidak lama setelah kejadian itu, Bastian Harfar menikahi Anastasya. Sedangakan Bahri hanya bisa pasrah mengikhlaskan Ana untuk Bastian. Ia kemudian memilih pergi menjauh dari tempat itu dan memulai hidup barunya di kota besar.


Di Tahun 2002.


Mendengar banyaknya kasus orang hilang, serta desas desus adanya psikopat di daerah Black Street, Bahri memutuskan untuk kembali datang ke daerah itu. Daerah di mana hatinya pernah hancur karena seorang wanita. Ia masih menaruh curiga atas kematian keluarga George adalah ulah Bastian.


Dengan memanfaatkan situasi dan kondisi saat itu, Bahri memprovokasi warga sekitar dengan mengatakan bahwa keluarga Harfar merupakan keluarga psikopat. Merekalah yang telah menculik dan menghilangkan nyawa banyak orang untuk menjadikan daging mereka sebagai menu di Restoran Harfar.


Mendengar hal itu, warga di sekitar pun percaya dan sepakat untuk menghabisi keluarga itu secara beramai-ramai.


Dalam rombongan warga, salah satunya terdapat adik laki-laki Bastian satu-satunya yang bernama Mike. Mike kemudian mengabarkan berita itu kepada Bastian, sehingga Bastian memutuskan untuk menitipkan ke tiga anaknya kepada adiknya itu.


Di tangan adiknya inilah, Marcello, Mario, dan Jonathan di latih cara berburu dan menggunakan senjata. Namun, hanya Mario lah yang paling berani dan tak memiliki hati dalam melakukannya.


Setelah anak-anaknya di bawa pergi dan tinggal di dalam hutan. Warga secara beramai-ramai yang di pimpin oleh Bahri mendatangi tempat itu.


" Bastian!! Keluar kau!! " Teriak Bahri.


Bastian pun keluar bersama istrinya, dan berdiri di depan rumah mereka. Sejenak pandangan Bahri dan Anastasya bertemu, seakan menampilkan guratan kata " maaf " dari wajah sendu Ana kepada Bahri. Sedangkan Bahri menatapnya dengan penuh rasa sakit hati.


" Bakarrr!!! " Teriak Bahri.


Warga kemudian beramai-ramai melempari mereka dengan obor yang mereka bawa, hingga kemudian rumah klasik itu hangus terbakar beserta pemiliknya.


Setelah itu, seluruh warga yang hadir di situ kemudian mengabadikan momen paling berharga itu dengan mengambil potret mereka beramai-ramai. Tidak tertinggal, Bahri pun ikut berfoto saat itu.


Flashback Off.


"Jadi, papa dalang dari orang tua Cello meninggal? " Ucap Chaca yang tidak menyangka.


" Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? "


" Bagaiman kalau Cello sampai tau? Apa yang akan Cello lakukan padaku? "


" Aku harus mencari cara agar Cello tidak mengetahui hal ini. "


Chaca kemudian bergegas keluar dari ruangan itu. Ia menuju dapur karena hampir saja melupakan rasa hausnya. Ia mengambil segelas air minum lalu meneguknya sampai habis. Tiba-tiba ekor matanya menangkap cahaya terang dari dalam gudang.


" Kenapa lampu gudang itu menyala? "


" Aku yakin sekali, pasti ada sesuatu di dalam gudang itu! "


Chaca kemudian mengambil sweaternya yang berwarna merah serta membawa sebuah senter. Ia langkahkan kakinya dengan cepat menuju gudang itu. Lagi-lagi Ia melihat lantai gudang yang terlihat terbuka.


Deg!


Chaca menelan salivanya mencoba meredam rasa takutnya.


" Apa aku harus turun ke bawah? "


" Tuhan, tolong lindungi aku! " Ucapnya ketika mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga itu satu persatu.


Chaca lalu menyalakan senternya, menyusuri ruan gelap itu. Ia terus berjalan dan berjalan hingga berada tepat di depan ruangan pemotongan daging.


" Hmm... bau apa ini? " Ucap Chaca sambil menutup hidungnya.


" Kenapa baunya menyengat sekali? " Ucapnya lagi.


Ceklek!


Ia membuka pintu ruangan tersebut dan betapa terkejutnya Chaca dengan apa yang Ia lihat. Seketika itu jantungnya berpacu dengan rasa takutnya. Banyak sekali may** yang bergelantungan di besi pengait daging. Bahkan tiga dari may**-may** itu pun tampak Ia kenali.


" Tina, Dody, dan Reza? " Ucapnya.


Tap.. tap.. tap..!


Terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Takut ketahuan, Chaca kemudian bersembunyi di bawah kolong meja dan mematikan senternya. Ia mencoba mengatur nafasnya yang sedang beradu sangat kencang sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


Tampak seorang pria bertubuh tinggi besar dan memakai topeng sama persis dengan yang pernah Ia lihat di dalam mimpi ataupun di dalam keadaan sadar sedang menggendong tubuh seorang wanita. Pria itu lalu menjatuhkan tubuh wanita itu di tepi dinding. Wanita itu tampak belum sadarkan diri.


" Ochi...? " Ucap Chaca pelan.


Pria itu kemudian mengambil salah satu may** yang bergelantung itu dan membaringkannya di atas meja pemotongan daging di mana di bawah meja itu terdapat Chaca yang sedang bersembunyi.


Sebelum bermain dengan korbannya, pria itu terlebih dahulu membuka topengnya. Betapa terkejutnya Chaca saat melihat pantulan wajah pria itu di cermin.


" Cello? " Ucapnya hampir tak bersuara.


Tidak, itu tidak mungkin Cello, bukankah Dia memiliki kembaran? Aku yakin itu kembarannya.


Pria itu kemudian melanjutkan kegiatannya dengan korban yang Ia letakkan di atas meja tadi. Darah korban itu bercucuran hingga ke bawah meja dan jatuh membasahi wajah Chaca. Air mata Chaca mengalir besertaan dengan darah yang membanjiri wajahnya. Ia tampak sangat ketakutan, tak pernah terbayangkan dalam benaknya kalau Ia akan berada dalam situasi seperti ini.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Jika Readers yang berada di posisi Chaca saat itu, apa yang akan Readers lakukan??


Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah Readers..


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘