WHO'S NEXT?

WHO'S NEXT?
BANYAK MAUNYA



Mereka berempat pun lalu mengikuti langkah kaki bi Melly menuju ke halaman belakang rumah.


Sesampainya di halaman belakang rumah bi Melly, tampaklah sebuah pohon mangga yang sangat rindang. Banyak buah mangga yang masih muda bergelantungan di dahan pohon. Mata Chaca seketika berbinar melihat buah mangga muda itu seakan-akan sedang melambai kepadanya.


Bi Melly kemudian memberi sebuah galah yang terbuat dari bambu untuk di gunakan mengambil buah mangga, tapi Chaca menolaknya. Ia malah ingin Cello memanjat pohon mangga itu lalu mengambilkan buah mangga muda untuknya.


" Gak usah pakai galah bi, aku ingin suami ku yang memanjat untuk mengambilkan buah itu untuk ku." Ucap Chaca yang seketika itu juga membuat Cello, Nathan dan Ochi terperangah mendengarnya.


" A.. apa? Kamu yang bener aja sayang, aku kan gak bisa manjat? " Jawab Cello yang memasang wajah yang menyedihkan.


" Manjat aku aja bisa, masa' manjat pohon mangga gak bisa! " Ketus Chaca.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Nathan dan Ochi tertawa mendengat kata-kata Chaca.


" Diam kalian! " Cello merasa kesal di tertawai adik-adiknya.


" Ayolah, untuk kali ini aja kamu manjat pohon itu yah sayang...? Ini maunya anak kamu loh...? " Chaca mengelus-elus perutnya.


" Gimana caranya? " Ucap Cello kebingungan.


" Jangan khawatir tuan, saya punya tangga yang bisa di gunakan untuk memanjat. " Sambung bi Melly menjawab kebingungan Cello.


" Iyakah bi, kalau begitu dimana tangganya bi? "


" Disana, tuan. " Bi Melly menunjuk ke arah tangga yang di maksud.


" Kamu tunggu disini, aku ambil tangga dulu! Yang sabar yah anak ku sayang...? " Ucap Cello sambil meraba perut Chaca yang masih terlihat datar itu.


Cello lalu bergegas mengambil tangga yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kemudian tangga itu Ia letakkan di batang pohon mangga, lalu Ia menaiki anak tangga itu satu persatu.


" Ayo kak Cello, semangat!! " Teriak Ochi terkekeh, antara memberi semangat atau mengejek kakak iparnya itu.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Cello sampai di tengah-tengah pohon di antara ranting yang bercabang-cabang.


" Kamu mau yang mana sayang? " Tanya Cello dari atas pohon.


" Yang itu! " Chaca menunjuk beberapa buah mangga yang terlihat bergerombol, dimana letaknya cukup jauh dari jangkauan Cello.


" Itu terlalu jauh sayang, yang ini aja yah, disini juga banyak yang muda-muda? " Cello mencoba membujuk istrinya tersebut.


" Gak mau! Pokoknya aku mau yang itu! "


Astaga! Banyak sekali maunya, kalau bukan demi kamu nak, papa gak mungkin mau susah payah begini.


Gerutu Cello dalam hati.


Cello pun lalu menuruti kemauan istrinya itu, Ia menelusuri ranting pohon mangga untuk menggapai buah yang di inginkan istrinya itu. Setelah dapat, Ia lalu melemparnya pada Nathan, dimana Nathan sudah bersiap-siap di bawah dengan sebuah keranjang yang terbuat dari rotan untuk menyambut buah dari Cello.


" Ambil ini, Nat! " Teriak Cello dan Nathan pun langsung menangkapnya.


" Ini lagi, Nat! " Cello melempar beberapa buah lagi pada Nathan.


" Gimana sayang, cukup gak? " Tanya Cello yang masih berada di atas pohon.


" Hmm... aku masih mau yang di sebelah sana! " Tunjuk Chaca pada buah yang berada di tengah, dimana Cello menunjukkan buah itu pada Chaca pertama kali.


Astaga! Itukan buah yang aku tawarkan padanya tadi. Sabar Cello, bersabarlah...


Cello bergerutu dalam hati.


Cello kemudian kembali ke tempat awal, untuk mengambilkan Chaca buah yang di inginkan istrinya itu.


" Semangat kak Cello! Berjuanglah! he.. he..! " Ochi terkekeh melihat kakak iparnya itu.


" Iya kak! Ayo semangat! Demi si buah hati! " Sambung Nathan yang juga terkekeh melihat kakaknya yang sedang susah payah itu.


Awas kalian! Tunggu pembalasanku!


Gumam Cello dalam hati.


Setelah semua keinginan istrinya itu sudah tercapai, Cello kemudian menuruni anak tangga satu persatu untuk sampai ke bawah.


" Gimana, udah cukup kan? " Tanya Cello pada Chaca.


" Cukup! Makasih sayang...! Cup! " Chaca mendaratkan cium**nya di pipi Cello sehingga membuat rasa kesalnya mereda.


" Ini di kantongin dulu buahnya. " Bi Melly keluar dari rumahnya tergesa-gesa sambil membawa kantong plastik hitam lalu memasukkan buah mangga muda itu ke dalamnya.


" Ini non buahnya, semoga non dan bayinya selalu sehat! " Lanjut bi Melly lagi sambil menyerahkan kantong plastik yang sudah berisi buah itu pada Chaca.


" Makasih banyak bi, bibi udah baik banget ngasih saya buah mangga sebanyak ini. "


" Ah, gak usah sungkan non, kalau pengen lagi nanti kesini aja lagi! "


" Bibi terlalu baik, saya jadi gak enak! "


" Gak apa-apa atuh non, non Ochi udah bibi anggap seperti ponakan bibi sendiri, jadi non Chaca juga bibi anggap seperti ponakan bibi juga. "


" Makasih banyak bi Melly! " Sambung Ochi yang langsung memeluk bi Melly.


" Kalau gitu, kami permisi dulu bi! " Lanjut Ochi lagi ketika melepas pelukannya.


" Iya bi, kami permisi pulang dulu, sekali lagi terima kasih atas buah mangganya bi? " Cello menimpali.


" Sama-sama tuan, kalau gitu ayo bibi antar! "


Mereka kemudian berjalan ke depan menuju mobil mereka yang terparkir tepat di depan rumah bi Melly. Mereka berempat lalu masuk ke dalam mobil dan berpamitan kepada bi Melly sebelum meninggalkan tempat itu.


" Kami permisi yah bi? " Ucap Ochi dari balik kaca mobil.


" Iya non, hati-hati di jalan, jagan lupa nanti main-main kesini lagi! " Jawab Bi Melly sambil melambaikan tangannnya ke arah mobil mereka yang sudah mulai bergerak meinggalkan kediamannya.


Mobil Cello dan juga Nathan melaju dengan kecepatan sedang. Butuh waktu yang cukup lama bagi mereka sampai ke kawasan Black Lake.


################################


Setibanya di rumah, matahari sudah mulai menyembunyikan sinarnya. Ochi memutuskan untuk menginap di rumah kakaknya karena merasa capek seharian menemani kakaknya. Sebelumnya, Ia sudah menghubungi sang Mama untuk memberi tahu bahwa Ia akan menginap di rumah kakaknya itu.


Didalam rumah, Chaca, Ochi, dan Nathan langsung merebahkan tubuh mereka diatas sofa di ruang keluarga. Sedangkan Cello sibuk ke dapur untuk mengambilkan Chaca piring dan pisau untuk mengupas buah mangga muda tersebut. Cello lalu meletakkan beberapa buah mangga itu di depan Chaca dan berniat ingin mengupas kulit buah itu.


" Jangan di kupas dulu sayang...! Siniin buahnya! " Ucap Chaca yang langsung mengambil buah itu dari tangan Cello lalu menghirup aroma buah mangga muda itu cukup lama.


" Sudah! " Chaca langsung menyerahkan buah itu kembali pada Cello.


" Sudah, maksudnya? " Tanya Cello bingung.


" Iya, sudah! Aku udah gak kepengen lagi, menghirup aromanya saja udah cukup buatku! " Jawab Chaca santai.


Nathan dan Ochi langsung terperangah mendengar kata-kata Chaca, begitu juga Cello yang kemudian melongo karena tak tau harus berkata apa lagi dengan tangan yang masih memegang buah mangga muda.


" Kenapa kalian melihat ku seperti itu? " Lanjut Chaca lagi seakan tak memiliki dosa.


" Kamu tanya kenapa? " Jawab Cello.


" Sabar kak Cello, tahan... tahan emosi! " Ucap Nathan terkekeh melihat wajah kakaknya yang terlihat kesal itu, sedangkan Ochi menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak lepas.


" Kamu marah sama aku? " Ucap Chaca yang mengerucutkan bibirnya dengan memasang wajah sendu, hingga berhasil membuat Cello menghembuskan nafasnya dengan kasar tanda emosinya yang mulai mereda.


" Ya udah, aku gak marah kok! " Cello menjawab dengan datar karena masih menahan emosi.


" Itu nada bicaranya masih marah? " Chaca semakin memasang wajah sendunya.


" Gak sayang... aku udah gak marah kok! Kalau kamu gak mau memakannya, biar Nathan dan Ochi saja yang menghabiskannya! " Lanjut Cello lagi dengan tersenyum lebar pada Nathan dan Ochi, hingga membuat mereka berdua tersentak mendengarnya.


" Ta.. tapi kak? " Ucap mereka serentak.


" Tidak ada tapi-tapi, ini maunya dede bayi! Iyakan sayang...? " Cello memotong kata-kata mereka.


" Iya! Keponakan kalian ingin kalian yang menghabiskannya! " Ucap Chaca santai.


Cello tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Nathan dan Ochi hanya bisa melongo karena tak bisa berkata-kata apa lagi.


Rasain kalian! Aku udah susah memanjat pohon mangga itu, sekarang giliran kalian yang menikmati buah mangga muda ini. Ha.. ha.. ha.. ha..!


Cello tertawa dalam hati.


" Udah yuk sayang...! Kita ke kamar, kamu capek kan? "


" iya, aku capek banget! Ayok sayang! " Chaca langsung berdiri dari duduknya.


" Jangan gak di habiskan yah, ini maunya ponakan kalian loh..! " Lanjut Chaca lagi mengingatkan Nathan dan Ochi sebelum Ia berlalu ke kamarnya.


" Yup! Bener! " Sambung Cello.


Cello dan Chaca kemudian berlalu dari hadapan mereka menuju kamarnya. Sebelum menutup pintu kamarnya, Cello menjulurkan lidah kepada kedua adiknya itu, lalu kemudian terkekah melihat mereka berdua.


" Sekarang apa yang kita lakukan dengan buah ini, Nat? " Tanya Ochi pada Nathan.


" Hmm.. kita harus memakannya kan? "


" Kamu yakin? "


" Mau gak mau kita harus memakannya, karena ini maunya keponakan kita kan? "


" Iya sih! Ponakan ku, kenapa kamu menyiksa tante dan pamanmu, sayang...? " Ucap Ochi sambil memandangi buah mangga muda yang cukup banyak berada di depannya itu.


################################


Kasian banget Nathan dan Ochi kebagian makan mangga muda yang asem itu...


Readers mau gak kalau disuruh makan mangga muda gantiin Nathan dan Ochi?


Ha.. ha.. ha..


Dari pada makan mangga muda mending kasih like, vote, dan komen di setiap episodenya yah Readers..


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘