
Ditengah perjalanan, Chaca mencoba sedikit menggali informasi tentang rumah itu dari Cello.
" Sayang... aku boleh nanya gak? "
Cello menoleh kearah Chaca sebentar lalu kembali memfokuskan pandangannya kedepan.
" Boleh...! "
" Sayang... rumah yang kamu tempati itu, sebelumnya sudah ada yang menempati atau memang rumah itu peninggalan orang tuamu? " Chaca sedikit ragu dengan pertanyaannya, tapi Ia mencoba memberanikan diri untuk mendapatkan jawaban akan rasa penasarannya.
" Hmm... emangnya kenapa? "
" Gak! Aku cuma pengen tau aja! " Ucap Chaca seolah tak ingin mengharapkan lagi penjelasan lebih jauh.
" Dulu, Black Lake sempat menjadi tempat wisata yang cukup terkenal, banyak orang-orang baik lokal maupun dari luar berdatangan ke tempat itu disetiap weekend. " Cello memberi jeda ucapannya, sebelum Ia melanjutkannya kembali.
" Pemilik tempat wisata itu, dulunya bernama pak George, beliau memiliki istri yang bernama Selena. Mereka juga dikarunia tiga orang anak. Papa dan mama ku dulunya bekerja bersama mereka. Papaku bertugas mengelola tempat wisata itu, sedangkan mama bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga George."
Cello kembali diam dan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya kembali. Sedangkan Chaca terlihat sangat antusias menyimak cerita Cello.
Tiga orang anak? Apa foto yang pernah aku lihat didalam mimpiku adalah foto keluarga George?
Chaca bergumam dalam hatinya mencoba menerka-nerka dan mengaitkan cerita Cello dengan mimpinya.
" Pada suatu hari, ketiga anak mereka ditemukan tewas tenggelam didalam danau, menurut keterangan petugas, sebelum ditemukan tewas, ketiga anak itu sedang bermain kano didanau tersebut. Setelah kejadian itu, pak George dan istrinya syok, hingga seminggu setelah kepergian anak mereka, istrinya ditemukan tewas gantung diri didalam kamarnya. "
" Apa? " Chaca terlihat syok mendengar cerita Cello.
" Tidak lama setelah anak-anak dan istrinya meninggal, pak George menutup tempat wisata itu. Banyak para karyawan yang berhenti bekerja dengan pak George, hanya papa dan mama ku saja yang masih setia bekerja pada pak George dan tetap menemani beliau hingga tutup usia. Papa dan Mama tidak tega meninggalkan pak George karena memang beliau tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara. "
" O... begitu! Lalu, setelah pak George wafat, apa yang terjadi pada tempat itu? " Ucap Chaca bertanya karena tidak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita Cello.
" Setelah beliau wafat, beliau mewasiatkan tempat itu kepada papa. Oleh papa kemudian menikahi mama dan mengelola tempat itu bersama-sama. "
" Berarti kejadiannya jauh sebelum kamu lahir! Terus? "
" Setelah papa dan mamaku menikah, tempat itu kembali dibuka. Butuh waktu yang lumayan lama untuk membuat tempat itu kembali ramai. Tapi papa dan mama tidak menyerah, mereka terus berusaha untuk mempromosikan kembali tempat itu hingga kembali ramai. "
Chaca terlihat menganggukkan kepalanya, tanda Ia menyimak dengan baik cerita Cello.
" Setelah aku lahir, papa melebarkan usahanya dibidang kuliner, papa membuka sebuah resto di jalan Marisson. Tidak disangka-sangka usaha papa berkembang pesat, hingga setelah Nathan lahir, papa sudah memiliki banyak cabang baik didalam maupun diluar kota, juga membuka sebuah kafe tempat kita pertama kali bertemu pada waktu itu. "
" Black kafe?" Tanya Chaca.
" Iya! Semenjak bertemu denganmu di Black kafe, aku tak pernah bisa berhenti untuk memikirkanmu? " Ucap Cello sedikit menggoda.
" Gombal! "
" Terus! kalau aku boleh tau, apa yang menyebabkan papa dan mamamu meninggal? " Lanjut Chaca lagi.
Cello terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar serta mencengkram setir dengan erat, seakan ada rasa sakit yang Ia pendam selama ini.
" Papa dan mama meninggal dalam insiden tragis! " Ucapnya dingin dengan rahang yang mengeras.
" Maaf sayang? bukan maksudku untuk membuka luka lama? " Jawab Chaca yang mulai merasa bersalah karena tidak seharusnya Ia menanyakan hal itu.
" Gak apa-apa kok! Kamu berhak tau semunya! "
Setelah itu mereka tidak lagi melanjutkan pembicaraan, hanya terdengar suara lantunan lagu " I FELL IN LOVE WITH THE DEVIL " milik AVRIL LAVIGNE yang menemani perjalanan mereka saat itu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
###############################
Tepat pukul 22.00 malam, mobil Cello sampai didepan rumah Chaca. Chaca membuka kaca mobilnya untuk memanggil pak Satpam agar membuka pagar rumahnya. Hanya dengan memencet tombol, pagar otomatis itu pun terbuka. Cello kemudian melajukan mobilnya hingga dihalaman rumah. Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan hingga menuju depan pintu rumah.
" Kalau gitu, kamu antar aku sampai disini aja! Ini udah jam sepuluh malam, takutnya kamu kemaleman nanti sampai dirumah! " Ucap Chaca menghentikan langkah Cello, sebenarnya Ia tidak tega membiarkan kekasihnya itu pulang malam-malam begini, tapi mau bagaimana lagi, Ia tak mau papanya sampai bersitatap tegang dengan Cello lagi.
" Ya udah! Kalau gitu aku permisi! Kamu langsung istirahat aja, aku gak mau calon istriku ini sampai sakit dihari pernikahan nanti, karena Dia harus punya tenaga yang lebih untuk menyesuaikan ritme permainanku! " Ucap Cello sedikit nakal.
" Iihh... kamu, nakal deh! " Chaca memukul dada Cello pelan.
" Emmuuaacchh!! " Cello mengecup kening Chaca sebelum benar-benar pergi dari hadapannya.
" Hati-hati dijalan! " Ucap Chaca sambil melambaikan tangannya ke arah Cello yang akan masuk kedalam mobilnya.
Brumm! Brumm!
Terdengar bunyi mesin mobil Cello yang terlihat sudah meninggalkan halaman rumah Chaca. Chacapun segera masuk kedalam rumah sambil mengendap-ngendap berharap papanya tidak melihat kedatangannya.
" Baru pulang? " Terdengar suara pak Bahri mengagetkannya.
" I.. iya.. pa? " Chaca menjawab dengan gelagapan.
" Apa kau sudah benar-benar yakin dengan pria itu? " Tanya papanya tiba-tiba.
" Apa kau sudah menelusuri latar belakangnya? "
" Sudah pa! Bagi Chaca, tidak ada yang perlu diragukan darinya, karena Dia dari keluarga baik-baik! "
" Cih! Sudah sebesar itu rupanya keyakinanmu pada pria itu! "
" Jelas pa! Walaupun papa belum merestui Chaca dengan Cello, Chaca akan tetap menikah dengannya. "
" Huh! Papa akan memberi restu, apabila Dia bisa membahagiakanmu dan mencukupi semua kebutuhanmu tanpa ada kekurangan sedikitpun! "
" Chaca yakin bahkan sangat yakin, Cello akan mampu memberikan kebahagiaan untuk Chaca dan akan memenuhi semua yang Chaca butuhkan! "
" Walau tanpa harta papa? Apa kamu sanggup? "
" Sangat sanggup pah! Chaca tidak masalah walau Chaca sudah tidak diperusahaan papa lagi bahkan Chaca hidup miskin sekalipun, Chaca akan sanggup melewatinya bersama Cello. "
" Wah.. wah.. wah..! Ternyata anak papa sudah merasa hebat sekarang yah? "
" Sudah cukup, pa! Chaca tak ingin berdebat dengan papa lagi! "
Chaca berlalu dihadapan papanya dan langsung menaiki tangga menuju kamar miliknya.
" Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Chaca! Papa yakin kau akan kembali kepada papa karena menangis menyesali pernikahanmu! " Teriak pak Bahri yang masih terdengar samar ditelinga Chaca.
Chaca masuk kedalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur . Ia langsung mengambil Hp dan membuka aplikasi joox untuk memutar lagu sekedar menghilangkan rasa penatnya.
" Hufft! Sungguh hari yang melelahkan fisik dan fikiran!" Ucapnya.
***
*Shotgun and roses make a deadly potion
Heartbreak explotions in rekcless motion
Teddy bears and " i'm sorry " letters
Don't seem to make things better
Don't bury me alive
Sweet talkin' alibi
But i-i-i-i can't stop the rush
And i-i-i-i can't give you up
No, i-i-i-i know you're no good for me
You're no good for me
I fell in love with the Devil
And now i'm in trouble
I fell in love with the Devil
I'm underneath his spell ( oh.. oh.. oh.. oh)
Someone send me an angel
To lend me a halo
I fell in love with the Devil
Please, save me from this hell ( oh..oh.. oh.. oh*)
***
Terdengar lagu Avril Lavigne menemani tidurnya malam itu. Andai saja Ia dapat memahami bahwa lagu itu seperti memberi sebuah kode untuknya. Namun sayang, Ia hanya menganggap lagu itu sebagai hiburan semata.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
###############################
Terima kasih buat para Readers yang sudah membaca karya Author hingga sejauh ini. Diatas Author tuliskan sebuah lirik lagu dari Avril Lavigne, salah satu penyanyi favorite Author.
Kenapa Author pilih lagu itu? karena lirik dan makna dari lagu itu sangat pas untuk mewakili karya Author ini.
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan Like, vote, dan komen untuk setiap episodenya ya...
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘😘