TRAUMA LET ME TOUCH YOU

TRAUMA LET ME TOUCH YOU
#25



Hari pernikahan pun tiba. Willow tampil cantik dengan penampilan sederhananya yang justru memperlihatkan kecantikan naturalnya.



"Kau sangat cantik, Will," kata Velvet di belakang Willow dan melihat ke arah cermin.


"Akhirnya kau menikah juga Willowku sayang," ucap Edna memeluk tubuh Willow dari samping.


"Apakah menurut kalian, aku sudah melakukan hal yang benar?" tanya Wiilow/


"Tentu saja. Kau tak salah memilih pria seperti Dillon. Percayalah, dia pria terbucin yang pernah kutemui," kata Velvet sembari tertawa pelan.


Willow hanya tersenyum mendengar hal itu. Dia ingin semua sahabatnya bahagia di hari pernikahannya ini meskipun sebenarnya banyak beban yang disembunyikan oleh Willow.


Dillon duduk di kursi roda menunggu Willow datang menghampirinya dengan digandeng oleh sang daddy. Willow melihat wajah tampan Dillon yang tersenyum padanya.


'Apakah aku harus membuka hatiku untuknya? Dia terlalu manis untuk kuabaikan. Apakah aku bisa, Tuhan?' batin Willow yang masih menatap ke arah Dillon.


Hingga akhirnya Dillon dan Willow mengucap janji pernikahan dan menandatangani surat nikahnya. Dan kini mereka resmi menjadi pasangan suami istri yang sah.


Isaac tampak tak bisa menahan tangisnya. Air matanya menetes tanpa suara. Dia menundukkan kepalanya dan mngusap air matanya dengan cepat.


Rey yang berada di sebelahnya menepuk pelan bahunya untuk menguatkan Isaac.


Dillon dan Willow akan langsung tinggal di penthouse milik Dillon yang baru saja dibelinya di dekat daerah pantai. Dillon yang menginginkan hal itu agar kedua orang tuanya tak melihat interaksi antara Willow dan Dillon yang nantinya tak akan pernah bersentuhan.


Karena Dillon masih duduk di kursi roda, jadi tak ada acara dansa bagi mereka berdua. Hanya para tamu saja yang berdansa. Willow dan Dillon hanya duduk di meja makan yang telah disediakan.


"Kau lelah?" tanya Willow pada Dillon.


"Baiklah, kita ke dalam saja," jawab Willow dan kemudian mendorong kursi roda Dillon ke arah Mansion.


Willow masih sangat bersikap formal pada Dillon seakan Dillon adalah pasiennya.


"Kita langsung pulang saja ke penthouse," ucap Dillon.


"Begitukah? Baiklah, kita pamit pada Daddy dan orang tuamu dulu," jawab Willow.


"Hmm," jawab Dillon tersenyum dan merekapun pamit kepada semua anggota keluarga Dillon dan para sahabat di sana bahwa mereka akan pulang terlebih dahulu.


Dillon dan Willow diantar oleh supir Dillon ke penthouse mereka. Willow sudah berani memegang tangan DIllon meskipun terhalang oleh baju Dillon. Karena Willow masih takut untuk bersentuhan kulit dengan Dillon.


Setidaknya itu suatu kemajuan bagi Willow karena dia mau mencoba memegang Dillon meskipun tidak menyentuh kulitnya. Dan Dillon senang akan hal itu.


Sesampainya di penthouse. Mereka langsung menuju penthouse mereka yang terletak di lantai teratas.


Willow mendorong kursi roda Dillon sampai masuk ke kamarnya. Willow masih bingung bagaimana caranya nanti untuk membantu Dillon melakukan sesuatu seperti mandi, ganti baju dan sebagainya. Karena mereka hanya tinggal berdua saat ini.


"Jangan khawatir, aku sudah bisa melakukan semuanya sendirian. Jadi kau tak akan menyentuhku," ucap Dillon yang seakan tahu kekhawatiran Willow.


"Maaf ..." jawab Willow yang seakan menjadi istri tak berguna di hari pertamanya menjadi istri Dillon.


"Jangan pernah mengucapkan maaf lagi di depanku, honey. Aku yang menginginkan pernikahan ini dan aku siap menghadapi apapun bersamamu," kata Dillon sembari menatap manik mata hijau Willow yang duduk didepannya.


'Jika aku mencintainya apakah aku bisa menyentuhnya tanpa rasa takut? Seperti halnya pada daddy,' batin Willow melihat ke arah Dillon.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA...❤❤❤