
Maaf, aku tidak 100% percaya padamu. Aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku.
Gumam Cello dalam hati.
################################
Sementara itu dirumah pak Bahri.
Semua anggota keluarga terlihat sudah berkumpul dimeja makan untuk makan malam.
" Mah, coba panggil Chaca dikamarnya, kita makan bersama-sama, Papa rasa Dia sudah jauh lebih baik sekarang! " Titah pak Bahri pada mama Maria.
" Baik, pah! "
Mama Maria pun segera menaiki tangga menuju lantai dua karena kamar Chaca dan Ochi memang berada dilantai dua.
Tok.. tok.. tok!
" Sayang, turun dulu yuk! kita makan malam bersama papa dan juga Ochi. "
Masih belum ada sahutan.
Tok.. tok.. tok!
" Chaca sayang... kamu denger mama gak, nak? "
Kenapa tidak ada jawaban? apa Chaca tertidur?
Merasa tidak ada respon, mama Maria kemudian mencoba membuka pintu kamar Chaca.
Ceklek!
Suara pintu terbuka.
Tidak ada orang, apa Chaca dikamar mandi ya?
Mama Maria kemudian membuka kamar mandi Chaca, namun masih tidak menemukan anaknya itu.
" Papa!! " Teriak mama Maria yang seketika itu juga membuat pak Bahri dan Ochi naik menyusulnya dikamar Chaca.
" Ada apa Mah? " Tanya pak Bahri sedikit panik.
" Chaca tidak ada dikamarnya pah? " Wajah mama Maria berubah pias.
" Apa! Bagaimana bisa? Anak itu tidak pernah pergi tanpa pamit mah? "
" Entahlah pah? mama juga bingung? "
Kakak pergi kemana? gak biasanya kakak begini? Gumam Ochi dalam hati.
Pak Bahri mengusap wajahnya dengan kasar.
" Tanyakan pada semua pembantu yang ada dirumah ini? " Titah pak Bahri pada mama Maria.
" Dan kamu Ochi, hubungi nomor kakakmu segera! " Lanjutnya pada Ochi.
" Baik pa! " Jawab Ochi.
Mama Maria pun turun kelantai bawah dan setengah berlari menuju kamar pembantunya. Pak Bahri juga ikut turun ke lantai bawah lalu merebahkan dirinya diatas sofa diruang keluarga. Sedangkan Ochi masih berada dikamar Chaca sambil menghubungi nomor kakaknya itu berkali-kali.
Tut.. tut...! Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan.
" Kakak, kamu dimana sih? kenapa susah sekali menghubungi nomornya! "
Tut.. tut...! Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan.
" Damn!! Kakak pergi kemana sebenarnya? "
Ochi mulai panik.
Sementara itu dilantai bawah terlihat mama Maria terburu-buru pergi ke kamar pembantunya.
Tok.. tok.. tok...!
" Bi Del, tolong buka pintunya! "
" Iya, sebentar Nyonya! "
Ceklek!
" Ada apa Nyonya? "
" Bi, apa kamu tadi melihat Chaca pergi? "
" I.. iya... Nya! " Bi Del menjawab dengan menundukkan wajahnya.
" Apa bi Del tidak melarangnya pergi? Dia kan belum sehat benar bi! "
" Maaf Nyonya, saya sudah melarang non Chaca pergi, tapi non Chaca maksa, Nya! "
" Huff.. Apa Chaca mengatakan Dia pergi kemana bi? "
" Non Chaca cuma bilang mau pergi ke rumah temennya sebentar, Nya. "
Temennya yang mana? anak itu bukannya tidak memiliki teman akrab sama sekali.
" Ya sudah bi, kalau gitu bibi lanjutkan pekerjaannya. "
" Baik, Nyonya! "
Mama Maria pun meninggalkan kamar bi Del dan menuju keruang keluarga, begitu pula dengan Ochi. Wajah ibu dan anak itu tampak bingung.
" Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan informasi tentang Chaca? " Tanya pak Bahri.
" Nomor kak Chaca tidak bisa dihubungi, pa? " Jawab Ochi dengan cemas.
" Kata bi Del, Chaca sempet bilang kalau Dia akan pergi kerumah temennya sebentar. " Jawab mama Maria yang juga tak kalah cemasnya.
" Kenapa bi Del tidak melarang Chaca pergi! " Bentak pak Bahri.
" Bi Del sudah berusaha pah! Tapi, papa tau sendiri kan, sifat Chaca itu keras kepala! " Jelas mama Maria dengan air mata yang ingin menetes.
" Sekarang pikirkan bagaimana caranya kita mencari Chaca. Mama tidak mau terjadi apa-apa pada anak kita! " Lanjutnya lagi.
" Huufft! " Pak Bahri menghembuskan nafas dengan kasar.
" Papa akan coba hubungi asisten papa untuk meminta orang-orang papa mencari Chaca segera! "
" Kalian lanjut makannya, papa pergi dulu! " Lanjut pak Bahri lagi.
" Hati-hati dijalan Pa! " Jawab Ochi.
Pak Bahri pun melajukan mobilnya entah kemana, sedangkan mama Maria terduduk lemas disofa, dan Ochi masih berdiri mematung.
Kakak, kenapa kau membuat kami semua cemas?
################################
Dikawasan Black Lake.
Chaca terlihat sibuk memasak untuk Cello didapur. Tiba-tiba saja Dia teringat dengan keluarganya.
" Astaga! aku lupa menghubungi orang rumah, pasti mereka semua cemas mencariku! "
" Bodohnya aku! " Lanjutnya lagi.
Chaca kemudian mematikan kompor lalu menyajikan masakannya diatas meja makan. Ia pun segera mengambil Hp yang berada didalam tasnya.
Tut..tut...! Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan.
Chaca terus mencobanya berkali-kali, tapi tetap saja tidak tersambung.
" Aduh... bagaimana ini? "
" Apa aku pulang saja, dan tidak jadi menginap disini? " Chaca mengatakan itu karena sebelumnya Dia sudah berjanji pada Cello untuk menginap malam itu, supaya Cello tidak lagi mencurigainya.
Cello keluar dari kamar mandi, dan melihat wajah Chaca yang tampak bingung sembari memegang Hp ditangannya. Dia pun langsung menghampirinya.
" Ada apa sayang? " Tanya Cello.
" Aku.. aku bingung bagaimana caranya memberitahu keluargaku kalau aku nginap disini malam ini, sedangkan tidak ada satupun nomor yang dapat tersambung. " Jawab Chaca dengan mata yang masih fokus dengan Hp nya.
" Terkadang, jika cuaca sedang hujan begini, memeng disini tidak ada signal. " Jawab Cello menjelaskan karena memang cuaca diluar sedang hujan.
" Kamu bisa mengirimkan pesan pada adikmu, nanti kalau cuaca sudah membaik, pesannyakan bisa sampai dan dibaca adikmu. " Lanjutnya lagi.
" Ide yang bagus! " Chaca tersenyum.
Chacapun kemudian mengetik sebuah pesan dan mengirimkan pada adiknya, Ochi.
" Sudah, kalau begitu ayo kita makan! " Lanjut Chaca lagi.
Ketika Chaca hendak meraih tangan Cello, Dia dikejutkan dengan apa yang Ia lihat.
What!!! Chaca bergumam dengan mulut yang menganga.
Chaca terlihat menelan salivanya saat melihat Cello yang hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Sehingga memperlihatkan dengan jelas tubuh sixpacknya yang terlihat seperti roti sobek itu.
" Sayang! kenapa kau telanjang dada? " Chaca menutup kedua mata dengan tangannya.
" Memangnya kenapa? aku kan habis mandi? "
" Iya, tapi kenapa tidak pakai baju dulu baru kesini? " Masih menutup matanya.
" Tadi, aku keluar dan melihat wajahmu yang keliatan bingung, jadi aku langsung menemuimu disini. "
" Iiiihh.. kamu! Aku malu tau! "
Gadis ini lugu sekali.
Cello tersenyum.
" Kenapa harus malu? " Cello menarik tangan Chaca dan membawa tubuh Chaca kedalam pelukannya.
" Cello, lepaskan aku! " Chaca terlihat malu-malu.
" Gak mau! Kamu itu sebentar lagi akan jadi istri aku, tau..! " Cello mencium pipi dan menggigit kuping Chaca karena gemasnya.
" Aww..!! " Pekik Chaca terdengar manja.
" Kamu ngegemesin banget sih! " Cello berkata sambil bibirnya sudah berpindah mencium pipi, kening dan hidung Chaca yang mancung.
" Aww... Cello, geli tau..! " Jawab Chaca dengan sangat manja.
Cello semakin tak terkendali, melihat Chaca yang manja dan malu-malu membuat gairahnya semakin meningkat.Bibir Cello pun kemudian berpindah melum** bibir Chaca dengan lembut dan tempo yang lama. Awalnya Chaca merasa kaku, namun karena merasa gairah wanitanya terpancing, Ia pun bisa membalas cium** Cello. Merekapun akhirnya hanyut dalam cium** panas itu.
" Haah.. huufft! " Chaca tersengal.
" Bernafas sayang..! kamu lucu sekali..! " Cello terkekeh.
Chaca yang masih berada dalam pelukan Cello kemudian dijatuhkan disofa panjang yang ada didekat mereka. Cello kemudian melum** bibir Chaca lagi, kali ini Chaca sudah bisa membalas dengan baik cium** itu. Cello kemudian melanjutkan cium**nya itu ke leher jenjang Chaca hingga meninggalkan bekas disana. Disaat Cello ingin melanjutkan cium**nya kebagian da**, tangan Chaca menahan bibir Cello.
" Sayang...! Ini belum saatnya!" Chaca berkata dengan nafas yang tersengal.
" Apa kau takut? " Tanya Cello dengan nafas yang memburu.
" I.. iya..! Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya! "
" Apa kau mau mencobanya? aku takkan memaksamu jika kau tidak mau! "
Chaca terlihat menelan salivanya dan bingung akan menjawab apa.
" Ini akan sakit diawal, setelah itu tidak lagi. Aku janji tidak akan menyakitimu. " Lanjut Cello penuh harap.
Chaca hanya menjawab dengan anggukan kepala tanda " yes " . Cello tersenyum lebar penuh kemenangan. Ia pun tak mau melewatkan kesempatan itu. Cello lalu menggendong Chaca dan membawanya kedalam kamar.
Didalam kamar, Cello meletakkan Chaca diatas tempat tidurnya dengan perlahan. Cello kemudian membuka satu persatu pakaian yang dikenakan Chaca hingga memperlihatkan bentuk tubuh Chaca dengan sempurna.
Perlahan-lahan Cello melanjutkan cium** panasnya dan memberikan belai** lembut pada Chaca. Seakan tak ingin melewatkan satu jengkalpun dari tubuh Chaca. Chacapun terlihat menikmati itu.
" Apa kau sudah siap? " Tanya Cello dengan nafas yang menderu.
Chaca hanya menganggukkan kepalanya tanda " yes ".
Cello kemudian melakukan apa yang ingin Ia lakukan sejak tadi dengan perlahan-lahan. Chacapun seakan pasrah dengan apa yang dilakukan Cello padanya. Mereka berduapun hanyut dalam gelombang naf** yang menggebu-gebu. Seakan tiada lelah, mereka melakukannya hingga berkali-kali dimalam yang panjang itu.
Masakan yang sudah dimasak Chacapun teronggok diatas meja tanpa sempat disentuh.
###############################
Hallo Readers!!
Author mau ngucapin banyak-banyak terima kasih karena sudah bersedia mampir dikarya Author yang receh ini.
Jangan lupa like, vote, dan komen disetiap episodenya yah..!!
Kiss jauh dari Auhtor... 😘😘😘