
Sepanjang perjalanan, Willow hanya diam dan mengusap matanya yang terkadang masih menangis. Dillon tak bertanya apapun dan melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
Dillon ingin cepat sampai dirumah agar Willow mengatakan apa yang terjadi. Dia sangat khawatir mental Willow kembali down atas sesuatu yang belum dia tahu.
Dillon langsung menuju mansion keluarga besarnya karena jaraknya lebih dekat. Sesampainya di mansion, Dillon menggandeng tangan Willow dan membawanya ke dalam.
Kini mereka berada di ruang tengah mansion dan duduk di sofa bundar yang lebar. Dillon menggenggam tangan Willow dan menatap wajahnya yang menunduk.
"Katakan apa yang terjadi," kata Dillon lembut.
Willow masih terdiam dan sesenggukan.
"Hei ... katakanlah ... Ada aku disini. Aku akan selalu melindungimu, sayang. Jangan takut apapun," lanjut Dillon dengan suara pelan agar Willow tenang.
"Di restoran tadi aku bertemu ibu Jonah ... Dia bilang akan melepaskan Jonah," kata Willow sangat pelan.
"Oh God," ucap Dillon dan memeluk Willow.
"Listen to me ... Dia tak akan bisa melepaskan Jonah. Dia hanya ingin membuatmu takut, sayang," lanjut Dillon dan mengusap punggung Willow.
Willow kembali menangis dan suaranya semakin keras.
"Tenanglah, sayang ... Aku merasa sangat sakit melihatmu seperti ini. Kau akan selalu aman bersamaku. Tak akan ada yang berani mengganggumu ataupun menyakitimu lagi. Aku janji ..." ucap Dillon meyakinkan Willow.
Willow melingkarkan tangannya di pinggang Dillon dengan sangat erat. Dillon pun masih memeluknya dan menenangkannya sampai tangisannya berhenti.
Trauma itu tak sepenuhnya bisa hilang dari pikiran Willow. Jika saja bisa, Dillon ingin melenyapkan Jonah dari bumi ini agar tak membuat Willow selalu ketakutan seperti ini setiap mendengar kabar tentangnya.
Sampai akhirnya tangisan Willow berhenti dan kini dirinya sudah lebih tenang. Dia cukup yakin dengan apa yang dikatakan Dillon. Tak akan ada yang bisa mengganggunya selama Dillon ada disisinya.
"Oke ... Sekarang kau sudah tenang, Honey?" tanya Dillon pelan.
Willow mengangguk didalam pelukan Dillon. Lalu Dillon melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Willow.
Mata Willow menatap sendu mata Dillon. Dillon kemudian mengecup bibirnya.
"Dia juga mengatakan bahwa Daddy bukan ayah kandungku," ucap Willow sangat pelan karena sepertinya akan menangis lagi jika dia berbicara.
Dillon cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Willow. Dillon berusaha bersikap tenang seperti biasanya.
"Jangan dengarkan apapun yang wanita itu ucapkan. Dan jangan mencari tahu apapun tentang hal itu. Daddy Isaac adalah daddymu," kata Dillon.
"Dia adalah ayah terbaik bagimu. Dia sangat mencintaimu. Wanita itu ingin merusak kebahagiaanmu dan daddy. Dia ingin kau terpengaruh dan terpancing. Jika itu terjadi dia akan merasa senang dan menang."
"Aku pastikan kau tak akan melihatnya lagi di kota ini, bahkan di negara ini," ucap Dillon menatap mata biru Willow yang masih berkaca kaca.
Willow mengangguk karena percaya dengan apa yang dikatakan Dillon. Dia yakin bahwa Dillon pasti bisa menangani ini dan melindunginya dari apapun yang berkaitan dengan Jonah dan Hensley.
Dillon mengambil tisu yang ada di meja dan membersihkan wajah Willow dari air mata. Wajah Willow yang sembab membuatnya terlihat pucat.
"Kita akan menginap disini?" tanya Willow.
"Hmm ..." jawab Dillon.
"Mataku lelah dan mengantuk. Aku ingin tidur," ucap Willow.
"Ayo kita tidur," kata Dillon dan menggendong tubuh Willow kemudian membawanya ke kamar Dillon.
"I love you," ucap Willow dengan suara yang sangat pelan di ceruk leher Dillon.
"I love you too, Honey," balas Dillon dan mencium puncak kepalanya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA...❤❤❤