WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
TIDAK 100% PERCAYA



Setelah mendengar penjelasan David, Chaca tidak langsung pulang kerumahnya. Dia tetap melajukan mobil miliknya itu hingga melewati jalan Black Street.


Chaca kemudian menepikan mobilnya tepat dilokasi ditemukannya kartu identitas Maya. Ditempat itu pula, lokasi dimana mimpinya pertama kali bertemu dengan pria bertopeng yang menghujamnya dengan belati berkali-kali.


Chaca melihat arloji ditangannya.


" Tepat pukul 6 sore, aku tidak yakin dengan apa yang aku lakukan saat ini." Chaca berbicara pada dirinya sendiri.


" Huufff...!! " Chaca menghembuskan nafas berat.


" Oh.. Tuhan, tolong lindungi aku! " Lanjutnya lagi.


Perlahan-lahan matahari mulai menyembunyikan sinarnya. Suasana menjadi sedikit lengang, hanya sesekali terlihat kendaraan berlalu lalang.


Langitpun berubah gelap, matahari tenggelam dengan sempurna, kini berganti dengan cahaya bulan yang sedikit demi sedikit memperlihatkan cahayanya. Chaca masih terlihat bersandar dikursi mobilnya.


" Sepertinya orang itu tidak akan datang, padahal seharusnya Dia berada didepanku saat ini seperti dalam mimpiku. "


Merasa yang ditunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Chaca kembali menekan pedal gas dan melajukan kembali mobilnya dijalan yang nampak sepi itu.


Tidak lama kemudian, Chaca memutar setirnya memasuki kawasan yang bertuliskan " Black Lake " didepan jalan sebelum memasuki kawasan itu.


Pohon-pohon besar dan menjulang tinggi memperjelas kengerian ditempat itu. Setelah 10 menit melewati jalan itu, akhirnya sampailah dilokasi penginapan yang pernah Ia, Ochi, Cello, dan lainnya melakukan pesta barbeque.


Chaca kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menyusuri sekitar penginapan itu. Berbekal senter dan alat kejut listrik disaku celananya, karena memang penerangan ditempat itu terlihat tidak menyala, hanya cahaya bulan yang membantu penglihatannya saat itu. Ia terus berjalan hingga berhenti disebuah rumah besar berdesain klasik dihadapannya.


" Rumah ini....sama persis seperti yang ada dimimpiku. "


Chaca terus melangkah maju dan hendak memutar gagang pintu, namun pintu rumah itu terkunci.


" Shiitt! " Umpatnya kasar.


Chaca kemudian melanjutkan langkahnya menuju belakang rumah untuk mencari keberadaan gudang seperti yang ada dimimpinya.


" Itu gudangnya bukan? Tidak salah lagi, gudang itu sama persis didalam mimpiku. "


Didekatinya gudang itu dengan sedikit ragu. Bayang-bayang pria bertopeng masih menghantui dirinya.


Kreekk!


Chaca membuka pintu gudang itu yang engselnya sudah sedikit berkarat.


Chaca menelan salivanya, sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gudang itu.


Deg! Deg!


Jantung Chaca beradu dengan sangat cepat.


" Kenapa aku jadi takut gini sih? "


Chaca mengarahkan lampu senternya untuk mencari saklar lampu yang ada disitu, setelah menemukan saklar lampu, Chacapun langsung menghidupkan lampu yang ada di gudang itu.


" Gudang ini terlihat jarang digunakan? "


Chaca terus mengedarkan pandangannya disekeliling tempat itu.


" Tidak ada yang aneh dari tempat ini. "


Pandangannya terus menelusuri tiap sudut ruangan itu.


" Tapi, tunggu dulu, kenapa ada karpet terbentang disini? inikan gudang? "


Chaca mulai mendekati karpet lusuh yang ada dilantai gudang itu.


" Ah, mungkin karpet ini digunakan untuk bercin** didalam gudang seperti difilm-film. "


" Hihi..., aku jadi geli sendiri mengatakan itu " Chaca melanjutkan kata-katanya dengan sedikit terkekeh.


" Ah, tidak ada apa-apa disini, mungkin akunya saja yang terlalu parno dengan mimpi-mimpiku, sebaiknya aku pulang saja, papa dan mama pasti sudah sangat cemas mencariku. "


Ketika Chaca hendak melangkahkan kakinya, ternyata satu kakinya tersangkut diujung karpet itu, sehingga membuat tubuhnya terjatuh dan karpet itu pun tersingkap sebagian.


" Aww...!! Aduh...!! Lututku sakit sekali!! " Keluhnya kesakitan.


Chaca mencoba berdiri dan hendak merapikan karpet itu kembali. Namun, Dia melihat sesuatu. Dibukanya karpet itu dengan sempurna, hingga memperlihatkan sebuah pintu rahasia.


" Apa ini? "


" Tapi ini digembok, aku penasaran, apa yang ada didalam sana? "


Chaca mencoba mengintip-ngintip disela-sela papan. Tapi Dia tidak melihat apa-apa karena gelap.


Bruumm... bruumm..!!


Terdengar suara mobil dari arah depan dekat villa.


" Hah! Ada yang datang! "


Chaca yang mendengar itu langsung menutup kembali pintu itu dengan karpet.


" Bagaimana ini? aku harus sembunyi! "


Ketika Ia berbalik badan hendak menuju pintu gudang, sebuah mata pisau keluar dari salah satu celah lantai, beruntung Chaca lebih dulu melewati benda itu.


" Shiitt!! " Umpat seorang pria dari bawah lantai itu.


Chaca bersembunyi dibalik pintu gudang.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Cello turun dari mobilnya, setelah seharian penuh disibukkan dengan pekerjaannya. Dia lalu mendekati sebuah mobil berwarna silver yang terparkir tidak jauh dari tempatnya.


" Aku seperti mengenal mobil ini? "


" Mobil ini milik Chaca, bukan? Apa Chaca ada disini? Tapi kenapa tidak memberi tahuku? "


Cello tergesa-gesa masuk kedalam rumah untuk segera mencharger handphonenya agar bisa segera menghubungi Chaca. Namun, ketika Dia ingin mengambil air minum didapur, Ia terkejut melihat lampu gudang menyala.


Kreekk!!


Drrrrrttttt...... drrrrttttttt....!!


" Aaarrrggghhh! " Teriak Cello sambil badannya bergetar hebat dan terbaring dilantai.


" Cello...!! " Chaca terkejut sambil menutup mulutnya tidak menyangka bahwa pria yang Ia setrum dengan alat kejut listrik adalah kekasihnya sendiri.


" Maafkan aku, sayank? " Chaca mendekati Cello sambil membantunya duduk.


Cello tampak syok sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


" Sayank... lihat aku! kau tidak apa-apakan? Ayo, kita keluar dari sini, aku akan mencarikan air minum untukmu! "


" Tidak perlu, kita kerumah ku saja! Ayo! " Cello terlihat berdiri dengan sedikit susah payah dan dibantu Chaca. Chaca terlihat bingung dan merasa bersalah.


Bagaimana ini? apa yang harus ku jelaskan pada Cello?


Gumamnya dalam hati.


Cello berjalan dengan dipapah Chaca menuju rumahnya. Didalam rumah, Cello memilih duduk disebuah sofa diruang keluarga. Chaca kemudian beranjak kedapur untuk mengambilkan Cello segelas air minum. Kemudian Dia kembali lagi keruang keluarga.


" Sayank... diminum dulu airnya! "


Glek.. glek.. glek..!!


Terdengar suara air masuk ketenggorokan Cello.


Setelah itu, Cello menatap Chaca dengan tatapan penuh tanda tanya.


Apa yang dilakukannya digudang itu? kenapa Dia tidak memberi tahuku kalau ingin kesini?


Cello masih terbang dengan fikirannya.


" Apa yang kamu lakukan disini? " Tanya Cello.


" A.. a.. aku.. berniat ingin menemuimu, sayank?" Jawab Chaca terbata-bata.


" Tapi, bagaimana kamu tau, aku pulang kesini? bukankah selama ini kamu taunya aku tinggal diapartmen? "


Deg!


Chaca seperti berada dipermainan catur, dimana saat ini dirinya diskakmat Cello.


Duh... bagaimana ini? apa yang harus aku jawab? ayo berfikir... berfikirlah.. Chaca!


" E... itu.. sebenarnya aku tau dari Nathan, katanya kamu biasanya nginap disini kalau gak diapartmen. "


"Nathan? " Cello mengangkat alisnya.


" Terus bagaimana kamu tau kalau aku akan nginap disini malam ini? "


****** aku! ayo Chaca, berfikir.. berfikirlah...!!


" Feeling! " Chaca menjawab sembari menunjukkan gigi-giginya yang rapi.


" Sebenarnya aku ingin menikmati cahaya bulan dipinggir danau bersamamu. Jadi aku fikir, aku langsung kesini saja sambil menunggumu pulang. " Lanjut Chaca lagi.


" Oh.. begitu..!! Lalu, apa yang kamu lakukan digudang itu? "


Dia benar-benar menginterogasiku!


" Ceritanya gini, aku pengen masuk kedalam villa ataupun rumah ini untuk menunggumu, tapi pintunya terkunci. Jadi aku menuju gudang itu, ternyata pintunya tidak terkunci juga lampunya bisa dinyalakan, jadi aku nunggu kamu disitu deh! " Chaca menjelaskan dengan senyuman lebarnya berharap Cello berhenti menginterogasinya.


Oh.. come on Cello, percayalah.. percayalah padaku!


" Begitu? "


" Kenapa tidak menghubungiku? " Lanjut Cello lagi.


Chaca terlihat celingak celinguk untuk mencari ide, matanya tertuju pada Hp Cello yang tergeletak diatas meja dengan charger yang masih terpasang.


" Udah! Tapi Hp kamu gak aktif. "


" Hah! iya juga yah? " Cello tersenyum.


" Hehe..! " Chaca nyengir kuda.


" Ya udah, aku percaya. "


" Sungguh!! "


" Ehmm.. " Cello mengangguk.


Chaca langsung menghambur memeluk Cello, karena senang Cello mempercayainya. Chaca sebenarnya tidak berniat untuk membohongi Cello, hanya saja Dia belum 100% siap untuk menceritakan semuanya pada Cello.


Cello yang membalas pelukan Chacapun sebenarnya tidak 100% percaya pada Chaca. Tapi, Dia membiarkan kekasihnya itu percaya padanya sampai Ia benar-benar bisa mengetahui apa yang sedang dirahasiakan kekasihnya itu.


Maaf, aku tidak 100% percaya padamu. Aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku.


Gumam Cello dalam hati.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


###############################


Author cuma mau ngucapin terima kasih yang buanyak buat para Readers yang keceh-keceh badai... yang bersedia mampir dikarya Author yang receh ini..


Jangan lupa like, vote, dan komen disetiap episodenya yah...


Kiss jauh dari Auhtor yang cetar sejagat raya.... 😘😘😘😘