
2 bulan berlalu...
Willow memutuskan untuk bekerja di perusahaan Isaac untuk mengisi waktunya. Dia ingin waktunya dihabiskan untuk hal yang lebih berguna dari pada tak melakukan apapun di rumah.
Apalagi sekarang Isaac lebih sering berada di New York sejak menikah dengan Heidi. Dan Dillon tak keberatan dengan apapun yang dikerjakan Willow selama itu membuat Willow nyaman dan bahagia.
CEKLEK ...
Pintu ruangan kantor Willow terbuka. Willow yang terlalu sibuk bekerja sampai tak mendengar hal itu.
"Kau masih sibuk, Honey?" tanya Dillon yang sudah ada di depan Willow.
Willow otomatis menoleh pada suara yang sangat dirindukannya selama seminggu ini karena Dillon pergi ke Paris untuk urusan bisnisnya dan Willow tak bisa menemaninya.
"Honey ..." ucap Willow dan beranjak dari kursinya lalu menghampiri Dillon.
Willow bergerak cepat dan memeluk Dillon dengan sangat erat.
"I miss you so much. Lain kali aku harus ikut bersamamu. Kau terlalu lama pergi," ucap Willow yang masih memeluk Dillon.
"I miss you too, Honey. Pekerjaanmu belum selesai?" tanya Dillon dan mengusap pipi Willow dengan lembut.
"Asisten daddy yang akan menyelesaikannya," ucap Willow dan mulai mencium bibir Dillon dengan perlahan.
Dillon menyambut ciuman Willow dan menahan tengkuk lehernya untuk memperdalam ciumannya. Dia sangat merindukan Willow hingga mempercepat kepulangannya yang seharusnya tinggal seminggu lagi.
"Kita pulang saja," kata Willow melepaskan ciumannya.
"Kita bisa melakukannya di sofa," lirih Dillon di atas bibir Willow dan serasa enggan memutus kegiatan panasnya yang baru akan dimulai ini.
"Aku ingin bercinta di ranjang dan dalam durasi yang lama. Aku sangat merindukanmu," ucap Willow tersenyum nakal.
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan menahannya sebentar," jawab Dillon tersenyum dan mengecupi bibir Willow.
Lalu mereka pun keluar dari perusahaan. Supir Dillon sudah menunggu di depan dan mereka pun pulang ke mansion.
Willow tertawa pelan dan mulai mencium bibir Dillon. Tangan Dillon mulai menjelajah ke balik rok Willow dan membuat Willow menggeliat di atas tubuh Dillon.
"Jangan terlalu memancingku, Honey. Akan berbahaya jika kita tak kuat menahannya," ucap Willow menahan tangan Dillon agar tak masuk ke area intimmnya.
Dillon hanya tersenyum dan membuka kancing kemeja Willow kemudian menciumi dada bulatnya yang menyembul.
"Kita lakukan di sini saja. Aku benar-benar tidak tahan," bisik Dillon sembari mencium leher Willow yang wangi parfumnya sangat disukai Dillon.
"No, kau harus menahannya," bisik Willow dengan suara sensualnya.
"Kau benar-benar menggodaku, Sayang," desah Dillon dan mulai meremass dada padat Willow.
"Honey, please," mohon Dillon karena sudah tak tahan bercinta dengan Willow di dalam mobil.
"No," jawab Willow tersenyum dan melihat arloji di tangannya.
"5 menit lagi," lanjut Willow dan kembali mencium bibir Dillon yang sangat dirindukannya itu.
"Oh my ... Kau tega sekali menyiksaku, Honey," jawab Dillon dengan tangan yang meremas bokong Willow.
Willow tertawa pelan dan tak lama kemudian mereka pun sampai di mansion. Willow memperbaiki rok dan bajunya lalau mereka berdua segera turun dari mobil.
Dillon menarik tangan Willow hingga mereka hampir setengah berlari menuju kamar. Sesampainya di kamar, Dillon segera membuka pintunya lalu menyandarkan tubuh Willow di balik pintu dan mencium bibirnya dengan penuh gairaahh.
TBC ...😁
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..❤❤❤