WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
KELUARGA HARFAR



Di depan api unggun, Ochi, Tina, Reza dan Dody menikmati barbeque dan wine yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari untuk menyambut malam ini.


Suasana malam yang indah karena di terangi cahaya bulan, menambah kebahagiaan mereka saat itu. Kecuali Ochi, pikirannya masih tidak tenang karena memikirkan Nathan yang tak kunjung kembali.


Nathan, sebenarnya kamu kemana? Kenapa sampai detik ini belum juga kembali.


Benaknya.


" Guys! Kami mau jalan-jalan sebentar yah. Kalian tidak apa-apakan kami tinggal? " Ucap Dody yang seketika itu memecah lamunan Ochi.


" Kalian mau kemana? " Tanya Ochi.


" Mau jalan-jalan sebentar, Ochi. " Jawab Tina dengan manja.


" Iya, aku tau. Maksudku jalan-jalan kemana? Ini hutan bukan taman hiburan. "


" Ha.. ha.. ha..! Kamu lucu sekali, Chi. Aku tau ini hutan, makanya aku mau jalan-jalan ke dalam hutan sebentar. " Jawab Tina lagi dengan keadaan setengah mabuknya.


" Kalau kalian tersesat bagaimana? " Tanya Ochi lagi karena memang mereka tanggung jawabnya.


" Tenang saja, kami tidak akan jauh kok, jadi tidak akan tersesat. " Jawab Dody mencoba menjawab kecemasan Ochi.


" Sudahlah, biarkan saja mereka bersenang-senang. " Ucap Reza sambil menyentuh bahu Ochi.


" Baiklah, pergi sana! Tapi ingat, jangan merepotkan ku kalau terjadi apa-apa pada kalian. "


" Itu pasti Ochi, sayang....! " Jawab Tina dengan gaya centilnya.


" Bye! " Dody melambaikan tangan ke arah mereka sesaat sebelum menghilang dari pandangan.


" Sudahlah, jangan khawatirkan mereka, ada aku di sini. " Ucap Reza mencoba menenangkan.


Justru karena hanya ada kamu di sini malah membuatku semakin cemas. Takut-takut kalau Nathan menjadi salah paham.


Ucap Ochi dalam hati.


Sementara itu di dalam hutan tampak Dody dan Tina sedang melepaskan hasrat mereka masing-masing. Gelora cinta yang membara membuat mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan pergulatan mereka dari jarak yang tidak begitu jauh.


" Sayang, kenapa berhenti? " Ucap Tina yang sudah terlanjur di mabuk kepayang.


Bruukk!


Tubuh Dody tiba-tiba saja jatuh menimpa dirinya dengan bersimbah darah.


" Aaarrrggghhh!!! " Teriakan Tina terdengar hingga di telinga Ochi dan Reza.


Tina pun berlari tanpa menggunakan sehelai benangpun untuk menghindari sosok yang menghabisi kekasihnya itu. Namun, belum jauh berlari dirinya pun bernasib sama dengan kekasihnya, Dody. Tina terjatuh ke tanah dalam keadaan tidak berdaya.


Mendengar teriakan Tina, Reza dan Ochi bergegas masuk menelusuri hutan untuk mencari arah suara itu. Tidak jauh berjalan, langkah kaki mereka terhenti tepat di depan tubuh Dody yang sudah kaku bersimbah darah.


" Aarrgghh!! " Ochi pun berteriak karena terkejut.


" Siapa yang telah melakukan ini? " Ucap Reza tak kalah paniknya.


" Reza, aku takut..! " Ochi memegang tangan Reza karena rasa takut yang menggerogotinya.


Tanpa mereka sadari, lagi-lagi sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.


" Kau terlalu bodoh, Nathan. Aku akan mengabadikan momen ini! " Mario lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memotret Ochi yang sedang di peluk Reza lalu kemudian mengirimkan foto itu kepada Nathan.


" Kita harus segera pergi dari sini! " Ucap Reza sambil melepas pelukannya.


" Tapi, bagaimana dengan Tina? "


" Kau pergilah temui kakakmu, takut terjadi apa-apa padanya. Biar aku yang akan mencari Tina. "


" Baiklah, jaga dirimu! "


" Iya, pergilah cepat! "


Ochipun kemudian berlari menuju ke kediaman kakaknya. Namun, belum sempat sampai ke rumah kakaknya, Ia pun terjerembab masuk ke dalam lubang jebakan yang tingginya mencapai 2 meter. Kepalanya terbentur tanah, hingga Ia tidak sadarkan diri.


" Tina!! " Teriak Reza.


" Tina!! " Teriaknya lagi.


Belum sempat Ia teriak untuk ketiga kalinya, Reza pun bernasib sama seperti teman-temannya yang lain. Ia pun jatuh tergeletak tidak berdaya.


Satu persatu teman-teman Ochi tumbang. Tubuh mereka kemudian di bawa Mario masuk ke ruang bawah tanah. Dan di sanalah, teman-temannya berada saat ini. Dalam keadaan tidak berdaya, mereka di ikat satu persatu seperti menunggu giliran untuk ma**.


################################


Pukul 03.00 pagi, Chaca terbangun karena tenggorokannya merasa haus. Ia pun keluar dari kamarnya hendak menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang Ia anggap sangat rahasia. Ruangan yang selalu terkunci rapat itu kini tampak sedikit terbuka.


" Kenapa ruangan ini terbuka? Bukankah ruangan ini sangat bersifat rahasia? "


Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, Chaca melangkahkan kakinya memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu tampak sebuah vigura yang sangat besar di mana foto di vigura itu sama persis dengan yang Ia pernah lihat di dalam mimpinya beberapa bulan lalu.


" Bukankah foto ini foto yang ada di dalam mimpiku waktu itu? "


Chaca kemudian mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan itu. Lagi-lagi Dia mendapati vigura kecil yang fotonya sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya lagi.


" Kalau foto mereka pemilik pertama tempat ini, kenapa Cello masih menyimpannya? Lalu, kenapa Cello tak pernah memajang foto keluarganya sendiri? Aku bahkan belum pernah melihat foto orang tuanya. "


Ekor mata Chaca kemudian menangkap sebuah mading yang berada di dinding tersebut. Terdapat banyak potongan koran yang menuliskan berbagai macam berita dari tahun 1990.


Chaca kemudian membaca setiap lembaran potongan koran tersebut. Hingga terdapat sesuatu hal yang cukup membuatnya tidak percaya.


" Tuan George memiliki tiga orang anak, dan ketiga anaknya itu perempuan? Kata Cello anaknya Tuan George laki-laki? "


" Apa Cello membohongiku? Lalu siapa mereka yang ada di vigura besar ini? "


Untuk menjawab semua keterkejutannya itu, Ia kembali membaca satu persatu lembaran koran yang tertempel di mading tersebut.


" Keluarga Harfar? "


" Jadi, vigura besar ini adalah keluarga Harfar? Itu artinya mereka semua keluarga Cello? "


" Tidak salah lagi, mereka pasti orang tua Cello, dan anak kecil ini adalah Nathan. Lalu, saudara kembar ini ?" Ucapnya sambil menunjuk satu persatu yang ada di foto tersebut.


Chaca kembali mencari-cari kebenaran dari potongan-potongan koran tersebut.


" Marcello Harfar dan Mario Harfar. Mereka berdua saudara kembar? " Ucapnya sambil terpaku menatap vigura yang berada di depannya.


" Cello memiliki saudara kembar? Kenapa Dia tidak menceritakan semuanya kepada ku? Apa sebenarnya yang Ia tutupi dari ku? "


Chaca tersandar di sofa karena memikirkan semua hal yang cukup membuatnya syok. Pikirannya di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya tak sanggup untuk berdiri.


" Mario Harfar, apa Dia yang datang menemui ku selama dua malam sebelum kedatangan Cello? "


" Aarrgghh!! " Chaca meremas rambutnya karena merasa frustasi.


" Oh Tuhan, apa sebenarnya yang ingin kau tunjukkan kepadaku? " Ucap Chaca yang mulai merasa pusing.


Di tengah rasa frustasinya, tiba-tiba saja ekor matanya menangkap banyak foto yang tertempel di mading yang satunya lagi. Chaca kemudian berdiri dan menghampiri mading tersebut.


Ia melihat cukup banyak foto, ada foto rumah terbakar, foto may** terbakar, serta foto-foto bukti lain tentang rumah yang Ia tempati. Namun, ada satu foto yang cukup menarik perhatiannya. Yaitu, foto orang beramai-ramai sedang berfoto bersama merayakan suatu kemenangan.


Di dalam foto itu, terdapat seorang pria yang di beri lingkar merah. Chaca pun memperhatikan wajah pria itu lekat. Dan Ia pun mengenalinya.


" Papa. " Ucapnya.


################################


Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah Readers...


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘