
Lima hari kemudian.
Setelah sarapan pagi, Nathan tampak tergesa-gesa menyiapkan baju-baju yang akan di bawanya di dalam tas ukuran sedikit besar. Nathan rencananya akan ada tugas kuliah yang mengharuskannya meninggalkan kakak iparnya itu untuk beberapa hari.
Sedangkan Ochi juga tidak bisa menemani kakaknya karena tugas yang sangat padat yang di berikan dosen padanya. Terpaksa Chaca harus memberanikan diri tinggal sendiri di rumah besar dan sepi itu.
" Kamu berapa hari disana Nat? " Tanya Chaca.
" Kemungkinan 2 hari kak, minggu udah pulang. "
" Oh...! "
" Kakak jangan khawatir, kalau ada apa-apa hubungi Nathan segera! " Nathan mencoba menenangkan Chaca yang terlihat gusar.
" Baiklah, Nat! Kalau gitu kamu hati-hati disana yah, kak Chaca udah masukin bekal ke dalam tas kamu, jadi disana kamu bisa memakannya. "
" Makasih banyak kakak ipar! Kalau gitu aku tinggal ya Kak! " Ucap Nathan yang kemudian berjalan keluar dari rumahnya menuju mobil miliknya lalu melajukannya.
Chaca mengantar Nathan sampai di muka pintu, setelah Ia rasa mobil Nathan telah jauh, Chaca lalu mengunci rapat pintu rumahnya. Ia lalu memanjakan dirinya dengan perawatan-perawatan kecantikan yang Ia punya guna menyehatkan kulitnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Pukul 7 malam, ketika Chaca sedang sibuk mencuci piring bekas makan malamnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.
Tok.. tok.. tok..!
" Siapa yang bertamu malam-malam begini? " Ucapnya pelan.
Tok.. tok.. tok..!
Suara ketukan pintu terdengar kembali hingga beberapa kali.
Chaca melangkah pelan menuju ke arah pintu rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Sesaat kemudian suasana kembali hening, sebelum akhirnya terdengar ketukan lagi untuk ke sekian kalinya ketika Chaca sudah berada tepat di belakang pintu.
Tok..tok.. tok..!
Tangan yang sudah menyentuh handle pintu kemudian Ia urungkan untuk membukanya. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat, Ia lalu memutuskan untuk mengintip lebih dahulu di balik tirai jendela.
" Cello...? " Ucapnya tidak menyangkan kalau sosok yang Ia lihat sedang berdiri di depan pintu itu adalah Cello.
Dengan cepat Chaca membukakan pintu rumahnya untuk menyambut suaminya itu.
Ceklek!
" Sayang....! " Chaca langsung menghambur memeluk suaminya itu setelah pintu rumahnya terbuka sempurna.
Chaca mendekap erat tubuh suaminya itu, mencium aroma tubuh yang sangat Ia rindukan itu, pun kemudian Cello juga membalas pelukan istrinya tersebut.
" Sayang, kamu kok gak bilang kalau malam ini sudah pulang? " Tanya Chaca ketika melepas pelukannya dan langsung mengajak suaminya itu masuk ke dalam rumah.
" Biar surprise! " Ucap Cello singkat.
" Terus kenapa tadi malam nomor kamu sulit di hubungi, aku kan jadi khawatir. "
" Ponsel ku rusak, tapi sekarang aku sudah berada di hadapanmu, jadi kamu jangan mengkhawatirkan ku lagi. "
" Rusak? hmm... ya sudahlah, kau benar, dengan melihatmu saja aku sudah sangat senang! " Ucap Chaca manja.
" Kamu udah makan belum, aku siapin makan malam buat kamu yah, sayang...? " Lanjut Chaca lagi.
" Eh.. jangan, aku udah makan tadi, sekarang aku cuma ingin bermain denganmu! " Ucap Cello sambil menyentuh dagu istrinya.
" Hmm... aku sangat merindukan bibir sexy mu itu, sayang....?!" Lanjut Cello lagi dengan penuh hasrat.
Sontak Chaca termangu mendengar kata-kata Cello barusan, yang Ia rasa Cello tak pernah mengucapkan kata-kata itu saat menggodanya.
Bibir sexy? Bathinnya.
" Oh.. iya, aku denger kok, ya udah ayo kita istirahat di kamar! " Jawab Chaca setelah sadar dari lamunannya.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar, namun sebelum Chaca menutup pintu kamarnya, Ia kembali mengingat sesuatu.
" Oh iya sayang, dimana kopermu? " Tanya Chaca yang mulai merasa heran karena suaminya itu pulang tanpa membawa koper.
" Koper ku aku tinggal di mobil, biarkan saja, besok baru aku ambil, saat ini aku hanya ingin bermain bersamamu! " Ucapnya pada Chaca yang langsung memegang pinggul Chaca dan menatapnya penuh naf**.
Chaca menatap netra biru milik suaminya itu, Ia merasa tatapan suaminya itu sedikit berbeda dari biasanya.
" Apa kamu tidak merindukan ku, hmm...? " Tanyanya saat melihat Chaca yang terlihat kaku di pelukannya.
" Ga.. gak kok! Mana mungkin aku tidak merindukanmu sayang...? "
" Lalu kenapa menatapku seperti itu? "
" Ti.. tidak, aku hanya ingin menatap netra biru yang sangat aku rindukan itu. "
" Hmm... benarkah? " Ucap Cello sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Chaca sambil memberikan gigitan-gigitan kecil yang cukup kasar pada istrinya itu.
" Cello hentikan! Sakit! " Lirih Chaca.
" Sakit? Bagaimana kalau ini? " Ucap Cello lagi setelah memberikan tanda merah yang cukup jelas di leher Chaca, Ia langsung melanjutkan dengan melu*** bibir Chaca dengan sangat kasar hingga nafas Chaca tersengal di buatnya.
" Sa.. sayang...! Cukup sayang...! Cukup, aku tidak bisa bernafas! " Lirih Chaca yang langsung mendorong tubuh Cello.
" Ha.. ha...ha.. ha..! " Cello hanya tertawa melihat Chaca yang ngos-ngosan, hingga membuat Chaca heran melihatnya.
Chaca menjauhkan tubuh suaminya itu sejenak. Ia memperhatikan suaminya itu begitu lekat.
" Kenapa menjauh sayang? " Ucap Cello yang mencoba mendekati Chaca.
" Ada apa denganmu, Cello? Jangan mendekat! "
" Hmm.. emangnya aku kenapa? "
" Kau sangat kasar! "
" Benarkah? hmm... mungkin karena efek lama tidak berjumpa denganmu, sayang...? "
Cello lalu menarik lengan Chaca dan menghempaskan tubuh Chaca di atas tempat tidur. Tanpa aba-aba Ia lalu melepas pakaian yang di kenakan Chaca dengan kasar hingga terlepas dengan sempurna. Cello yang saat itu hanya mengenakan baju saja lalu memadu kasih dengan istrinya itu, tapi tidak seperti biasanya, kali ini agak sedikit kasar.
" Cukup... cukup Cello!"
Cello tak menghiraukannya sama sekali.
Merasa cukup puas, Cello kemudian mengakhiri permainannya. Chaca tampak terkulai lemas tak berdaya. Chaca hanya bisa merintih kesakitan. Air matanya jatuh di pelupuk matanya hingga membasahi seprai
Chaca tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Cello. Suaminya itu terlihat sangat bringas bahkan tidak ada kelembutan sama sekali saat mengga*** dirinya. Bahkan setelah selesai, suaminya itu tidak mengecup atau memeluknya dan membiarkan Ia terlelap di dalam dekapan seperti biasa yang Cello lakukan padanya setelah memadu kasih.
Cello langsung meninggalkan Chaca yang masih terbaring kesakitan diatas tempat tidur. Ia lalu merebahkan dirinya di atas sofa di ruang keluarga dengan tertawa penuh kemenangan.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Untuk episode ini khusus 21+ yah Readers.
Maaf yah lama baru Up, sebenarnya udah dari hari selasa kemarin, tapi ternyata di tolak, mau gak mau aku harus merivisi ulang episode kali ini.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah...
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘