
Ke esokan paginya.
Chaca bangun dengan perasaan yang berkecamuk, Ia sangat tidak menikmati hubungan dengan suaminya di atas ranjang tadi malam. Sampai saat ini Chaca masih merasakan nyeri di bagian bawah.
Chaca berjalan pelan menuju kamar mandi, Ia kemudian mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil menangis. Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba suaminya menjadi kasar seperti itu. Ada sedikit bercak darah yang keluar, Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa pada janinnya.
Setelah puas dan merasa lega menumpahkan seluruh air matanya di bawah shower, Chaca lalu mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi serta berganti pakaian. Chaca bergegas keluar dari kamarnya, namun tak mendapati keberadaan suaminya.
" Bukankah Cello tidur di luar semalam? Kemana dia? " Ucapnya.
Merasa tidak mendapati suaminya, Chaca memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya dengan memasak di dapur. Ia memasak makanan yang di sukai Cello, walaupun hatinya saat ini sedang kacau, tapi baginya kepulangan Cello sangat Ia nanti.
****
Jam demi jam bergulir dengan cepat, Cello belum juga menampakkan batang hidungnya. Makanan yang Chaca masakpun teronggok di atas meja tanpa tersentuh. Ia kemudian mencoba menghubungi nomor suaminya, berharap akan tersambung.
Tut.. tut.. tut..!
" Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan! " Suara operator.
Chaca mencoba lagi dan lagi, namun tetap saja tidak tersambung. Ia pun mulai merasa kesal.
" Shitt! "
" Kamu kemana Cello? Kenapa datang dan terus menghilang begitu saja! " Chaca melempar ponselnya ke sembarang arah.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil memijit-mijit keningnya karena merasa pusing hingga tanpa sadar matanya pun terlelap.
****
Tik.. tok... tik... tok.. tik.. tok...!
Bunyi jarum jam berdetak, tepat pukul 8 malam, suara pintu terdengar ada yang mengetuk.
Tok.. tok.. tok..!
Chaca kemudian tersadar saat mendengar suara ketukan. Ia pun langsung bergegas ke arah suara tersebut.
Tok..tok.. tok..!
" Siapa yang mengetuk yah, apa itu Cello? " Ucapnya pelan.
Chaca lalu membuka pintu dan tampaklah Cello dengan tatapan dinginnya, dimana di tangan kirinya memegang potongan-potongan tali berwarna merah.
" Cello? " Ucap Chaca sambil melihat ke arah suaminya yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi malam, juga melihat tali yang ada di tangannya.
" Apa sekarang aku boleh masuk? " Tanya Cello dengan tatapan menusuk.
" Oh.. iya.. maaf sayang, masuklah! " Jawab Chaca dan langsung melepas genggamannya di muka pintu.
Sebelum masuk mengikuti Cello, Chaca melihat-lihat ke arah halaman rumah, namun tidak menemukan mobil Cello berada di sana.
Kemana mobilnya? Apa Dia tidak membawa mobilnya pulang? Gumam Chaca yang merasa heran.
" Aku udah siapin masakan kesukaan kamu! " Ucap Chaca menghentikan langkah kaki Suaminya yang sudah berada tepat di depan pintu kamar mereka.
Cello menoleh padanya dengan tatapan dingin seperti biasanya, sehingga membuat nyali Chaca sedikit ciut.
" Aku tidak lapar, aku hanya ingin bermain denganmu saat ini! " Ucapnya, namun Chaca masih terlihat diam.
" Apa yang kau lakukan disana, jangan buat aku menunggu! Masuk! " Lanjutnya lagi dengan bentakan hingga Chaca tersentak di buatnya.
" Ba.. baiklah..! " Ucap Chaca hampir menangis.
Cello lalu menutup pintu kamarnya dengan kasar, setelah Chaca sudah masuk ke dalam kamar.
" Jangan memarahi ku, Cello ! " Ucap Chaca mulai menangis karena sudah tak mampu menahan air matanya yang ingin jatuh.
" Hmm... jangan nangis...! Aku bukan memarahimu, aku hanya ingin kau menurutiku..! " Ucapnya dengan kelembutan yang di buat-buat.
" Cello, apa aku boleh bertanya? "
" Tanyakanlah, apa? " Masih menatap Chaca lekat.
" Kemana mobil dan kopermu? Terus kenapa kau masih mengenakan pakaian yang semalam?" Tanya Chaca yang cukup membuat Cello tersentak mendengarnya.
Sial, kenapa juga Dia menanyakan hal itu segala!
" Mo.. mobilku di bengkel, aku ke sini naik taxi dan koperku tertinggal di dalam mobil. " Jawab Cello namun tak membuat Chaca langsung mempercayainya.
" Lalu, tadi malam kamu tidur dimana? "
" Di luar, gak sengaja aku tertidur, padahal niatku cuma ingin menonton tv. "
" Kenapa paginya kau sudah tidak ada dan jam segini baru pulang? " Chaca sedikit mengeraskan suaranya.
" Pagi-pagi sekali aku pergi menemui pengacaraku untuk menanyakan perkembangan kasus kebakaran resto Harfar. Ketika pulang ke sini, mobilku tiba-tiba mogok, itu sebabnya aku baru sampai jam segini! "
" Ada apa dengan mu Cello? Aku kan cuma bertanya, ah.. sudahlah aku capek! Sebaiknya aku tidur! " Chaca berucap dengan suara yang bergetar sambil berbalik membelakangi Cello, namun dengan cepat tangan Chaca di tarik kasar oleh Cello.
" Kau mau kemana, hah! " Ucapnya.
" Aku mau tidur, aku capek Cello, lepaskan aku! " Chaca mulai berontak.
" Kau tidak boleh tidur sebelum bermain denganku! " Cello mencengkram erat lengan Chaca hingga meninggalkan bekas.
" Kenapa kau jadi seperti ini, Cello? Aku sungguh tak mengenalimu! " Ucap Chaca hampir menangis, namun tak membuat Cello melepaskan genggamannya.
Cello lalu menggendong tubuh Chaca dan menghempaskannya di atas tempat tidur. Ia lalu kemudian mengikat satu tangan Chaca dengan tali yang Ia bawa ke salah satu sudut tempat tidur, begitu juga dengan tangan Chaca yang satunya lagi.
Setelah itu, Cello lanjut mengikat kaki Chaca ke sudut tempat tidur yang di bagian bawah begitu juga kaki satunya lagi. Cello lalu mulai melepas semua pakaian yang Chaca kenakan dengan cara merobeknya. Chaca hanya bisa pasrah dan menangis saat itu, karena teriakpun Ia rasa percuma sebab tidak akan ada yang mendengarnya.
Seperti malam sebelumnya, Cello hanya menyisakan bajunya saja, Ia lalu melakukan apa yang seharusnya Ia lakukan sejak tadi. Air mata Chacapun tumpah akibat perlakuan kasar yang Ia terima.
Setelah puas, Cello lalu melepas semua ikatan talinya terhadap Chaca. Ia lalu berniat keluar dari kamar itu, tapi dengan cepat tangan Chaca menarik bajunya hingga tangan Chaca menyentuh tubuh Cello. Ada sesuatu yang janggal saat Ia menyentuh tubuh pria itu.
" Apa ini? " Tanya Chaca.
" Lepaskan tanganmu dari tubuhku! "
" Kenapa? Bukankah aku ini istrimu, aku berhak atas setiap jengkal tubuhmu, Cello!" Chaca mencengkram erat baju Cello.
" Menyingkirlah! " Cello menepis tangan Chaca namun tidak membuat tangan itu terlepas begitu saja.
" Kenapa kau sangat takut saat aku menyentuh tubuhmu, hah? Dan kenapa kau tidak membuka bajumu saat berhubungan dengan ku? Bukankah biasanya kita sama-sama tidak memakai sehelai benangpun? " Lanjut Chaca lagi yang sedang memancing Cello.
" Lepaskan tanganmu! Kalau tidak..... "
" Kalau tidak apa? Apa Cello? Katakan! " Chaca memotong.
Tanpa aba-aba Chaca lalu merobek baju yang di kenakan Cello, hingga memperlihatkan dengan jelas usu* yang menjuntai keluar dari perutnya, yang hanya Ia tutup dengan plastik putih. Begitu juga dengan dada, bahu, hingga belakang tubuhnya terdapat luka-luka basah seperti penyakit kulit yang sudah Ia derita sejak lama, hingga menimbulkan bau busuk yang menyeruak di indra penciuman Chaca.
" Apa yang telah terjadi padamu, Cello? "
" Dimana kau mendapatkan luka-luka ini? "
" Siapa yang sudah melakukan hal ini padamu, Cello? "
Cerca Chaca berkali-kali namun tidak mendapatkan respon sama sekali. Cello hanya menatap Chaca dengan tatapan dinginnya. Ia merasa sangat malu telah memperlihatkan tubuh busuknya itu. Ketika Chaca ingin menyentuh tubuh Cello, tangan Cello menepisnya.
" Singkirkan tanganmu! "
" Ini bukan urusanmu! " Lanjut Cello lagi yang langsung berlalu dari hadapan Chaca dan menghempaskan pintu dengan kasar.
Cello, kenapa aku seperti tidak mengenalmu?.
Chaca terbang bersama fikirannya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Masih khusus 21+ yah Readers...
Episode ini juga sama yah Readers, aturannya udah Up dari siang tadi, tapi di tolak, jadi harus di revisi kembali.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, dan komennya yah..
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘