TRAUMA LET ME TOUCH YOU

TRAUMA LET ME TOUCH YOU
#38



Dillon masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu, dia langsung naik ke ranjangnya dan menghadap ke arah Willow yang membelakanginya.


"Sorry, aku tak tahu bahwa kau akan marah karena hal ini," ucap Dillon lirih meskipun dia tahu bahwa Willow sudah tidur nyenyak.


Lalu Dillon pun memejamkan matanya setelah lama memandangi punggung Willow. Dia berpikir akan melewati malam yang indah bersama Willow. Dan dia sedikit kecewa karena hal ini.


Keesokan paginya, Willow bangun pagi seperti biasa. Dia langsung beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi tanpa melihat Dillon terlebih dulu yang tidur di sebelahnya.


Beberapa menit kemudian, Willow keluar dari kamar mandi dan menuju pintu kamar. Dia ingin minum kopi pagi ini untuk menyegarkan mata dan pikirannya kemudian memasak.


"Kau tak memberiku morning kiss, Honey?" tanya Dillon yang sudah bangun tetapi masih berada di ranjang.


Willow berhenti dan menoleh ke arah Dillon. Willow melihat Dillon agak lama hingga akhirnya dia melangkahkan kakinya menghampiri Dillon.


Setibanya di depan Dillon, Willow mengecup bibir Dillon dengan cepat tanpa ekspresi apapun lalu langsung berbalik menuju pintu kamar lagi.


Dillon tersenyum. Setidaknya, Willow masih mau menciumnya meskipun masih marah padanya. Usai itu, Dillon beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Willow menyiapkan sarapan paginya. Willow dan Dillon tak memakai pelayan full time. Pelayan hanya datang 3 kali seminggu saja. Dan itu hanya mengurusi masalah kebersihan penthouse dan laundry.


Willow tak suka jika memakai jasa pelayan yang harus ke datang ke penthouse tiap hari. Dia tak terlalu suka jika ada orang asing yang tinggal bersamanya.


Satu jam kemudian, Willow selesai memasak. Dillon sudah menunggunya di meja makan sambil menopang dagunya melihat Willow yang sedari tadi memasak.


Willow sama sekali tak bicara pada Dillon dan masih mendiamkan Dillon. Entah mengapa dia masih kesal dengan Dillon karena semalam. Willow tak peduli seandainya Dillon menganggapnya berlebihan.


"Aku libur hari ini. Kau ingin keluar?" tanya Dillon membuka obrolan.


Willow menjawabnya dengan menggeleng.


"Kau masih marah padaku?" tanya Dillon sembari menikmati makanannya.


Willow hanya mengedikkan bahunya.


"Baiklah ... Kalau begitu aku akan pergi ke perusahaan saja jika kau tak ingin keluar," ucap Dillon.


Willow yang sebelumnya menunduk akhirnya mengangkat kepalanya melihat ke arah Dillon. Netra indahnya menatap mata Dillon.


"Oke ... Aku akan menjadwalkan meetingku saja hari ini bersama Adam," ucap Dillon.


Willow menaruh sendok dan garpunya lalu menatap ke arah Dillon. Dillon siap menerima kemarahan Willow karena dia memang sengaja memancingnya. Dia tak suka jika Willow terus mendiamkannya seperti ini.


"Pergilah ... Kau pikir aku akan mencegahmu? Tidak, pergilah semaumu," jawab Willow dengan datarnya.


Sekali lagi, realitanya tak sesuai dengan ekspektasi Dillon.


"Kau mencintaiku, Honey?" tanya Dillon.


"Menurutmu?" tanya Willow balik.


"Kau mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tapi kau sama sekali tak menaruh kepercayaan yang besar padaku. Aku dan Ciara memang pernah memiliki hubungan dulu. Tapi itu dulu dan sudah sangat lama. Itulah mengapa aku tak perlu memberitahukan hal ini padamu karena menurutku hal itu tak penting dan aku tak punya perasaan apapun lagi padanya. Dari sini aku belajar bahwa kau suka keterbukaan apapun itu. Aku mengaku salah dan aku tak akan mengulanginya lagi," kata Dillon menjelaskan dengan sikapnya yang selalu tenang.


Willow mencerna semua ucapan Dillon.


"Apa menurutmu sikapku berlebihan? Kau tak suka dengan hal itu?" tanya Willow.


"Tidak, aku memahami apa yang kau rasakan. Aku minta maaf padamu, Sayang," kata Dillon.


Willow masih terdiam. Dia merasa dirinya bersikap kekanakan dan Dillon justru yang bersikap sangat dewasa.


Dillon menghadapi kekesalan Willow dengan kepala yang dingin dan sikap tenangnya. Tiba tiba rasa kesalnya pada Dillon menguap begitu saja.


"Maaf jika menurutmu aku kekanakan," ucap Willow akhirnya.


Dillon beranjak dari kursinya dan menghampiri Willow. Dia menarik tangan Willow dan kemudian memeluknya.


"Tidak, kau tidak kekanakan. Kau hanya bersikap wajar dan mengikuti perasaanmu saja," kata Dillon dan mengecup puncak kepala Willow.


"I love you," ucap Willow di dalam pelukan Dillon.


"I love you too, Honey. I love you so much," jawab Dillon.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA...❤❤❤