WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
TINGGALKAN ANAK SAYA



Dikediaman pak Bahri.


Pak Bahri, mama Maria, serta Ochi terlihat sedang duduk diruang keluarga tanpa berbicara, hanya hening yang terasa. Semuanya terlihat diam tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan. Berbeda dengan Ochi, Dia terlihat sibuk dengan Hpnya.


" **Posisi kakak sekarang dimana? "


" Dijalan** " Balas Chaca singkat.


" Pah, jangan terlalu keras sama anak-anak! " Ucap mama Maria membuka percakapan.


" Tau apa kamu! Mereka kalau tidak dididik keras bakalan ngelunjak! " Jawab pak Bahri kesal.


Ochi hanya sesekali melirik papa dan mamanya yang sedang berdebat. Dia tidak berani untuk bersuara sedikitpun. Ditengah perdebatan, tiba-tiba terdengar suara deru mesin mobil dari arah luar. Pak Bahri dan istrinya seketika menghentikan perdebatan mereka.


Pak Bahri sudah terlihat berdiri, bersiap-siap ingin segera mengeluarkan seluruh amarahnya pada Chaca. Mama Maria juga berdiri dari duduknya seperti siap akan memberi pembelaan pada anaknya. Begitu juga Ochi yang ikut berdiri bermaksud menyambut kedatangan kakaknya.


Pintu rumah sengaja dibiarkan terbuka, supaya Chaca dengan leluasa masuk kedalam rumah. Chaca dan Cello pun turun dari mobil, hendak masuk kedalam rumah.


Loh!! tumben pintunya terbuka? Gumam Chaca.


" Sayank, sepertinya kedatangan kita sudah dinantikan? " Ucap Cello.


" Hah! kamu bisa aja, justru aku merasa aneh tau, karena gak biasanya pintu terbuka lebar begini? "


Merekapun lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Kenapa perasaanku jadi gak enak begini yah? Gumam Chaca lagi.


" Sayank, kok sepi? " Tanya Cello.


" Ah! mungkin mereka pada sibuk dengan kegiatan masing-masing! " Jawab Chaca.


" Udah yuk! Ikut aku ke kamar, kamu belum pernah liat kamar aku kan? " Lanjut Chaca lagi.


" Belum! Aku jadi penasaran seperti apa kamar cewek? " Cello terkekeh.


" Ya udah, ayo! " Ajak Chaca.


Ketika mereka melewati ruang keluarga, mereka dikejutkan dengan apa yang mereja lihat. Pak Bahri, mama Maria, dan juga Ochi terlihat berdiri seperti sedang menyambut tamu kehormatan bagi Cello, tapi bagi Chaca mereka seperti hendak mengadili terdakwa.


Mati aku!


Chaca hanya dapat bergumam, karena tidak berani mengeluarkan suara.


" Selamat siang Om, tante, dan Ochi? " Sapa Cello, namun malah mendapat pandangan dingin oleh pak Bahri.


" Bagus sekali sikap anak papa sekarang! " Pak Bahri mulai berbicara dengan wajah dinginnya.


Chaca menelan salivanya karena bingung harus menjelaskan apa. Pak Bahri berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


" Anak papa ternyata sudah besar sekarang yah? "


" Sudah pandai pergi tanpa pamit dan nginap bersama laki-laki. Huh! " Lanjutnya lagi.


Cello menatap pria paruh baya didepannya hendak menjawab kata-kata yang dilontarkannya, tapi Ia urungkan karena tangannya dipegang Chaca sambil memberi kode untuk diam saja.


" Maafkan Chaca, pa! " Jawab Chaca sambil menunduk.


" Maaf Om, jangan salahkan Chaca, saya yang salah Om karena sudah berani membawa anak Om pergi tanpa pamit. " Cello tidak tahan untuk menjawab.


" Siapa yang menyuruhmu bicara? hah! " Pak Bahri menatap kesal pada Cello.


" Pa, jangan marahkan Cello, Chaca yang salah, Cello tidak tau apa-apa pah? " Potong Chaca memohon.


" Diam kamu! Ini urusan papa dengannya! "


" Om boleh marahkan saya! " Jawab Cello lagi.


" Iya! Kau memang pantas untuk dimarahi, kau sudah membawa pengaruh buruk buat anak saya! "


" Maaf Om, tapi sungguh saya menjaga Chaca dengan baik Om! "


" Bulshitt! Saya sudah kecewa sama kamu, lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja! "


" Apa yang papa katakan? Hanya karena masalah seperti ini papa ingin membatalkan pernikahanku, ini sungguh tidak adil! " Ucap Chaca tiba-tiba dengan mata yang berkaca-kaca.


" Pah, tolong kontrol emosi papa! Pikirkan perasaan Chaca pah? " Mama Maria menghampiri pak Bahri sambil memegang bahu pak Bahri untuk menenangkannya.


Ochi kemudian menghampiri kakaknya dan merangkul kakaknya itu kedalam pelukannya untuk menenangkan kakaknya yang menangis. Sedangkan Cello masih bersitatap tegang dengan pak Bahri.


" Tinggalkan anak saya, dan pergi jauh dari hidupnya! " Ucap pak Bahri lagi dengan wajah sinisnya.


" Saya tidak akan pernah meninggalkannya, apalagi sampai pergi dari hidupnya, karena itu sudah janji saya! " jawab Cello yang tak kalah sinisnya.


" Beraninya kamu! " Pak Bahri mengangkat kerah baju Cello.


" Papa! Jangan lakukan ini pada Chaca pa, Chaca sangat mencintai Cello! " Chaca menghampiri Cello dan memeluknya dari samping sehingga membuat pak Bahri semakin mengeratkan tangannya dan membuat bahu Cello sedikit terangkat.


Ditengah emosinya menatap Cello, matanya tertuju pada bola mata Cello yang berwarna biru itu.


Bola mata ini? mengingatkanku pada seseorang? Gumamnya dalam hati.


Setelah saling tatap lama, pak Bahri melepaskan cengkraman tangannya. Chaca masih terlihat menangis dipelukan Cello dengan tangan Cello mendekap erat tubuhnya. Sedangkan Ochi masih terlihat berdiri mematung menyaksikan semuanya, tidak berani membuka suara sedikitpun.


" Saya akan tetap menikahi Chaca walau sebesar apapun upaya anda ingin menghentikannya! " Ucap Cello dengan lantang.


" Kau! " Pak Bahri terlihat memgang dada kirinya.


" Sudah pah! papa harus istirahat! Ayo! " Terlihat mama Maria merangkul tangan suaminya itu dan membawanya pergi dari situ.


Chaca masih menangis tersedu-sedu didalam pelukan Cello.


" Kamu yang tenang! Aku janji akan memperjuangkan cinta kita! Sudah jangan menangis lagi! " Ucap Cello sembari menangkupkan kedua tangannya diwajah Chaca sambil menghapus air mata yang jatuh dipipi kekasihnya itu.


" Iya kak! Kakak jangan nangis lagi, kak Cello pasti akan memperjuangkan kakak! " Ochi mencoba menghibur kakaknya.


Tidak berselang lama, tiba-tiba Nathan masuk kedalam rumah, karena sebelumnya Cello sudah mengirim pesan untuk minta dijemput dirumah Chaca. Nathan menatap bingung pada ekspresi mereka bertiga.


" Ada drama apa ini? Kenapa wajah kalian terlihat tegang? " Tanya Nathan.


" Tidak ada drama apa-apa! Ayo kita pulang! " Jawab Cello cepat.


" Oke! "


" Sayank... aku pulang dulu, kamu jangan khawatir yah! " Ucap Cello pada Chaca.


Cup!


Cello mencium kening Chaca sebelum benar-benar pergi dari hadapannya.


" Ochi, jaga kakakmu yah! " Titahnya lagi pada Ochi.


" Siap bos! " Ochi menjawab sembari memberi hormat dengan tangannya.


Cello tersenyum melihat tingkah Ochi, begitu juga Chaca yang mulai bisa tersenyum kembali. Kemudian Cello merangkul Nathan untuk mengajaknya keluar dari rumah itu.


" Bye Ochi! Bye kak Chaca! " Ucap Nathan sambil melambaikan tangan sebelum benar-benar menghilang dari muka pintu.


Terdengar bunyi deru mesin mobil tanda Cello dan Nathan sudah pergi meninggalkan rumah itu. Ochipun lalu merangkul Chaca untuk mengajaknya beristirahat dikamar.


" Ayo kak! Kita ke kamar! Kakak perlu mengistirahatkan pikiran dan tubuh kakak! "


Ucapnya.


" Baiklah! " Jawab Chaca.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Hello Readers!!


Author tidak bosan-bosannya mengucapkan terima kasih yang banyak buat para Readers yang bersedia mampir dikarya Author yang receh ini!!


Jangan lupa untuk tinggalkan Like, Vote, dan Komen disetiap episodenya yah...!!


Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘😘