
Pulang dari berbelanja, Cello kemudian membantu istrinya untuk mengemaskan barang belanjaannya. Barang-barang itu kemudian Ia simpan di dalam freezer. Namun, ada satu jenis barang belanjaan yang cukup menarik perhatiannya, yaitu es krim. Bahkan es krim dengan berbagai varian rasa terlihat sangat banyak di dalam salah satu paper bag.
" Sayang, kamu yang beli es krim sebanyak ini? " Tanya Cello merasa heran, karena Ia jarang sekali melihat istrinya itu makan es krim.
" Iya! " Jawab Chaca singkat sambil mengeluarkan es krim-es krim itu dari paper bag untuk di masukkan ke dalam freezer.
" Kamu yakin akan memakan es krim sebanyak itu? " Tanya Cello lagi.
" Iya sayang, aku akan memakan semuanya, karena aku lagi pengen banget makan es krim. "
" Oh... begitu! " Ucap Cello yang sudah tidak tau ingin mengatakan apa lagi.
Setelah mengemaskan barang belanjaan, Chaca kemudian melanjutkan kegiatannya di dapur untuk memasak menu makan malam mereka, karena memang mereka sampai di rumah sudah agak sore. Sedangkan Cello kembali ke kamarnya karena ada sedikit pekerjaan yang harus Ia selesaikan.
****
Pukul 7 malam, semua masakan sudah Chaca siapkan dimeja makan. Terlihat Cello dan Nathan yang keluar dari kamar mereka masing-masing untuk menyusul Chaca yang sudah siap menunggu mereka dimeja makan.
" Sayang, tumben gak ada menu ikan salmon? " Tanya Cello ketika melihat menu makanan yang ada diatas meja makan.
" Iya, biasanya kak Chaca masak gak pernah ketinggalan ikan salmonnya? " Sambung Nathan.
" Emm.. aku lagi gak pengen makan ikan salmon! " Ucap Chaca sambil menyendokkan nasi diatas piring Cello.
" Oh.. begitu, terus bukannya kamu gak suka makan rendang yah, ini kenapa menunya rendang semua? " Tanya Cello lagi.
" Pengen aja! Kamu kenapa sih nanya-nanya mulu', kalau gak suka dengan menu malam ini, ya udah makan diluar aja, sana! " Jawab Chaca mulai kesal.
" Eng.. enggak kok sayang...! Aku suka apapun yang kamu masak buat aku, aku cuma merasa sedikit heran aja dengan perubahan selera istriku ini? " Cello merasa bersalah dan mulai membujuk Chaca karena tau kalau istrinya itu mulai kesal.
" Jangan ngambek gitu donk, sayang? Ini aku makan nih, nyam... emm.. enak..., lagi yah, nyam...! " Lanjut Cello lagi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya karena merasa masih belum berhasil membujuk istrinya itu.
" Makanya, jangan bikin aku bete'!"
" Iya deh sayang, maaf! " Cello mengalah.
Nathan tampak menahan tawanya saat melihat drama kedua orang dihadapannya.
Ternyata benar kata orang, laki-laki kalau diluar terlihat seperti singa, pas di rumah jadi seperti kucing ketika didepan istrinya.
Gumam Nathan dalam hati.
****
Makan malam pun selesai, Cello, Chaca, dan Nathan kemudian melanjutkan kebersamaan mereka diruang keluarga sambil menonton tv. Chaca tampak membawa lima buah es krim ditangannya. Ia kemudian membuka es krim itu dan memakannya satu persatu. Cello dan Nathan hanya bisa menelan ludahnya melihat Chaca yang dengan lahapnya makan es krim tanpa berbagi dengan mereka.
" Kakak ipar, aku boleh minta satu? " Ucap Nathan penuh harap.
" Gak boleh! " Jawab Chaca cepat.
" Ambil sendiri Nat, di freezer banyak, ambilkan untuk aku juga sekalian! "Celetuk Cello.
" Gak boleh! Yang di freezer juga gak boleh pokoknya! Itu udah aku pilih-pilih varian rasa yang aku mau, jadi gak ada yang boleh memintanya, kalau mau beli sendiri sana! " Ucap Chaca ketus sambil memakan es krim miliknya dengan lahap.
Cello dan Nathan mengernyit heran mendengar kata-kata Chaca barusan.
" Kak, apa yang sudah merasuki istrimu? " Tanya Nathan sambil berbisik di telinga Cello.
" Entahlah, Nat! Seharian ini Dia terlihat sedikit aneh. " Jawab Cello juga dengan berbisik.
" Kenapa kalian bisik-bisik, ngomongin aku yah? " Celetuk Chaca karena melihat Cello dan Nathan yang berbisik-bisik didepannya.
" Eng.. enggak kok, yank! Kita gak lagi ngomongin kamu kok, iya kan Nat? " Ucap Cello terbata sambil memberi kode pada Nathan untuk mengiyakannya.
" I..iya.. bener! Kita gak lagi ngomongin kak Chaca kok! Kita lagi ngomongin soal cewek, iya kan kak Cello? "
" Apa! cewek? " Tanya Chaca dengan melototkan matanya pada Cello.
Kau mau mati ya, Nat? Gumam Cello pelan ada Nathan sambil melototkan matanya pada Nathan.
" Eh, salah, maksud aku lagi ngomongin cewek yang lagi deket sama aku kak... " Nathan kembali melanjutkan kata-katanya.
" Oh.. begitu..?" Ucap Chaca sambil menaikkan satu alisnya dihadapan Cello.
" Iya sayang, lagi ngomongin ceweknya Nathan, mana mungkin aku punya cewek lain, kan hati aku udah gak muat karena udah ada kamu didalamnya...? " Ucap Cello dengan gombalan mautnya.
Idih... kumat lagi kan gombalnya.. Gumam Nathan dalam hati sambil mencebirkan bibirnya.
" Ah... yang bener? " Chaca menampilkan ekspresi malu-malu.
" Iya, beneran sayang, aku ini bukan youtuber yang suka prank-prank boongan itu, apalagi soal hati...gak ada yang bisa mengambil hati ini dari kamu...! "
Uweeekkk..! Nathan semakin mual mendengar gombalan kakaknya itu.
" Owwhhh...kamu tuh so sweet banget, sayang...! " Ucap Chaca yang langsung menghambur memeluk Cello dan memberikan cium** penuh cinta pada suaminya itu.
Ya Tuhan, gini amat yah nasib jomblo? Nathan merasa menangisi dirinya sendiri melihat drama Korea yang ada di depan matanya.
" Hmm.. ya udah, kalau gitu aku ingin tidur, udah ngantuk banget nih, hoaamm! " Ucap Chaca sambil menguap setelah melakukan salah satu adegan drama Korea didepan adik iparnya yang jomblo.
" Baiklah sayang, nanti aku menyusul..! " Ucap Cello puas karena telah mendapatkan hujaman bibir dari istrinya.
Chaca kemudian berlalu dari hadapan mereka berdua menuju kamarnya. Sedangkan Cello masih terlihat senyum-senyum sambil memperhatikan langkah kaki istrinya itu.
" Ya ampun, dasar bucin! Udah kak senyum-senyumnya tunggu apa lagi, sana susul istrimu, nina boboin dulu, baru kita ke gudang! " Ucap Nathan menyadarkan Cello dari lamunannya.
" Oh iya, ok! Aku hampir saja lupa dengan rencana kita! " Jawab Cello yang kemudian juga berlalu dari hadapan Nathan ikut menyusul istrinya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Sesampainya di gudang, Cello kemudian membuka lantai gudang itu dan turun ke bawah menuju ruangan dimana Nathan menyekap Daris. Mario juga terlihat mengikuti mereka masuk ke ruangan tersebut.
Daris yang sudah tampak sadarkan diri itu, terlihat syok saat menyadari siapa yang berada didepannya saat ini.
" Pak Cello? " Ucapnya.
" Kenapa? Apa kau terkejut melihatku? "
" Pak Cello, kenapa saya berada disini, apa salah saya pak? "
" Cih, apa salahmu? ha.. ha.. ha..! Kau bertanya apa salahmu? hah! " Ucap Cello sambil memegang kerah kemeja Daris.
" Nat, bawa barang itu kemari! " Lanjut Cello lagi.
Nathan kemudian melemparkan koper yang berisi uang didepan Daris.
" Kau lihat itu? apa itu Daris? hmm... " Ucap Cello, namun Daris tampak saja dengan menampilkan wajah takutnya.
" Jawab aku Daris! apa itu uangmu? " Cello mulai merasa kesal.
" I.. iya...! " Daris menjawab dengan bibir bergetar.
" Ha.. ha.. ha..! siapa yang telah memberimu uang sebanyak itu Daris? "
" A.. ayahku! "
" Hmm... sejak kapan kau punya ayah? apakah ayahmu bangkit dari kubur lalu memberimu uang itu? kau jangan coba-coba membohongiku, Daris! aku tau semua tentang dirimu! "
" Lihat ini! " Lanjut Cello lagi sambil memperlihatkan sebuah foto dari layar ponselnya.
" Kau mau aku apakan orang-orang yang ada di foto ini, Daris? "
" Jangan, ku mohon jangan sakiti istri dan anak-anakku! " Daris semakin takut saat Cello menunjukkan foto istri dan kedua putrinya.
" Kalau begitu, katakan yang sebenarnya! " Ucap Cello dengan geram.
" Ma.. maafkan aku pak Cello, aku terlena dengan uang itu, sehingga aku tega menghianatimu dan membakar resto milikmu. " Ucap Daris memelas.
" Katakan siapa yang menyuruhmu! "
" Bahri. "
" Bahri siapa? Katakan dengan jelas! "
" Bahri Handoko! papa mertuamu pak Cello. " Ucap Daris dan cukup membuat Cello dan Nathan syok mendengar ucapannya, namun tidak dengan Mario.
" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Rio tertawa mendengar ucapan Daris.
" Shut up! " Ucap Cello dengan emosi untuk menyuruh Rio diam.
Cello tampak mengepalkan tangannya menahan emosi. Bahkan Ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi dan mulai menjauh dari Daris.
" Apa tujuan pak Bahri melakukan itu? katakan! " Ucap Nathan sambil mendekati Daris.
" Aku tidak tau pasti tujuannya, yang pasti Dia tidak pernah menganggap pak Cello sebagai menantunya dan Ia juga menginginkan anaknya kembali padanya! "
Cello semakin emosi mendengar hal itu, Ia menendang apa saja yang ada dihadapannya. Sedangkan Rio terus saja menertawai tingkah saudara kembarnya itu.
" Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, apa aku boleh bebas sekarang? " Ucap Daris lagi.
" Tidak ada yang bisa mengambil Chaca dariku! " Ucap Cello dengan memasang ekspresi penuh amarah.
" Rio, bereskan Dia dan sisakan kepa**nya, bungkus dengan rapi, karena aku akan memberikan hadiah pada seseorang! " Titah Cello pada Rio sebelum Ia meninggalkan tempat itu yang kemudian di ikuti Nathan yang berada di belakangnya.
" Pak Cello, ku mohon bebaskan aku! Bukankah aku sudah mengatakan yang sebenarnya? " Teriak Daris yang masih terdengar di telinga Cello dan Nathan.
Cello kemudian menutup kembali lantai gudang itu, kemudian berjalan dengan langkah cepat menuju rumahnya.
" Apa yang kau rencanakan, kak Cello? " Tanya Nathan yang menghampirinya.
" Kau lihat saja nanti! " Ucap Cello dengan penuh penekanan.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Hello Readers, maaf yah, Authornya slow update, karena lagi gak enak badan...
Terima kasih bagi para Readers yang masih setia menunggu karya Author ini..
Jangan lupa untuk tinggalkan Like, vote, dan komen disetiap episodenya yah...
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘