
Di dalam rumah, Chaca langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Nathan kembali menuju ke perkemahan Ochi dan teman-temannya. Ketika Nathan sudah berada tidak jauh dari danau, Ia di kejutkan dengan apa yang Ia lihat.
Api cemburu seketika itu membakar tubuhnya saat melihat wajah Ochi di sentuh oleh Reza seperti sedang menci** kekasihnya saat itu. Ia tidak habis pikir, Ochi telah tega menghianatinya.
Dengan hati yang masih terbakar cemburu, Nathan pun kemudian mengurungkan niatnya untuk menyusul Ochi. Ia berjalan tak tentu arah seakan tak tau akan kemana. Hingga tanpa Ia sadari, Ia sudah berada tidak jauh dari gudang belakang rumahnya. Nathan melihat ada yang aneh dari gudang itu.
" Pintu gudang tidak terkunci? " Ucapnya heran.
" Seharusnya pintu itu sudah di rantai dan di gembok kak Cello, tapi kenapa sekarang gemboknya tidak ada? " Lanjutnya lagi.
Nathan akhirnya memutuskan untuk mendekati gudang itu. Tangannya menarik gagang pintu yang tampak tidak bergembok itu, lalu membukanya.
Kreekk!
Pintu gudang itupun terbuka sempurna. Lampu gudang pun terlihat menyala. Nathan kemudian berjalan mendekati lantai gudang menuju ruang bawah tanah. Lagi-lagi Ia mendapati lantai itu tidak bergembok.
" Seharusnya lantai ini juga tergembok. "
Merasa ada yang tidak beres, Nathan lalu kembali ke rumahnya dan masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di dalam rumah. Ia mencari kunci gudang dan kunci lantai penghubung ruang bawah tanah dan Ia pun menemukan kunci-kunci itu.
" Kunci-kuncinya masih di sini, lalu siapa yang telah membuka gudang itu? "
" Apakah kak Mario? "
" Tidak, itu tidak mungkin! Kak Rio sudah pergi delapan bulan yang lalu, jadi mana mungkin Dia kembali lagi. "
" Aku harus segera mencari tau. "
Nathan kemudian keluar dari ruang rahasia itu, namun lupa menutup rapat pintunya. Sehingga menyisakan sedikit cela yang terbuka dari ruangan tersebut.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Sementara itu di tepian danau, Ochi tampak gelisah karena memikirkan Nathan yang tak kunjung kembali.
" Nathan, kamu kemana sih? Kok sampai sekarang belum kembali? "
*A*pa yang di lakukan Nathan dan kakak yah?
Ucapnya dalam hati.
" Ah, mikir apa sih aku ini!! " Ochi memukul pelan kepalanya karena telah memikirkan hal yang tidak-tidak.
" Gimana, matanya udah baikan? Udah gak kelilipan lagi kan? " Tanya Reza yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Mata Ochi sempat kemasukan debu dan kelilipan, itu sebabnya Reza berniat membantunya untuk meniupkan matanya. Hal itulah yang menimbulkan kesalah pahaman Nathan yang berfikir kalau Ochi telah menghianatinya.
" Udah baikan kok! Makasih ya, Reza. " Jawab Ochi cukup kaget akan kedatangan Reza yang tiba-tiba.
" Tapi, kenapa kamu tampak bingung? "
" A.. aku sedang memikirkan Nathan. "
" Hmm... mungkin sebentar lagi Dia kembali. "
" Semoga saja! "
" Sambil menunggu Nathan, sebaiknya kita gabung dengan yang lainnya dulu yuk! "
" Tapi.... "
" Udahlah, gak usah pakai tapi-tapi..! Ayo! " Reza menarik tangan Ochi mengajaknya pergi dari situ.
" Baiklah! "
Ochi pun akhirnya menuruti kemauan Reza untuk bergabung dengan Tina dan juga Dody yang sedang asyik menikmati barbeque dan wine.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Dengan berbekal tongkat bassball, Nathan menuruni anak tangga ruang bawah tanah itu satu persatu. Ia terus menyusuri ruangan itu, hingga mendapati salah satu ruangan yang terdapat dua orang sandera di dalamnya. Yah, dua orang sandera itu adalah pak Bahri dan juga asistennya, Ardi yang dalam kondisi memprihatinkan.
Apa ini ulah kak Cello? Benaknya.
" Nathan, tolong lepaskan kami, ku mohon! Saya yakin kamu berbeda dari saudara-saudaramu! Kamu pasti anak yang baik. " Ucap Pak Bahri memelas saat menyadari kedatangan Nathan di tempat itu.
" Kenapa anda bisa berada di sini? "
" Ini ulah saudaramu." Ucap pak Bahri sambil menangis.
Nathan cukup lama memperhatikan wajah seseorang itu.
" Apa kau kak Cello? " Nathan menyipitkan matanya.
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Sayangnya aku bukan kakak kesayanganmu itu. "
" Kau kak Rio, kenapa kau kembali? Bukankah kak Cello sudah membebaskanmu hidup di luar sana? "
" Huh! Aku kembali karena ada yang harus aku tuntaskan, karena misiku belum selesai! "
" Apa yang kau maksud dengan misi? "
" Lihat ini! " Mario melempar sebuah foto lama yang memperlihatkan banyak orang seperti sedang melakukan selebrasi atau mengabadikan suatu kemenangan atas sesuatu hal.
" Foto apa ini? " Tanya Nathan yang tidak mengerti.
" Aku tau kau tidak mengerti dengan foto ini, tapi Cello sangat mengenal betul foto ini, sayangnya Dia tidak cukup pintar untuk mengenali wajah yang di lingkari merah itu. "
" Memangnya siapa pria yang di lingkari merah ini? Dan ada apa dengannya? "
" Dia adalah ayah dari kekasihmu dan juga ayah dari wanita yang sangat di cintai oleh Cello. Hehehe...! " Ucap Mario sambil terkekeh.
" Dan Dialah dalang dari kematian orang tua kita! " Lanjut Mario lagi.
" Tidak... ini tidak mungkin? " Nathan berusaha menyangkal semua kebenaran itu.
" Maafkanlah aku! Aku tau aku salah, tapi ku mohon jangan libatkan anak-anak ku? " Ucap pak Bahri dengan penuh harap akan belas kasihan.
" Sayangnya, aku tidak bisa menjanjikan hal itu padamu, bapak tua! Ha.. ha.. ha.. ha..! " Jawab Mario sambil tertawa.
Nathan masih tampak diam membisu, akalnya tidak mampu mencerna dengan baik akan kebenaran itu. Ia hendak keluar dari tempat itu, namun dengan cepat Mario menghentikannya.
" Mau kemana kau? "
" Bukan urusanmu! "
" Cih! Jadi kau lebih memilih wanita itu dari pada membalas kematian orang tuamu? "
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Gumam Nathan dalam hati.
" Di dalam darahnya mengalir darah pembu*** orang tua kita, cam kan itu, Nathan! " Mario terus mempengaruhi pikiran Nathan.
" Tolong jangan libatkan anak saya, mereka tidak tau apa-apa. Cukup saya saja yang menerima konsekuensinya? " Ucap pak Bahri lagi dengan memelas.
" Jangan dengarkan Dia, Nathan. Jika kau memilih wanita itu, sama saja kau telah menghianati orang tua kita! Belum tentu wanita itu setia padamu, Nat? "
Kak Rio benar, aku tidak boleh seperti ini! Aku harus membalaskan dendam orang tuaku! Lagi pula Dia telah menghianatiku!
Nathan akhirnya terpengaruh Mario dan membenarkan semua perkataan saudaranya itu.
" Baiklah, apa yang harus aku lakukan? "
" Ha..ha.. ha.. ha..! Ini baru namanya Jonathan Harfar! Ingatlah Nathan, di dalam darah kita mengalir darah psikopat sejati! "
" Itu sebabnya orang tua kalian pantas ma** , karena mereka psikopat yang harus di basmi dari muka bumi ini, begitu juga dengan darah keturunannya! " Ucap pak Bahri menyela pembicaraan kedua saudara tersebut.
" Ha..ha.. ha.. ha..! Kalau begitu anakmu juga harus mati bersama cucu mu karena telah mengandung benih dari keluarga psikopat. Bukankah begitu pak tua? "
" Sialan kau! " Pak Bahri mulai meronta-ronta karena emosi mendengar perkataan Mario.
" Apa aku harus menghabisinya sekarang juga kak Rio? " Ucap Nathan tiba-tiba.
" Oh.. tidak.. tidak..! Jangan lakukan itu, karena itu bukan tugasmu! Tugasmu hanyalah memberi tahukan kebenaran ini pada Cello sebelum Dia bertemu dengan istrinya."
" Jangan biarkan Dia pulang menemui istrinya, bawa saja Dia kesini, Dia harus tau semuanya! " Lanjut Mario lagi.
" Baiklak, kak Rio! "
" Untuk saat ini, kau jaga saja mereka, aku mau menjalankan tugas yang masih belum selesai! "
Nathan mengangguk menyetujui perkataan Mario.
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Pak tua, sebentar lagi kau akan melihat drama luar biasa di depan matamu sendiri! Ha..ha.. ha.. ha..! "
Mario lalu keluar meninggalkan ruangan itu. Seperti biasa Ia membawa perlengkapan berburunya untuk berburu manusia.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah Readers...
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘