WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
JONATHAN PARTY



Hari yang dinantipun tiba, Chaca, Ochi, dan ketiga temannya Tina, Dodi, dan Reza sudah bersiap-siap untuk menuju lokasi party.


Suara dentuman musik DJ terdengar dari tempat parkir, dimana Chaca, Ochi, dan ketiga temannya sudah sampai ditempat acara.


Ohh.. aku sudah tidak sabar untuk menemui pujaan hati, Jonathan.. i'm coming..!!


Ochi senyum-senyum sendiri.


Ketika memasuki kafe, mereka berlima kemudian memilih duduk disebuah meja yang msih kosong. Dua orang pelayan menghampiri mereka dan menuangkan beberapa minuman beralkohol.


" Maaf, ada minuman bersoda gak? saya tidak bisa minum alkohol. " Chaca bertanya pada salah satu pelayan yang sedang ingin menuangkan bir digelasnya.


Semua mata teman-teman Ochi tertuju pada Chaca, bagaimana seorang wanita yang bisa dibilang sudah dewasa tidak bisa minum alkohol? Begitulah pikiran dibenak mereka masing-masing.


Ting! Terdengar suara gelas beradu satu sama lain. Diantara mereka berlima, cuma Chaca yang meminum minuman bersoda, karena Chaca memang benar-benar tidak bisa meminum minuman mengandung alkohol. Perutnya akan bermasalah dan mual, sampai-sampai membuatnya sakit berhari-hari.


" Ochi, kamu minumnya jangan terlalu banyak! kamu itu kalau mabuk bisa sampai gak sadarkan diri. " Chaca mengingatkan Ochi, Dia lebih tau kelakuan adiknya itu karena sering menemani adiknya menghadiri party teman-teman adiknya itu.


" Iya, kakakku yang tercetar membahana sejagat raya! hehehe.. " Ochi terkekeh.


" Kamu itu yah, dibilangin juga! " Chaca mulai kesal.


Tidak berselang lama, Nathan menghampiri meja mereka.


"Terima kasih kalian mau datang ke party gue. Silahkan menikmati acaranya, sebentar lagi akan ada acara dansa. "


" Apa! Dansa ? Apa kau mau mengajakku berdansa Nat? " Jawab Ochi menyambar dengan keadaan setengah mabuknya.


" Jika kau bersedia, ayo! " Ajak Nathan sambil mengulurkan tangannya pada Ochi.


Chaca hanya termangu melihat melihat adiknya dibawa Nathan untuk berdansa. Begitu pula Tina dan Dody yang mengekor dibelakang Nathan dan Ochi. Kini tinggallah Chaca dan Reza saja.


" Apa kau mau berdansa denganku? " Reza memecah lamunan Chaca.


" Maaf, seleraku buka berondong! " Jawab Chaca judes.


" Hey! Aku mengajakmu berdansa, bukan menikah! " Jawab Reza sambil terkekeh.


" Kenapa sikap kakaknya beda banget dengan adiknya, yang satu ekstrovert, dan yang ini introvert " Lanjutnya lagi sambil tertawa.


" Terserah apa katamu, aku tidak perduli..! "


Chaca langsung beranjak meninggalkan Reza yang masih tertawa.


Chaca kaluar menuju taman diluar kafe tersebut. Dibelakang kafe memang memiliki taman, dimana dibelakang kafe itu pula terdapat hutan yang ditumbuhi pohon pinus yang sangat rapat. Chaca duduk disebuah kursi sambil memainkan Hpnya. Suara musik juga tidak begitu terdengar dari tempatnya duduk.


" Tolong... tolong..! " Terdengar suara seorang wanita dari dalam hutan.


Aku tidak salah dengarkan? itu suara minta tolong bukan?


Chaca mencoba memasang pendengarannya lagi, karena masih ragu dengan apa yang Ia dengar.


" Tolong.. tolong..! " Suara itu terdengar lagi bahkan sangat jelas ditelinga Chaca.


Iya bener, ini tidak salah lagi, itu memang suara orang minta tolong.


Chaca berdiri dari duduknya dan mencoba mencari arah suara itu. Dia mencoba berjalan menuju Hutan tersebut. Ada keraguan dihatinya ketika sudah sampai didepan hutan itu. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa takutnya.


" Tolong..! " Suara itu terdengar samar-samar.


Mendengar itu, dengan cepat Chaca melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan itu. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap berada dihadapannya.


" Apa yang kau lakukan disini? " Suara pria itu mengejutkannya.


" A.. a.. ku.. aku.. mendengar suara minta tolong. " Jawab Chaca terbata-bata.


" Apa kau sedang berhalusinasi? " Tanya pria itu lagi.


" Halusinasi? tidak! Aku benar-benar mendengar teriakan minta tolong tadi ! " Jawab Chaca tegas tidak mau kalah.


" Ha.. ha.. ha..! aku dari tadi disini, tidak mendengar suara apapun. " Jawab pria itu lagi.


" Bercin** " Jawab pria itu enteng.


Selang tidak lama, seorang wanita keluar dari balik pohon besar sambil merapikan rambut dan pakaiannya. Wanita itu terlihat seumuran dengan Ochi.


" Hey tampan! makasih yah! " Sebuah kecupan mendarat dipipi pria itu, dan wanita itupun berlalu dari hadapan mereka berdua.


" Apa kau juga ingin seperti yang Dia inginkan? ayo, aku masih mampu kalau hanya melayani dua wanita saja. " Pria itu kembali melanjutkan kata-katanya.


" Maaf, aku tidak semurah itu! " Chaca menjawab dengan intonasi yang sedikit meninggi.


Chaca berlalu meninggalkan pria itu kembali menuju kafe. Sedangkan pria itu masih mematung dengan senyum yang lebar.


Wanita itu sungguh berbeda, ingin aku mengenalnya bahkan lebih dari sekedar kenal saja.


"Sial! bisa-bisanya aku berfikir itu teriakan minta tolong. " Chaca ngomel sendiri sembari terus melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu.


##############################


Ditempat lain.


" Tolong...! " Suara seorang wanita yang hampir tidak terdengar keluar karena kelelahan, kini terlihat lemas tidak berdaya.


Wanita itu seperti sudah menyerah untuk melanjutkan langkahnya lagi. Dia terlihat bersandar disebuah pohon besar. Pakaian yang dikenakannya pun terlihat bagus, seperti seseorang yang hendak menghadiri party.


Bug! Terdengar suara hantaman keras dikepala wanita itu. Seketika wanita itu jatuh pingsan.


##############################


Wanita itu membuka matanya perlahan. Suasana yang mencekam, lampu yang temaram, seketika membuat wanita itu sadar.


Dengan kondisi tangan dan kaki terikat, juga mulut yang ikat dengan kawat, wanita itu berusaha menyelamatkan dirinya. Namun naas, Dia terlambat.


Seorang pria bertopeng kepala hewan dan bertubuh tinggi tegap masuk ke ruangan itu dan menghampirinya.


" he he he...! jangan menangis cantik, aku ada disini untuk menghiburmu..! emm.."


"Apa yang ingin kau lakukan? lepaskan aku..! lepaskan aku..! " Teriak wanita itu yg suaranya terdengar tidak jelas karena efek kawat penutup mulutnya.


" Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu! hmm.. ha.. ha.. ha..! " jawab pria itu sambil tertawa.


Tidak butuh waktu lama, pria itupun langsung menggendong wanita itu yang masih berontak dan dibawa diatas meja pemotongan daging. Tangan dan kaki wanita itu kemudian diikat dimasing-masing sudut meja itu.


Pria itu merobek pakaian wanita itu hingga tidak tersisa sama sekali. Seperti biasanya, pria itu mengambil sebuah pisau yang tidak begitu besar untuk menguliti setiap korbannya. Kali ini berbeda, korbannya msih dalam keadaan hidup.


" Ku mohon.. ampuni aku..!! ampunilah aku..!!"


Wanita itu memelas memohon kebebasan.


Air mata wanita itu tidak berhenti mengalir, bahkan seluruh tubuhnya bergetar hebat, saat sayatan pisau mulai melukai wajah cantiknya.


Pria itu melepas permukaan kulit wajah yang disayatnya itu, seketika itu pula wanita itu tewas.


Pria itu lalu melanjutkan pekerjaannya lagi hingga selesai, kepala, tangan, dan kaki dimasukkan ke plastik besar dimana didalam plastik itu pula banyak kepala-kepala korban lainnya yang siang dibuang, jika sudah penuh.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, seperti biasa pria itu kembali ke kamarnya dan membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya ditempat tidur sambil mengirim pesan pada seseorang.


" **Misi Selesai "


" Bagus! istirahatlah**! "


Balasan pesan diterimanya, lalu pria itu kembali mengirim pesan seperti biasa.


" Who's next? "


#############################


Terima kasih yang saaaangaaatt banyak buat para Readers yang bersedia mampir dikarya receh saya ini.


Jangan lupa Like, Vote, dan Favoritkan cerita ini yah... 😘😘😘😘