
Dillon dan Willow masih berada di Swiss meskipun sudah seminggu berlalu. Dillon dan Willow masih belum sharing masalah tentang pil kontrasepsi yang dikonsumsi Willow.
Tetapi setiap hari, Dillon selalu berbicara dari hati ke hati bersama Willow tanpa harus menyinggung tentang pil itu. Dillon sangat yakin bahwa Willow pasti hanya ingin diberikan sedikit waktu.
Dan Dillon sangat mengerti dengan trauma yang dialami Willow. Dan dia bahkan menganggap Willow adalah wanita yang kuat dengan segala hal menyakitkan yang pernah terjadi padanya dulu.
"Kau ingin berkeliling Swiss? Di negara ini banyak kota-kota yang sangat indah," ucap Dillon yang memeluk Willow di sofa santai yang ada di area kolam renang.
"Hmm ... Boleh juga," jawab Willow yang kemudian mendongakkan kepalanya dan mencium bibir Dillon.
Willow kemudian melepaskan tangan Dillon yang melingkar di perutnya dan berbalik menghadap Dillon dengan duduk di pangkuannya.
Willow menangkup wajah Dillon dan mengecupi wajahnya. Willow menatap Dillon dengan mata birunya yang sendu dan selalu menenangkan bagi Dillon.
"Kau tahu betapa aku mencintaimu, Honey?" tanya Willow lirih dan mencium hidung mancung Dillon.
Dillon tersenyum dan membalas kecupan Willow di bibirnya.
"Hmm ... Aku tahu kau sudah terjerat dalam perangkapku. Dan kau tak akan bisa kabur dari hidupku," jawab Dillon mengusap pipi Willow yang merah karena cuaca dingin.
Willow tertawa pelan dan memeluk erat Dillon. Tangannya melingkar di leher Dillon dan dagunya menopang di bahu Dillon.
"Kau tahu betapa banyaknya wanita yang selalu melihat ke arahmu jika kita pergi ke sebuah pesta? Aku tak pernah cemburu pada mereka. Tapi aku hanya takut jika tiba tiba kau berpaling dariku karena kau lelah bersamaku," lirih Willow.
Dillon melepaskan tangan Willow yang terpaut di belakang lehernya dan menangkup pipinya. Dillon memandang wajah Willow dengan cukup intens dan penuh cinta.
"Aku dikutuk untuk selalu mencintaimu sampai aku mati," ucap Dillon tersenyum miring.
Willow ikut tersenyum karena ucapan Dillon yang memang jago menggombal itu.
Dillon berhenti tersenyum dan menatap serius ke netra indah Willow.
"Aku tak memaksamu berapa anak yang kau inginkan, Honey. Prioritasku hanya dirimu. Kebahagiaannku hanya jika melihat kau bahagia. Kau segalanya bagiku. Meskipun kau tak memberiku anak sekalipun, aku akan tetap mencintaimu dan bersamamu seumur hidupku," ucap Dillon.
Willow sangat terharu dengan kata kata manis Dillon itu. Betapa Dillon mencintainya tanpa syarat apapun. Mungkin ini buah dari kesakitannya di masa lalu. Kini dia mendapatkan seorang suami yang tanpa cela seperti Dillon.
"Thanks ... Kau terlalu sempurna untukku yang tidak sempurna ini. Aku terlalu banyak kekurangan dan kau sama sekali tak memiliki kekurangan di mataku," kata Willow.
"Come on, Honey. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Kau tidak pernah mengomel jika aku meletakkan barang sembarangan. Dan aku selalu membuat barang-barang di rumah bahkan lemari pakaian berantakan. Dan kau tak pernah marah dengan hal itu," kata Dillon tersenyum.
Willow tertawa kembali.
"Kurasa semua laki-laki memang seperti itu karena daddy juga seperti itu. Dan aku tak melihat itu sebagai kekuranganmu," jawab Willow.
Dillon kemudian mencium gemas bibir Willow karena Willow memang tipe wanita yang sangat disukainya sejak dulu. Willow tak pernah marah dan selalu berkata lembut padanya selama mereka menikah.
Willow juga tak pernah menuntut apapun pada Dillon dan bukan tipe wanita yang rewel dan manja. Willow hanya sedikit sensitif saja dan gampang menangis karena mungkin diakibatkan dari trauma mental yang dialaminya dulu. Dan Dillon lah penyembuhnya.
Intinya mereka saling membutuhkan satu sama lain dan sudah sangat mengenal kepribadian masing-masing yang membuat mereka nyaman berbagi apapun.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..