
Sesampainya di ruangannya, Willow merogoh tasnya dan mengambil botol obatnya. Dia mengeluarkan satu pil dan meminumnya dengan cepat.
Dadanya berdetak kencang setelah melihat Hensley di area parkir tadi. Dia masih takut dengan segala hal yang berhubungan dengan Jonah termasuk ibunya.
Willow kemudian duduk di kursinya dan memejamkan matanya. Dia menenangkan dirinya sebentar dan kemudian mengambil ponselnya untuk menelepon sang daddy.
"Dad... Wanita itu tadi menemuiku," kata Willow langsung pada pokok pembicaraan.
'Siapa yang kau maksud sayang?' tanya Isaac.
"Bibi Hensley," jawab Willow dengan suara tercekat.
'Apa??? Berani sekali dia menampakkan dirinya di hadapanmu?' ucap Isaac dengan nada yang begitu emosi.
"Aku tak tahu, Dad. Tapi aku takut melihatnya seakan dia mau melukaiku," jawab Willow dengan panik.
'Tenanglah sayang. Dia tak akan berani melakukan hal itu padamu. Daddy akan mengurusnya. Besok Daddy akan pulang ke Los Angeles,' jawab Isaac.
"Hmm ... Lalu apa yang harus kulakukan? Besok aku harus ke rumah Edna. Apakah dia akan mengikutiku lagi?" tanya Willow pelan.
'Tidak. Dia tak akan mengikutimu. Daddy akan menyuruh orang kepercayaan Daddy untuk menjagamu dari jauh. Tenanglah sayang,' ucap Isaac.
"Hmm, baiklah Dad. Bye ..." jawab Willow.
"Bye honey. I love you,' kata Isaac.
Dan akhirnya Willow menutup sambungan teleponnya dengan Isaac.
Seharian itu membuat Willow tak semangat menjalani harinya. Dia pulang ke rumahnya siang hari karena memang tak fokus lagi mengerjakan pekerjaannya.
Menjelang sore, pelayan mengetuk pintu kamar Willow. Lalu Willow membuka pintunya.
"Ada apa, Bi?" tanya Willow.
"Ada tamu untuk anda, nona," jawab pelayan.
"Siapa?" tanya Willow bingung karena dia tak menerima tamu selain ketiga sahabatnya.
"Aku," jawab Dillon yang ada di anak tangga teratas pas dibalik tembok dimana pelayan berdiri.
Willow memundurkan langkahnya.
"Uncle Isaac menyuruhku kemari untuk menemanimu," jawab Dillon dengan santainya.
Di tengah kesibukan Dillon di perusahaannya, dia menyempatkan dirinya untuk menemanimu Willow ketika Isaac yang tiba tiba meneleponnya untuk meminta bantuannya. Dan tentu saja hal ini membuat Dillon senang karena itu artinya dia akan semakin dekat dengan Willow.
"Aku tak butuh orang untuk menemaniku. Pergilah," kata Willow dengan wajah dinginnya.
"Aku hanya akan melihatmu dari jauh. Aku sama sekali tak akan mendekatimu jika kau tak suka dengan hal itu. Santai saja," jawab Dillon yang kemudian duduk di kursi sofa di depan balkon ruang tengah yang ada dilantai 2 sebelah kamar Willow.
"Maaf nona, aku harus kembali ke taman," ucap pelayan.
"Tidak, pekerjaanmu sekarang menemaniku disini," jawab Willow.
"Tapi nona. Ada tukang air yang sedang memperbaiki saluran pipa dibawah. Jika aku tak mengawasinya nanti pipa itu akan bocor lagi dan membuat air menggenang di taman," kata pelayan itu.
"Baiklah, aku akan ikut dengan bibi ke taman," jawab Willow.
"Tapi nona, nanti kaki nona akan kotor karena tanah di taman belum diperbaiki," kata pelayan.
"Tidak apa apa. Aku akan duduk di beranda belakang," jawab Willow lalu merekapun turun ke lantai satu dan menuju beranda taman belakang.
Dillon tersenyum melihat sikap Willow yang masih sangat menghindarinya. Dia kemudian mengikuti Willow dibelakangnya.
Willow tak berani lihat ke arah Dillon dan tetap menggandeng tangan pelayannya. Hingga sampai di beranda, Willow tetap berdiri di dekat tiang pilar yang besar sedangkan Dillon duduk santai di sofa panjang di beranda sembari memandangi Willow dari belakang.
"Kau memiliki rambut yang indah. Aku terpesona melihatnya," kata Dillon menggombal.
Willow tak menjawab apapun. Dia tetap berdiri bagaikan patung dan berusaha mengabaikan Dillon karena dia tak bisa mengusir Dillon yang memilki sifat keras kepala itu.
"Duduklah, aku tak akan menggigitmu," ucap Dillon lagi.
Willow mengetuk ngetukkan kakinya ke lantai untuk mengusir rasa gelisahnya.
"Sungguh, aku tak akan menyentuh dan mengganggumu. Aku hanya ingin menjagamu saja. Jika aku melanggar itu semua, Velvet pasti akan menghajarku," lanjut Dillon.
Lalu Willow duduk di anak tangga beranda dan melihat ke arah pelayan dan tukang air yang sibuk di taman.
Kemudian Dillon berdiri dan menuju anak tangga lalu ikut duduk disana. Dia bersandar di pagar tangga yang berseberangan dengan Willow. Matanya dengan puas menatap wajah Willow yang cantik dengan rambut melambai tertiup angin sepoi sepoi.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA...❤❤❤