
Dillon tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap Willow yang tiba-tiba membuatnya bingung. Dillon memegang tangan Willow dan menciumnya.
"Baiklah jika kau menginginkan hal itu," ucap Dillon.
Willow masih terpaku menatap Dillon karena merasa Dillon hanya setengah hati mengikuti kemauannya.
"Ada apa? Ayo kemarilah, peluk aku dan cium leherku sepuasmu," kata Dillon yang melihat Willow masih mematung di depannya.
"Kau tak ikhlas melakukannya. Kau terpaksa mengikuti kemauanku," ucap Willow.
"Tidak, Honey. Aku melakukannya karena aku mencintaimu dan bayi kita yang menginginkan hal ini. Kemarilah." Dillon merentangkan tangannya seakan menyambut Willow ke dalam pelukannya.
"Aku sudah tak ingin mencium lehermu lagi," ucap Willow dan beranjak dari ranjang.
"Kau mau ke mana, Honey?" tanya Dillon.
"Aku akan tidur dengan Daxon saja. Dia tak pernah menolak kalau aku memeluk dan menciuminya," jawab Willow menuju ke arah pintu dan membuka gagang pintunya.
'Sepertinya aku telah membuat kesalahan,' batin Dillon. Dia langsung beranjak dari ranjangnya dan segera menghampiri Willow yang sudah berjalan ke luar kamar.
"Honey, wait ..." panggil Dillon menyusul Willow.
Dillon menahan tangan Willow di depan kamar.
"Maafkan aku. Jika aku membuat kesalahan, tolong maafkan aku. Aku tak mau jika kita tidur terpisah," ucap Dillon lembut dan membelai pipi merah Willow.
"Aku ingin tidur dengan Daxon malam ini. Aku merindukan harumnya," ucap Willow.
"Honey ... Daxon pasti sudah tidur bersama yang lainnya. Dia bisa saja terbangun dan tak bisa tidur lagi jika kau mendatanginya," kata Dillon dan membuat Willow kembali lagi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun pada Dillon.
Dillon mengikutinya dari belakang dan kemudian mengunci pintu kamar mereka. Setidaknya kini Willow sudah masuk ke dalam kamarnya lagi.
Willow langsung beranjak ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tanpa mempedulikan Dillon.
"Maafkan aku," lirih Dillon di tengkuk leher Willow.
"Hmm, sorry kalau aku merepotkanmu. Maaf, jika kau tak terlalu suka dengan sikapku," ucap Willow pelan.
'Ooooh ... Sepertinya dia memang dalam mode super sensitif kali ini,' batin Dillon.
"Kau tidak salah apapun, Honey. Aku yang kurang mengerti dirimu," jawab Dillon semakin memeluk erat tubuh Willow.
Tiba-tiba Willow terisak pelan. Sangat pelan hingga hampir tak terdengar.
"Honey? Kau menangis?" tanya Dillon membalik tubuh Willow dan menatap matanya yang berkaca-kaca.
"Hmmm ... Aku merasa terlalu berlebihan. Maafkan aku. Kau pasti tak suka dengan sikapku, kan?" ucap Willow menahan isakan tangisnya dengan sekuat tenaga.
"No ... Aku tak pernah berpikir seperti itu, Sayang. Sungguh ... Aku sangat mencintaimu apapun dirimu," jawab Dillon dengan suara tenangnya seperti biasa.
"Benarkah?" tanya Willow.
"Tentu saja. I love you so much," jawab Dillon memeluk tubuh Willow kembali dan membuat wajah Willow menghadap leher Dillon lagi.
Hal itu membuat Willow kembali mencium ceruk leher Dillon dan dengan sekuat tenaga Dillon menahan rasa gelinya karena kelakuan Willow itu.
"I love you," bisik Willow dan menghentikan kegiatan randomnya itu.
Willow mulai memejamkan matanya yang sudah sangat berat dan akhirnya tertidur nyenyak. Dillon lega Willow sudah tidur. Dan Dillon sadar bahwa dirinya menjadi objek utama kegiatan intermezzo Willow sebelum tidur malam ini.
"I love you too. Good night, Honey," jawab Dillon dengan menepuk-nepuk bahu Willow yang masih ada di dalam pelukannya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..❤❤❤