
Akhirnya hari ini Willow dan Dillon telah tiba di Swiss. Setibanya di bandara, Willow dan Dillon langsung menuju ke arah mansion mereka.
Sepanjang perjalanan, Willow hanya memandang ke arah luar jendela mobil sembari melihat pemandangan.
Willow tampak merenung dan Dillon yang melihat hal itu memegang tangannya lalu menciumnya.
Lalu Willow menoleh ke arah Dillon dan kemudian memeluknya. Sesaat dia merasa bersalah kepada Dillon karena tak jujur tentang pil kontrasepsi yang dikonsumsinya sementara Dillon sangat menginginkan Willow hamil.
"Maaf, aku belum bisa memberimu bayi," lirih Willow sedih.
"Hei ... apa yang kau katakan? Aku tak memaksakan hal itu, Honey. Hanya Tuhan yang menentukan apakah kau akan hamil atau tidak. Aku akan selalu mencintaimu apa adanya dirimu. I love you," ucap Dillon sembari mengusap lembut punggung Willow.
Willow semakin merasa bersalah dengan apa yang dikatakan Dillon. Dia meneteskan air matanya di dalam pelukan Dillon.
"Honey, kau menangis?" tanya Dillon mengangkat wajah Willow tetapi WIllow tak ingin wajahnya dilihat dan tetap menyembunyikannya di dalam pelukan Dillon.
"Jangan melihatku, aku merasa sangat buruk," ucap Willow terisak.
"Oh My ... I'm sorry ... maaf jika ada kata-kataku yang menyinggungmu," kata Dillon.
"Tidak, kau tak pernah menyinggungku. Justru kau terlalu baik untukku," jawab Willow.
Dillon pun hanya memeluk Willow sampai mereka tiba di mansion. Dillon dan Willow langsung masuk menuju mansion dan supir menurunkan koper mereka.
"Aku ingin berkuda," ucap Willow yang langsung menuju taman belakang.
"Apa aku perlu menemanimu?" tanya Dillon.
Willow menghentikan langkahnya dan menoleh pada Dillon.
"Tidak, kau istirahat saja. I love you," ucap Willow tersenyum.
"Hmm ... berhati-hatilah," jawab Dillon yang juga tersenyum.
Sedangkan Dillon menuju ke kamar dan istirahat. Dillon langsung menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Seusai mengganti pakaian, Dillon langsung berbaring di ranjang. Ketika akan memejamkan matanya, ada suara ponsel yang berbunyi samar. Dia tahu bahwa itu adalah bunyi ponsel Willow.
Dillon beranjak dari ranjangnya lagi dan mengambil tas Willow yang tadi ditaruhnya di kursi. Dillon merogoh tas itu dan mencari ponsel Willow.
Karena lumayan penuh, akhirnya Dillon menuangkan semua isi tas Willow ke atas ranjang. Dillon kemudian mengambil ponsel Willow dan mengangkatnya.
"Ada apa, Mom? Kami baru saja sampai di mansion," ucap Dillon.
"Hmm ... baiklah. Jaga Willow baik baik, Dillon," ucap Galy dari seberang sana.
"Ya, Mom. Bye," jawab Dillon menutup teleponnya dan sekarang matanya terpaku pada sekaplet obat yang tadinya ada di dalam tas Willow.
"Apa dia masih mengkonsumsi obat?" gumam Dillon dan mengambil obat itu lalu membacanya.
Dillon berpikir itu adalah sisa obat Willow yang dulu sering dikonsumsi Willow ketika masih mengobati masalah mentalnya.
Dillon langsung mengerti obat apa itu. Dillon terpaku seakan tak mengerti apa yang terjadi pada Willow hingga membuatnya meminum pil kontrasepsi itu.
Dia kemudian duduk di ranjang. Dillon mungkin akan bisa mengerti jika Willow ingin menunda kehamilannya. Tetapi Willow tak mengatakan hal itu sama sekali padanya.
Dillon tampak berpikir, apa yang harus dilakukannya. Dia takut Willow menyembunyikan suatu ketakutan lagi yang justru jika tak ditangani akan merambat ke masalah yang lainnya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA❤❤❤