
Chaca mengerjapkan mata, Ia terbangun di atas tempat tidurnya. Dengan kepala yang masih terasa berat, Ia mencoba menstabilkan keseimbangannya untuk mencoba berdiri.
" Dimana aku? Kenapa aku sudah berada disini? " Ucapnya karena merasa bingung.
Chaca kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar. Ketika Ia berjalan ke dapur hendak mengambil segelas air minum, Ia melihat Cello dan Nathan yang sedang sibuk memasak. Melihat Chaca sudah bangun, kemudian Cello menyapanya.
" Sayang... kamu sudah bangun? " Tanya Cello namun Chaca masih diam saja.
Melihat Chaca yang hanya diam saja, Cello lalu mendekati dan merangkul bahu istrinya itu.
" Ketika kami pulang, kamu masih terlihat tidur dengan nyenyak sekali, jadi aku tak tega membangunkanmu, itu sebabnya aku dan Nathan memilih masak untuk menu makan malam kita nanti. " Lanjut Cello lagi mencoba membaca apa yang di fikirkan istrinya itu.
" Ti.. tidur? " Tanya Chaca yang masih bingung.
" Iya, sayang! Kamu masih tidur tadi ketika aku dan Nathan pulang. "
Tidak...tidak...! Aku yakin banget kalau aku tadi sudah bangun, lalu pergi mengejar kelinci dan bertemu dengan seseorang, setelah itu aku sudah tak ingat lagi...
Gumam Chaca dalam hati.
Chaca memegang dahinya karena kepalanya terasa pusing.
" Aww...! " Lirihnya.
" Kamu, gak apa-apa sayang? " Tanya Cello yang seketika itu langsung merangkul bahu Chaca dengan kedua tangannya.
" Gak...! Aku gak apa-apa kok! Cuma pusing sedikit! Aku kesini mau minum! "
Chaca melepas rangkulan Cello, lalu berjalan menuju tempat air minum. Ia lalu mengambil segelas air minum dan meneguknya sampai habis. Cello kemudian menghampirinya lagi.
" Yakin, kamu gak kenapa-kenapa? "
" Iya sayang...! Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah, boleh aku masuk ke kamar lagi, sayang? "
"Tentu saja boleh, istirahatlah! Apa perlu aku antar? "
" Jangan! Tidak perlu sayang, aku bisa sendiri kok! "
" Maaf yah, aku gak bisa bantu kalian masak? "Ucap Chaca lagi.
" Sudah, tidak apa-apa sayang? kembalilah ke kamar dan beristirahatlah! "
" Makasih sayang...! "
" Emmuuaacchh! " Cello mengecup puncak kepala Chaca.
Chaca kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua dan langsung mendudukkan dirinya di depan meja rias di dalam kamarnya.
" Apa benar yang di katakan Cello? Tapi aku merasa itu sangat nyata! " Ucapnya.
Chaca meraba leher belakangnya sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin.
" Berbekas! "
Chaca kembali memperhatikan tengkuknya itu dengan teliti untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang Ia lihat itu nyata.
" Bekas ini sangat jelas! Tidak salah lagi, itu nyata dan aku tidak mungkin bermimpi! "
" Tapi, kenapa Cello membohongiku? Apa yang Ia coba sembunyikan dariku? Siapa pria itu? Kenapa Dia ada disana? " Ucap Chaca yang mulai merasa frustasi.
" Tidak..! Tidak mungkin Cello membohongiku! " Chaca mencoba meyakinkan dirinya.
" Tapi, itu terlihat sangat nyata dan aku yakin sekali kalau aku dalam keadaan sadar bukan bermimpi! "
Chaca memijit keningnya karena pusing.
" Damn! " Merasa frustasi, Chaca membuang semua benda yang ada di meja riasnya itu.
Mendengar suara gaduh dari dalam kamarnya, Cello lalu meninggalkan Nathan di dapur lalu bergegas menemui Chaca, karena khawatir terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Ceklek!
Pintupun terbuka dan memperlihatkan benda-benda yang bertaburan di lantai. Tampak Chaca yang sedang memegang kepalanya sambil tertunduk. Cello kemudian menghampiri istrinya itu.
" Sayang... kamu kenapa? " Ucap Cello dan mendapat tatapan dalam dari Chaca.
" Apa benar, aku cuma tertidur di kamar ini? Bukan di tempat lain? "
Deg!
Cello tak bergeming mendengar hal itu, Dia belum bisa menjawab pertanyaan istrinya itu.
" Katakan, Cello! " Lanjut Chaca lagi.
" I.. iya sayang! itu benar! Kamu masih tertidur ketika aku dan Nathan sampai dirumah! Apa kamu bermimpi buruk? " Jawab Cello mencoba meyakinkan Chaca.
" Tidak! Aku tidak bermimpi buruk! Kalau begitu aku ingin istirahat sekarang! Tubuhku lelah sekali! "
" Baiklah sayang, istirahatlah! " Cello kemudian menuntun istrinya itu ke tempat tidur, lalu menyelimutinya dengan selimut dan mengecup keningnya.
" Cup! Jangan berfikir yang macam-macam, sayang! "
" Iya! " Jawab Chaca singkat.
Cello kemudian menutup pintu kamarnya dan kembali ke dapur menghampiri Nathan.
" Ada apa dengan kak Chaca ?" Tanya Nathan.
" Dia ragu dengan yang aku katakan! "
" Apa Dia curiga? "
" Entahlah...! Bagaimanapun juga jangan biarkan Dia sampai tau! "
" Baik kak! "
***
Flashback On.
Ketika Cello dan Nathan kembali ke rumah, mereka tidak menemukan keberadaan Chaca di dalam rumah. Cello mencarinya ke segala ruangan yang ada dirumah itu, namun hasilnya nihil. Kemudian Nathan melihat pintu belakang rumahnya terbuka lebar dan menemukan dua bangkai burung yang setengah membusuk.
" Kak Cello! Coba kesini sebentar!" Teriak Nathan dan Cello pun setengah berlari ke arah Nathan.
" Ada apa, Nat? "
" Ini kak, aku kesini pintunya sudah terbuka seperti ini! "
" Apa Chaca ke belakang sana?"
" Siapa yang melakukan ini? Dan apa yang di lakukan Chaca di belakang sana?" Cello terlihat kesal.
" Ayo, kita cari Chaca! " Lanjut Cello lagi pada adiknya itu.
" Ayo, kak! "
Ketika mereka berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menemukan Chaca yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri diatas tanah. Cello segera mendekati istrinya itu dan meraih kepalanya.
" Sayang... sadar sayang...! Ku mohon sadarlah!" Ucap Cello sambil menyentuh pipi Chaca pelan.
" Sebaiknya kita bawa ke dalam kak! "
" Baiklah! "
Cello lalu menggendong tubuh Chaca, namun sesaat ekor matanya tertuju pada sebuah ventilasi bawah tanah yang tidak jauh dari tempat di temukannya Chaca pingsan, Ia pun akhirnya mengerti penyebab istrinya itu pingsan.
Sesampainya di rumah, Cello lalu membaringkan Chaca diatas tempat tidur, sambil membersihkan daun-daun kering yang menempel di baju Chaca. Setelah itu, Cello meninggalkan Chaca sendirian di kamar dan berencana pergi ke gudang belakang serta mengajak Nathan untuk ikut bersamanya.
" Nathan, ikut aku! "
" Ada apa kak? "
" Ikut saja! "
Merekapun akhirnya pergi ke gudang yang letaknya tepat di belakang rumah mereka. Dengan berbekal kunci, Cello lalu membuka lantai yang bisa membawa mereka menuju ruang bawah tanah. Dengan tergesa-gesa Cello masuk ke ruangan gelap itu yang di ikuti Nathan di belakangnya.
Cello lalu menuju ke kamar Mario saudara kembarnya. Pintu kamar Mario yang terbuka lebar, memudahkan Cello untuk masuk ke dalam kamar itu lalu mendorong tubuh Mario yang kebetulan berada di sana hingga tubuh Mario membentur tembok.
Bruukk!
" Apa yang kau lakukan pada istriku? " Ucap Cello dengan emosi yang meluap-luap sambil memegang leher baju Mario.
" He.. he.. he..! " Mario terkekeh.
" Aku hanya ingin menyentuh bibir sexy nya sedikit! Itu saja, tidak lebih! " Lanjut Mario lagi.
Buuk! Buuk! Buuk!
Cello memberi bogem mentah berkali-kali di wajah Rio, namun Rio hanya diam saja dan tak berniat membalas saudara kembarnya itu. Hingga akhirnya Nathan melerai mereka berdua.
" Kak Cello, hentikan! Cukup! " Ucap Nathan sambil menarik dan menahan tubuh Cello agar menjauh dari Rio.
" He.. he.. he..! Bukankah dari kecil kita selalu berbagi? Lalu kenapa kali ini kau tidak mau berbagi istri dengan ku? " Ucap Rio dengan darah yang sudah mengalir dari bibirnya.
" Sialan kau! " Cello semakin emosi mendengar ucapan saudara kembarnya itu.
" Lepaskan aku, Nat! Aku tidak akan memukulnya lagi! " Lanjut Cello lagi dan Nathan pun melepas pegangannya.
" Ku peringatkan kau, Rio! Jangan coba-coba berani menyentuh atau melukai istriku walau hanya ujung rambutnya saja, kau akan terima akibatnya! " Ancam Cello sambil menunjukkan jari telunjuknya di depan wajah Rio.
" Ayo, Nat! Kita pergi dari sini! Lanjut Cello lagi.
Cello dan Nathan pun segera meninggalkan ruangan itu, dan menutup kembali lantai penghubung ruangan itu.
" Suatu saat nanti Dia akan meninggalkanmu ketika tau siapa kau sebenarnya! Kau akan menyesal Cello! " Teriak Rio dari bawah, namun suaranya masih bisa ditangkap oleh Cello dan Nathan.
" Nat, tolong jangan beritahu yang sebenarnya pada Chaca! Biarkan Dia menganggap apa yang Ia lihat itu hanya mimpi! " Ucap Cello.
"Baik, kak! "
Mereka kemudian masuk kembali ke dalam rumah dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Flashback Off.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Hallo Readers!! Dibawah ini Author kasih Visual Tokohnya yah..
Readers : Thor, kok pkai artis lokal? kenapa gak artis Korea?
Author : Author sukanya artis lokal, lagi pula artis lokal juga gak kalah cakep kok dari artis-artis Korea.. 😂😂😂
Readers : Terus, kenapa harus Marshanda?
Author : Karena Marshanda idolanya Author.. wkwkwkwkwkwkwk... 😆😆😆
Jangan lupa tinggalkan Like, vote, dan komen disetiap episodenya yah...
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘
Visual Tokoh:
**Marsha Handoko
**Marcello Harfar
Mario Harfar**
Jonathan Harfar
Rossiana Handoko