
Didalam kamar, Chaca masih terlihat murung. Ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, disusul juga oleh Ochi.
" Sudahlah kak, jangan murung begini, kakak keliatan jelek, tau!! " Ejek Ochi pada kakaknya.
Chaca semakin memanyunkan bibirnya, ketika mendengar kata-kata adiknya itu.
" Biarin! Jelek-jelek begini bentar lagi udah laku! Nah kamu, pacar aja gak punya! " Balas Chaca.
" Ih.. kakak, mentang-mentang udah gx jomblo, terus seenaknya ngatain aku yang masih setia dengan status kejombloan akut ku ini? " Ucap Ochi dengan memanyunkan bibirnya.
" Ha.. ha..ha..! Muka kamu kalau kayak gitu udah mirip dengan woody woodpecker! " Chaca tertawa bahagia setelah menyamakan adiknya dengan salah satu toko animasi.
" Ehe.. he.. he..! Ehe.. he.. he..! Ehe.. he.. he..! He.. he...he..he..! " Ochi langsung meniru suara tokoh animasi woody woodpecker.
" Ha..ha... ha..!! " Chaca tertawa mendengar adiknya menirukan suara woody woodpecker, seakan Ia melupakan masalah yang baru beberapa saat terjadi.
Ditengah canda tawa mereka berdua, Chaca mulai merasa gerah dengan rambut panjangnya. Ia mengambil sebuah ikat rambut lalu mengikat rambutnya tinggi, hingga memperlihatkan dengan jelas leher jenjangnya itu. Ochi melihat ada yang aneh dari leher kakaknya itu.
" Leher kakak kenapa merah-merah begitu? "
Waduh! gawat! kenapa juga sih Cello meninggalkan tanda begini! Semoga saja Ochi tidak paham tanda ini!
" Oh... ini! Emb... anu...! " Chaca terlihat bingung.
" Anu apa kak? " Ochi menaikkan sedikit alisnya dengan mata penuh selidik.
" Anu..! Itu..! Leher kakak digigit serangga! "
" Hmm... spesies serangga apa yang menggigit kakak sampai seperti ini? " Jawab Ochi dengan pandangan mata yang penuh arti.
" Wow! Ada banyak lagi tu! Disini...disini... disini... dan didada juga ada! Amazing! Pasti serangganya jantan! " Lanjut Ochi lagi sembari menunjuk satu persatu tanda merah yang ada dileher dan didada kakaknya itu.
" E... kakak gak tau serangganya jantan atau betina! " Chaca kehabisan kata-kata untuk menjawab.
" Ha.. ha.. ha..! kakak... kakak..! Kamu tuh lucu banget, tau! Aku tuh bukan ank kecil yang bisa kakak bodohi! ha.. ha.. ha..!! "
" Jadi kamu tau ini tanda apa? " Ucap Chaca yang seketika wajahnya memerah karena malu.
" Ha.. ha.. ha..! Ya taulah kak! Aku kan udah dewasa! Ternyata kakakku yang introver ini sudah berani ternyata! "
" Janji yah! Jangan bilang-bilang sama mama apalagi papa! " Chaca menunjukkan jari kelingkingnya pada Ochi.
" Eiitttss!! tunggu dulu!! "
" Apalagi Chi? "
" Aku masih penasaran! Tapi kakak jawab yang jujur yah! Emangnya apa yang udah kakak dan kak Cello lakuin selama disana? " Tanya Ochi dengan memicingkan matanya.
" E...kakak cuma ciuman dan kak Cello memberi tanda ini ke kakak! Udah gitu aja! " Jawab Chaca gugup.
" Hmm... yakin cuma itu? Gak lebih? " Ochi semakin memicingkan matanya meminta penjelasan.
" Udah, ah! Jangan dibahas lagi, kakak capek dan jangan ganggu kakak! " Chaca tak menghiraukan adiknya lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
" Kalau kakak gak jawab berarti lebih dari itu? " Ochi masih belum menyerah.
" Kalau iya emangnya kenapa? Lagi pula kakak kan udah mau nikah juga kan sama kak Cello. "
" What!! Berarti kakak udah gak virgin lagi donk? " Ucap Ochi dengan mulut menganga.
" Ssttt!! Jangan keras-keras, nanti ada yang dengar! " Ucap Chaca yang seketika duduk kembali sambil menutup mulut Ochi dengan tangannya.
Ochi meminta Chaca untuk melepaskan tangannya, Chaca pun menarik kembali tangannya tapi dengan meletakkan satu jari dimulutnya tanda untuk menyuruh Ochi diam.
" Iya deh iya! Habisnya aku tu syok! kakak yang slalu menceramahi aku untuk menjaga hal berharga itu, malah Dia yang gak bisa menjaganya! " Ucap Ochi dengan memelankan volume suaranya sambil sedikit menyindir.
" Entahlah, kakak seperti terhipnotis dan gak bisa menolak ajakan Cello. " Chaca mulai murung kembali.
" Yah!! Kakak jangan murung lagi donk! kita lupain tentang ini, yang penting kak Cello sungguh-sungguh sama kakak! " Ochi merasa bersalah karena kata-katanya membuat Chaca kembali murung.
" Kalau kakak hamil gimana dong, Chi? " Chaca mulai merasa cemas.
" Ih.. kakak! Jangan ngomong yang aneh-aneh deh! Yang penting sebentar lagikan kakak akan menikah! "
" Tapi, papakan belum 100% merestui hubungan kakak dan kak Cello? "
" Kakak tenang aja, kak Cello kan udah janji bakal berjuang untuk kakak! Jadi kakak jangan murung lagi yah, entar mukanya jadi jelek lagi, mirip Marsupilami..! " Ucap Ochi sambil menangkupkan kedua tangannya dipipi Chaca.
" Bentol-bentol donk kalau gitu? " Jawab Chaca.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..! " Ochi dan Chaca pun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar jawaban kakaknya.
Dua kakak beradik itupun terus bercerita dan saling curhat satu sama lain hingga akhirnya tertidur disiang hari itu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Malam harinya di Black kafe.
Cello dan Nathan terlihat masuk kedalam mobilnya hendak pulang kerumah mereka dikawasan Black Lake.
Setelah pulang dari rumah Chaca pada siang harinya, dua saudara ini tidak langsung pulang, melainkan singgah ke kafe miliknya. Cello merasa butuh menenangkan dirinya sejenak didalam kafe sambil ditemani wine.
" Tolong...! Tolong kami! " Ucap wanita itu sambil menggedor-gedor kaca mobil.
" Udahlah kak! Jangan dihiraukan! Lanjut saja!" Ucap Nathan yang merasa acuh dan tidak perduli pada wanita itu.
Cello melihat kearah luar jendela mobilnya, dilihatnya seorang pria yang sudah terbaring lemah. Akhirnya, Cello membuka sedikit jendela kaca mobilnya.
" Ada apa Nona? " Tanya Cello.
" Tolong kami, tuan! Kami baru saja dirampok! Suamiku terluka! Tolonglah kami tuan! " Jawab wanita itu dengan memohon.
" Baiklah! Bawa suamimu naik kedalam mobilku! "
" Terima kasih, tuan! "
Wanita itu kemudian memopong suaminya untuk masuk kedalam mobil Cello. Nathan yang melihat itu hanya dapat berdecih kesal.
" Saya akan antar kalian ke sebuah klinik yang tak begitu jauh dari sini. "
"Terima kasih, tuan! "
Ketika Cello sedang fokus mengemudikan mobilnya, tiba-tiba ada yang mencekiknya dengan tali dari arah belakang, begitu juga dengan Nathan. Cello sempat hilang kendali sebelum akhirnya Ia dapat menginjak rem dan menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
" He.. he.. he..! " Suara seorang pria dari arah belakang dengan terkekeh.
Ternyata, pria dan wanita yang Ia tolong tadi sengaja menjebak mereka. Dua orang asing itu telah berbohong dan merekalah sebenarnya perampok itu.
Dengan sekuat tenaga Cello dan Nathan berusaha melepaskan jerat tali dileher mereka. Berbekal pengalaman dan latihan khusus sewaktu kecil, akhirnya Cello dan Nathan berhasil melepas jeratan tali tersebut, lalu kemudian berbalik arah menyerang dua orang asing tersebut.
Kedua orang tersebut tampak terkejut, karena baru kali ini ada orang yang mampu lepas dari jerat tali mereka.
" Beraninya kalian membohongiku! " Ucap Cello dengan muka yang merah padam.
Pria itu melesatkan sebuah pukulan kewajah Cello, namun mampu Ia tepis, hingga tangan pria itu dapat Ia raih, bahkan hanya dengan satu tangan saja, Cello berhasil mematahkan tangan pria itu hingga pria itu berteriak kesakitan.
" Aaarrrggghhh!! "
" Ampun Tuan! Maafkan kami! Tolong lepaskan kami! " Ucap wanita yang berada disamping pria itu.
Plaakk!!
Satu tamparan diberikan Nathan melesat dipipi wanita itu.
" Jangan coba-coba bermain-main dengan kami! Kalian tidak tau siapa kami! " Ucap Nathan dengan ekspresi membunuhnya.
" Ampun tuan! " Wanita itu memohon lagi.
Plaakk!!
Satu tamparan kembali melesat dipipi yang satunya lagi.
" Sudah Nathan! ikat wanita itu! " Titah Cello pada Nathan, dimana Cello sudah selesai mengikat tubuh pria tadi dengan tali yang ada didalam mobil mereka, beserta lakban hitam yang digunakan untuk menutup mulut dua orang asing tersebut yang juga berada didalam mobilnya.
Tidak ada yang tau, apa yang mendasari Cello dan Nathan selalu membawa tali panjang dan lakban hitam didalam mobil mereka.
Setelah pria dan wanita itu terikat kuat serta lakban hitam yang menempel dimulut mereka, Cello kemudian melajukan mobilnya, kali ini Ia menuju kawasan rumahnya di Black Lake.
Sesampainya di Black Lake, Cello terus melajukan mobilnya hingga berhenti didepan sebuah gudang. Mereka kemudian menurunkan dua orang asing itu dan menyeret mereka masuk kedalam gudang tersebut.
Terlihat Cello mengeluarkan kunci rumahnya, dimana diantara semua kunci itu, terselip satu kunci untuk membuka lantai yang sudah Ia gembok dibawah karpet lusuh. Ketika gemboknya terbuka, Cello lalu mengangkat lantai itu, hingga terlihat sebuah tangga untuk turun ke ruang bawah tanah tersebut. Kedua orang asing itu tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat.
" Bawa mereka kemari! " Titah Cello pada Nathan.
Nathan lalu menyeret dua orang asing itu dan mencondongkan tubuh mereka menghadap kebawah sehingga dapat melihat dengan jelas ruang bawah tanah tersebut.
" Mario!! " Teriak Cello pada seseorang yang ada didalam ruang bawah tanah tersebut.
Tampak sosok laki-laki yang wajahnya mirip dengan Cello berjalan mendekat.
" Aku bawa hadiah untukmu! Nikmatilah! " Cello dan Nathan kemudian mendorong tubuh dua orang asing itu hingga jatuh kebawah dan berada tepat dihadapan Mario.
Mario terlihat mengangkat jempolnya kearah Cello, sebelum akhirnya kemudian menghilang sambil menyeret tubuh dua orang asing itu.
Setelah Mario hilang dari pandangannya, Cello kemudian menutup kembali lantai itu dan menggemboknya. Ia dan Nathan lalu keluar dari gudang tersebut dan kembali kedalam rumah mereka untuk beristirahat.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
###############################
Author gak bosan-bosannya selalu ngucapin terima kasih buat para Readers yang sudah membaca karya Author yang receh ini.
Jangan lupa beri Like, vote, dan komen, disetiap episodenya yah....
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘😘